Tentang Tato

Suatu malam, pulang makan malam, di dalam mobil, sambil memeluk Genta yang meringkuk nyaman dalam dekapan. Suami saya tiba-tiba bertanya perlahan. “Kalau seandainya tato dibolehkan sama agama kita dek, kamu mau tato gak?”

Wadoh. Dalam hati ada bisikan. “Ini pertanyaan jebakan bukan ya?” Seperti hujan angin, walaupun terasa segar setelah panas seharian, tetap aja bikin deg-degan sama efeknya. Persis seperti itu yang saya rasakan mendengar pertanyaan dari si supir malam hari saya.

Sambil menguatkan tekad dan berharap this conversation would end up smoothly. Saya menjawab, ” Jika dan hanya jika dibolehkan sama agama DAN bisa tidak terlalu menyakitkan, YES, aku mau punya tato.” Suasana heniiiiiiing. Cuma gabungan nafas Genta dan suara AC menderu-deru. Tentunya plus degupan di dada yang harap-harap cemas sama efek jawaban jujur saya.

Sang kekasih melanjutkan. “Jika dan hanya jika, kamu mau tato di mana?”

Nada suaranya terdengar tenang dan terkendali. Nampaknya dia bisa berdamai dengan jawaban saya. Langsung saya lanjutkan dengan jawaban pertanyaan berikutnya. “Hmm, ada beberapa lokasi yang kubayangkan. Persis di tulang ekor. Dekat mata kaki. Dan di lengan bagian atas. Mungkin juga di tengkuk atau leher dekat telinga”

“YES” teriak dia.

Sambil mengangkat satu alis dan keheranan saya gentian bertanya. “Apanya yang yes?”

Berarti BAHKAN dalam bayangan saja, kamu memang orangnya.” Hihihihi. Tersipu-sipu deh sayanya, walaupun belum juga “maksud” sama pesannya. Dia melanjutkan.

“Dari dulu aku memang suka sama perempuan bertato. Lokasi yang kamu sebut persis seperti lokasi tato perempuan dalam bayanganku.”

 
2 Agustus 2011
-romantis gak bikin puasa batal kan ya? selamat puasa semuanya...
Advertisements