LASKAR MEJIKUHIBINIU

Saya bukan fans-nya Andrea Hirata.

Entahlah, for some personal reason, saya memutuskan saya bukanlah fans-nya Andrea Hirata. Saya TIDAK baca buku Laskar Pelanginya. Saya ulang ya? Saya TIDAK baca buku Laskar Pelanginya. Karena alasan yang saya lupa, saya menonton filmnya. Mungkin karena ada keterlibatan Mira Lesmana di dalamnya. Dan untuk alasan yang berbeda lagi, saya menonton pertunjukan musikal Laskar Pelangi-nya. Begitulah hidup mengantarkan saya tepat ke pintu yang sudah 6 bulan saya hindari. Hehehe. Tapi…

Apakah saya puas? Hmm. Let me think.

Saya SUPER PUAS dengan pertunjukan musikalnya. Hampir tidak ada cacat dalam pertunjukan musikalnya. Liriknya. Musiknya. Akting anak-anaknya. Totalitas property-nya. Kenapa saya bilang ”hampir tidak ada cacatnya”? Karena tiketnya masih membatasi diri pada orang-orang yang memiliki akses ke uang 150.000 rupiah per kursinya. Sungguh saya berharap anak-anak Indonesia punya kesempatan untuk menonton pertunjukan musikal itu.

Kenapa? KENAPA? Anda tanya kenapa?

Bukaaaaan. Bukan saya minta mereka belajar semangat dari anak-anak sekolah miring itu. BUKAAAAAN. Bukan juga saya berharap anak-anak belajar kembali tentang savana, proses terjadinya hujan maupun siapa wakil Indonesia di Konferensi Meja Bundar dengan Belanda. Bukan. Bukan. Bukan itu.

Saya ingin anak-anak Indonesia menikmati alunan musik nan indah dengan lirik-lirik yang menyentuh di hati. Saya membayangkan anak-anak Indonesia melangkahkan kaki keluar gedung pertunjukan dengan ringan. Hampir seringan langkah penari balet. Saking jiwanya penuh terisi keindahan seni lokal yang, sampai berbuih keluar dari kedalaman jiwa mereka. Seperti minuman soda yang sudah dikocok-kocok, sebelum dibuka. Wuuuuusssssshhhhh, begitu bunyi buihnya melesak keluar dari botol. Efek yang sangat meringankan hati dan kepala.

Efek menonton pertunjukan seni memang sangat beda dengan efek berjalan-jalan ke mall. Saya berharap anak-anak Indonesia memiliki kesempatan untuk menikmati buih seni Indonesia ini. Saya berharap semakin banyak anak-anak Indonesia yang mendapatkan privilege ini, dari para orang tuanya yang sangat mencintainya. Orang tua yang memberikan piala kemenangan pada pertunjukan seni, ketika dikompetisikan dengan jalan-jalan di mall.

 

Tapi sekali saya katakan. Saya TETAP BUKAN fans-nya Andrea Hirata.

Saya pengagum presisi dan kecerdasan Jay Subiakto dalam menterjemahkan Laskar Pelangi dalam property-property yang (bagi saya) GENIUS.

Saya juga bertepuk tangan bagi kerja keras Mira Lesmana, Riri Riza dan Erwin Gutawa.

Saya penasaran dengan ibu Hartati, sang superwoman di balik kedahsyatan liukan tubuh para penari di atas panggung.

Terlebih-lebih, saya ingin memeluk anak-anak yang menarikannya di atas panggung (terutama Kucai ya? Hihihihi). Kenapa? Karena mereka mampu bersenang-senang di atas panggung. Karena, bukankah itu yang terpenting bagi anak-anak? Menikmati setiap momen hidup mereka. Di atas panggung maupun di luar panggung.

 

Ahhh, seandainya semua ini tidak perlu melibatkan Andrea Hirata.

Hahahaha. Apakah saya terdengar membencinya?

Bukan. Bukan. Saya bukan pembenci Andrea Hirata.

Saya hanya BUKAN fans Andrea Hirata.

 

17 July 2011
Kurang lebih 2 minggu setelah menonton pertunjukan musikal Laskar Pelangi.
-karena butuh waktu lama untuk mencerna rasa
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s