Sepatu Butut

Hari Rabu adalah hari paling sibuk bagi saya dalam tahun ini. Hari ini adalah hari Genta harus latihan wushu dan kelas seninya. Jadi saya harus memastikan dia tisur sebelum jam 2, bangun jam 3, masuk taksi jam 3.30, supaya jam 4 dia bisa mulai kelas seninya. Semua, termasuk pesan taksi, saya lakukan sendiri. Resiko ibu-ibu yang gaya ga mau pakai baby-sitter. Hihihi.

Sampailah saya di hari Rabu pertama setelah libur panjang. Semua beres. Genta bangun sendiri, cuci muka, pakai baju, siap berangkat. Saya siapkan Puti, pakai kerudung dan segala macamnya, keluar rumah, taksi sudah siap di depan. Aaah, Rabu pertama yang lancaaaar. Cuaca mendung memang, hujan rintik-rintik, jadi saya juga sudah siapkan kain, payung dan meminta Genta pakai sepatunya yang lebih tahan air. Semua siap? Tinggal saya pakai sepatu dan kami bisa berangkat.

But, wait. Tunggu dulu. Ga segampang itu dong. Ini Rabu pertama. Habis libur panjang. Masak semudah itu? Ok, mari kita mulai dengan, mana sepatu satu-satunya punya sayaaaaaaa? &8*^%$#

Ya, saya cuma punya 1 sepatu casual yang biasanya saya pakai sampai jebol. Dan suami saya punya kebiasaan membiarkan barang yang ketinggalan di mobil tetap di mobil, siapa tahu nanti dibutuhkan. Huaaa, sayangnya kali ini sepatu saya yang jado korban.

Ok. Think. Think. Fast. Come on. Pakai sandal aja. Uh, gak punya sandal juga. Apa ya udah pakai sandal jepit aja. Kan bagus tuh sandal. Baru kok. Ya udahlah nyerah. GAK ah. Malu. Cari sepatu lain yang ada.

Berangkatlah saya pakai sepatu yang satu ini. Warnanya coklat. Pernah jadi kesukaan saya karena sangat empuk di kaki. Saya bahkan ingat belinya di FO di Bandung, waktu saya masih kerja jadi konsultan dan ada proyek di sana. Harganya juga masih ingat. Saya langsung beli 2 waktu itu, hitam dan coklat. Begitu saya pakai, sempat terpikir, lah sepatu ini masih enak, kenapa jarang kupakai ya?

Turun taksi, sampai di tempat gym, pertanyaan saya di paragraf terakhir tadi mulai terjawab. Kulit sepatu coklat saya ada yang tertinggal di lantai lobby mall tempat Genta nge-gym. Ups. Sementara sisa kulit yang masih nempel di sepatu “nglunthung” ke bagian tengah sepatu, membuat sepatu saya seolah separuh warna hitam separuh lagi warna coklat.

Untungnya saya pakai rok panjang. Jadi selama menunggu Genta, saya lebih banyak duduk, menutupi sepatu dengan rok saya. Malu ah. Ibu-ibu yang lain pakai hot-pants, tasnya aja kinclong, baby-sitter jumlahnya sama sama jumlah anaknya, naik mobil sendiri, nyetir sendiri, handphone jelas paling canggih, masak sepatu saya kulitnya “nglunthung”? “Semoga ga ada yang liat ke bawah,” pikir saya.

Selesai urusan Genta, sambil nunggu dijemput suami kami lari menyebrang ke gedung sebelah -tepatnya saya yang lari mendorong stroller, Genta terpaksa lari ngikutin saya-. Niat saya sekalian beli sandal, buat gantiin sepatu yang saya pakai. Walaaah, belum sampai tempatnya sol sepatu saya malah lepas. Jadilah saya kayak pakai sepatu tapi segala air hujan di tempat parkir pun bisa saya rasakan di kaki saya. Baiklah. Baiklah. Kayak belum cukup deg-degan saya, eeeh di tempat parkir ketemu teman lama semasa di Yogya. Sambil ngobrol-ngobrol, sungguh saya berharap dia gak nengok ke bagian bawah.

Saya berakhir beli sepatu di gedung seberang itu. Hehe. Lumayan, sekarang saya punya 2 sepatu casual.

—————————–

Saya punya banyak cerita tentang sepatu. Keluarga saya menyebut saya buldoser kalau urusannya sama sepatu. Sepatu paling lama tahan 3 bulan di kaki saya, sebelum jebol.

Saya pernah njebolin sepatu waktu hiking di pedalaman Sumatera Barat. Saya lupa gimana cara saya pulang waktu itu. Kayaknya seorang teman meminjamkan sepatunya ke saya dan dia pulang “nyeker”.

Sepatu adek saya bertahun-tahun dipakai baik-baik saja, bahkan bentuknya masih mulus kayak baru keluar toko. Dipakai saya 2 minggu langsung jebol.

Waktu tahun lalu jalan-jalan ke Turki bareng suami dan mamah saya. Sepatu kesayangan saya warna orange saya bawa. Jauh-jauh ke negeri impian saya, sepatu saya jebol dan bauuuuunya luar biasa. Dengan berat hati saya buang akhirnya sepatu itu.

Turun dari angkot jaman kerja di Sunter dulu, saya jatuh gelondangan, gara-gara pakai sepatu hak tinggi. Well, sesungguhnya sepatu yang saya pakai saat itu adalah sepatu hak tinggi satu-satunya punya saya. Rusak? Ya iyalah.

Ada juga sepatu putih kesayangan saya dulu. Saya pakai terus-terusan waktu masih kuliah di Depok. Sampai waktunya kelulusan sepatu itu rusak, bagian bawahnya lepas. Saking sayangnya, saya bawa sepatu itu ke tukang sol sepatu di mall buat dibetulin. Katanya bisa dibetulin, ongkosnya 75rb, karena ganti semua alasnya. Hmm, sampai speechless saya jawabnya.

“Gimana mbak” kata mas yang tukang reparasi.

“Hmm, ga usah aja deh mas” kata saya. Harga sepatunya aja cuma 30 ribu. masak betulinnya 75rb? -kata saya dalam hati-

—————————————-

Sebut saja saya lebay. Tapi dari sepatu putih itu saya paham betul tentang tidak ada yang abadi di dunia. Makin sayang sama sesuatu, makin diuji sama sesuatu itu. Udah ah cerita soal sepatunya. Pesan saya cuma 1, kalau punya sepatu rusak, jangan dipakai di musim hujan. Kecuali Anda siap sama potensi malu. Ok?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s