Tahan Dalam Penderitaan

 

Setiap Sabtu saya dan suami sudah punya jadwal tetap mengantar Genta -si sulung- latihan gymnastic dan cappoeira. Belum lagi kalau tiba-tiba ada kelas art tiap weekend. Biasanya endingnya kami menghabiskan waktu di salah satu mal kecil di Bintaro sejak jam makan siang minimal sampai maghrib.

Beberapa alternatif acara kami coba buat menghilangkan bosan. Salah satu yang sudah sangat lama kami impikan adalah pijat refleksi yang lokasi 1 lantai di bawah kids centre tempat Genta berkegiatan di hari Sabtu. Tapi selalu gagal. Sekali waktu, Puti gak tidur-tidur,, jadi kami tentunya gak bisa refleksi. Sekali waktu Puti tidur, eh tempatnya penuh dan kami harus nunggu 1 jam sebelum bisa masuk. Lah kan Genta-nya keburu jeda nyariin kami. Ah, sebut saja saya lebay. Karena saya pengen ada di tiap jeda kegiatan Genta yang per 1 jam itu.

Ah, tapi hari ini kami berhasil pijat refleksi. Perfecto. Puti tidur. Genta ikut arty arcade yang kurang lebih durasinya 2 jam. Refleksinya ada yang kosong, 1 cewek, 1 cowok dan bisa selesai dalam 1,5 jam. Pas banget kan?

Singkat cerita kami refleksi lah di situ. Cerita soal refleksi ini bisa saya sambung di tulisan lain. Yang mau saya ceritakan kali ini adalah percakapan saya dan suami setelahnya.

Sambil makan malam, suami bilang.

“Wah badanku rasanya enteng. Enak banget ya. Udah 10 tahun aku gak refleksi”

Ya ya ya emak lebay dapet pasangan suami lebay juga. Nikah baru 5 tahun kok saya disuruh tanggung jawab 10 tahun ga refleksi.

“Tadi benernya tuh sakit semua lo kakiku dipijet. Tapi aku ya cuman au au pelan aja”

Seriously, saya duduk di sebelah suami saya pas dipijet. Bahkan sesekali kami ngobrol dan ngekek-ngekek kecil. Ga kedengaran loh dia teriak atau bilang sakit. Blas. Ga ada sama sekali. Saya heran dibuatnya. Karena kalau saya yang sakit, hmm, percayalah itu sekampung juga denger kali saya ngomel kesakitan. Tapi suami saya ini, ceritanya kayak sakitnya luar biasa, tapi saya di seblahnya aja gak denger dia teriak au. Langsung saya komentarin.

“Woh, kamu memang tahan dalam penderitaan ya mas?”

Suami saya langsung mendelik dan speechless. Mungkin dia gak tahu harus bangga atau malu. Tahan dalam penderitaan dalam arti adversity-nya tinggi mungkin itu pujian. Tapi tahan dalam penderitaan yang berarti bersedia menderita tanpa protes mungkin itu hinaan. Sampai akhir nampaknya dia tidak berhasil menyimpulkan “tone” kalimat saya. Hihihihi.

—————————————————–

Seorang kenalan pernah suatu kali berpacaran dengan laki-laki yang senangnya memukul. Ya, saya menyebutnya “senang memukul”. Tentunya ada istilah lain yang lebih feminis, tapi karena saya tidak merasa feminis, saya sebut saja dia senang memukul.

Saya pernah ditunjukin foto badan kenalan saya yang habis kena pukul itu. Lebam sebesar kepalan tangan, merah, ungu, biru, hitam campur-campur warnanya. Saya lihatnya saja, cuma lewat foto sampai merinding. Waktu saya tanya,

“Sakit gak?”

Ya jelas jawabannya sakit. Tapi kenalan saya ini cukup lama juga berpacaran sama laki-laki si suka mukul ini. Entah apa alasannya. Tentu ada alasannya. Hanya karena saya gak paham atau dia gak bisa menerangkan, bukan berarti gak ada alasannya kan?

Sesaat setelah saya lihat foto lebam di tangan dan perutnya, salam hati saya berbisik

“Anak ini tahan dalam penderitaan ya?”

——————————————–

Beberapa bulan lalu saat socmed membara, saya suka geleng-geleng kalau lagi timeline gazing. Kagum sama keberanian orang saling mencela. Kagum sama keyakinan orang bahwa dirinya 100% benar dan untuk itu orang lain 100% salah. Kagum sama kemampuan orang berubah dari orang bijak jadi cyber bullier , berkelompok pulak.

Tapi yang paling membuat kagum adalah konsistensi beberapa orang yang udah dicela, dimaki, diludahin secara virtual, disebut gila, idiot, gak waras, segala macam, tapi teteeeeppp ngeyel bikin tulisan yang berbeda sama kelompok mainstream. Not that I blame them. Tapi kagum.

Saya kagum karena keberanian mereka stand out of the crowd, menunjukkan pendapatnya, gak takut dibilang anti mainstream biarpun dicela habis-habisan sama temennya sendiri, bahkan. Kagum sama kemampuan mereka untuk tetap menjawab comment-comment hinaan itu dengan sekedar jawaban santai atau malah guyonan. Luar biasa memang kematangannya.

Orang-orang seperti mereka juga termasuk orang-orang tahan dalam penderitaan, menurut saya.

———————————————–

Lha saya? Walaaaah, tanya saja adek-adek saya atau suami saya, atau mamah saya.  Dikerokin bengokan. Dipijet, padahal minta dipijet lho, ya teriak-teriak.

Mobil mati di traffic light pas lampu hijau, mbingungi diklaksonin mobil belakang. Ngantri lift, diserobot sama orang-orang yang asal masuk gak peduli ada  yang mau keluar aja, keringet dingin. Sungguh saya gak tahan dalam penderitaan. Jangankan di-bully, lihat orang di-bully saja perut saya kadang dingin rasanya. Geleng-geleng sambil mbathin.

“Kok tega ya ngomongin temennya kayak gitu?”

“Kok yakin ya kalau dia bener 100%?”

“Kok bisa ya orang pinter perilakunya kayak gitu?”

Makanya saya gak berani sok-sokan ikut mbully orang atau ngrasani orang. Mbayangin kalau ternyata yang dirasani mbaca, terus dia termasuk orang yang gak tahan dalam penderitaan, lhaaaa dosa saya njuk piye itungannya? Kalau kebetulan perilaku menolak bully ini termasuk dalam kerangka sopan santun berkomunikasi, itu pun cuma kebetulan. Karena alasan sesungguhnya adalah saya gak tahan dalam penderitaan. Itu kata Phoebe. *wink

Advertisements