My Rainy Days Shoes

Sudah baca cerita saya tentang sepatu coklat butut yang jebol hari Rabu kemarin? Sepatu itu saya beli tahun 2009, saya suka sekali sepatu itu. Empuk, haknya pendek, model wedges, warnanya coklat. I like everything about that brown shoes. Entah mulai kapan saya mulai jarang memakainya. Begitu dia mulai rusak, saya hanya pakai untuk acara santai saja, ke pasar misalnya, makan pagi di hari Minggu saat semua orang keluar rumah belum mandi. Hihihi.

I call it “my rainy days shoes”. Sepatu yang saya pakai kalau hujan atau becek, supaya sepatu saya lainnya -yang lebih baru, lebih bagus- ga rusak. Toh dia sudah lama saya punyanya, sudah rusak juga, jadi sekalian saja saya pakai buat hujan.

Padahal dulu awal-awal habis beli, itu sepatu menemani saya ke banyak acara resmi yang membanggakan. Acara yang saya berdandan khusus dan bahkan memakai pensil alis di atas mata saya. Yup. Pensil alis adalah tanda saya menganggap acara yang saya datangi special. Belakangan, malah justru malu saya kalau pakai sepatu itu ke acara yang begituan. Cukuplah di hari hujan, becek, pasar atau acara santai lainnya.

—————————–

Tahun 2013 kemarin tahun yang berat bagi saya dan keluarga. Bisnis yang kami bangun gagal, sampai kami menangguk hutang ratusan juta. SAmpai sekarang kami masih dalam proses mengangsur hutang itu.

Di saat seperti itu, muncullah kejadian-kejadian yang selama ini belum pernah kami alami. Tiba-tiba ada orang-orang yang dulu begitu menghormati kami, memperlakukan kami -saya dan keluarga- semena-mena. Padahal dulu, kalau pinjam uang, haduuuuh, rayuannya maut bener. Jaman dulu sering betul rumah kami didatangi, sekedar duduk dan ngobrol. Saat susah, jangankan ngobrol, ibu saya saja dimusuhin tanpa alasan.

Ada juga teman yang dulu dekaaaat betul sama saya. Sekarang entah di mana, lagi apa. *kayak lirik lagu ya*. Kadang kangen rasanya. Tapi “relation” ternyata juga bisa menua dan rusak. Ada juga sih teman dan saudara yang tetap berhubungan baik. Bahkan ada beberapa kenalan yang justru muncul di masa seperti ini.

—————————

Saya teringat sepatu coklat saya, my rainy days shoes. Apakah orang-orang itu, yang memperlakukan saya bagai dewa saat saya bisa memenuhi permintaan mereka, memperlakukan saya sekarang sebagai “rainy days shoes”? Yang hanya dipakai ke pasar, saat hujan dan becek, karena terlalu malu buat dipakai ke acara yang penting?

But shoes are things. They get old. They can be broken. That’s my defence. People do get old but they can not be broken. So you can’t treat people like you treat shoes. Right?

Ps. If you do feel like some people treat you as rainy day shoes, don’t worry Roqib tidak pernah salah mencatat.

Rainy Days Shoes - Cerita Fanny

Penampakan sepatu saya yang brodhol. Hiks.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s