Emptyness

 “Emptyness is the beginning of perfection”

Begitu kira-kira kalimat yang terngiangngiang di telinga saya. Setelah menonton video tentang Borobudur beberapa tahun lalu. Kalimat itu juga jadi bola panas di tangan teman-teman saya, para pengajar bahasa Inggris di Yogya. Setiap kali ada yang bengong, digodain, dibilang otaknya lagi menuju perfection. Hahaha. I was sooooo very young. And it was a great great time.

 

Beberapa bulan yang lalu, ada juga kejadian soal emptyempty nih di rumah saya. Adek saya, Fatriya, setiap kali lagi bantuin saya gantiin baju Genta. Selalu saja dia teriak, “Mbak, mbok Genta itu dibeliin baju to. Baju kok cuman 5, yang 3 seragam sekolah.” Hahaha. Waktu itu saya pikir, la buat apa baju banyak-banyak, wong Genta kalau keluar rumah juga cuman sekolah sama weekend. Kan pas tuh? Sekolah seragamnya 3, 2 hari weekend pakai baju sisanya. Main pasir ngapain pakai baju bagus-bagus?

Genta punya bertumpuktumpuk kaos singlet, baju tipis rumahan, celana pendek dan celana panjang buat tidur. Dan waktu itu memang cuman 5 kaosnya yang “layak” buat dipakai pergi. Kami –saya dan suami- memang bukan pembeli pakaian. Kalau diingat-ingat, saya terakhir beli baju yang cukup banyak waktu tahun 2008, sebelum Genta lahir, di Bandung. Belakangan karna adek bungsu saya jualan baju, jadilah saya beli beli baju lagi. Prinsip yang sama berlaku buat Genta. Beli baju sesuai kebutuhan saja.

Karena bosan diteriakin terus-terusan sama Iya, saya beride untuk create empty space di lemari Genta. Sebagian bajunya saya pilih dan saya berikan ke beberapa orang yang masih punya anak kecil dan bisa memakai baju-baju itu. Loh, baju cuman sedikit kok malah dibagibagikan? Tenaaaang. Ini tips lama dari mamah saya.

Sejak kami kecil, menjelang bulan puasa atau mau tahun ajaran baru. Kami punya ritual. Kalau orang lain ritualnya motong ayam. Kami gak seserem itu. Namanya juga ritual. Tujuannya buat melancarkan segala sesuatunya. Kata mamah. Kami beresin lemari. Kami –saya dan adek-adek saya– harus milih baju-baju yang sudah cukup lama ga pernah kami pakai, dan menyerahkan baju-baju itu ke orang-orang yang bakalan lebih butuh daripada membiarkan baju-baju itu mondok di lemari kami, kayak tikus nungguin penghuni rumah pergi tidur.

Mamah selalu bilang,

Lihat saja. Begitu lemari kalian kosong. Pasti ada aja yang bakalan ngisi.”

Dalam hati saya bertanya-tanya, saya yakin adek-adek saya juga,

Siapa yang mau ngisi kalau bukan mamah papah?”

Tapi otoritas tentunya yang paling menentukan tindakan waktu itu. Kalau mamah bilang beresin lemari. Artinya apa? Yaaaa, kami harus beresin lemari. Titik. No negotiation.

Kembali soal Genta. Alkisah, singkat cerita, laci Genta yang cuma 3 biji berukuran sekitar 30 x 10 x 50 cm itu, nampak melompong. Rapi. Bersih. Dan kosong. Sudah. Selesai tugas saya. Apa saya langsung tergopoh-gopoh ke Tanah Abang buat belanja baju Genta? Waaah, gak ada magic-nya kalau ceritanya ber-ending ke situ. Gak. Saya lagi mau ngetes. Hahaha. Bukan bukan. Saya lagi mau mengulang pengalaman yang sudah berulangulang saya buktikan.

I create empty space. And I shall wait the universe to fill it in.

Sekitar bulan lalu, saya main ke Semarang. Di hari ke 4 atau 5, tiba-tiba adek bungsu saya beresin lemari keponakan saya, Arci. Pakaian Arci banyak banget. Banyak juga yang sudah kekecilan. Bagus-bagus. Tanpa saya minta, tiba-tiba dia bilang,

”Mbak, ini bajunya Arci udah kekecilan, buat Genta aja.”

Ya Allaaaaah. Mantranya bekerja. Masih ampuh juga. Itu baju banyak banget. Jauuuuh lebih banyak dari baju yang kemarin dikeluarin dari lacinya Genta. Dengan semangat, saya pack baju-baju bekas itu dan saya bawa ke Jakarta. Semuanya muat buat Genta. Semuanya masih sangat layak dipakai. Dan laci Genta super penuh. Jauh lebih penuh dari sebelum saya keluarin baju-baju Genta. Baju-baju bekas yang dengan sengaja saya undang berdesakan di dalamnya seperti penumpang busway di jam-jam pulang kantor.

The universe is really keeping its promises.

Sekarang Genta punya banyak baju buat pergi. Bibinya, adek saya, gak pernah lagi teriak-teriak minta saya beliin baju buat Genta. Problem solved. And it all started with an empty space.

Bisa jadi itu maksud video di Borobudur ya? Emptyness is the beginning of perfection. PERFECT. Karena universe menepati janjinya. PERFECT. Karena tugas kita cuma menciptakan empty space. PERFECT. Karena itu tugas yang sangat mudah. Hihihi.

29 July 2011
-bergaya spiritual
Advertisements

Tentang Cinta, Hypnosis dan Martial Arts

Anda suka teringat-ingat pacar lama Anda gak?

Saya kadang teringat. Seperti barusan saja. Saya teringat pacar saya dengan nomor pendaftaran G2345. Iya, harus pakai nomor pendaftaran, kalo gak nanti mengganggu privacy orang. hehehe.

Ok. Balik ke awal. Saya teringat pacar lama saya karena alasan yang baik kok.

Tadi malam giliran mas Tonny, suami saya, pacar baru saya, yang menidurkan Genta. Genta pakai segala cara buat keluar kamar. Beberapa minggu lalu, mas Tonny terkecoh dengan trik Genta yang pura-pura mau pup. Udah keluar kamar, bukannya lari ke kamar mandi, Genta langsung nggabruk ke saya, minta nonton Barney. Ok. Salah satu trik yang akan diwaspadai.

Kesempatan berikutnya, Genta pakai trik “pup” lagi. Tapi ayahnya dengan tegas bilang, gak. Pikir punya pikir, Genta nemu trik yang berbeda. Kali ini alasannya batuk, minta minum air putih. Sekali lagi, begitu pintu kamar dibuka, Genta langsung menghambur keluar. Hahaha. Gotcha, kata Genta dalam hati mungkin. Akhirnya, setiap trik ini dipakai, ayahnya bakal bilang, “OK. Genta tetap di tempat tidur. Ayah yang ambil air putihnya.” Genta menyerah.

Sama saya, trik akhir Genta adalah minta peluk. Dan biasanya dia akan segera tidur setelah dipeluk. Sama ayahnya rupanya triknya berbeda. Dia minta gendong. Ayahnya setuju tadi malam. Tentunya syarat dan ketentuan berlaku. Hanya digendong di dalam kamar, TIDAK keluar. Hehehe. Kamar cuman seupil gitu. Jalan-jalan di dalam kamar ya sama aja sama joget maju mundur. Anyway, trik ini berhasil. Berhasil buat bikin Genta tidur. Juga berhasil buat negosiasi ayahnya.

Oiya. Saya dan suami termasuk orang tua yang SUKA menggendong anak. Kami tidak percaya bahwa anak yang digendong bakalan jadi manja atau minta digendong terus-terusan. Ya, so far, pendapat kami terbukti. Sejak Genta belajar jalan saja, dia sudah gak mau digendong lagi. Dia hanya minta gendong buat kesempatan tertentu. Dan kami JARANG sekali menolaknya. Tenang saja. Keputusan ini adalah hasil dari riset kami berdua. Anda tidak setuju? Silakan riset ulang. Hehehe.

Soal tidur, Genta juga sebenarnya hampir tidak ada masalah. Dia tidur hampir di mana saja. Dia bisa tidur di car seatnya, saat tape lagi keceng-kencengnya muter baba black sheep. Kadang dia tidur begitu aja di kasur, saat keluarga besar kami klonthangan makan siang. Intinya, dia jarang punya masalah tidur. Tapi saat dia butuh perhatian lebih, kayak tadi malam, memang butuh special treatment. Bayangan saya, kayak saya minta dielus-elus kalau mau tidur, setelah seharian BETE. Atau mas Tonny yang minta dipijet, sepulang meeting seharian sama bule, ngomongin tentang pemecatan karyawan. Kami saja kadang butuh special treatment, gimana Genta.

Kembali soal si nomor pendaftaran G2345. Saya teringat dia karena dia pernah mengajak saya nonton film waktu itu. Saya sudah lupa judulnya. Namanya juga orang pacaran. judulnya ma gak penting. Hihihi. Tapi ada salah satu kalimatnya yang saya ingat

“Talking about love, is like dancing about architecture”.

Ingatan ini memicu ingatan lain saya tentang pak Yan Nurindra, suhunya hypnosis Indonesia. Dia bilang, hypnosis itu seperti bela diri, ada ilmunya, ada tekniknya, ada kursusnya, ada sertifikasinya. Tapi ada 1 hal yang gak bisa ditransfer, yaitu seninya. Persis seperti itu pikiran saya tentang jadi orang tua. Betul ada ilmunya, tekniknya, trainingnya, workshopnya, bukunya, forumnya. Tapi seninya jadi orang tua anak Anda, memang cuman Anda yang menguasai.

Peluk cium hangat for you all, parents.

20 July 2011
-sambil mengirimkan energi kehangatan buat para orang tua di luar sana