Isn’t it always hard to say goodbye to the one you love?

(dipublish ulang dari rumah sebelah…)
(soundtrack: Kemesraan-request by Rully; Manusia Bodoh-request by Aya)

Ya, that was exactly the line that came cross my mind when I really did have to say goddbye to my classmates few days ago. Feels like something is missing inside of me, but knowing that life must go on (for me and also for them) I knew at that time it was a very precious way to say goodbye. You know, for me frineds are like part of your body, knowing that you wouldn’t be able to see them easily was like knowing that part of yours were going to be others. Thinking of them, their future bond with the company they work for, with their new friends, with their newly-build-family, really kills me. But just like one of my friend said, life is like a movie, sometimes an actor or an actress should leave the screen and what we need to do is just wait for another screen which will allow them to be part of your movie (again). And when that happen, there is joyful feeling you have inside that makes you feel so grateful for being apart for a while. And now I’m longing for that feeling…

I started this week by spending very intense time with my classmates and then we closed it by saying “goodbye and good luck” in a proper way. But for me, how can you say goodbye in a proper way if you need to say it in front of others? So I’m going to use this chance to say goodbye properly to each of my dearest classmates because every single of you has inspired me in a way or another. This is just a simple way to say big thanks and to let you know that you have stepped into my heart and there’s nothing in this world that would help you to get out from there. He..he..

And I am not alone I guess. Pada waktu yang hampir berdekatan a new friend of mine berbagi cerita tentang rumah tangganya, keinginannya untuk berpisah dengan pasangannya namun juga dilema yang dirasakannya sehubungan dengan rasa cinta yang maish dimilikinya. Isnt it hard? Kupikir selalu sulit untuk berpisah dengan sesuatu yang kita cintai, orang, komunitas, kebiasaan, tempat tinggal (kayak Yogya buatku yang selalu mengundangku untuk tinggal kembali di kota yang sangat menyenangkan itu), apa pun. Namun sering kali kita memang dihadapkan pada pilihan tumbuh atau mati.

Seperti kata banyak orang bijak, air yang menggenang selalu berakhir dengan bau dan kemudian menjadi kotor, supaya air tetap bersih, ia haruslah mengalir, berpindah, berubah, berpisah dengan hulunya yang melahirkannya. Aku ingat sekian tahun yang lalu saat pertama kali meninggalkan ”kandang kenyamananku” di Kelud. Setiap minggu aku nangis, merasa sendirian, kehilangan semua yang kumiliki, home-sick, but then if I didnt move, apa yang bakal terjadi sama aku? Hehehe gak berani bayangin aku seperti air comberan yang menggenang dan menimbulkan bau…

Seperti orang pacaran yang sering kali berakhir dengan teriakan ”give me some space”, Kahlil Gibran sangat ok menjelaskannya dalam ”biarkanlah angin tetap menari-nari di antara 2 hati”. Kata per katanya gak tepat seperti itu, tapi menurutku Gibran sedang berusaha menerangkan bahwa segala sesuatu yang ”terlalu” selalu memberikan pengaruh buruk. Cinta yang terlalu dekat membuat buta, terlalu jauh juga jadi tidak nampak. Dalam konteks-ku mungkin ”cinta”-ku untuk temen-temen sekelas sudah diuji dalam ”kedekatan” dan sekaranglah titik ujian berikutnya di mana ”cinta” kami diuji dalam ”jarak”. Agak berlebihan gak?

Tahun 94, cintaku buat keluargaku diuji juga dalam. Buat beberapa teman, saat ini cinta mereka terhadap pasangannya juga sedang diuji melalui kesetiaan dan jarak. Mungkin memang ada momen-momen dalam hidup di mana kita harus dengan ”terpaksa” say good bye pada hal-hal yang kita pikir kita cintai, not for no reason, jelas for a better future. Like me berpisah dengan keluargaku buat menuntut ilmu, sekarang berpisah dengan teman-teman untuk benar-benar menjajal sejauh mana ilmu kami mampu membantu orang yang lebih banyak, juga mungkin berpisah dengan orang-orang yang memberikan pengaruh buruk bagi hidupku.

Gampang buatku ngomong, tentunya jauh lebih sulit buat ngelakuinnya. Tapi sejauh perjalanan 29 tahun hidupku, Allah swt selalu memberikan jawabannya di saat yang tidak terduga. Saat sekarang aku gamang bergerak ke dunia yang lebih riil, yang tidak dilindungi oleh dinding universitas, aku yakin sekian tahun yang akan datang Tuhan akan kasih jawaban kenapa saat ini kami harus berpisah. For one good reason, I believe. But that doesnt reduce the tears, does it? Hehehe.

For ALL my friends, thanks for being “in” my circle and enrich my life.Depok, 30 Juli 2005 – fa laksmi

Advertisements