Olimpiade Dolanan Anak 2014 is Coming Soon!

Kangen main gobak sodor, engklek, apolo… Sapa masih inget hayooo

Advertisements

Sharing Bisnis : How Bad Do You Want It?

Sekali-kali mau sharing tentang usaha ah, eh tentang bisnis maksud saya.

Entah sejak kapan saya tertarik sama dunia bisnis. Bahkan sejak kuliah, saya tidak pernah membayangkan setelah lulus saya akan jadi karyawan di sebuah perusahaan besar. Saya selalu membayangkan diri saya adalah seorang wirausaha.

Jaman SD-SMP, saya sering membantu mamah saya jualan RINSO kiloan yang dibeli dari kantor papah saya. Saya narik-narik koper beroda yang keren banget itu bawa RINSO dan nawarin ke tetangga-tetangga sekitar rumah. Saya ingat mereka selalu komentar,

“Ah, Fanny. Pinternya. Anak kecil sudah pinter jualan.”

Sambil nunggu mereka ambil uang buat bayar, saya duduk tenang di teras sambil mengingat rute berikutnya. Terkadang saya sambil ngobrol dengan anak si empunya rumah yang adalah teman saya. Malu? Gak pernah terpikir bahwa saya bisa malu karena kegiatan ini. Saya justru bangga, dibilang pinter lah, cantik lah. Daaaan, saya merasa keren karena mirip kayak mbak-mbak sales door-to-door yang pada masa itu masih banyaaaak sekali jumlahnya.

Waktu SMA, mamah saya mendaftarkan saya ke AVON dan Sara Lee. Uang pendaftaran dari mamah tapi operasional selanjutnya (ini istilah mamah saya) urusan saya. Yang pesan ke saya kebanyakan saudara, tante, bude, tetangga, juga beberapa teman. Hasilnya? Saya belikann stationery di Gramedia, yang posisinya persis di sebelah kantor AVON Semarang waktu itu.

Selama kuliah, saya sering sekali didapuk jadi seksi dana dan usaha. Seru. Dan hampir selalu mencapai target. Kecuali waktu harus mengumpulkan dana buat Ekspedisi New Zealand waktu itu. Ah sedihnya kalau ingat. Anyway, soal cari dana, mulai dari cuci motor, bikin parcel, bikin kaos, kalender, masak nasi goreng, pernah saya lakukan. Lagi-lagi gak malu, seru malahan. Kali ini disambi lirik-lirikan sama gebetan masa muda. Huahaha. Hush.

Begitu lulus kuliah, saya sempat kerja formal 1 tahun di grup Astra. Habis itu lanjut lagi usaha sendiri selama kuliah S2. Jadi konsultan, lumayan juga. Cari klien sendiri,, bikin konsep sendiri, presentasi, eksekusi, bikin laporan. Teman-teman saya banyak yang sudah jadi manajer saat itu, kalau saya mau kerja formal, mungkin saya juga sudah dalam posisi mereka. *PD kan boleh ya?*

Begitu ada Genta, kegiatan konsultan otomatis berhenti. Prioritas berubah. Saya butuh bisnis yang lebih sederhana. Hahaha. Memang ada bisnis yang sederhana. Anyway, saya pernah berbisnis pendidikan, yang kemudian saya terminate karena ketidak-cocokan dengan master franchisor-nya. Sekarang saya berbisnis perlengkapan bayi dan anak, masih online dan offline ngikutin bazaar. Malu? Sekali lagi kok gak ya. Ini jenis kegiatan yang saya suka. Saya bisa bawa anak-anak, bisa meeting kapan saja, bisa kasih pekerjaan buat orang lain dan bisa ketemu konsumen yang puas sama layanan saya.

Psst, lagipula 9 dari 10 pintu rejeki itu kan konon kabarnya adalah berniaga to?

Eh jangan salah, saya juga ngalami rugi kok. Hehehe. Jutaan? pernah. Puluhan juta? pernah. Ratusan juta?? juga pernah. Namanya juga bisnis, kalau gak untung ya rugi. Sama kayak karyawan, kalau gak berprestasi ya dipecat. Sama kok.Tapi saya ga menyerah, doakan saya ya. Bisnis itu sungguh pelajaran yang lengkap dalam hidup, sayang kalau ditinggalkan.

Saya kagum sama perempuan-perempuan yang rela anaknya diasuh orang lain karena dia bekerja. Bagi saya, itu contoh konkrit kepasrahan dan keikhlasan. Pasrah dan yakin bahwa Allah akan menjaga anak-anak mereka, sehingga bisa tenang bekerja. Saya mungkin orangnya belum seikhlas dan sepasrah itu sama Allah. Saya lebih tenang dan senang mengasuh anak saya sendiri. Tapi saya bisa pasrah dan ikhlas kok menyerahkan rejeki toko saya sama Allah. Jadi saya jangan dimarahin ya? Please.

Wirausaha itu bisa dimulai kapan saja, oleh siapa saja, di mana saja. Kalau Anda salah satu yang selama ini bermimpi jadi wirausaha dan belum juga mulai bergerak, pertanyaannya adalah…. how bad do you want it?

Untuk Apa Koneksi Internet Cepat?

Koneksi Internet Cepat - Blog Fanny Herdina

Hayo jawab yang hobinya minta internet cepat, jawab dulu pertanyaan pak menteri. Kalau saya sih memang gak suka nunggu. Jadi sukanya klik langsung buka page nya, atau maksimal nunggu 1-2 detik lah. Jadi setiap ada modem yang ngaku punya kecepatan super, saya langsung terbang bak superman membeli modem itu, kemudian akan saya ganti begitu ada yang lebih super lagi.

Buat apa? Ya buat kepo di Facebook lah. Buat apa lagi emak-emak kayak saya ini.

Tapi seorang teman menjelaskan dengan baik soal pentingnya koneksi internet cepat. Begini penjelasannya yang saya terjemahkan dengan bebas.

Koneksi internet cepat itu gak cuman butuh buat download tapi juga upload. Apalagi buat industri kreatif yang butuh ngirim gambar dengan ukuran file besar. Sering kali urusan kerjaan jadi terhambat gara-gara file yang terkirim berhenti di tengah jalan a.k.a harus ngulang dari depan.

Nah penjelasan di atas masuk akal sih buat saya. Bener juga kan ya? Entar dikira kita yang lambat kerja. Padahal internetnya yang gak mau kirim-kirim filenya.

Ada juga yang bilang koneksi internet cepat itu buat download file-file yang isinya knowledge, supaya bangsa Indonesia ini lebih cepat menyerap ilmu baru. Sehingga harapannya lebih cepat berkembang.

Itu juga masuk akal sih.

Kalau saya sih alasan utama saya berharap koneksi internet di Indonesia cepat itu karena merasa kasihan sama teman-teman yang pulang dari luar negeri. Pas di luar negeri yang saya yakin koneksi internetnya cepet banget, mereka jadi mudah upload gambar, ganti status atau saling memberi komentar. Tapi begitu pulang ke Indonesia sering kali mereka tidak terdengar lagi kabarnya, jarang upload jalan-jalannya, jarang ganti status, juga jarang memberi komen atau nge-like status temennya. Itu kan pasti karena mereka terbiasa dengan koneksi cepat di luar negeri, terus jadi malas update pas sudah di Indonesia, karena koneksi internet di Indonesia lambat. Iya kan pak Menteri?

Sopan Santun – Subo Seto

Attitude is everything - Blog Fanny Herdina

Haiyaaa…. sopan santun selalu jadi isu di keluarga saya. Dan selalu ada dobel standar dalam penilaiannya. Kadang sopan berarti yang muda wajib mendatangi yang tua, tapi di lain kesempatan sopan artinya yang sempat yang mampir (Oh teriring doa untuk almarhum papah saya Tatok M. Heriyantono yang dengan bijak menganut paham kedua). Sering kali -khususnya ketika menyangkut saya- sopan artinya mengantar orang-orang tua ke tempat mereka mau pergi walaupun itu saya harus “menthang” dari tujuan saya, tapi bagi orang lain sopan itu cukup dengan mencarikan taksi di depan rumah atau bahkan cuma dengan meyakinkan bahwa akan ada taksi lewat di depan rumah. Ada kalanya sopan itu artinya kalau lagi di deket-deket ya mbok mampir, sementara bagi yang lain sopan itu artinya “biarpun deket-deket gw kan kerja jadi ya gak bisa mampir”.

Anyway saya paling bingung kalau ngomongin sopan santun. Jadi bahkan untuk memulai tulisan ini saja saya bingung harus mulai dari mana. Supaya mulainya pun sopan. Baiklah, saya mulai saja dari pendapat ahli ya.

—————————————————————-

Daniel Goleman menyatakan dalam salah satu buku bersejarah dalam psikologi populer, bagaimana faktor EQ berperan dalam kesuksesan seseorang. Faktor IQ yang dulunya menjadi raja diraja dalam menentukan kesuksesan, ternyata turun derajat sejak eranya David Goleman.

Yah anggap saja di dalam EQ termaktub pantang menyerah, mampu bersosialisasi, inisiatif, mampu bekerja dalam tim, senang dan bisa belajar dengan cepat. Dan lain sebagainya. Mari bicara soal sosialisasi saja, di mana sopan santun mungkin berpengaruh.

Bayangkan saja, Anda lagi mimpin meeting nih di kantor, tiba-tiba teman kuliah Anda yang baru join di perusahaan yang sama main nylonong aja masuk ruangan Anda dan menyapa Anda dengan,

“Hai Mbul. Gila, masih gembul aja lo. Makmur lo ya sekarang. Sukses.”

Sambil nepuk-nepuk punggung dan salaman sih memang. Di depan anak buah. Kira-kira apa ya perasaan Anda? Kalau Anda kemudian berkesempatan ditanya atasan Anda tentang teman Anda, Anda bakal jawab apa ya?

Ah itu sih contoh ekstrem. Baru cerita rekayasa. Belum sungguh-sungguh terjadi. Masak ada sih orang kayak gitu.

———————————————————-

Di sebuah gedung perkuliahan di kota besar, para mahasiswa yang datang 10 menit sebelum kuliah dimulai terbirit-birit menuju pintu lift. Sori, bagi yang mengalami kuliah naik tangga, wake up, it’s 2014 now. Tangga mempunyai istri now, namanya darurat. Ok? So, face it. Anak kuliah sekarang naiknya lift man. Pegangnya IPhone. Ngetiknya di IPad. Makannnya sih teteap Indomie. Eh, ini kenapa sampai sini sih? Balik!

Nah di depan lift ini, sudah menunguu lah seorang ibu yang menggendong anak bayi, membawa stroller dan 1 anak balita di sebelahnya. Ribet? Sudahlah. Demikian hidup emak-emak jaman sekarang. See the differences? Bawaan mahasiswa sekarang vs. bawaan emak-emak sekarang. Jelas saya bukan dua-duanya, karena saya adalah seorang….. ^sensor^

Pintu lift terbuka untuk pertama kalinya, setelah si Emak ini menunggu sekitar 10 menit. Oh sori, lift nya cuma 1, yang 1 rusak. Isinya penuh mahasiswa yang suaranya terdengar bahkan sebelum lift sampai di lantai itu. Tanpa ba bi bu. Pintu lift ditutup lagi dari dalam diiringi cekikikan para kaum belum-pernah-ngerjain-skripsi itu. Nunggu lagi deh, 10 menit kemudian muncul lah si mahasiswa yang terbirit-birit tadi, langsung tanpa permisi berdiri di depan pintu lift, bikin si emak terpaksa mundur dan menarik pelan anak balitanya. Saat lift terbuka, langsung 2 mahasiswa ini masuk seperti tanpa pernah tahu definisi antri.

Dasar Emak ga mau kalah, anak, bayi sama stroller tetep dijejelin ke dalam lift. Muat lah. Pintu lift tertutup. Tiba-tiba ada suara.

“hmm, lantai 3 dong”

*Emak clingak clinguk karena berdiri di dekat tombol lift* sambil tahu diri mencet angka 3 sesuai order si mahasiswa k*t*k*pr*t itu. #eh maaf sudah tidak sopan.

Cerita selanjutnya ga penting kan? Dan kabarnya mahasiswa adalah embrio cendekia bangsa. Calon penerus kebesaran atau kekerdilan bangsa.

————————————————————-

Saya lupa dengar cerita ini dari mana. Detailnya pun mungkin banyak yang salah. Tapi ambil saja seperlunya, lainnya kembalikan lagi atau buang ke sampah.

Alkisah seorang pengusaha yang sudah sangat sukses tinggal di sebuah apartemen. Setiap pagi si Bapak ini selalu turun dari apartemennya, membeli koran dari penjual koran kaki lima di depan lobi apartemennya. Setiap pagi saat beli koran, si Bapak selalu menyapa penjual korannya dengan ramah. Selamat pagi. Apa kabar. Dan segala sapaan sopan lainnya. Sementara si Penjual koran menjawabnya dengan asal-asalan bahkan sering kali dengan gerutuan dan suara yang kasar. Kejadian ini berlangsung tiap hari.

Dan seseorang di tempat jual koran itu yang punya kebiasaan membeli koran juga di tempat yang sama terheran-heran. Kenapa si Bapak pengusaha sukses ini tetap “ngotot” menyapa pak Penjual koran dengan sapaan yang hangat dan bersahabat, padahal sudah pasti jawabannya gerutuan dan keluhan? Keheranannya tidak tertahan sampai akhirnya dia bertanya pada si Bapak. Dan si Bapak pengusaha sukses itu menjawab.

“Perilaku saya yang membawa saya ke kesuksesan seperti yang saya miliki saat ini. Perilaku dia yang membawa dia ke posisi dia saat ini.”

———————————————————

Dan saya masih bingung bagaimana cara sopan memulai tulisan ini. Fiuh. Please help.

Catatan kecil keluarga kami: I’ll love you for a thousand more

http://fikihfikih.blogspot.com/2012/06/ill-love-you-for-thousand-more.html?m=1

What can I say. I really wish I don’t have reason to be angry at smokers, but I do. And there are lots of it.

But I guess I’m still not credible enough to be listened at this peculiar matter.

Segala doa terbaik teriring bagi semua anak yang tidak mampu memilih orang tuanya. Semoga kalian semua sehat walafiat. Dan tidak menganggap kami kurang mencintaimu.

Pantas Saja Ibu Risma Menutup Lokalisasi di Surabaya

Gimana ya…. di satu sisi sungguh berharap beliau terus memimpin. Tapi di sisi lain, membayangkan beliau jadi ibu atau suami saya dalam posisi ini, tentunya prioritas saya adalah kesejahteraan pribadinya.

Yang mana pun keputusan pribadi beliau. Yang semakin jelas bagi saya cuma satu, ada jauuuh lebih banyak profesi lain di dunia Indonesia ini -not to mention abroad- yang lebih menuntut integritas dibandingkan anggota DPR. Jadi wirausaha salah satunya. Yuk ah jadi wirausaha aja, daripada ongkang ongkang ngaku ngurus rakyat sedunia, jalan-jalan terus ribut minta dikasih cincin emas. Bikin malu ortu ah.

Blognya Ilmu Perpustakaan

Well, tempat lokalisasi sering kali menjadi kontroversi, di sisi moral dan agama tentunya kita sangat menentang adanya lokalisasi dalam sebuah kawasan. Namun di satu sisi banyak pihak yang mendukung dengan alasan-alasan tertentu lewat kemasan logika yang membuat kita mengamini logika-logika pendukung adanya lokalisasi. Gua nggak menyebutkan “apa?” dan “siapa?” orang-orang atau kelompok tersebut. Tetapi hari ini ada satu hal yang membuat gua nggak bisa tidur, merinding, setelah melihat video curhatnya Ibu Risma di Mata Najwa, 12 Februari 2014.

View original post 1,152 more words

Let’s Just Not Being Judgmental

Let’s Just Not Being Judgmental

Pertanyaan tentang mana yang lebih baik, diasuh orang tua atau babysitter, atau penitipan anak, atau neneknya, selalu jadi pertanyaan klasik setiap kali saya mengisi acara. Sayangnya saya tidak punya komparasi, karena selama saya menjadi ibu, selama itu pula saya memutuskan bekerja dari rumah. In my circumstances, considering all my resources, this is at least the best I can do for my kids. But this article really give clear perspective, that every mom should be at their full understanding when dedicing on this matter.