Banyak Bisnis Gagal di Tahun Pertama

Tahukah Anda, kalau Anda ketik “bisnis di tahun pertama” di Google maka kebanyakan artikel yang muncul adalah tentang kegagalan. Wow. Sama sekali tidak mendukung entrepreneurship ya? Harusnya kan yang muncul artikel tentang, cara-cara memulai, dukungan pemerintah, kebutuhannya, dll, tapi yang muncul justru tentang kegagalan. Ni kalau gak percaya.

Setelah kegagalan saya di bisnis pendidikan tahun 2012 lalu, seorang teman juga mengirim pesan melalui WA saya yang isinya kurang lebih begini.

“Tenang wae. Rugi itu biasa. Bangkrut itu biasa. Aku dulu juga gitu. 90% bisnis gagal di tahun pertama”

Hualaaah. Satu sisi melegakan. Di sisi lain, saya bertanya-tanya, haruskah saya menyerah pada fakta bahwa saya termasuk kaum 90%? Huaaaa, hiks, hiks. Apakah wirausaha bukan jalan saya? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Hah, otak saya langsung dipenuhi banyak pertanyaan.

Anyway, soal gagal di tahun pertama, ada banyak artikel terkait tentang mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasi atau menghindarinya, kalau mungkin. Tapi saya bukan ingin menambah deret artikel tentang mengapa dan bagaimana. Saya mau bercerita tentang rasa. Rasa gagal.

Apakah Anda memahami bahwa Anda tidak pernah sepenuhnya siap gagal, sampai akhirnya Anda sungguh gagal dalam satu lingkup hidup Anda. Ah, saya tidak sedang membahas frase klise “kegagalan adalah sukses yang tertunda” atau “kita tidak akan gagal sampai kita berhenti berusaha”. Ayolah, kita semua sudah dewasa. Sedikit kegagalan bukan masalah besar bagi siapa pun dengan self esteem yang baik. Sedikit kegagalan + banyak denial, itulah yang menimbulkan masalah.

Seorang teman memberi komentar di Facebook suatu hari saat saya share status tentang kegagalan.

“Tenang mbak. Kegagalan itu….. bukanlah kesuksesan”

Nah, itu yang tepat. Ini baru teman sejati menurut saya. Langsung menampar ke intinya. Mengguncang ke dalam ulu hati. Hihihihi.

Saya butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk recover dari kegagalan saya mengelola bisnis pendidikan saya. DIgabung dengan meninggalnya papah dan perlakukan semena-mena orang lain pada mamah saya, 2 tahun rasanya bukan waktu yang lama. Selama 2 tahun, saya mandeg menulis. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Ada malam-malam di mana saya membuka laptop, mengklik tombol “Add New” di wordpress, tapi kemudian timbol-tombol lain di keyboard seperti menghinda jari-jari saya yang diam lumpuh tak bergerak.

Kurang lebih 2 tahun saya tidak melakukan kegiatan bisnis apa pun. Sibuk bertanya, apakah keputusan saya tepat untuk menghentikan bisnis saya itu, yang cukup menguntungkan secara finansial, tapi membuat saya tidak bisa tidur karena bertentangan dengan nilai dasar yang saya miliki. Bertanya-tanya apakah kerugian ratusan juta ini layak menjadi akibat kekeras-kepalaan saya mempertahankan value yang saya yakini betul kebenarannya?

2 tahun saya gigit jari setiap melihat teman menerbitkan buku keduanya. Membuka Indomaret ke-4 nya. Membuka rumah kos-kosan barunya. Membeli lempengan emas ke sekian. Membeli rumah baru. Berlibur jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Menggigit jari dan tidak mampu menyingkirkan awan hitam di kepala saya, tentang kegagalan ini.

2 tahun merasa sendiri dalam kegagalan. Bukan karena tidak ada support, tapi karena merasa sendiri. Merasa malu karena gagal, padahal seharusnya saya bangga memenangkan value hidup saya atas nilai ratusan juta rupiah. Tidak mampu membicarakannya secara publik, tanpa marah dan jengkel pada individu yang menjadi tumpuan saya mengambil keputusan itu.

Buuuut……

2 tahun sudah berlalu my friends, awan gelap pun ada masanya bergerak. Saya di sini sekarang. Berdiri tegak, siap memulai babak baru. Perjuangan belum berakhir, begitu pula kesenangan baru dimulai. Jika dia-dia-dia yang di sana berpikir semua yang dilakukannya membuat saya menderita, saya menolak menjadi objek penderita. Saya pelaku hidup saya sendiri. You have seen me fall and you have seen me stand tall, again, and again, this time, even taller.

Tapi, janganlah ucapkan kata-kata klise soal gagal pada teman yang sedang mengalaminya, friend. Jujurlah seperti teman saya di atas jujur pada saya. Karena saat awan hitam menggantung, bukan harapan tentang sinar matahari yang dibutuhkan. Tapi pelukan hangat, pinjaman payung dan seorang teman yang tetap bertahan, itulah yang membuat saya tetap bertahan.

Ini saya attach beberapa artikel tentang kegagalan bisnis di tahun pertama. Jangan menyerah guys. Your dreams are bigger than this, right?

Arung Jeram

Ini foto lama tahun 90-an. Sengaja diupload, karena post sebelumnya sempat sedikit cerita soal hobi masa muda. Ihiks. Kayak orang tua aja ya saya ngomongnya.

Here it is. Ini buktinya saya beneran pernah hobi arung jeram. Lokasinya di Sungai Elo, Magelang, sekitar tahun 1994-1995. Yes, that’s how old I am.  Waktu itu belum tren wisata arung jeram, kalau toh ada, mahal sekali harganya. Jadi buat kantong mahasiswa, ga terjangkau. Jadilah kami, PALAPSI, mahasiswa pecinta alam psikologi UGM arung jeram sendiri dengan perahu seadanya.

Memorinya indah. Walaupu kalau diingat lagi, saya makin yakin kalau usia 20-an memang perkembangan pre-frontal korteks saya belum maksimal. Hehehe.

Tentang “Roso”

Beberapa saat yang lalu pak Prasetya M. Brata menulis di statusnya di Faceboook tentang cinta. Let me quote ya….

Kenapa kamu cinta aku? | Gatau. Kalau aku bisa nyebut alasannya, berarti jangan2 yang kucintai bukan kamu, tapi alasan tentang kamu…

Membaca itu kemudian saya teringat percakapan jauuuuh beberapa tahun lalu dengan mamah saya. Saat itu umur saya awal 20. Mamah saya bertanya, kenapa saya pacaran dengan pacar saya saat itu. Saya klakep, ga bisa jawab.

Hmm, kenapa ya mah? Ya memang dia pinter sih, tapi…. Lucu, baik…. *tapi saya tetap gagal menjawab pertanyaan mamah saya*

Mamah saya tetap diam dan memperhatikan wajah saya, seolah menunggu akhir dari kalimat saya. “Tapi?” kata mamah.

“Tapi bukan itu mah, alasannya aku pacaran sama dia.” Kata saya.

“Yah, kalau gitu kamu tak dukung. Berarti itu karena roso. Eman. Cinta. Karena orang bisa pinter, lucu, baik, segala macam, tapi kalau kamu gak eman, ya gak pengaruh. Roso itu penting Fan”

#Demikian kata mamah saya. Haaaaa, yang kenal saya di awal 20an, gak usah sibuk mbayangin siapa ini yang diomongin, ok? Ora usah iyik. Hihihi.

Terus terang saya kaget mamah memahami kesulitan saya mengungkapkan alasan. Mamah bukan orang yang ekspresif urusan cinta. Papah bilang kangen aja, mamah langsung blingsatan salah tingkah gak karuan, bisa-bisa endingnya marah karena super salah tingkah. Setahu saya, bahkan sampai papah meninggal di tahun 2012 pun, mamah gak pernah bilang cinta sama papah. Tapi keterangan mamah soal “roso” memang benar.

Kadang kita sibuk mencari alasan kenapa kita jatuh cinta sama seseorang. Padahal alasannya ya sudah jelas, ya kita cinta aja sama dia.  Love me for a reason, let the reason be love. *singing lagu jadul*

Dalam banyak hal, sepertinya nasehat mamah juga bisa diterapkan. “Roso” harus diutamakan. Boleh aja sih jago ilmu hukum, tahu segala macam soal hak dan kewajiban, tanpa “roso”, jadilah pengacara jadi-jadian yang hobinya ngajak debat orang. Boleh jadi insinyur jagoan, diakui secara internasional, gelar dari luar negeri, tanpa “roso”, jadilah ilmuwan menara gading, terpisah dari esensi ilmu yang tujuannya memecahkan masalah, masalah sendirinya jadi sumber masalah.

Mamah saya memang jarang salah. Walaupun kadang kebenarannya baru terbukti puluhan tahun kemudian. Itu gak perlu gelar. Gak perlu sertifikasi. Cuman perlu “roso”, Insting yang tulus dari seorang ibu, seorang manusia; yang sekarang jaraaaaang sekali saya temukan dari orang lain.

Nah, itu dia mamah saya. Gaul kan? Itu foto mamah di Dubai, di pinggir pantai tempat lihat Burj Al Arab. Mohon doa yaaaa supaya panjang umur, sehat, barokah usianya.

Eh soal Pak Prasetya M. Brata, beliau salah satu idola saya memang. Makanya saya kepo sekali sama beliau, bahkan statusnya aja saya jadikan bahan tulisan. Ini kali kedua beliau menginspirasi tulisan saya, yang kali pertama boleh cek di sini.

Foto Suami Saya

Suami saya suka sekali memotret. Tapi dia tidak punya blog dan malas ikut kompetisi. Hiks. Padahal menurut saya foto-fotonya super bagusnya. Jadi mulai sekarang, saya putuskan untuk upload beberapa fotonya di blog ini. You tell me, how great this is.

Yang di atas itu foto Genta, anak pertama saya. Foto ini diambil di Gunung Geulis Bogor, akhir tahun 2013.

Nah yang ini foto Puti, anak kedua saya. Hmm. Seingat saya ini foto juga akhir 2013, di Jungleland, Sentul.

Anak-anak selalu jadi objek foto yang menarik ya. Ekspresinya. Binar matanya. Kepolosannya. Ah, seandainya hidup sesederhana dunia di mata mereka.

I Have A Dream

Fanny Herdina IWPC2 at Kalbis Institute

I have a dream……

Siapa yang gak tahu potongan frase itu? Ah, hampir semua orang tahu kan? Sudah pernah denger suaranya yang menggelegar itu? Menggelegar bukan karena dia ngomong sambil teriak, kayak di acara-acara TV sekarang. Tapi menggelegar karena terasa ada dorongan dari dalam jiwa yang siap dimuntahkan. Cieee.

Anyway, I do have dreams too. Banyak mimpi saya. Salah satunya adalah berwirausaha. Ups. Sukses mandiri barokah berwirausaha. Nah, gitu lebih tepat. Kalau cuman berwirausaha kan semua juga bisa ya? Tapi saya mau sukses mandiri juga barokah.

Cerita soal wirausaha ini memang seru deh. Sejak SMA saya senang cari uang saku sendiri memang. Waktu SMA mamah saya mendaftarkan saya jadi member di beberapa direct selling kosmetik, Avon, Sara Lee (masih ada gak nih?). Mamah cuma mau bayar biaya member, habis itu, saya jualan sendiri, uangnya buat saya sendiri. Kebetulan kantor Avon Semarang sebelahan sama Gramedia. Hihihi. Jadi kalau habis order, untungnya langsung saya bawa ke Gramedia. Kebanyakan konsumennya keluarga, tante, bude, mamah sendiri. Hihihi.

Waktu kuliah, saya bekerja sampai lulus kuliah di UGM. Ngajar bahasa Inggris, terjemahan, jadi admin kegiatan dosen, fasilitator outbond, isi training. Apa aja. Yang penting SPP dan uang kos kebayar. Alhamdulillah, banyak teman, banyak kenalan. Sayang, lulusnya jadi lama. Kesenangan cari duit. #eh

Setelah lulus kuliah, sempat kerja di grup Astra. Keren kan? hihihi. Anak psikologi UGM keterima di Astra grup, wuah, a dream come true. Tapi gak lama. Jiwa saya sungguh tersiksa. Why? That’s another story. Waktu ngelanjutin kuliah di UI, pun masih saya nyambi kerja. Kali ini agak kerenan lah, lha wong udah lulus S1-nya. Sebutannya konsultan. Lama kelamaan bahkan saya bisa punya tim konsultan sendiri. Senang rasanya. Klien percaya sama saya. Saya bisa kerja dengan teman-teman pilihan saya.

Aaah, tapi itu tetap bukan wirausaha seperti bayangan saya. Betul sih selama bekerja mandiri dengan tim Arupakarta!, saya juga melakukan aktivitas promosi, networking, marketing, dll. Tapi saya mau wirausaha yang tanpa kehadiran saya, bisnis tetap bisa berjalan. Bisnis konsultan ini menuntut kehadiran saya. Klien sering kali hanya mau ketemu saya pas presentasi. Well, dengan Genta dan Puti, aktivitas konsultan pun saya hentikan. Priority change darling.

Tapi diam saja di rumah ternyata bukan hal yang mudah. Dan mimpi itu tetap menghantui. Btw, when I say “diam saja di rumah” I do not underestimate the scope of stay-at-home-mom responsibility, ok? I am myself a stay at home mom. Tapi saya merasa perlu berinteraksi dengan orang dewasa. Saya perlu memakai baju rapi dan bertemu orang-orang dewasa. Again, dont get it wrong, I love my kids. But I can’t tlak about SBY to Genta, right? Or whining about Angel Lelga to Puti. No. These kids are my love, I don’y want to ruin their brain talking about that sh*t at their early stage. #ups. #abaikan

Begitulah mimpi saya tentang berwirausaha tetap menghantui. Saya pernah coba bisnis kuliner, di pelataran Indomaret, di kolam renang, gagal. Tutup dalam tahun pertama. Onlineshop? Pernah juga. Jual beras organik, buku anak-anak, tas buatan lokal, just name it. Untung? Yes. Tapi gak sustain. Saya lapar. Saya haus. Saya rindu punya bisnis yang sustain. Saya juga pernah ambil franchise pendidikan, yang berakhir dengan hutang ratusan juta, yang masih saya cicil sampai sekarang pembayarannya.

Tapi mimpi belum berakhir. Hari masih panjang. Fajar belum merekah. And I never give up. Sekarang saya bisnis baju anak-anak dengan brand @butikbocah. Online, untung banyak, rame. Sayang asisten pulang kampung dan gak kembali lagi. Coba bazaar. Juga rame dan prospektif nampaknya.

Kemudian tahun baru 2014 datang. People talk about resolution. Tiba-tiba saya terpikir. Resolusi saya tahun ini, salah staunya adalah serius berinvestasi pada mimpi saya yang satu ini, sukses mandiri barokah berwirausaha. Dan tiba-tiba banyak pintu terbuka. Salah satunya ikut Kompetisi Womenpreneur Indonesia II yang mulai pembekalannya tanggal 24-25 Januari kemarin.

Ribet? Ya iyalah ribet. Atur waktu dengan 2 balita, no maid, no babysitter, no dedicated car for me. But, I believe it’s worth the effort.

Saya teringat kesukaan saya main arung jeram di awal usia 20-an. Saya harus angkat perahu, pompa perahu sebelum arung jeram. Setelah selesai, semua ritual diulang lagi dengan urutan yang terbalik. Was it worth? Yes. So I guess this would worth even more.

Wish me luck guys.

PS. Are you looking for me at the above picture? That’s me with orange veil, a baby in my hand, Genta by my side, in the right corner. Hihi.

Weekly Photo Challenge : Family

Family Fun - Cerita Fanny

It was actually a lazy saturday afternoon, when we all woke up late, took a bath late and ate late. It was almost midday and both parents haven’t eat anything for breakfast. We were both starving. So on our way taking Genta to his martial art, we stopped in front of Masjid near our house to buy siomay from a street-food seller.

Hungry and kids just won’t stop singing and bouncing, we decided to capture the moment. The special lazy starving Saturday afternoon.

People say that when your life-light begins to dim, it’s the most important thing in life that would come flashing in your mind. I don’t know for I am not dimming yet (I hope). But I know for sure that when in trouble I think of these people. When I lay down and try to close my eyes, I wish the very best for all of them. I even think of them when I’m alone in the bathroom. So I guess it’s right that people say, you finally have only your family.

ODOJ : Mission Impossible (For Me)

ODOJ - Cerita Fanny

Hi again. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang perjalanan saya belajar baca Quran.

Biarpun beragama Islam sejak lahir, saya baru bisa lancar baca Al-Quran tahun 2011-2012 an. Itu pun karena kebingungan. 2012 saya dan suami berencana berangkat umroh. Membayangkan saya harus membawa Al-Quran super besar yang ada tulisan latin dan bahasa Indonesianya selama di sana, membuat saya terbiritbirit belajar baca Quran. Sampai berangkat umroh tahun 2012, saya gagal meng-khatamkan baca Quran. Baru di Ramadhan 2013 saya berhasil khatam baca Al-Quran pertama kali. Yak. Pertama kali dalam hidup saya.

Rasanya superb sekali. Surreal. Buku setebal itu dengan tulisan se-unfamiliar itu, akhirnya bisa saya selesaikan. Sejak saya mulai belajar baca Quran, dalam hati saya berkata,

“Sekurang-kurangnya saya pengen khatam 1x dalam hidup saya.”

Mengingat segala kondisi saya. Jadi waktu akhirnya berhasil khatam 1x, rasanya kayak top of the world. Mimpi di siang bolong.

Buat Anda yang belajar baca Quran sejak kecil, Anda mungkin sulit memahami rasanya. Belajar baca Quran itu saya lakukan kadang sambil mangku anak, nyusuin Puti, sampai kadang kepala saya pusing saking tegang karena ga bisa-bisa. Jadi saat akhirnya berhasil menyelesaikan satu Quran, wuuuuaaaah, sungguh pencapaian yang luar biasa bagi saya yang hampir 40 tahun ini. (Perhatikan kata “hampir” nya ya, bukan “40” nya)

Saya bangga. Juga tidak bangga. Senang tapi juga malu. Pengen teriak pengumuman ke seluruh dunia tapi juga rasanya pengen ngumpet saking menyesalnya. But anyway, saya berhasil belajar membaca Quran di usia saya yang hampir 40 tahun dan khatam 1x di tahun 2013. Semoga tidak ada orang di dunia ini yang merasa berhak mengecilkan pencapaian saya ini.

Kemudian di Desember 2013 seorang kenalan mengajak saya ikut di komunitas One Day One Juz. Komentar pertama saya adalah, whaaaaaattttt???? Kami sempat berbalas-balasan beberapa kali sms. Saya sibuk menerangkan, saya ini baru bisa baca mbak, saya ini bacanya masih pelan, nanti kalau gak berhasil gimana, malah ngerepotin orang, jadi kesannya gak committed, padahal mah memang ga mampu. Sementara sms dari sisi sebelah sana isinya sekitar, yang penting diusahain dulu bu, pasti nanti dibantu sama Allah, temen-temen satu grup juga pasti bantu, coba aja dulu, kalau memang gagal ya gak papa.

Ah, saya sudah putuskan tahun 2013 saya akan melakukan hal yang berbeda dalam hidup saya, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dengan niat makin mendekatkan Quran dalam keseharian dan bismillah, saya setuju bergabung. Deg-degan luar biasa. Grupnya isinya perempuan-perempuan yang entah sudah berapa kali khatam. Pada jago pakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, sementara doa makan saja, saya baru tahu artinya dari Genta. (Thanks to Miss Atie dan Miss Alif, gurunya Genta di Budi Mulia Dua Bintaro)

Begitu on grup-nya, eeeeh tamu bulanan saya datang, kebagian deh baca terjemahannya. Bisa? Ya masih bisalah kalau cuma baca terjemahan. Saya biasa baca buku tulisan Latin, jadi lancar. Selameeet selamet, dalam hati saya. Belum selesai tamu bulanan, Genta libur sekolah. Jadwal harian mulai kacau. Baca terjemahan masih kepegang. DI tengah-tengah libur, tamu bulanan sudah pamit, Puti dan suami sakit. Huaaa. Sungguh saya sudah menghubungi penanggung jawab grup nya untuk mengundurkann diri. Hihihihi, sebut saja saya cemen, gpp. Hiks. Huaaa. Tapi jangan dong please?

Tapi jawaban dari mbak Admin Grup ODOJ 774, Bunda Choir, bener-bener ampuh.

Jangan off mbak. Kalau lagi pada sakit dan gak kepegang bacaannya, gpp, juz nya dilelang dulu, tapi jangan off ya.

Wuah. Rasanya malu dan heran. Malu karena saya mudah menyerah. Padahal dalam banyak hal lain, sungguh, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya keras kepala, man. Saya sungguh bertekad baja. Juga heran, kenapa sih saya sudah bilang gak mampu, ga bisa, ga mungkin, enggak lah pokoknya sama 2 orang dan 2-2 nya dengan indahnya menolak sejuta daftar alasan saya.

Bermodal malu dan tekad yang menguat, awal Januari 2014, saat Genta mulai sekolah lagi. Saya menjawab sms mbak Admin.

Ok mbak. Insyaa allah hari ini saya mulai on.

Dalam hati, mulai on piyeeeee? Tapi tetep dijalanin. Kan udah commit. Urusan gagal entar kita omongin. Yang penting, perang dulu, kalah belakangan. Begini kurang lebih  urutan saya dalam sehari kalau baca Quran. Siapa tahu ada yang heran atau mau meniru.

Pagi, Genta sekolah, saya nyusuin Puti sambil nunggu Puti tidur. Begitu dia tidur, saya langsung baca Quran, sebisanya, sampai Puti bangun. Kemudian aktivitas rumah tangga sudah menunggu.

Siang, Genta pulang sekolah, nyuapin Puti, kemudian Genta main sendiri, Puti duduk di kursinya, saya sholat Dhuhur sambil membaca situasi. Kalau memungkinkan, selesai sholat saya baca sampai Puti atau Genta sudah tidak sabar meminta perhatian saya.

Saat mereka tidur siang, saya baca lagi. Biasanya jam segini saya sudah selesai 1 juz. Ngeri kan? Ternyata saya yang bacanya kayak kurakura aja bisa selesai lo 1 juz sebelum Ashar.

Tapi dalam kondisi tertentu (yang tentunya ini lebih sering sih), sholat Ashar, Maghrib dan Isha’, saya masih membaca juga sisa-sisa lembar yang belum terpegang. Kadang bahkan saya minta perpanjangan waktu, menunggu anak-anak tidur, kemudian mulai baca Quran jam 10-11 malam. Sering kali saya orang terakhir yang menyetorkan bacaannya.

Malu? Iya. Tapi saya committed. Saya tidak menyerah.

Sampai sekarang saya masih bergabung di ODOJ Grup 774. Keponthalponthal? Iya. Belum bisa ambil lelangan juz orang lain. Tapi saya sungguhsungguhsungguh berusaha. Sampai saat ini saya hampir selalu berhasil menyelesaikan bacaan 1 juz dalam 1 hari. Tapi saya juga kadang mendapat bantuan dari teman-teman untuk menyelesaikan lembar-lembar terakhir yang belum saya pegang, karena waktu yang sudah terlalu mepet.

Apakah saya menyerah? Nope. Saya masih berperang. Doakan saya ya.

Tapi btw, bahkan dalam bacaan saya yang entah segronjalan apa. Saya menemukan ketenangan, seperti yang dijanjikanNya pada hambaNya yang membaca Quran. Dan ketenangan yang seperti ini sungguh addicted. Jadi saya kecanduan. Semoga Allah ridha dengan usaha dan kecanduan saya yang satu ini.

*hari ini, di rumah mertua saya yang beragama Katolik, di pojok ruangan, saya membaca jatah juz saya dengan suara lirih.

Libur 2 Tahun Saya

Hampir 2 tahun saya tidak menulis di blog. Kalau ditanya alasannya, saya bisa sebutkan banyak sekali alasan yang masuk akal. Tapi bukan itu tujuan tulisan ini. Saya cuma ingin cerita apa yang terjadi kurang lebih 2 tahun yang lalu yang belum pernah saya tulis di mana pun.

wpid-img-20120502-wa0000

Makam papah di Bergota, Semarang

Tanggal 1 Januari 2012, papah saya meninggal dunia di usianya yang ke-62. Masih relatif muda. Kurang lebih di usia yang sama dengan usia Nabi Muhammad meninggal, insyaa allah itu tanda baik bagi jiwanya. Papah meninggal di rumah saya, di atas sofa hitam, yang sampai sekarang masih bertengger indah di depan TV di rumah kami, Tanggal 2 Januari sesungguhnya beliau akan merayakan ulang tahun pernikahan dengan mamah saya yang ke-37 tahun.

Papah sudah sakit kurang lebih 4 bulan sejak lebaran tahun 2011. Bulan Agustus 2011, keponakan saya lahir. Seperti biasa, kemudian papah dan mamah datang ke Jakarta dan menghabiskan libur lebaran di Jakarta. Libur Lebaran inilah papah ketahuan sakit. Badannya panas tinggi selama beberapa hari. Tapi papah memang bukan orang yang manja atau banyak mulut. Dia tidak mengeluh sedikit pun selama ritual lebaran itu. Kami tetap pergi ke sana kemari. Sampai suatu hari, saya kebetulan melewati beliau yang lagi istirahat dan tidak sengaja bersentuhan dengan kulitnya. Wow, panas betul. Langsung saya minta buat dibawa ke rumah sakit. Akhirnya beliau bersedia, setelah berhari-hari menolak ajakan mamah.

Dokter bilang, “Ada massa di dalam paru-parunya.” Harus dilakukan tindakan lain untuk mengetahui massa itu apa. Second opinion? Sudah langsung dilakukan. Jawabannya sama, standar, ada massa dalam paru-paru. Harus dilakukan biopsi untuk tahu itu apa.

Papah langsung menolak. Entah kenapa. Unrealistic optimism saya bergejolak. Jauh dalam hati, saya takut itu massa tidak bersahabat. Tapi dengan optimisme dan segala pikiran positif, plus papah masih sangat segar bisa bersepeda dari rumah kami sampai kompleks Emerald dengan sangat cepat, menurut saya everything’s gonna be OK. Papah pilih pengobatan secara herbal.

Aha. Begitulah paradoksnya. Walaupun belum jelas ketahuan itu apa sakitnya. Tapi semua langsung setuju pengobatan herbal. Seolah-olah, jika kami semua melakukan pengobatan herbal, maka itu artinya penyakitnya tidak terlalu parah. Ngobrol dengan salah seorang dokter, katany silakan kalau mau pulang ke Semarang dan mencoba herbal. Tapi dalam waktu 3 bulan, harus kembali diperiksakan untuk melihat perkembangannya.

Mamah langsung in charge di Semarang. Papah pulang ke Semarang dan segala makan dan obat-obatan herbal dihandle langsung oleh mamah. Tidak makan ayam dan daging sapi. Kebanyakan sayuran, ikan, no MSG dan segala macam ide yang entah kami dapatkan dari mana pada waktu itu.

But somehow kondisi papah memburuk sangat cepat. Sejak Agustus 2011 sampai Desember 2011, papah jauuuuh lebih kurus dan tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang tadinya mampu dilakukannya. Mamah menelpon bilang beliau ketakutan soal papah. Papah menelpon bilang pingin ke Jakarta, tapi takut tidak diijinkan mamah karena badannya terlalu lemah. Pertengahan Desember 2011, papah akhirnya berhasil meyakinkan mamah untuk pergi ke Jakarta dengan alasan jadwalnya check up 3 bulan, sesuai permintaan dokter.

Waktu beliau datang sampai di rumah saya, saya sungguh terkejut. Saya tidak mampu melihat matanya. Saya takut, ketakutan yang ada di mata saya akan terbaca oleh beliau. Badannya kurus kering, tinggal kulit dan tulang. 4 bulan yang lalau setiap orang yang bertemu selalu memuji betapa gagah dan gantengnya beliau di usianya, sekarang bahkan untuk berjalan dari pesawat ke tempat baggage claim, dia tidak mampu. Ditawari untuk pakai kursi roda? Sudah. Tapi Anda yang kenal papah saya pasti tahu apa jawabab beliau.

Mulailah lagi kami gerilya mencari dokter paling tepat untuk mengobatinya. Mencari info tentang apa sesungguhnya penyakitya. Banyak cerita tidak mengenakkan tentang bagaimana dokter meminta kami melakukan banyak tes, menunggu seminggu hasil tesnya, belum jadi juga, kemudian semena-mena saja menebak papah sakit apa tanpa ada hasil tesnya.

“Ya walaupun hasil lab-nya belum keluar, tapi saya sudah tahulah ini penyakitnya apa. Ini kanker. Ganas.”

Kurang lebih begitu jawaban dokter atas pertanyaan saya. Saya dan suami yang bertugas menemui dokter ini sungguh pengen marah. Tapi kami berdua paham, bahwa kesok-tahuan dokter itu cuma sedikit alasan bagi kami untuk marah. Alasan sesungguhnya kami ingin marah adalah isi dari beritanya; yang sebenarnya mungkin sudah kami ketahui juga kebenarannya. Hiks.

Kami berdua memutuskan untuk tidak memberi-tahu mamah soal berita ini sampai hasil lab benar-benar keluar. DI rumah kesibukan kami sekitar memasak makanan sesuai permintaan papah, mencari tabung oksigen, browsing rumah sakit di Penang dan Singapura, cari tiket di awal tahun dan merencanakan membawa papah ke 2 kota tersebut untuk berobat segera di awal tahun.

Sekitar 3 hari setelah berita itu, hasil lab sungguh-sungguh keluar. Kami -saya, suami dan adek- bertugas lagi mengambil hasilnya. Dalam perjalanan saya dan suami tidak banyak bicara. Cuaca Desember yang mendung rasanya tambah bikin suasana hati gelaaaaap betul. Sampai di rumah setelah mengambil hasil lab, suami saya bertugas memberi-tahu mamah dan papah soal hasilnya. Alhamdulillah bukan saya yang bertugas untuk itu. Saya dengan gamblang menyatakan bisa melakukan banyak hal lainnya, tapi tidak yang satu itu.

Sekitar jam 7 malam, tanggal 31 Januari 2011, mas Tonny jongkok di sebelah papah yang duduk di sofa hitam, menerangkan hasil lab nya ke papah. Papah tidak banyak bicara. Saya lelah sungguh secara psikologis. Saya ingin liburan akhir tahun ini segera berlalu. Segera Senin dan saya akan langsung menghubungi perwakilan rumah sakit Penang di Jakarta, sesuai rekomendasi teman yang suaminya bolak-balik dirawat ginjalnya di sana. Saya langsung tidur.

Pagi-pagi kami bangun, Bintaro hujan deras. Hampir tidak ada suara motor atau mobil yang lewat. Papah sedang sangat kesakitan karena tidak bisa bernapas. Mamah kebingungan karena semalaman dibangunkan papah yang tidak bisa bernapas. Mas Tonny tadi malam mengantarkan papah untuk pipis ke kamar mandi dan terkejut melihat warna pipisnya yang hitam dan ada endapan-endapannya. Pagi yang sangat tidak ingin saya ulangi.

Kemudian, setelah mamah selesai membimbing papah sholat Dhuha, menemani mamah istirahat, kami ngobrol di kamar depan. Tiba-tiba mas Tonny yang ada di luar bersama papah, memanggil kami dengan wajah sangat cemas dan meminta kami membawa papah ke rumah sakit. Mata papah sudah tertutup. Napasnya masih satu-satu. Again. Unrealistic optimists saya terlalu berlebihan.

Pun saya langsung memakai celana saya, berusaha membantu mas Tonny mengangkat papah dan tidak berhasil. Saya mengambil payung, mengetuk rumah tetangga satu demi satu. Rumah ke-4 yang saya ketuk akhirnya keluar penghuninya, mas ARif namanya membantu kami mengangkat papah ke mobil. Suami saya juga sudah mengundang satpam untuk membantu. Saya menyetir mobil. Mamah di samping saya. Mas Tonny di belakang memangku papah.

Sampai rumah sakit. Waktu berjalan sangat lambat. Rasanya hampir tidak ada suara di sekitar kami. Tik tok tik tok. Mas Tonny menyusul saya dan sedang memarkir mobil sambil bilang.

“Ayo masuk cepetan, tengokin papah. Papah udah gak ada”

Saat menulis kalimat di atas barusan, kembali saya menangis. Well, saya bukan orang bodoh. Ilmu agama saya tidak sempurna, tapi saya tahu semua orang pasti mati. Dan mati bukanlah suatu hal yang menimpa hanya orang-orang jahat. Tapi ketika papah saya meninggal, rasanya saya tidak tahu lagi harus bereaksi apa dan bagaimana. Mamah histeris dan berkali-kali hampir menjatuhkan diri di lantai UGD rumah sakit. Sambil mengulang-ulang.

“Mas Tatok. Janjinya gak begini mas Tatok. Katanya mau ngurus cucu sama-sama mas Tatok.”

Well well well. Apalah arti janji manusia dibanding takdir Allah. Papah dimakamkan di Semarang. Suami saya menemani jenasah papah di ambulance dalam perjalanan darat terakhirnya menuju kota kelahirannya. Tetap ada terselip cerita lucu selama proses berduka itu.

Seperti suami saya yang sedang menunggu ambulance datang menjemput jenasah papah di RS, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Nama yang tertera di hp itu adalah “PAPAH”. Tanpa sadar suami saya menjawab perlahan,”Iya iya pah. Sebentar pah.” Baru kemudian ingat bahwa papah sudah meninggal.

Sejaka papah meninggal dunia saya berubah. Saya bukan anak yang dekat dengan papah. Adek-adek saya ada yang memiliki hubungan lebih akrab sama papah. Papah bukan sosok yang banyak bicara atau banyak memuji atau bahkan nimbrung kalau kami pas ngumpul ngrasai orang lain. Tapi kepergian beliau merubah hidup saya. Saya yang dikenal sebagai orang yang selalu optimis dan bahagia, sekarang seperti selalu ada bayang-bayang berwarna grey di belakangnya. Seperti ada lubang yang besar di peryt saya. My life change internally. Orang yang mengenal saya dengan baik, pasti melihat perubahan itu.

Tidak banyak yang saya sesali dalam perjalanan papah sampai waktu meninggalnya. Karena saya bukan jenis orang yang kemudian sibuk dengan pertanyaan mengapa. Atau seandainya. Saya menerima takdir ini. Hanya saya menyesal tidak ada di sampingnya -literally di sampingnya- saat beliau menghembuskan napas terakhirnya. Jarak saya memang cuma 1 meter dari beliau, tapi saya tidak di sampingnya.

Papah yang dalam diamnya melindungi. Tidak hanya melindungi kami. ternyata diamnya adalah perlindungan bagi banyak aib keluarga yang beliau ketahui, yang kemudian baru setelah beliau meninggal kami ketahui. Papah yang diamnya membuat sebagian orang tak bernyali makin ciut nyalinya untuk menyakiti kami. Dan kepergian beliau seperti siraman minyak tanah di atas api egoisme dan sirik sebagian orang. Papah yang diamnya adalah tanda kuatnya beliau menahan lisannya dari bergunjing.

Mohon doa bagi arwah beliau, Tatok Mohammad Heriyantono. Mohon dimaafkan segala kesalahannya, bagi yang pernah mengenalnya. Tulisan ini baru berhasil saya buat 2 tahun setelah kepergiannya. Semoga itu bisa menunjukkan bagaimana kepergian beliau sungguh membuat beda bagi hidup saya.

My Rainy Days Shoes

Sudah baca cerita saya tentang sepatu coklat butut yang jebol hari Rabu kemarin? Sepatu itu saya beli tahun 2009, saya suka sekali sepatu itu. Empuk, haknya pendek, model wedges, warnanya coklat. I like everything about that brown shoes. Entah mulai kapan saya mulai jarang memakainya. Begitu dia mulai rusak, saya hanya pakai untuk acara santai saja, ke pasar misalnya, makan pagi di hari Minggu saat semua orang keluar rumah belum mandi. Hihihi.

I call it “my rainy days shoes”. Sepatu yang saya pakai kalau hujan atau becek, supaya sepatu saya lainnya -yang lebih baru, lebih bagus- ga rusak. Toh dia sudah lama saya punyanya, sudah rusak juga, jadi sekalian saja saya pakai buat hujan.

Padahal dulu awal-awal habis beli, itu sepatu menemani saya ke banyak acara resmi yang membanggakan. Acara yang saya berdandan khusus dan bahkan memakai pensil alis di atas mata saya. Yup. Pensil alis adalah tanda saya menganggap acara yang saya datangi special. Belakangan, malah justru malu saya kalau pakai sepatu itu ke acara yang begituan. Cukuplah di hari hujan, becek, pasar atau acara santai lainnya.

—————————–

Tahun 2013 kemarin tahun yang berat bagi saya dan keluarga. Bisnis yang kami bangun gagal, sampai kami menangguk hutang ratusan juta. SAmpai sekarang kami masih dalam proses mengangsur hutang itu.

Di saat seperti itu, muncullah kejadian-kejadian yang selama ini belum pernah kami alami. Tiba-tiba ada orang-orang yang dulu begitu menghormati kami, memperlakukan kami -saya dan keluarga- semena-mena. Padahal dulu, kalau pinjam uang, haduuuuh, rayuannya maut bener. Jaman dulu sering betul rumah kami didatangi, sekedar duduk dan ngobrol. Saat susah, jangankan ngobrol, ibu saya saja dimusuhin tanpa alasan.

Ada juga teman yang dulu dekaaaat betul sama saya. Sekarang entah di mana, lagi apa. *kayak lirik lagu ya*. Kadang kangen rasanya. Tapi “relation” ternyata juga bisa menua dan rusak. Ada juga sih teman dan saudara yang tetap berhubungan baik. Bahkan ada beberapa kenalan yang justru muncul di masa seperti ini.

—————————

Saya teringat sepatu coklat saya, my rainy days shoes. Apakah orang-orang itu, yang memperlakukan saya bagai dewa saat saya bisa memenuhi permintaan mereka, memperlakukan saya sekarang sebagai “rainy days shoes”? Yang hanya dipakai ke pasar, saat hujan dan becek, karena terlalu malu buat dipakai ke acara yang penting?

But shoes are things. They get old. They can be broken. That’s my defence. People do get old but they can not be broken. So you can’t treat people like you treat shoes. Right?

Ps. If you do feel like some people treat you as rainy day shoes, don’t worry Roqib tidak pernah salah mencatat.

Rainy Days Shoes - Cerita Fanny

Penampakan sepatu saya yang brodhol. Hiks.