Tentang Si Cantik

Di sekolah Genta tadi pagi, seorang teman Genta nangis teriak-teriak sampai muntah. Bau muntahannya nyebar sampai ke mana-mana. Muka anak cantik itu sampai merah. Wajahnya basah, gabungan air mata, ingus dan muntahan, membentuk pola yang sudah sering saya lihat di wajahnya. Rasanya nyeri di dada, setiap kali lihat anak nangis. Kayak ada lobang di dadaku, sementara angin dingin wara wiri keluar masuk. Nyeri.

Gabungan rasa kasihan sama si anak, juga jengkel. Siapa sih orang tua yang gak jengkel lihat anak yang sulit dikasih tahu? Hiks. Jangan-jangan cuma saya ya yang suka jengkel kalau lihat anak sulit diajak bicara. Hahahaha.

Anyway, si Cantik temannya Genta ini, sebut saja namanya Cantik ya? Karena memang dia cantik, mungil dan imut-imut. Energinya juga berlimpah ruah. Saya perhatikan, kalau dia datang bareng ibunya, anak ini nampak happy sekali. Main lompat-lompatan, kejar-kejaran bareng ibunya. Ketawa-ketawa. Dan jarang sekali nangis atau bahkan ngambek kayak tadi. Sayangnya ibunya termasuk ibu yang jarang kelihatan di sekolah. Sayang sekali.

Cantik lebih sering diantar orang lain. Gantiganti pula. Tantenya, mbah putrinya, om-nya, tante yang lain lagi, tante dari pihak saudara ibunya, ada banyaaak tantenya. Dan namanya manusia ya bu, yah, semuanya bedabeda cara mendekati si Cantik. Dari jauh saya suka mengamati dan kasihan sama si Cantik. Cantik nampak putus asa. Saya ikut sedih.

Hari ini Cantik diantar baby-sitternya. Baby-sitternya lebih banyak ngelamun di kelas. Bukan ngurusin si Cantik. Cantik dibiarin berkeliaran di kelas. Sampai nanti ditegur sama salah satu gurunya, terus Cantik diseret atau diangkat paksa begitu saja, TANPA PENJELASAN, oleh sang baby-sitter. Biasanya kemudian Cantik nangis, teriak-teriak sambil tiduran di lantai. Sama baby-sitternya yaaaa dibiarin aja atau malah ditakut-takutin.

Mau ditinggal? Mau? Mau?

Begitu ancam si baby-sitter.

Hari ini, seorang guru mencoba menenangkan Cantik. Menurut saya, caranya benar. Dibawa ke sudut, diajak bicara. Tapi Cantik sudah gak peduli. Dia tetap teriak-teriak. Dia seperti tidak percaya bahwa bicara baik-baik bisa menyelesaikan masalah. Gimana cara dia percaya? Wong dia gak pernah punya pengalaman seperti itu?

Gudang perpustakaan bawah sadarnya hanya menyimpan inventory bahwa ketika orang dewasa bicara dengannya, itu adalah suruhan, bentakan, amukan atau ancaman. Kasihan si Cantik. Bahkan ketika si Guru baik hati ini memakai cara benar buat bicara pun, Cantik tidak punya kesabaran buat mendengarkan. Apalagi kemampuan buat mengendalikan marahnya. Kasihan betul si Cantik.

Cantik gak punya simpanan file tentang bicara baikbaik. Cantik juga gak punya ingatan tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh serta konsekuensinya. Cantik hanya tahu, dia bisa lakukan apa saja yang dia mau, sampai satu titik yang tidak jelas, seorang dewasa akan menyatakan itu tidak boleh. Kemudian dia bisa teriak sekencang-kencangnya, biasanya itu bisa bikin dia BOLEH melakukan apa pun yang dia inginkan.

Aaaaah, lupakan segala teori soal konsistensi, kongruensi, konsekuensi, pendidikan nilai, ngajarin antri, pengelolaan emosi dan segala tetek bengek lainnya. Tentunya itu semua penting dalam mendidik anak. Tapi bukan soal itu kali ini. Kali ini saya mau bicara soal yang gampang-gampang saja.

Gimana Cantik bisa buat trust sama orang kalau orang di sekitarnya bahkan tidak pernah belajar mendengarkan pendapatnya?

Gimana Cantik mengelola rasa putus asanya sementara dia belum ahli betul mengekpresikan rasanya?

Gimana badan Cantik terpengaruh sama hormon stresnya yang sudah pasti mengalir deras saat dia nangis, teriak dan muntah-muntah tadi?

Ah, bisa apa saya? Saya cuma bisa merasa nyeri, seperti dada yang berlubang dengan angin dingin wara wiri di dalamnya. Dan ini saya alami  minimal 1 minggu sekali. Hiks.

19 July 2011
-catatan sedih ibu-ibu yang rajin anter sekolah anaknya
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s