Watching The Clear Blue Sky

Waktunya sore-sore, di kota yang terkenal sama hujan dan angkotnya. Tiba-tiba badan ingin sekali digeletakkan di atas rumput hijau. Begitu kepala rebah, mata langsung terpukau dengan keindahan awan biru di atas sana. Kata-kata yang keluar dari mulut saya adalah;

“Kapan ya terakhir kali lihat langit kayak gini? “

Semakin diingat, semakin yakin. Terakhir kali menggeletak di rumput hijau menatap langit sudah lamaaaa sekali.  Mungkin waktu umur saya masih kepala 2. Hehehe. Ketahuan deh umurnya.

Ya. Saya suka sekali lihat benda-benda langit saat teduh. Bulan. Bintang. Langit biru. Awan. Burung pulang ke sangkar. Saya baru ingat betapa sukanya saya sama hal-hal itu. Segala rutinitas yang sudah sengaja dibikin gak rutin itu, ternyata tetap bikin saya lupa sama keindahannya. Keindahan yang bikin hati rasanya adeeeeem banget.

Duluuu sekali, waktu muda. Saya suka naik ke atap saat bulan purnama. Tidur di atas menikmati bulatnya bulan. Sungguh indah lo. Itu dulu. Sekarang tidur di atap, efeknya panjang pasti. Masuk angin. Muntah-muntah. Halaaaah, umur gak bisa dikibulin memang. Saya juga suka sekali nongkrong di bawah tiang bendera kampus sore-sore menjelang maghrib, sambil tiduran ngeliatin langit biru.

Sudah lamaaaa sekali saya tidak dengan sengaja tiduran dan memandang langit biru. Kalau kata Barney, doing nothing. Ternyata efeknya tetap sama. Bikin hati adem. Otak semacam di-defrag. Dan super refresh. Cobain deh.

-pulang dari Kebun Raya Bogor, 26 Nopember 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s