Mari Menangis eh Mari Bicara

Hari ini, di Semarang. Pagi-pagi, Genta dan saya sudah harus diguyur dinginnya air Semarang. Sebagian bilang airnya sudah tidak terlalu dingin. Buat kami yang biasa bersentuhan dengan air Bintaro, air Semarang rasanya cesssss, kayak air es.

Ngapain pagi-pagi mandi? Pagi ini jadwalnya mas Archi, sepupu Genta, sekolah di PAUD. Seperti biasa, 3x seminggu, tiap kali di Semarang, kami ikutan sibuk nganter mas Archi sekolah. Genta ikutan masuk kelas. Nyanyi pelangi-pelangi. Genta selalu senang kalau dikelilingi kakak-kakaknya.

Sambil memandang Genta kecil main, sudut mata saya menangkap ada guru yang sibuk dengan kain pel dan pewangi ruangan. Hmm. Ada apa ini? Walaupun pemandangan seperti itu biasa di tempat yang banyak anaknya. Somehow, saya penasaran. Tidak terlalu lama, ada orang tua murid yang mendekati mamah saya.

“Nangis lagi Kayla. Sampai muntah-muntah.

Ditinggal sama pembantunya.

Ibunya sibuk, kerja, gak pernah nganter.”

(Oiya, namanya nama samaran ya)

Pemandangan berikutnya adalah guru PAUD sedang menggandeng gadis kecil yang mata bengkak karena menangis. Rasa pertama yang muncul lihat anak kecil nangis, selalu saja kasihan. Heran juga saya. Dalam diam, saya berbisik manja pada diri saya sendiri.

“Anak NANGIS itu artinya dia sedang BICARA.

Kenapa kasihan?

Memang orang dewasa, nangisnya karena sedih?”

 

Dalam bayangan saya, saya sedang bicara dengan sangat lembut pada bawah sadar saya yang terlanjur menerima informasi yang SALAH ini. Betul juga. Anak-anak ber-KOMUNIKASI lewat TANGIS-an, salah satunya. Jadi kenapa kasihan?

Seharusnya kita, orang dewasa bertugas merespon. Sesuai kebutuhannya. Bukan kasihan. Respon yang paling tepat adalah yang paling sesuai kebutuhan. Cara pertama, ya diajak bicara. Wong mau BICARA ya harus di-JAWAB kan?Bukannya malah disuruh diam?

Hehe. Tiba-tiba di kepala saya berkelebat bayangan lucu. Orang dewasa yang mau bicara, disuruh DIAM oleh partner biacaranya. Pasti rasanya jengkel betul. Anak-anak BICARA lewat TANGIS-annya, juga disuruh diam sama orang dewasa. Kira-kira anak-anak itu sejengkel yang tua ga ya rasanya?

Advertisements

Pesawat Lagi

Kemarin Genta dan saya lagi-lagi naik pesawat hanya berdua. Hehe. Maksudnya tanpa pendamping. Tanpa mas Tonny, suami saya. Pun juga tanpa adek-adek saya yang biasanya sering menemani ke mana-mana. Ini sudah ke sekian kali kami pergi hanya berdua.

Sejak seminggu lalu, saya sudah mulai conditioning. 2x pergi naik pesawat yang terakhir, Genta selalu nangis setiap landing dan take off. Yang kali ini, sudah saya niatkan supaya tidak terjadi seperti itu. Sejak Minggu lalu, saya berusaha melakukan conditioning. Hehehe. Mulai dari membelikan Genta mainan pesawat-pesawatan. Setiap kali sekolah, sambil nunggu bibi Fatriya menjemput, kami main pesawat-pesawatan itu.

Saya dan suami juga makin intens nunjuk ke pesawat yang lewat. Sambil dadah-dadah. Bilang halo pesawat. Juga sambil mengajak Genta bilang, “Mas Archi, sini sini, ayo kita naik pesawat.“ Setiap kali ada pesawat lewat, saya juga nambahin, “Minggu depan Genta naik pesawat yaaaa? Mau ke Semarang“

Selama perjalanan ke airport, karena Genta tidur. Conditioning tidak bisa dilakukan. Begitu bangun, check in dll, langsung dimulai lagi. Kami berdua nyanyi-nyanyi di lorong menuju gate A2.

“O We are flying in an aeroplane,
looking out the window,
watching the clouds go by…“

Begitu mau boarding, Genta semangat sekali. Kata dia, ”Mau naik pesawat, kayak BJ.” Hahaha. Agak deg-degan, kali ini Genta boarding jalan sendiri. Selamaaaat. Dia jalan terus sendiri di lorong pesawat sampai duduk di tempat duduknya. DI kursi dia juga sibuk banget ngitungin jumlah peswat yang kelihatan drai jendelanya. Begitu take off, dia agak deg-degan sedikit. Tapi berikutnya, langsung baca buku pesawat dan tiduuuuuur.

Genta bangun persis waktu pesawat selesai landing. Turun pesawat, dia masih sempat aja ciumin tangan para pramugari. Senangnya. Senangnya. Hahahaha. Senangnya berhasil mengendalikan pancaran energi cemasku setiap kali naik pesawat. Dan tidak mentransfernya ke Genta.