Tentang jualan

Sejak kapan senang jualan? Tanya teman

Hmm.. sejak kapan ya?

Waktu SD saya keliling di tetangga jualan sabun cuci kiloan dari kantor papah. Mamah yang ngiloin satu satu, saya nggeret tas koper segede gaban, ngetokin pintu tetangga, nawarin mau beli rins* apa nggak. Yang beli yaaa mamahnya Dony Hendro Wibowo sama Whisnu Ferry Kartika. Saksi hidup mereka.

Waktu SMA, saya ikut member segala macam kosmetik. Jualnya ke siapa? Ya tetangga sama saudara lah. Pulang sekolah, saya mampir ke kantor av*n ambil pesenan barang. Jelas saya yang paling muda. Hasilnya? Saya bisa beli fancy stationeries sama lip balm  buat diri saya sendiri.

Kuliah? Saya bikin brownies bareng mamah dan adek2, terus jual ke teman tetangga dan saudara. Kadang kalau pas pulang ke Semarang, buka lapak di simpang lima. Pernah juga jualan stationery dan asesoris sama adek2. Seruuuu. Daaaan, jangan lupakan, selaluuuu jadi sie dana usah bareng bos Lely Setiowati. Cuci motor, mobil, jual nasi goreng, jadi fasilitator outbound, crawling di pinggiran tol jakarta sama ms Sony Gudel Dwijayanto dan mas Giri Triatmojo, jual kaos sama kalender? Terlalu mainstream.

Waktu S2, jualannya lebih keren. Jasa training, rekrutmen dan konsultan. Juga jualan segala macem lainnya. Dendeng homemade. Pastel tutup. Parfum.

Sampai sekarang dengan butikbocah dan segala mimpi besarnya.

You know what? That little feeling when you try to sell something good to customers, and they buy it. Uuuuh, its not the 1000 or 2000 margin that lift me up to the sky. Its the trust. The trust they gave me. Thats what soo addicting.

Yesss, selling is about trust. But again, in life, what is not about trust?

Night night friends. Dont forget to kiss your kids. Love.

Advertisements

All For One And One For All

Anda yang belakangan ini cekikak cekikik kalau baca facebook, gara-gara grup hits 80/90, pasti kenal dong lagu di atas. Penyanyinya 3 orang, ganteng semua. 3 generasi, tapi kok ya gantengnya sama. Saya jelasĀ  kelompoknya Sting lah. Hihihi. Anda kelompoknya siapa? Juga pasti ingat ini saoundtrack film apa kan? Hihihi, udah ah nostalgianya. Inget anak broooo….

By the way, siang ini Genta pulang sekolah cerita bahwa matanya habis kena pukul temannya tadi. Ciaaaatt insting emak-emak saya langsung kuda kuda. Rasanya pengen banget nyecer Genta sama pertanyaan.

Siapa yang mukul mas? Siapa namanya?
Anak kelas mana?
Gimana kejadiannya? Miss nya tahu gak?
Dia minta maaf gak? Mas Genta sakit gak?

Daaan sejuta pertanyaan berjurus bangau mabuk sampai ular berkepala 3 ala pendekar shaolin. Tapi untungnya tadi siang saya masih sempat tarik napas (dan keluarkan tentunya, hihihi). Kemudian sambil berlagak “cool” saya berkomentar….

Waaah, sakit gak mas? Mas Genta terus nangis?

Iya, Genta nangis sedikit.

Pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan emak kepo yang untuuung banget masih bisa menahan jurus-jurus andalan intetogasinya. Anyway, Genta kepukul matanya itu gak sengaja rupanya. Si anak berniat mukul anak launnya yang mengganggu dia, tapi kepleset malah kena Genta. Alhamdulillaaah bukan Genta tujuannya. Hahahaha, bukan itu juga sih alhamdulillahnya. Alhamdulillah si anak sudah minta maaf dan Genta seperti gak sakit hati sama proses pemukulan ini. Beda sama beberapa hari sebelumnya.

Beberapa hari lalu Genta pulang sekolah dengan sangat marah, jengkel dan frustrated. Kok tahu? Paranormal ya? Laaah, hari gini masih pakai paranormal. Observasi brooo, observasi. Lagipula kemudian Genta outburst kok, hihihi, makanya saya jadi tahu.

Siang itu Genta maraaah betul. Kelihatan sekali dia jengkel dan putus asa. Saya bahkan lupa apa tepatnya yang terjadi, yang kemudian berakhir dengan dia memukul saya. Btw Genta ini pukulannya mantab, dia latuhan wushu udah setaunan, jadi ya lumayan lah buat almost 40 lady kayak saya ini. Halaaah, #gagalfokus lagi. Poinnya adalah Genta belum pernah nampak se-frustrasi itu. Waktu saya ajak bicara, omongannya ngawur ke sana kemari da temanya adalah soal pukulan.

Di saat agak tenang, saya mulai bertanya

Di sekolah tadi ada apa mas Genta? Siapa temennya yang suka mukul?

Yaaah anggaplah ini pertanyaan hasil kolaborasi kesotoyan saya, observasi dan keyakinan saya bahwa saya mengenal baik anak pertama saya ini. Genta jawab

Waktu kelas robotik, Genta dipukul sama si X.
Dipukul di mananya mas? Sakit?
Di sini bu *dia nunjukin kepalan tangan yang dipukul ke arah dada*, ya sakit
*insting emak2 langsung on, anak siapa sih ini, mukul dada kan bahaya, gimana jantungnya, kan bisa sesek, dan seterusnya dan setrusnya sampai saya kembali ke dunia Genta bukan dunia saya*
Wah, mas Gentanya terus gimana? Nangis gak? Bilang sama miss?
Gak nangis sih. Ya gak ngapa2in. Gak bilang sama miss juga. Cuman Raki yang laporan sama miss.
La kenapa gak bilang sama miss mas? Mas Genta bilang no gak ke yang mukul?
Gak, Genta cuman geser aja. Miss nya malah bilang Genta jangan deket-deket situ.

Masih panjang obrolan saya sama Genta soal ini. Cuman yang paling saya ingat adalab betapa Genta putus asa hari itu, di akhir outburst nya dia sampai teriak,”tolong buuu, toloooong”

Jelas Genta pasti bisa membalas pukulan itu, tapi saya bersyukur dia tidak melakukannya. Jelas juga bagi saya, bahwa sakitnya pukulan itu lebih ke emosional ketimbang sakit fisik. Saya membayangkan perasaan Genta yang galau berat antara

Aku bisa bales sih sebenarnya.
Tapi mukul itu tidak baik kecuali 2 alasan.
Dan ini adalah anak yang lebih kecil.
Dan mungkin masih banyak dialog internal lainnya.

Oh, yang mukul ini juga sudah minta maaf. Dan lebih lebih lagi, saya bersyukur insting mama gorilla saya gak segera muncul ke permukaan buat nenteng Genta ke miss nya dan minta ketemu sama orang tua anak yang mukul.

Yess, we are all mama and papa gorilla bukan? Sekali anak kita tersakiti, sengaja atau tidak, lebam atau gores, bawaannya memang pengen roaaarrr dan menerkam. Hihihihi. Padahal salah satu konsekuensi memasukkan anak ke sekolah adalah, kita perlu siap melihat anak mengalami sendiri interaksi sosial dengan segala bumbu dan penyedapnya. Apalah yang saya contohkan ke Genta kalau hari berikutnya saya cincing rok ke sekolah buat komplen sama gurunya soal itu? Yaaaa tentunya sekitar

Ibuku selalu belain, tentu karena aku selalu benar
Boleh ternyata marah-marah kalau disakiati

Kemudian Genta tidak belajar soal bagaimana menyikapi perilaku yang dia tidak suka. Bagaimana cara memaafkan dan melupakan. Bagaimana cara menahan pukulan di saat sebenarnya dia mampu membalas. Kapan dan ekspresi apa yang tepat untuk menunjukkan emosinya. Dan sebagainya.

Daaaan setelah beberapa malam merenung dalam ketakutan seperti apa nanti anakku kalau dipukulin terus. Hiks. Lebay ya. Yaaa, bukankah salah satu privilege jadi ibu adalah kebolehan untuk lebay mikirin anaknya. Aah, kembali ke laptop. Setelah beberapa hari merenung dan mengambil jarak dari kejadian itu, saya berkesimpulan. Nampaknya salah satu konsekuensi menyekolahkan anak adalah juga berusaha menjadi orang tua bagi teman-temannya. Lah gimana caranya?

Yaaa, dengan membiarkan yang mukul minta maaf, jadi dia tahu memukul itu tidak baik, tanpa harus saya pleroku setiap kali ketemu. Dengan membiarkan teman lainnya melihat Genta menangis ketika teerpukul, sehingga dia punya bibit empati. Dengan membiarkan Raki membela Genta dengan melaporkan ke miss, sehingga Raki tahu beda perilaku yang boleh dan tidak holeh. Banyak lah. Saya ga harus kasih makan dan minum tiap hari buat teman Genta, hanya karena saya merasa perlu jadi orang tua bagi semua temannya Genta.

Tapi saya bisa menyapa dengan memanggil nama. Bisa mengingatkan ketika mereka perku hati-hati. Bisa memuji atau mendengar cerita merek, ketika suatu saat ketemu. Saya bisa lakukan yang biasa saya lakukan dengan Genta dan Puti, dengan takaran yang tepat. Karena bukankah kata Sting all for one and one for all?

Eheheh inget video clip lagunya yang waktu mereka lagi live gak? Saya paling suka bagian Bryan Adams dikerjain, pas mau tos sama Sting sama Rod Stewart. Walau kesannya dikerjain tapi kok balutannya rasanya penuh kasih sayang gitu. Ihiks, jadi inget kenangan waktu hits-hits nya lagu itu ih.

And all foooorrrrr looooooovvvvvvvveeeeeeee……

Permata Bintaro, 2 Oktober 2014
Fanny Herdina
Tulisan ini juga dimuat di blog pribadi http://www.ceritafannyherdina.wordpress.com