Belajar Ikhlas di Pesawat

Setiap kali pergi naik pesawat, aku tertarik untuk mengamati wajah-wajah sesama penumpang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, “Hebat betul oarng-orang ini ya. Senyum-senyum. Kayaknya gak takut sama sekali mau terbang.” Hehehe. Sementara aku, sebenarnya setiap kali mau terbang, selalu sibuk “menggusah” wourst case scenarios yang menari-nari di kepalaku. Belakangan skenarionya semakin menegangkan karena aku pergi bersama Genta.

Hari Senin kemarin aku naik pesawat lagi dari Semarang ke Jakarta, cuma berdua sama Genta. Soal cuma berdua, sama sekali bukan masalah besar. Genta sangat mudah diajak kerja sama. Lagipula sepengalamanku, orang-orang nampak sangat berempati dan ringan tangan membantuku setiap kali aku bepergian hanya berdua sama Genta.

Problemnya adalah, Genta nangis setiap kali pesawat mau take-off. Well, ini bukan pertama kali Genta naik pesawat. Tapi ini memang pertama kalinya Genta naik pesawat hanya berdua denganku. Dan juga pertama kalinya Genta nangis di dalam pesawat.

Sebagai orang yang intuitif, langsung saja skenarionya semakin kencang menari di kepalaku. “Anak kecil kan sensitive,” ujarku dalam hati. Jangan-jangan dia kerasa kalau pesawat ini nggak aman. Ok. Pintu daruratnya di mana? Diikuti dengan langkah-langkah antisipatif lainnya yang seperti SOP langsung aku susun di kepalaku. Alhasil, tentunya Genta semakin keras nangisnya. Minta keluar. Nunjuk-nunjuk pintu keluar. Detak jantungku aku sadari makin kencang. Napasku juga makin memburu kayak lagi lari. Bagian bawah lenganku mulai hangat. Aduh, apa yang harus aku lakukan?

Tiba-tiba ada suara kecil, ramah dan sangat lembut bilang, ”Pasrah Fan. Ikhlas. Dan sabar.” Suaranya kecil sekali. Kalau ditanya di mana tepatnya suara itu muncul, tepatnya muncul dari belakang my belly button. Apakah suara itu seperti laki-laki atau perempuan? Perempuan. Seperti suara anak-anak yang menarik-narik ujung bajuku dengan wajah polosnya. Kemudian, napasku melambat, detak jantungku mulai tertata kembali. AC pesawat juga mulai terasa sejuknya. Aku melihat ke luar pesawat lewat jendelaku. Sesaat kemudian aku menengok ke arah Genta, matanya mulai menutup pelan-pelan. Dalam hitungan detik dia tidur memelukku dengan tenangnya.

Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Sungguh. Naik pesawat adalah momen yang tepat buat belajar ikhlas. Aku teringat guru NLP ku, mas Ronny dan tanpa sebab yang jelas ada running text muncul di kepalaku, ”Happiness atau apa pun emosi yang ingin kau rasakan is a decision away.” Suara anak perempuan tadi membantuku mengambil keputusan yang tepat soal emosi apa yang ingin aku rasakan.

Dan aku juga membuktikan satu hal lagi tentang parenting. Anak sungguh adalah perasa energi yang luar biasa akurat. Genta nangis bukan karena takut. Genta nangis karena terkena aliran energi ketakutanku yang berusaha keras aku tutupi. Orang dewasa bisa dibohongi soal energi. Tapi Genta, dan anak-anak lainnya, sepertinya tidak bisa dibohongi.

Kurang lebih 1 jam kemudian aku dan Genta sudah ada di mobil kami, dalam perjalanan pulang ke rumah kami, Bintaro. Dalam beberapa helaan napas, rasanya mataku hangat dan airmataku hampir turun, terutama waktu ketemu ayahnya Genta dan bibinya, yang menjemput. Well, sebuah pengalaman worth to share.

Advertisements

Have You Ever Noticed?

Lagi-lagi cerita ini diawali dari nemenin Genta nonton Barney. Setiap kali nonton Barney, aku berkata-kata dalam hati, TV ini ada sisi positifnya juga kok. Barney punya value luar biasa yang menurutku pribadi wajib ditanamkan ke anak-anak sejak kecil.

Ini salah satu lirik lagunya, yang setiap kali bikin aku menitikkan airmata kalau denger.

Have u ever notice? I’m a little too big or sometimes my tail gets in the way.

Have u ever noticed? I dont look much like u. Would it be better if I were orange, green or blue.

But if everybody was the same, I couldnt just be me. I just have to find a way, it’s true.

To be who I am, what I am, is ALL THAT I CAN BE. Its all that I can think of… TO BE ME.

Membayangkan betapa dunia ini akan jauh lebih indah kalau anak-anaknya sangat nyaman dengan dirinya sendiri. Karena anak-anak ini yang nantinya tumbuh dewasa dan jadi para dewasa yang juga nyaman sama dirinya.

Orang yang nyaman sama dirinya sendiri dan berperilaku yang sesuai sama identitas dirinya, tentunya gak butuh atribut luar buat membuat dirinya eksis. Gak perlu narkoba. Gak perlu jabatan kalau memang gak mampu. Gak perlu tas 20 juta. Gak perlu kamera 12 juta kalau memang gak bisa makainya. Gak perlu maksa anaknya jadi ranking 1. Gak perlu ngotot sama pendapatnya sendiri sampai gak ingat sopan santun. Gak perlu berantem di depan kamera. Gak perlu nyebut dirinya jenius di depan khalayak ramai.

If only we all learn from the big purple dino….

IQRA’

Penggalan paragraf dalam buku EMAK tulisan Daoed Joesoef… which I like…

Cover buku EMAK

 

“Kau lihat,” kata Emak sambil tersenyum, ” kekayaan benda berpisah dari kita bila diberikan kepada orang lain tetapi kekayaan pikiran tetap melekat pada kita walaupun dibagi dengan orang lain. Bahkan bila tidak ibagi dengan orang lain, kekayaan pikiran itu akan raib, bisa hilang lenyap dengan sendirinya karena kita sendiri lama-lama bis atidak mengingatnya lagi. Sementara orang lain tidak tahu bahwa pikiran yang raib itu pernah ada karena tak pernah mendapatkannya. Dan yang tak boleh kau lupakan, Nak, adalah bahwa salah satu jalan yang ampuh, salah satu sumber yang tak pernah kering, dari kekayaan pikiran ini adalah buku. Sedangkan cara menggali sumber itu adalah membaca. Jadi emak rasa BUKAN KEBETULAN kalau Allah menyuruh kita membaca.”

Kamu bisa mati tapi tulisanmu tidak

 

… dengan makan kacang goreng dan minum eskrim, paman menganjurkan aku untuk melatih dan membiasakan memulis. Pilihalah setiap kata menurut makna yang dikandungnya dan kemudian susun kata-kata itu menjadi kalimat hidup yang bertutur kepada kegelapan dan ketidak-pedulian. Tunggulah gemanya. Bila bergaung, betata pun lemah suaranya, kirim lagi kalimat-kalimat lain hingga terangkum menjadi kisah yang mengandung pesan tertentu bagi NURANI MANUSIA. Jadikan tulisanmu cara kau melihat, cara kau berpikir dan merasakan, cara kau hidup, cara kau memposisikan kemanusiaanmu. Dan siapakah kamu yang bisa mengubah, bahkan memupus pandanganmu, meredam pikiranmu, melenyapkan pesanmu, mematikan nuranimu? Tak ada seorang pun, tandas paman. Kau bisa mati tetapi TULISANMU TIDAK.

kebijaksanaan yang didapat dari proses berpikir dan merasa terus menerus bukan proses bicara dan berdebat…

Repost: Matahari, Cahaya & Cinta

Tulisanku tahun 2004…  Menarik…

My first mountain

Only for those who are willing to understand

Pernah merasa ternyata hamparan salju putih yang sangat diidam-idamkan oleh masyarakat yangtinggal di negara tropis ternyata jahat banget? Pernah bayangin gimana rasanya terjebak di bawah timbunan salju dipegunungan Himalaya? Gak ada orang yang tahu persis posisi kita, cuma bisa dengar suara orang yang kita cintai dari walkie talkie.

Pernah merasa hidup rasanya malem terus? Gak ada terang, gak ada matahari, gak ada kegembiraan? Pernah merasa malam rasanya gak habis-habis sampai hampir mau putus asa nunggu terang?
Pernah merasa dunia ini tidak adil? Sangat tidak adil dan there’s nothing you can do about it? Membuatmu jadi tidak tahu seperti apa masa depan yang menanti? So confuse sampai hampir, so close to desperate.
Tiba-tiba di atas ada sedikit cahaya, sedikit sekali dan sangat jauh. Tapi beberapa saat yang lalu bahkan setitik cahaya itu pun tidak ada. Atau tiba-tiba ada rasa hangat di ujung jempol dari sinar matahariyang mulai muncul di ujung hari baru. Seluruh badan masih merasakan dinginnya malam atau salju yang menyelimuti tapi ada rasa ringan, hangat yang menjalar pelan sangat pelan dari ujung badan yang selama ini tidak diperhitungkan.
Hangatnya matahari setelah malam yang sangat gelap dan dingin, indahnya secercah sinar menembus timbunan salju yang sangat membuat putus asa, atau buat sebagian orang juga perasaan cinta yang pelan-pelan menghangatkan hati setelah kebekuan yang cukup lama…
Rasanya indah kan?
Hangat, penuh harapan, lembut dan segala rasa positif yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Apa sih arti setitik sinar bagi seorang yang jatuh tertimbun salju?
Apa arti rasa hangat di ujung jempol bagi orang yang menunggu malam berakhir di atas gunung?
Apa arti rasa hangat di dalam hati bagi orang yang telah lama menunggu cinta?
Solusi? Pertolongan? Harapan?
Orang bijak berkata, “If you wait long enough, the right bus would come.”
Sering dalam hidup di mana masalah tidak bisa mengkategorikan dirinya sendiri menurut kepentingannya –urgent, agak penting, tidak penting-, aku sering dibingungkan dengan banyak pilihan tentang prioritas apa yang harus diambil pada satu kesempatan. Saat itu rasanya banyak bis yang lewat tapi tidak satu pun yang sesuai dengan tujuanku. Rasanya semua orang mendapatkan bis sesuai tujuannya dan tidak seorang pun menemaniku menunggu bis yang tepat itu.Saat-saat seperti itu aku selalu membayangkan diriku terjebak dalam timbunan salju di pegunungan Himalaya seperti dalam film Vertical Limit atau sedang dalam perjalanan naik gunung Sindoro yang tiba-tiba cuaca berubah tidak bersahabat dan aku terpaksa menunggu malam berganti pagi.
Perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, seolah-olah berdiri di antara dua jurang yang dalam, membuatku kembali menyebut nama Sang Khalik. Kecil rasanya aku dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Sebagai manusia nampaknya batas antara putus asa dan harapan dan celah kecil di antaranya-lah yang membuatku jadi makin manusiawi.
Kalau dalam pendakian Himalaya, secercah sinar menjadi tumpuan harapan. Sementara dalam pendakian Sindoro, hangatnya matahari berarti “selamat datang” di hari baru maka pada hati yang terlalu lama beku hangatnya uap cinta seperti terlepas dari himpitan batu besar.
Jika hidup adalah sebuah perumpamaan, aku yakin manusia bagaikan seekor keledai yang masih sering terjatuh dalam lubang yang sama duakali, bahkan lebih. Jika Tuhan boleh diumpamakan maka Ia adalah seorang ibu yang tak hentinya memaafkan anak-Nya dan menasehatinya agar jangan mengulang kesalahannya.Dan jika cinta juga boleh diumpamakan maka ialah perekat antara keledai dan ibu tersebut, bisa melalui keledai lain atau melalui anaknya.
Well, anyway, aku percaya bahwa kalau aku bertahan cukup lama, dalam banyak hal, then setitik cahaya, hangatnya fajar dan bahkan lembutnya cinta will come my way.
With all my love…
fa, Depok, 6 September 2004

Dubai Lagi – Tentang Mall

Chili Crab Festival

Udah hampir setahun lalu sebenarnya perginya, cuma memang belum sempat di-share. Well, better late than never lah. Siapa tahu dalam waktu dekat ada yang mau ke Dubai. Ini dia sneak preview nya via me&my husband’s camera.

Foto pertama ini acara di dalam salah satu mall-nya Dubai, yang pemandangannya indaaaaaaah banget. Ada danaunya dan tempat kongkow kayak gini. Berasa pengen minum es kelapa muda sama makan gorengan kan ya?

Ini dancing fountainnya

Yang ini air mancur nari. Seingatku dulu tahun 80an waktu aku masih kecil di MONAS juga ada. Atau sekarang masih ada? Memang bagus kok. Antara lampu, musik dan gerakannya sangat seirama. Kalau lagunya India, gerakan airnya memang kayak penari India. Sementara kalau lagunya mendayu-dayu semacam Kitaro, gerakannya juga ikutan mendayu-dayu. Worth to see.Adanya di belakang Dubai Mall kalau gak salah, di deketnya Burj Al-Khalifa. Dubai Mall ini ceritanya mall yang besar banget. Isinya segala merk terkenal bahkan sampai yang di Indonesia belum pernah kulihat.

Di dalam Dubai Mall juga ada Aquarium besaaaaaar banget. Tingginya lebih dari 2 lantai. Orang bisa lihat dari bagian atasnya. Atau masuk terowongan kayak di Sea World Indonesia, jadi bisa kerasa kayak di bawah laut. Atau yang mau gratisan, kayak aku, cuma lihat aja dari lantai pertamanya dan foto-foto deh. Dubai Mall ini rame banget kalau pas weekend. Luar biasa ramenya. Anak-anak sekolah di sana, pulang sekolah, masih dengan baju khasnya udah keliaran di sini. Selain itu juga ada tempat nongkrong di belakang Dubai Mall yang memang enak banget sambil nunggu matahari tenggelam.

Aquarium Raksasa

Ini dia selasar tempat nongkrong gratis di belakang Dubai Mall

Burj Al-ARab

Ada 2 gedung terkenal di sana yang pakai nama Burj di depannya. Yang artinya bintang. Kenapa dikasih nama bintang kira-kira? Yak betul, karena niat awalnya jadi gedung tertinggi di Dubai atau di Arab atau di seluruh dunia. Pemimpin DUbai memang terkenal punya visi yang jelas buat negaranya. Pertama dibangun Burj Al-Arab, yang artinya Bintangnya Arab. Karena memang dia gedung tertinggi di daerah Arab pada waktu itu.Lihat di bagian atas gedung, ada bagian yang menjorok keluar? Yes. Itu adalah lapangan tenis dan helipad tempat Tiger Wood biasa mendarat kalau lagi menyepi di sini.

Turun dari Burj Al-Khalifa

Kemudian diikuti Burj Al-Khalifa yang denger-denger, sementara ini ada gedung tertinggi diiiiii DUNIA. Gimana? Tapi btw kalau nanti mampir di Dubai dan tertarik buat naik ke Burj Al-Khalifa, NOT RECOMMENDED. Selain antriannya panjang. Bayarnya juga mahal. Dan ternyata cuma dibawa sampai lantai 24 atau 26 gitu. Waaaaah, sama kantor suamiku di lantai 35 Menara Standard Chartered di Jakarta juga masih tinggian kantor suamiku. Hihihi. Untung di depan loket tiket Burj Al-Khalifa itu ada milkshake enaaaaaaak betul dengan campuran es krim Baskin Robbins. Yuhuuuu.

Dan hebatnya lagi Dubai Mall ini punya banyak shuttle bus dengan banyak pilihan rute, dengan jadwal yang pasti, berkali-kali dalam sehari. Jadi dari hotel mau ke Dubai Mall bisa naik MRT. Pulangnya kita ikut shuttle bus deh. What a country… so ready for tourists…

Ingat Dubai

Trotoarnya luas kan?

Setiap jalan-jalan berdua sama Genta, aku ingat Dubai. Inget jalan-jalannya yang luas. Trotoarnya yang juga super luas. Transportasi umumnya yang stroller friendly. Kayak gampang aja bawa bayi dan stroller keluar hotel, jalan di trotoar, naik ke stasiun MRT-nya terus langsung ke tempat tujuan wisata.

Ini contoh mobilnya

Selain segala harga barang yang super mahal, Dubai memang seru. Keluar dari airport langsung berjejer deh tuh taksi-taksi dengan merk mobil yang sungguh aku gak familiar. Tahun lalu kami dijemput pake Mercy. Eits, jangan salah, kami menginap di hotel yang relatif kecil kok dan jemputan ini yang gratis, bukan yang berbayar. Memang standar mobil di Dubai, luar biasa tingginya.

 

Bunga di padang pasir

Begitu keluar airport, pinggir jalan dihiasi bunga warna-warni. Hmm, jadi bingung, perasaan keterangan di semua web yang kutemui, ini daerah padang pasir, kenapa bunga dan rumputnya pada seger gitu? Ternyata rahasianya ada di tangki air yang ditanam di bawah tanaman itu. Tangki ini dialirkan dengan selang yang secara rutin membasahi tanah pasir di bagian bawah bunga-bunga nan cantik itu. Dubai terkenal sebagai salah satu negara boros air.

Kotanya bersiiiiiih. Kecuali kalau habis ada angin gurun yang super kencang dan nerbangin pasir-pasir sampai tengah jalan. Aku sempet ngalami tuh. Lagi jalan menuju stasiun tau-tau anginnya bertiup kenceng banget. Tali-tali pengaman buat para pekerja gedung sampai “kelotakan” terbang-terbang nabrak jendela kaca gedung. Well, this explains pertanyaanku kenapa semua orang di sini pakai kacamata hitam.

Dubaiiiiii

Denger-denger segala kehebatan Dubai ini baru dimulai beberapa tahun yang lalau lo. Sebelumnya ya beneran cuma padang pasir. Hmm, jadi bayangin Jakarta kalau punya MRT, punya trotoar selebar jalan tol, pasti seru ya?

Vitamin for Life

Dulu waktu kuliah di Yogya, ada waktunya aku gak pergi keluar kos sama sekali seharian. Duduk diam di dalam kamar, baca buku, nonton film, main game. Seharian, bahkan mungkin beberapa hari sekaligus. Padahal sesungguhnya aku orang yang gak bisa gak ngobrol dalam sehari, bisa stres aku. Hehe.

Istilahku waktu itu, BUTUH MENANGIS. Iya, aku cari buku, film atau game yang bisa bikin aku nangis. Nangis karena bahagia, haru, bersyukur dan segala emosi positif lainnya. Bukan nangis karena sedih. Hehehe. Kalau nangis karena sedih sih, jaman segitu, cukup lihat pacar juga, udah pengen nangis SEDIIIIIH. Huahahaha.

Rupanya kebiasaan ini berlangsung terus sampai sekarang. Kadang dalam beberapa minggu, aku gak baca buku atau main game atau nonton film bagus sama sekali. Tapi sekali waktu kerinduan itu dateng. Seperti sekarang. 1 buku dibaca 1 hari, habis. Sambil nemenin Genta mainan Play-Doh, ngelirik Indovision, dapet deh 2 film bagus. Malam-malam sambil nemenin bos besar update berita Nurdin Halid, maen game deh.

And you know what? Rasanya kayak habis minum vitamin. Badan lebih segar. Pikiran fresh. Suasana hati luar biasa. Energi kayak habis di recharge. Mata kayak habis digurah. Rasa syukur lebih melimpah. Dan terutama, makin merasa sayang sama orang-orang terdekat. Makin merasa bahwa waktu yang aku punya adalah sekarang. Kesempatannya ya saat ini.

Well, sebagian orang minum vitamin buat badannya. Hari ini aku minum vitamin for jiwaku. And I am being so very grateful for that.