Quiet Moment

Setiap Genta tidur, saya punya kemewahan atas rumah yang begitu sepi dan tenang. Alunan blower AC dan kipas angin bagaikan gemercik air di vila kecil di Sukabumi. Terus menerus, ritmis, ada dan tidak mengganggu. Saya sangat menikmati momen ini. Saya meyebutnya sebagai quiet moment. Tidak sungguh-sungguh tanpa suara. Namun suarnya lirih sekali seperti pecinta sedang berbisik, sampai saya mampu mendengar suara kecil dari dalam dada saya sendiri.

Rasanya? Senang. Damai. Uhh, seperti menarik selimut kesayangan di tengah hujan lebat. Aman.

Dalam quiet moment saya beberapa waktu lalu, saya mendapat kemewahan untuk memikirkan tentang hidup. Saya teringat tahun-tahun saya di Yogya. Segala sesuatu berjalan sangat cepat seperti kilat menyambar. Cepat, keras dan kemudian hilang. Saya juga teringat salah seorang teman baik, yang entah sedang berdiri di bagian dunia yang mana sekarang, berkata,”Ternyata hidup itu gak selalu harus berlari ya Fan? Jalan juga boleh kok.”

Waktu itu saya mengiyakan. Walaupun dalam hati bertanya-tanya. Bagaimana mungkin dalam hidup yang singkat ini kita tidak perlu berlari. Ada banyak tujuan yang harus didatangi. Ada banyak asa yang mau direngkuh. Kalau tidak berlari, tidak mungkin rasanya melakukan semua hal itu sebelum waktunya habis. Namun atas nama hormat, saya iyakan saja.

Kemudian beberapa tahun sesudahnya, ketika kelelahan sedang menggoda. Seperti seorang belly dancer yang menari di kerumunan turis-turis padang pasir, saya teringat lagi kata-katanya. Iya saya semakin dalam, namun masih belum menemukan caranya untuk memperlambat langkah saya. Pertemuan-pertemuan dengan orang hebat lainnya membuat saya paham, bahwa perjalanan sama indahnya seperti tujuan.

Lalu tahun 2009, saya bertemu malaikat kecil yang nampak sangat lugu. Macam bunga mawar yang tumbuh tenang di tengah padang rumput. Dengan caranya yang halus, justru dia mengajarkan saya tentang memperlambat lari saya. Tanpa kata. Tanpa tekanan. Dan hidup saya berjalan lebih pelan. Sekarang saya paham bahwa hidup memang tidak perlu berlari. Saya menikmati hari yang cepat berlalu dengan langkah pelan saya. And yes, I begin to enjoy little things in life.

Apakah saya kehilangan tujuan? Kehabisan mimpi-mimpi yang mau diraih? Kota-kota yang akan dicium aromanya? BUKAN. Saya punya lebih banyak tujuan sekarang. Hidup saya bukan lagi tentang saya saja. Tentunya jadi makin banyak asa yang mau saya rengkuh. Dan saya tetap melangkah pasti menuju semua itu. Hanya kali ini langkah saya lebih pelan. Dengan begitu saya jadi banyak belajar bersyukur.

Apakah lebih lama untuk sampai ke sana dengan langkah yang pelan? Walaupun sulit dijelaskan dengan logika sederhana, saya malah lebih cepat sampai tujuan dengan langkah pelan saya. Genta, si malaikat kecil, mengajarkan ibunya untuk menarik nafas dan mengeluarkannya dalam damai.

Aneh? Ya. Bukannya hidup memang serangkaian keanehan yang menyenangkan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s