Sharing Bisnis : How Bad Do You Want It?

Sekali-kali mau sharing tentang usaha ah, eh tentang bisnis maksud saya.

Entah sejak kapan saya tertarik sama dunia bisnis. Bahkan sejak kuliah, saya tidak pernah membayangkan setelah lulus saya akan jadi karyawan di sebuah perusahaan besar. Saya selalu membayangkan diri saya adalah seorang wirausaha.

Jaman SD-SMP, saya sering membantu mamah saya jualan RINSO kiloan yang dibeli dari kantor papah saya. Saya narik-narik koper beroda yang keren banget itu bawa RINSO dan nawarin ke tetangga-tetangga sekitar rumah. Saya ingat mereka selalu komentar,

“Ah, Fanny. Pinternya. Anak kecil sudah pinter jualan.”

Sambil nunggu mereka ambil uang buat bayar, saya duduk tenang di teras sambil mengingat rute berikutnya. Terkadang saya sambil ngobrol dengan anak si empunya rumah yang adalah teman saya. Malu? Gak pernah terpikir bahwa saya bisa malu karena kegiatan ini. Saya justru bangga, dibilang pinter lah, cantik lah. Daaaan, saya merasa keren karena mirip kayak mbak-mbak sales door-to-door yang pada masa itu masih banyaaaak sekali jumlahnya.

Waktu SMA, mamah saya mendaftarkan saya ke AVON dan Sara Lee. Uang pendaftaran dari mamah tapi operasional selanjutnya (ini istilah mamah saya) urusan saya. Yang pesan ke saya kebanyakan saudara, tante, bude, tetangga, juga beberapa teman. Hasilnya? Saya belikann stationery di Gramedia, yang posisinya persis di sebelah kantor AVON Semarang waktu itu.

Selama kuliah, saya sering sekali didapuk jadi seksi dana dan usaha. Seru. Dan hampir selalu mencapai target. Kecuali waktu harus mengumpulkan dana buat Ekspedisi New Zealand waktu itu. Ah sedihnya kalau ingat. Anyway, soal cari dana, mulai dari cuci motor, bikin parcel, bikin kaos, kalender, masak nasi goreng, pernah saya lakukan. Lagi-lagi gak malu, seru malahan. Kali ini disambi lirik-lirikan sama gebetan masa muda. Huahaha. Hush.

Begitu lulus kuliah, saya sempat kerja formal 1 tahun di grup Astra. Habis itu lanjut lagi usaha sendiri selama kuliah S2. Jadi konsultan, lumayan juga. Cari klien sendiri,, bikin konsep sendiri, presentasi, eksekusi, bikin laporan. Teman-teman saya banyak yang sudah jadi manajer saat itu, kalau saya mau kerja formal, mungkin saya juga sudah dalam posisi mereka. *PD kan boleh ya?*

Begitu ada Genta, kegiatan konsultan otomatis berhenti. Prioritas berubah. Saya butuh bisnis yang lebih sederhana. Hahaha. Memang ada bisnis yang sederhana. Anyway, saya pernah berbisnis pendidikan, yang kemudian saya terminate karena ketidak-cocokan dengan master franchisor-nya. Sekarang saya berbisnis perlengkapan bayi dan anak, masih online dan offline ngikutin bazaar. Malu? Sekali lagi kok gak ya. Ini jenis kegiatan yang saya suka. Saya bisa bawa anak-anak, bisa meeting kapan saja, bisa kasih pekerjaan buat orang lain dan bisa ketemu konsumen yang puas sama layanan saya.

Psst, lagipula 9 dari 10 pintu rejeki itu kan konon kabarnya adalah berniaga to?

Eh jangan salah, saya juga ngalami rugi kok. Hehehe. Jutaan? pernah. Puluhan juta? pernah. Ratusan juta?? juga pernah. Namanya juga bisnis, kalau gak untung ya rugi. Sama kayak karyawan, kalau gak berprestasi ya dipecat. Sama kok.Tapi saya ga menyerah, doakan saya ya. Bisnis itu sungguh pelajaran yang lengkap dalam hidup, sayang kalau ditinggalkan.

Saya kagum sama perempuan-perempuan yang rela anaknya diasuh orang lain karena dia bekerja. Bagi saya, itu contoh konkrit kepasrahan dan keikhlasan. Pasrah dan yakin bahwa Allah akan menjaga anak-anak mereka, sehingga bisa tenang bekerja. Saya mungkin orangnya belum seikhlas dan sepasrah itu sama Allah. Saya lebih tenang dan senang mengasuh anak saya sendiri. Tapi saya bisa pasrah dan ikhlas kok menyerahkan rejeki toko saya sama Allah. Jadi saya jangan dimarahin ya? Please.

Wirausaha itu bisa dimulai kapan saja, oleh siapa saja, di mana saja. Kalau Anda salah satu yang selama ini bermimpi jadi wirausaha dan belum juga mulai bergerak, pertanyaannya adalah…. how bad do you want it?

Advertisements

2 thoughts on “Sharing Bisnis : How Bad Do You Want It?

  1. lies haryoko says:

    Hai mba Fanny…Salut sama bunda Fanny nie….yg sudah mulai belajar bisnis dari remaja…n gak pantang menyerah.
    Saya juga ngisi kesenggangan waktu saya dengan berdagang…
    Klo rugi ….? Saya juga pernah ngalamin mba…wah, ini pengalaman pait banget..tapi kata suami saya belom menjadi pembisnis kalo belom ditipu…akhirnya saya menyingkapinya dengan positip..ya..yang namanya lagi diuji sama Allah SWT..trima dengan ihklas dan legowo.
    Saya juga tetep optimis dan harus optimis…matur nuwun..

    • fannyherdina says:

      hihihii… Tq mbak Lies….
      sesama womenpreneur harus saling menyemangati ya mbak…
      kapan-kapan mampir ah di kios sosis nya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s