Privilege 2 tahun

Sejak belum hamil, entah kenapa, saya merasa sangat yakin bahwa nantinya saya akan menyusui anak saya sampai 2 tahun. Kenapa sampai 2 tahun? Yah, ini salah satu rekomendasi agama yang harusnya dengan mudah bisa saya kerjakan.

Saat hamil, pikiran itu menguat. Tidak pernah sedikit pun melemah. Bahkan setelah kenalan sama hypnosis, saya makin yakin. Walaupun terasa ekstrem, namun jauh di dalam sana memang saya tidak pernah melihat alternatif lain buat anak saya. Selain ASI.

Begitu Genta lahir. Masalah pertama muncul. Setiap kali Genta ditaruh di posisi menyusui. Dia teriak-teriak, nangis sampai gelagepan. Hari pertama, masih belum ketahuan kenapa. Tapi tetep aja saya tempelin. Cukup katanya. Hari ke-2, masih juga teriak-teriak. Tempelin lagi. Selesai. Omong-omong mulai dari Genta umur 1 hari, saya dan suami sudah punya jadwal rutin bangunin Genta 2 jam sekali buat nyusuin. Haah, rasanya jam cepet banget jalannya. Baru aja Genta tidur, tau-tau sudha waktunya bangunin dia. Bangunin Genta, awal-awal, butuh waktu kurang lebih 1 jam. Hihi. Entah ayah ibunya yang ga tegaan. Atau ni anak memang niru persis kebiasaan tidur orang tuanya.

Minggu ke-3 baru Genta bisa menyusu langsung di saya. Sebelumnya? Disendokin lah. Aktivitas saya selama 3 minggu pertama berkisar di makan, minum, mandi dan meras ASI. Hehehe. Kaki rasanya melayang kalau pas jalan. Capek banget. Kayak habis naik gunung 3 hari 3 malam. Baru turun langsung disuruh naik lagi. Setelah 3 minggu, jadwal saya mulai berkurang kepadatannya. Meras cuma kalau terasa kencang aja.

Ada juga adegan di umur Genta 4 hari. Hari itu Genta dibawa pulang. Dasar Jakarta. Macet di mana-mana. Ga sempet meres di tengah jalan. Belum punya alatnya. Sampai rumah, Genta kayaknya udah kehausan banget. DItempelin ke gentongnya. masih juga ga mau. Alhasil di rumah, langsung dibentuk TIM EMERGENCY. Terdiri dari 2 tim. Tim pertama, lokasi di dapur. Anggota saya dan mamah saya. Tugas: memeras ASI. Tim 2, lokasi di ruang keluarga. Anggotanya papah saya dan Iya, adek saya. Ada juga 1 tim lagi, lagi ngopi di teras depan. Stres dengerin Genta nangis sejak tol JORR sampai rumah. ANggotanya, suami saya. Hehehe.

Metodenya peras, kirim, suapin. Peras, kirim, suapin. Aduuuuuh, itu dada rasanya suaaakiiiit banget. Mamah sambil mijitin, sambil meres, sempet-sempet bilang, “Udah kamu pikirin, buat sementara, susu sambungannya apa?”

Aduh. Pikiranku terbelah. Antara ini dada sakit amat. Itu Genta belum berhenti nangisnya. Cepet amat dia minumnya. Mas Tonny lama amat stresnya. Sama, ni mamah serius nanyanya? Mamah nyusui semua anak-anak sampai minimal 2 tahun. Saya anak tertua. Adek saya ada 3 orang. Hah? Masak ini orang yang nyaranin buat cari susu sambungan?

Setelah diam beberapa saat, saya akhirnya punya keberanian buat menjawab, “Nggak lah mah.” Singkat. Itu jawabannya.

Agustus 2011 nanti Genta umurnya 2 tahun. Sampai sekarang selamat dia terus minum ASI. Saya sungguh sangat bersyukur atas jawaban singkat saya waktu itu.

Tebak, ini lagi ngapain kami berdua?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s