Si Kuning Yang Kuakrabi

Sudah sejak lama saya dengar tentang DINAR. Mungkin sekitar tahun 2007, saya pertama kali berpapasan dengan jalan DINAR. Di sekitar waktu yang sama, sambil lewat ruko yang konon adalah rukonya Anang dan KD di Radio Dalam  (waktu itu), saya mampir ke satu ruko yang katanya menjual DINAR. Harganya waktu itu sekitar 1,4 juta. Seperti makan pisang goreng dengan cabe, lidah saya bingung harus berucap syukur atau marah. Hehehe.

Karena waktu itu berasa belum waktunya beli. DINAR terlupakan. Begitulah orang lajang (baca: saya ketika lajang). Ga mikir investasi. Dana pensiun. Boro-boro asuransi kesehatan. Berasa masih kuat, segar, duit habis tinggal cari lagi. Hehehe.

2009, Ksatria saya lahir di dunia. Muhammad Genta Ksatria Bumi. Ksatria di bumi yang kemuliaannya bergema seperti genta. Tiba-tiba prioritas bergeser, Dari GRAMEDIA setiap weekend, ke Rumah Sakit buat vaksinasi. Dari rali nonton bioskop yang biasanya saya dan suami lakukan di hari libur, ke tidur-tiduran di kamar sendiri sambil main-main cekikikan sama Genta. Dari beli lensa kamera, sepeda, tas baru, DVD ke baju bayi, mainan bayi. Obrolan pun bergeser dari pengen ke mana liburan depan ke umur berapa ya kita bisa pensiun dan total nemenin anak dalam kegiatannya sehari-hari? hahahaha. Life. Life.

Sekitar tahun 2010an, saya berpapasan kembali dengan DINAR dalam hidup saya. Dengar-dengar saat itu harganya sudah 1,6an. Ini seingat saya. Pokoknya peningkatannya menimbulkan suara ck ck ck di mulut saya. Mirip suara cicak di malam hari saat semua penghuni rumah sudah tidur. Secepat itu naiknya???

Akhir 2010, semua fokus kami bergeser ke Genta dan uba rampenya. Awal 2011, ijab kabul saya, suami dan dinar dimulai. Seperti dalam hubungan, selalu ada naik turun, tawa dan tangis. Hahaha., Lebay ah. Intinya saya dan suami mulai memasukkan pihak ketiga dalam rumah tangga kami, si kuning yang lagi ngetop banget belakangan ini. Ngetopnya ngalahin Utha Likumahuwa yang baru saja pulang ke rumah Tuhannya.

Dan yes. Saya jatuh cinta lagi. Pada si kuning. Never cross my mind, bahwa suatu ketika saya akan menjadi fans berat si kuning seperti sekarang ini. Semua yang kenal saya tahu, saya sebenarnya mengidolakan warna merah!

Bintaro, 14 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s