My Map is My Teritorry

Beberapa hari belakangan, saya menghadapi personal circumstances yang cukup menantang fleksibiltas berpikir saya. Pada saat yang sama terelintas beberapa status teman yang cukup menguatkan.

Mas Nuryanto suatu ketika nulis statusnya. “Ahli NlP diuji dgn nlp. Ahli hypnosis diuji dgn hypnosis.”

Mbak alyssa d twitter beberapa saat lalu juga nulis tentang besi yang ditempa biar bisa jadi keris.

Well. Thats my map under my circumstances. And tentunya hak saya melabel semua kejadian yang tejadi dalam hidup saya. Saya memilih label di atas.

Saya juga makin penasaran dengan map, pesepsi, subjektivitas. Apa pun namanya lah. Tapi intinya tentang keyakinan berlebihan atas kebenaran versi pribadi. One thing I learn from this is, keyakinan belebihan kadang kala tidak muncul dalam perdebatan sengit atau diskusi tanpa akhir, atau obrolan yang memancing otot leher mengencang. Namun muncul dalam suara lirih kekeras-kepalaan dan kadang dalam bisik kaum minoritas yang menanti tumbangnya kekuasaan mayoritas. Hiks.

Saya juga belajar bahwa perilaku dholim, bukan cuma hak istimewa kaum berkuasa, kaum berharta ataupun kelompok yang selama ini mendapat stereotype melakukan perilaku dholim. Perbuatan dholim juga bisa dilakukan kaum miskin, kaum minoritas, kaum yang meraa tidak punya kuasa.

Soal dholim saya akan tulis d tulisan berikutnya. Karena ternyata panjang. Hehehe.

Anyway, my map is my teritorry. And your map is your teritorry. I learn a lot from what happen these days. It gives more meanings to my map. I dont really care about others map.

If Only I Were…

Ada kata-kata bagus yang asal usulnya diperdebatkan. Ada yang bilang dari Amerika, ada yang bilang dari Argentina. Ada yang katanya aslinya prosa, ada yang bilang aslinya puisi, bahkan ada yang bilang aslinya lirik musik jazz. Yang mana pun asalnya. Kata-katanya bagus. Maknanya like a splash of water. A very nice reminder. Please do read them.

If I had my life to live over, I would try to make more mistakes. I would relax. I would be sillier than I have been this trip. I know of very few things that I would take seriously. I would be less hygienic. I would go more places. I would climb more mountains and swim more rivers. I would eat more ice cream and less bran.

-Don Herold (1953), I'd Pick More Daisies

If I had my life to live overI’d do the same things againI’d still want to roam to the place we call homeWhere my happiness never would end.

-Moe Jaffe & friends (1993), If I Had My Life To Live Over

If I were able to live my life again, next time I would try to make more mistakes.
I would not try to be so perfect. I would be more relaxed.
I would be much more foolish than I have been.
In fact, I would take very few things seriously.
I would be much less sanitary. I would run more risks. I would take more trips, I would contemplate more sunsets,
I would climb more mountains, I would swim more rivers.
I would go to more places I have never visited.
I would eat more ice cream and fewer beans.
I would have more real problems, fewer imaginary ones.
I was one of these people who lived prudently and prolifically every moment of his life.
Certainly I had moments of great happiness: Don’t let the present slip away.
I was one of those who never went anywhere without a thermometer, a hot water bottle, an umbrella, and a parachute.
If I could live over again, I would go barefoot, beginning in early spring and would continue so until the end of autumn.
I would take more turns on the merry-go-round.
I would watch more dawns
And play with more children, if I once again had a life ahead of me.
But, you see, I am eighty-five and I know that I am dying.

-Moments, Borges

Renungan Kloset

Lupa kapan tepatnya. Tapi masih teringat rasanya. Rasanya seperti dibisikin orang dengan mulut yang agak miring karna tersenyum.

Waktunya pagi-pagi sekali. Bangun tidur. Sambil sempoyongan bangun menuju kamar mandi. Duduk di atas WC sambil masih merem melek. (mungkin ini rasanya mabuk ya?) Rasanya ada seseorang dengan suara berat bersahabat membisikiku.

“Jadi pengusaha itu, duitnya belum kelihatan. Tanggung jawabnya udah terasa.”

Seperti disembur air dari belalai gajah. Dengan tersenyum, tiba-tiba pagiku dimulai lebih cepat, lebih semangat dan lebih humoris. Entah kenapa itu kata-kata kok munculnya di atas WC ya? Walaupun memang banyak banget tuh kata-kata bijak bermunculan dari lubang yang satu itu.

Anda juga sering dapat moment seperti itu di atas WC?

 

Bintaro setelah hujan, 1 Desember 2011
-memperingati tahun di mana I surprise myself-