People DO NOT CHANGE

Manusia itu gak berubah kok… dari jaman Nabi Adam sampai sekarang….

Begitu kalimat yang bulan puasa lalu saya dengar di pagi buta. Lumayan membuat mata membelalak. Lumayan membantu saya bangun makan sahur. Lumayan. Cuman kepala saya jadi bertanya-tanya. Yakin itu kalimat bener?

Manusia itu gak berubah? Jadi yang dibilang people changes itu PLASU? Eh, PALSU maksud saya.

Time flies. Dan saya masih belum dapat jawaban yang memuaskan dari pertanyaan saya malam itu. So, people DO NOT CHANGE?

Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah pelatihan. Salah satu pelatihan favorit saya. Di mana saya bisa menangis, tanpa mengundang tertawaan orang lain. Jangan salah. Mata saya mudah sekali mengeluarkan air mata. Lihat film FRIENDS, saya nangis. Lihat So You Think You Can Dance, becek juga mata saya. Apalagi di pelatihan, di mana otak dan hati dibulak-balik? Pastinya saya nangis. Lha wong jadi trainer, dengerin trainee-nya cerita masa lalunya, saya malah yang nangis kok. Yup. Anyway, di pelatihan favorit saya ini, saya bebas menangis. Yihaaaaaa.

Ups. Back to laptop. Di pelatihan ini, intinya perilaku peserta jadi super terkendali. Sopan. Antri makan dengan tertib. Mau jalan juga bilang permisi. Berhenti gak di tengah jalan. Ampuuuun, ini salah satu yang bikin saya suka sama komunitasnya. Nah, pas di pelatihan kemarin, trainernya tanya sama kami, para peserta. Siapa yang mau bantu orang di gambar ini? Ratusan orang angkat tangan. Idenya macem-macem, berasa makan es buah. Selalu ada kejutan dari tiap gigitannya. Tapi intinya, mereka semua mau menolong sosok di depan. Dengan mudah dan bersemangat. Sebuah kenangan yang indah tentang “manusia”.

Waktu gunung Merapi meletus beberapa waktu lalu. Seorang teman yang asli dari Yogya bercerita tentang sebuah panti asuhan yang butuh genset. Dibutuhkan dana sekitar 4 juta. Setelah minta ijin pada yang bercerita, saya langsung ajak beberapa teman buat saweran 150.000 an buat beli gen set itu. Kurang dari 2 minggu dana terkumpul. Langsung transfer ke teman saya di Yogya yang rumah mertuanya tetanggaan sama panti asuhan itu. That small genset problem solved. Ingat lain tentang “manusia” yang indah.

Duluuu sekali, saat tulang muda masih bergejolak, saya pernah jatuh dalam pendakian ke Gunung Sindoro. Bukan pendakian tepatnya, saya jatuh saat turun dari puncak Gunung Sindoro. Seorang teman yang tidak mengenal saya dengan baik, menawarkan diri menemani saya tinggal di atas sampai bala bantuan datang keesokan hari bersama matahari yang penuh harapan. Masih tentang “manusia”.

Suatu potongan waktu di Yogya, seorang teman mengeluh pada teman lainnya tentang kesulitan keuangan. Teman pertama butuh uang untuk bayar SPP-nya. Teman kedua dikenal anak keluarga kaya, mengaku tidak pegang uang cash. Tapi buru-buru melepas jam tangan merek mahal miliknya. Sambil berkata, “Mungkin ini bisa digadai atau dijual.” Manusia.

Seorang kenalan mendedikasikan waktu luangnya untuk mengjaar GRATIS bagi anak-anak yang terpinggirkan, dalam misi untuk anak Indonesia-nya. Manusia.

Seorang kawan yang lain, menyediakan waktu 2-3 kali seminggu untuk mengadakan cara bermain bersama anak-anak di sekitar rumahnya. Manusia.

Papah saya baru-baru saja didiagnosa ada benjolan di paru-paru kirinya. Tiba-tiba setiap orang yang mendengar berita itu mampir ke rumah saya, tempat papah dan mamah menginap selama di Jakarta, menawarkan alternatif penyembuhan. Saudara di Semarang meminta fotokopi hasil rontgen buat dibawa ke dokter herbalis di kota lumpia itu. Saudara di Kudus tiba-tiba mengirim propolis yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tante di Cinere rela pagi-pagi nongkrong di Rumah Sakit, ngantri nomor buat papah, yang akhirnya masuk ke ruangan dokter baru jam 2. Aaaah. Inikah “manusia” sama yang tidak pernah berubah itu?

Sekarang saya mengamini kata ustadz Qurais Shihab tentang manusia tu pada dasarnya tidak berubah. Ibu dari dulu menyayangi anaknya. Ayah dari dulu ingin memberikan nafkah terbaik bagi keluarganya. Manusia memang tidak pernah berubah, pada inti kebaikannya. Pada dorongan murni untuk berbuat kebaikan.

Thank God I’m human.

Bintaro, September 2011

Si Kuning Yang Kuakrabi

Sudah sejak lama saya dengar tentang DINAR. Mungkin sekitar tahun 2007, saya pertama kali berpapasan dengan jalan DINAR. Di sekitar waktu yang sama, sambil lewat ruko yang konon adalah rukonya Anang dan KD di Radio Dalam  (waktu itu), saya mampir ke satu ruko yang katanya menjual DINAR. Harganya waktu itu sekitar 1,4 juta. Seperti makan pisang goreng dengan cabe, lidah saya bingung harus berucap syukur atau marah. Hehehe.

Karena waktu itu berasa belum waktunya beli. DINAR terlupakan. Begitulah orang lajang (baca: saya ketika lajang). Ga mikir investasi. Dana pensiun. Boro-boro asuransi kesehatan. Berasa masih kuat, segar, duit habis tinggal cari lagi. Hehehe.

2009, Ksatria saya lahir di dunia. Muhammad Genta Ksatria Bumi. Ksatria di bumi yang kemuliaannya bergema seperti genta. Tiba-tiba prioritas bergeser, Dari GRAMEDIA setiap weekend, ke Rumah Sakit buat vaksinasi. Dari rali nonton bioskop yang biasanya saya dan suami lakukan di hari libur, ke tidur-tiduran di kamar sendiri sambil main-main cekikikan sama Genta. Dari beli lensa kamera, sepeda, tas baru, DVD ke baju bayi, mainan bayi. Obrolan pun bergeser dari pengen ke mana liburan depan ke umur berapa ya kita bisa pensiun dan total nemenin anak dalam kegiatannya sehari-hari? hahahaha. Life. Life.

Sekitar tahun 2010an, saya berpapasan kembali dengan DINAR dalam hidup saya. Dengar-dengar saat itu harganya sudah 1,6an. Ini seingat saya. Pokoknya peningkatannya menimbulkan suara ck ck ck di mulut saya. Mirip suara cicak di malam hari saat semua penghuni rumah sudah tidur. Secepat itu naiknya???

Akhir 2010, semua fokus kami bergeser ke Genta dan uba rampenya. Awal 2011, ijab kabul saya, suami dan dinar dimulai. Seperti dalam hubungan, selalu ada naik turun, tawa dan tangis. Hahaha., Lebay ah. Intinya saya dan suami mulai memasukkan pihak ketiga dalam rumah tangga kami, si kuning yang lagi ngetop banget belakangan ini. Ngetopnya ngalahin Utha Likumahuwa yang baru saja pulang ke rumah Tuhannya.

Dan yes. Saya jatuh cinta lagi. Pada si kuning. Never cross my mind, bahwa suatu ketika saya akan menjadi fans berat si kuning seperti sekarang ini. Semua yang kenal saya tahu, saya sebenarnya mengidolakan warna merah!

Bintaro, 14 September 2011