Tentang Bapepam

Ada yang tahu singkatan dari Bapepam? Masih ada atau gak itu lembaga, saya juga ga terlalu mengikuti. Well, call me anything, tapi sejak tahun 1995 saat pertama kali mendengar singkatan itu, sampai sekarang, pengetahuan saya tidak banyak berubah tentang Bapepam.

Sebutlah sebuah pagi menjelang siang yang indah di kota Yogya, di sekitar tahun 1995. Saat udara pagi dan sore hari Yogya begitu sejuuuk, Nah di pagi itu, saya diundang menghadiri seleksi tutor bahasa Indonesia untuk orang asing, di REALIA, lembaga bahasa yang cukup dikenal. Datanglah saya dengan rok selutut dan sweater biru tua, karena udara sedang tidak terlalu hangat.

SAmpai di lokasi, saya berkenalan dengan beberapa orang teman baru dan lama. Ya, baru dan lama. Salah seorang teman seangkatan saya di Psikologi UGM ternyata juga lolos seleksi sebelumnya dan terdampar di seleksi lanjutan ini bersama saya dan beberapa teman yang lain. Seleksi pagi ini sederhana, saya dan teman-teman akan diminta mengambil gulungan kertas di mangkok. Apa pun tulisan di gulungan kertas itu, kami lalu bertugas untuk presentasi on the spot di depan teman sesama kandidat dan juga senior di REALIA, dalam bahasa Inggris. Yuhuuu.

Anginnya dingin sih memang. Tapi kelek saya sudah mulai lembab. Lutut saya kayaknya mulai bergetar, mungkin karena dingin. Satu-satu sesama kandida tutor maju sebelum saya. Ampuun. Bahasa Inggris mereka TOP. Ada yang pernah pertukaran pelajar, ada yang lulusan lembaga bahasa Inggris terkenal, ada yang fakultasnya memang berhubungan langsung dengan bahasa Inggris. Lha saya? Saya? Saya gimana?

Belum lagi wawasan mereka yang luas. Apa saja tema yang muncul di gulungan kertas itu, mereka lancar menceritakannya. Bahkan bisa menjawab pertanyaan. Daaan, confidence-nya my man, luar biasa, ga ada itu yang keleknya basah kayak saya atau lutu gemetaran. Manteb semua. Lalu tibalah giliran saya. Uhuk. Kalau bisa lari, pasti saya lari dari kerumunan itu. Tiba-tiba saya menyesal sudah melamar posisi tutor, kenapa gak cari kerjaan lain aja sih Faaan?, begitu hati kecil saya berontak dipermalukan.

Tapi genderang perang sudah ditabuh. Terompet sudah ditiup. Pantang pulang sebelum padam. *opo to iki*. Tiba giliran saya, saya maju perlahan, ambil gulungan kertas, dibuka pelan-pelan sambil tangan gemetaran. Sedikit sedikit tulisan mulai nampak. Ba—–Pe—–Pa——M

Kepala saya mulai bernyanyi. Bapepam? Apa itu? Nah kan, nyesel kan Fan, ngelamar ke sini? Malu kan jadinya?

Melangkah lagi ke posisi presentasi. Pantang menyerah. Pantang menyerah. Atau menyerah aja ya? Bagian ruhut dalam kepala saya mulai berdebat dengan bagian farhat. *kesamaan nama hanyalah kebetulan, semua tokoh dalam kepala saya bersifat imajiner, fiktif, waton*

Sampai di titik presentasi. Tarik napas. Lirik pintu keluar, jaraknya jauh juga, sementara tas saya ada di ujung  lainnya. Aah, si mas itu juga berdiri di tengah jalan lagi, gimana saya mau lari. Telat deh. Udah terlanjur malu. Lanjut aja…

“Good afternoon. Thank you for the opportunity (STD banget kalau kata para asesor). Actually the paper said that I have to talk about Bapepam. But I know nothing about it. So let me talk to you about my blue sweater I am now wearing. Bla bla bla”

Anehnya, tidak satu pun yang tertawa. Yah, satu dua senior di ujung sana tersenyum. Tapi tidak ada yang tertawa. Menertawakan saya? Tidak ada. Saya selamat ngomongin blue sweater sampai waktu presentasi saya selesai. Ditutup dengan thank you. Diperindah dengan tepuk tangan dari audiens.

Yes, hampir 20 tahun yang lalum itu pertama kali saya dengar Bapepam. Dan sampai sekarang, kalau saya diminta presentasi soal Bapepam, allow me to tell you another story of my red high heel. Hihihihi.

Ketika akhirnya kami, para kandidat yang diterima berkumpul untuk briefing sebelum mulai mengajar, beberapa minggu kemudian. Seorang teman bertanya pada juragannya REALIA, apa alasan kami semua diterima.

Yaah, alasannya macam-macam. Wong kalian juga dari background yang berbeda. Tapi ada 1 kesamaan di antara lain.

Apa itu mbak? *ngebet banget kami*

Kalian itu fleksibel. Itu kesamaan kalian.

Seeee? Flexbility my man. Jelaslah saya fleksibel. Dari Bapepam lompat ke blue sweater, kurang fleksibel apa? Jelaslah fleksibilitas saya sekaliber pemain trapeze di sirkus-sirkus internasional. Huahahaha.

Lesson learnt. In any job you want, flexibility kills. Apalagi kalau mau jadi wirausahawan. Demikian kisah soal Bapepam ini saya tuliskan kembali setelah puluhan tahun. Mengingat banyak pemimpin yang tak terlatih otot fleksibilitasnya, sampai-sampai ga mau dikritik. Kritik? Somasi. Muji cepol? Omelin. Nanya sama suami saat waktu intim? Jedugin ke tempat tidur. #eh

Anyway, fleksibilitas itu seperti otot. Makin sering dilatih, makin kuat. Makin jarang dipakai, makan kenceng tu otot. Ingat fleksibilitas, ingat Bapepam. Ok?

*Ada yang masih penasaran, Bapepam itu singkatannya apa? Google ah. Malu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s