Gagak Temanku

Halaman Depan SD Gergaji Semarang

Tiba-tiba saya teringat Gagak. Teman saya waktu SD di Semarang. Saya satu kelas sama Gagak, sejak kelas 1, kalau gak salah. Bahkan sering kali kami 1 bangku. Inget kan? Bangku jaman dulu. Yang nyambung sama kursinya. Ada lubang di tengahnya. Jaman dulu sih buat tinta. Jaman saya, cuman buat mainan aja, jatuh-jatuhin penggaris. Hehe.

Oiya. Saya sekolah di sekolah kristen di Semarang. Namanya SD Gergaji. Namanya aneh memang. Tapi, lagi-lagi seinget saya, termasuk sekolah terbagus di Semarang. Yah, namanya juga sekolah saya sendiri, ya saya puji sendiri lah. Hehehe.

Balik lagi soal Gagak. 3 tahun sekelas sama Gagak. Mamah saya belum pernah ketemu sekali pun sama dia. Tapi Mamah selalu dengar cerita tentang dia. Karena pulang sekolah, sambil makan siang, kami biasa berbagi cerita di meja makan. Saya dan 2 orang adik saya satu sekolah. Hampir tidak ada rahasia yang bisa disimpan dari mamah. Ya, meja makan itu pusat semua rahasianya. Saya sering cerita soal Gagak sama mamah. Mamah nampak cuma mendengar dan tidak keberatan atas semua cerita-cerita saya.

Sampai tahun ke-3 saya sekelas. Mamah mulai nampak keberatan. Ingatan saya mamah mulai nanya-nanya tentang Gagak. Salah satu pertanyaannya adalah.

“Gagak itu nakal atau malas sih Fan? Kok dia gak bisa bikin garis sendiri di bukunya. Sampai kamu harus garisin. Kamu juga yang ambilin pensilnya waktu jatuh. Kamu jangan mau ya disuruh-suruh gitu sama temenmu.”

Sesungguhnya saat itu saya bingung. Karena rasanya saya tidak disuruh Gagak buat melakukan semua itu. Saya senang melakukannya. Gagak teman yang seru. Anaknya berkulit putih, rambutnya (kalau gak salah) agak keriting. Dia lucu. Kami sering bertukar cerita sambil dengerin guru ngomong di depan. Tentunya sembunyi-sembunyi. Dan, satu lagi, Gagak anak yang PINTAR. Nilai-nilainya bagus. Kadang bahkan nilainya lebih bagus dari saya. Dan dia tidak nakal, setahu saya. Setiap istirahat, dia lebih sering duduk-duduk di depan ruang kelas, melihat teman-teman laki kami yang berlarian main kasti. Omongannya juga gak kasar. Gak sekasar teman laki-laki saya yang lain. Betul.

Saya lupa kelanjutannya gimana. Apa mamah yang datang ke sekolah dan protes sama guru-guru saya. Karena, tenang saja, mamah protes? Sama sekali bukan berita baru di SETIAP sekolah yang pernah saya & adek-adek saya masuki. Setiap kali menurut mamah, anaknya diperlakukan tidak adil. Beliau langsung menyingsingkan lengan baju, berangkat ke sekolah, bicara sama guru kami. Nah, soal Gagak, saya agak lupa. Mungkin mamah datang protes ke sekolah. Atau akhirnya saya yang cerita lebih lanjut.

Intinya. Naik ke kelas 4, Gagak pindah sekolah. Masih seingat saya, dia ikut orang tuanya pindah ke Jakarta. Sedih? Iya. Saya ingat rasanya tidak punya teman. Saya juga cerita ke mamah soal Gagak pindah sekolah. Saya juga bilang saya sedih. Kata mamah,

“Ya malah enak kan, jadi kamu gak direpotin sama temenmu yang malas itu.”

“Tapi Gagak gak males kok mah.”

“Terus kenapa dia gak garis sendiri aja di bukunya. Kenapa dia gak ambil sendiri pensil atau penggarisnya yang jatuh?”

“Kan tangan kirinya cuma separo mah. Cuma sampai siku. Jadi dia ga bisa pegang penggaris.”

*rindu Gagak. di mana ya dia sekarang? kalo ada yg kenal, tolong kasih tahu saya ya?

How To Be Remembered

 diambil dari salah satu tulisan di blog-nya Paulo Coelho…

In the monastery of Sceta, Abbot Lucas gathered the brothers together for a sermon.

‘May you all be forgotten,’ he said.

‘But why?’ one of the brothers asked.

‘Does that mean that our example can never serve to help someone in need?’

‘In the days when everyone was just, no one paid any attention to people who behaved in an exemplary manner,’ replied the abbot.

‘Everyone did their best, never thinking that by behaving thus they were doing their duty by their brother. They loved their neighbour because they understood that this was part of life and they were merely obeying a law of nature. They shared their possessions in order not to accumulate more than they could carry, for journeys lasted a whole lifetime. They lived together in freedom, giving and receiving, making no demands on others and blaming no one. That is why their deeds were never spoken of and that is why they left no stories.’

If only we could achieve the same thing now:

to make goodness such an ordinary thing that there would be no need to praise those who practice it.

INVICTUS : The Poem

Ini dia puisi INVICTUS versi lengkapnya…

Denger-denger ini puisi kesukaan NELSON MANDELA lo, waktu dia dipenjara 30 tahun itu…

Kekuatan katanya memang tiada tara ya?

 

Out of the night that covers me

Black as the Pit from pole to pole

I thank whatever gods may be

For my unconquerable soul

In the fell clutch of circumstance

I have not winced nor cried aloud

Under the bludgeonings of chance

My head is bloody, but unbowed

Beyond this place of wrath and tears

Looms but the Horror of the shade

And yet the menace of the years

Finds, and shall find, me unafraid

It matters not how strait the gate

How charged with punishments the scroll

I am the master of my fate

I am the captain of my soul

(William Ernest Henley)

Masih terbayang-bayang…

Nelson Mandela dipenjara selama 30 tahun. Keluar dari penjara, dia siap memaafkan orang-orang yang memenjarakannya. KOndisi mentalnya super sehat, sampai tidak ada dendam di hatinya. Bahkan dia langsung memimpin bangsanya. Dan fokusnya tetap pada rakyatnya.

OooooooooooooooooooO

RINDU

Genta badannya agak anget. Untung dia tidur cepat pagi ini. Semoga angetnya segera terbang jauuuuuuuh.

Seperti biasa. Begitu Genta terbang dalam tidur bermimpinya. Saya langsung siap melakukan tugas-tugas Ratu Rumah Tangga. Cucian udah dijemur. Masak? Hari ini libur. Mandi? Nanti dulu deh. Ha. Nonton film barang 1 jam deh. Ngecharge diri sendiri duluuuu.

INVICTUS judulnya. Beberapa minggu lalu dibeliin CD-nya sama Iya, adek saya. Dijual di Gramedia 5000 harganya. Film apa tuh? Gitu batin saya. Yang main Morgan Freeman dan si-Bourne itu. Cek jam. Lumayan udah mulai, tapi masih ada sisa barang 1 jam. Pas persis sama jatah nonton film pagi ini. Mulaiii…

10 menit kemudian. Mata saya hangat. Airmata sudah siap meluncur.

Sekitar 1 jam kemudian….

Hiks. Hiks. Hiks. Airmata saya meluncur indah sampai ke dagu. Rasanya rinduuuuuu serindu-rindunya sama rasa yang dimiliki rakyat Afrika Selatan waktu itu. Rinduuuuu punya pemimpin yang sudi bekerja keras. Rinduuuuu punya kebanggaan bersama. Rinduuuuuu. Rinduuuuuu. Boleh kan rindu? Kan artinya cinta?

I am the master of my fate
I am the captain of my soul

Mau ngintip cerita filmnya? Ke sini aja ya…

Panasnya sampai 39 Genta. Moga-moga cuma karna tumbuh gigi ya?