Air Mata

Di keluarga kami, saya termasuk perempuan yang paling sulit mengeluarkan air mata. Kalau sampai air mata saya sudah mengalir, tandanya perempuan-perempuan lain dalam keluarga kami, udah pasti bengkak matanya. Semacam otot, otot air mata saya sudah terlatih lah. Keluarnya cuma yang penting-penting saja. Hehe. Itu setahu orang lain lo.

Sesungguhnya saya gampang sekali menangis. Waktu ikut sertifikasi NLP 7 hari, ya 7 hari itu saya menangis terus. Setiap pulang training, dijemput suami, komentarnya, “Kamu nangis lagi dek?” Hahaha. Nonton serial PARENTHOOOD, udah pasti nangis. Jangankan itu, nonton GLEE aja, yang isinya nyanyi semua, pasti nangis. Lagi jalan-jalan di mall, ketemu orang tua yang galak banget sama anaknya, pasti nangis. Suami saya sampai hapal. Kalau dia lihat juga kejadian itu, selalu kepala saya diarahkan ke titik lain. Sambil dia bilang, “Udah tenang aja. Bukan urusanmu.”

Saya ingat juga hari pertama ikut NLP Practitionaire. Pas bagian bikin anchor damai, partner saya sampai takut dan manggil trainernya. Karena lagi-lagi, saya nangis. Saya sampai dikerubutin 3 orang. Dikiranya ada yang salah. Tahunya ya memang saya menangis karena merasa sangat damai. Hehehe. DI hari ke-6 atau ke-7, mas Ronny, trainernya sampai khusus datengin saya. Dia bilang, “Kamu kalau bahagia itu nangis to Fan.” Saya bilang, “Iya mas.” “Ya sudah kalau gitu.”

Entah ya. Air mata saya rasanya kok murah sekali. Dan saya gak keberatan sama sekali mengeluarkannya di mana saja. Kemarin waktu mengisi seminar, ada yang cerita tentang WFO-nya berdiri di depan ka’bah. Dia nangis, saya juga ikut nangis. Kapan lagi itu, ada yang nelpon, cerita masalah personalnya. Niatnya mau minta tolong diterapi, sambil menuntun dia terapi, air mata juga gak tertahan, merembes sampai ke leher.

Dan efeknya? Saya menyukai efek emosi setelah saya menangis. Entahlah. Rasanya pandangan lebih clear. Napas lebih ringan. Pikiran lebih fresh. Dan hati? Hati kayak lembuuuuut banget. Saya ingat suatu hari dikirim sms dari seorang teman, mas Hendro namanya. Dia seorang Muslim yang super taat. Intinya sms-nya bilang, “airmata itu melembutkan hati.” Dan itu ada dalam tuntunan agama Islam. Menurut saya? Tentunya saya setuju.

Oiya. Omong-omong saya menulis note ini setelah lihat foto teman-teman pulang umroh beberapa hari yang lalu. Baru lihat fotonya aja, saya udah merinding dan mata saya langsung hangat. Orang Jawa bilang, ngecembeng. Penuh air mata. Waduh, gimana nanti kalau pas udah di sana ya?

Kalau bener efek air mata itu sebegitu dahsyatnya buat kesejahteraan hidup kita. Apa masih mau kita larang anak-anak kita mengeluarkan air mata?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s