To Cry With You

Perjalanan tahun ini ups and downs buat mas G. Sejak tahun lalu dia mulai menunjukkan minat yang tinggi dai matematika. Perlahan dan pasti tentunya itu berpengaruh pada kompetensinya. Ya namanya cinta kan jadi tanpa sadar lebih banyak latihan, lebih banyak membaca, efeknya preatasinya pun meningkat.

Sampailah di tahun ini dia memgikuti salah satu kompetisi bergengsi matematika. Prosesnya sudah sejak Desember 2017 kalau gak salah. Awalnya sekedar coba coba eh ternyata lolos mewakili sekolahnya. Masuk babak penyisihan, maish lolos lagi sampai semi final.

PD nya meningkat. Dia juga berhasil mengidentifikasi kelemahannya. Kurang teliti. Persis emaknya! Hahaha.

Semi final dia berhasil membaca soalnya 2 kali. Dan mengulang hitungannya 2x. Sebelum memutuskan meninggalkan lokasi. Dan namanya pun lolos masuk ke final. Wow! Dari 18.000 peserta namanya masuk di acara finalnya kemarin wiken. Acaranya di Ancol. Ibunya habis meriang. Ayah dan adeknya masih recovery. Tapi hey we’re family. Berangkat!

Sampai lokasi kami terpukau dengan pemandangan bis bis wisata yang banyak sekali junlahnha. Dengar sana sini. Belun lagi di pojokan koper koper bertebaran bukan seperti mau lomba. Tapi mau keluar kota.

Wow mas. Ini seluruh Indonesia. Orang orang ini dateng dari luar kota. Bisa jadi mereka langsung pulang nanti. Alhamdulillah kita cuman perlu berangkat jam 6 ya.

Sempat terdengar obrolan, ada yang berangkat jam 3 pagi dari rumahnya entah di mana.

2400 anak berkompetisi. Bisa jadi diantar 4800 pasnag orang tua. Karena jumlah laki laki sama banyaknya kemarin dibanding perempuan. Belum guru pendamping. Belum adek kakak yang memebri support. Belum para penjualan makanan yang menyelematkan masa masa kritis kami. Hehehehe.

Setelah selesai mengerjakan soal. Anak anak diberi waktu bebas sambil menunggu pengumuman yang langsung sore itu juga.

Ada anak yang merengek minta ke dufan.
Ada yang menyempatkan diri ke seaworld.
Ada yang jalan jalan di ancol.
Atau sekedar foto di landmark ancol.
Kami? Ayahnya tidur di mobil. Kami bertiga ngobrol becanda gak karuan di mobil.

Tibalah saat pengumuman. Sampai akhir namanya tak diaebut. Lelaki kecilku yang biasa sangat cool itu memerah matanya dan bergelayut badannya di pinggang. Tangannya sesekali emngusap matanya yang berair. Ayahnya bahkan suudah tak mampu melihat anak laki lakinya menangis.

Sambil dipeluk saya tanya, lebih banyak sedih atau kecewanya mas?

Nangisnya tambah kencang. Aaaaah rupanya dia sungguh kecewa. Obrolan berlanjut.

Saya mengingatkannya pada kejadian yang mirip 4 tahun lalu. Pertama kali mengikuti kompetisi wushu. Dan pulang tanpa mendapatkan gelar apa pun.

“Tapi mas G tidak menyerah dan kembali ikut lomba tahun depannya kan? Sekarang berapa medali dibawa pulang dalam 1x lomba?”

“Apa jadinya mas kalau setelah lomba pertama itu mas G menyerah, gak mau lagi latihan wushu dan gak mau latihan lagi karena semuanya percuma, gak dapet medali?”

Lelaki kecilku mulai mengusap pelan airmatanya. Senyumnya sedikit muncul. Lalu dia sibuk kembali bercerita tentang pertandingan ini pertandingan itu yang diikutinya, menang dan kalah.

“Sedih dan kecewa boleh mas. Cuman jangan lama lama. Habis itu bangun lagi, latihan lagi, belajar lagi, lakukan lagi.”

“Dan yang pasti hasil tidak mengubah apapun. Ibu tetap bangga dan tetap sayang sama mas G.”

Lelaki kecilku tersipu. Meminta ijin buat screen time yang agak lama sebagi pengobat luka hatinya. Whaaaaat? Setelah berhasil menemukan apa saja kekuatannya dan apa saja yang masih bisa diperbaiki di masa depan.

Lelaki besarku sambil memegang setir dan sesekali nimbrung pembicaraan. Diam diam mengusap juga airmatanya yang ngecembeng di matanya.

Kadang kala bukan kalahnya yang membuat kami menangis. Tapi melihat lelaki kecil itu terluka kecewa dan bersedih. Itu lebih menyakitkan.

Hehe. Tapi jadi orang tua bisa jadi artinya menangis bersama mereka. Toh kehidupan tak selalu menawarjan gelak tawa kan? Lagipula selain sehat, menangis juga artinya hati kita masih ada.

Kudos kid!

Advertisements

Pilih Temanmu!

Saya ikut di beberapa grup alumni.

Ada grup yang ceritanya apik apikan semua. Orangnya supportif. Diksinya bagus. Kalau ada yang menggok, diingetin baik baik eh la orangnya ya ngaku salah. Enak banget lah. Saya suka. Saya stay.

Ada grup yang isinya gontok gontokan. Eyel eyelan. Kadang kala nyek nyekan. Tapi gak ada yang keroyokan. Juga ga pake menyerang pribadi. Juga tidak mengklaim dirinya netral tapi kemudian jebul gak netral. Enggak banget sakjane. Sering kali perdebatan gak ketemu titik tengahnya. Tapi saya suka. Karena tak ada judgment. Bebas sebebas bebasnya. Walau ada rules-nya. Saya suka. Saya stay.

Ada grup yang isinya juga gontok gontokan. Tepatnya sih keroyokan. Kalau ada 1 beda pendapat dengan mayoritas langsung digrudug diunek unekke. Nanti kalau diingetin malah dihina orang yang ngingetin. Ngakunya netral tapi jebul memihak. Saya gak suka. Alesannya banyak. Saya tidak stay.

Ada grup yang mbelani orangnya kebangeten. Lupa kalau ada saya dan sedikit orang minoritas di grup itu yang gak setuju. Belum lagi pemakaian kata dan sangat SARA yang saya gak nyangka dipake sama alumni situ. Saya gak suka. Saya leave.

Ada grup yang kacamata kuda. Pokok kalau yang ngelakuin mas A mesti dibelain meskipun salah. Kalau yang ngelakuin mas B langsung di-bully walaupun bener. Kalau acara mas C berbondong bondong datang alasannya sekalian reuni. Kalau acara mas D tiba tiba pura pura gak liat. Liat isinya abaikan penyampainya, gak cocok sama grup ini. Saya gak suka. Saya leave.

Begitulah menurut saya metode berteman. Kita berteman dengan orang orang yang memang kita cocok kita sesuai atau minimal punya value sama sama kita.

Kecil sekali kemungkinan kita berteman dengan orang yang perilakunya berbeda banget sama kita. Keciiiil sekali.

Kalau Anda berani bicara, most of your friends juga orang yang berani bicara.
Kalau Anda orang yang menjunjung nilai kebaikan, most of your friends juga menjunjung nilai kebaikan.
Kalau Anda hobinya keroyokan insyaa allah temen temen Anda juga tukang keroyok.

Jadi sangat impossible kalau saya bilang, saya baik tapi teman teman saya aja yang jahat. Karena teman itu infectious a.k.a contageous. So either you infected your friends or vice versa.

Saya pilih ditularin yang baik baik aja secara belum mampu nularin yang baik baik.

So look around friends, siapa temanmu? Be careful!