An adventure of life

Dulu waktu jadi konsultan HR, mamah saya pernah tanya tentang sejak kapan saya memutuskan mau jadi konsultan. Saya agak bingung jawabnya, karena sesungguhnya saya lupa sejak kapan. Sejak masuk psikologi ugm di tahun 94, eh 2004 ding, atau 2014 ya. Anyway, sejak masuk UGM, kok rasanya saya memang langsung membayangkan kerja mandiri dan tidak jadi karyawan sebuah perusahaan. Kenapa? Namanya pengen, kan bebas ya.

Kemudian Genta lahir. Sampai hamil 8 bulan, saya masih ngonsultan bareng juraga spatoe Fatriya Herdiana, psikolog kondang Henri Arkan dan lusia-no-facebook-account. Begitu Genta lahir, ya berhenti gitu aja. Kok bisa? Ga ada tawaran? Wah tawaran banyak, hihihihi, malah sombong. Yaaa tawaran ada lah, klo pun menghindar bilang banyak. Tapi kok saya kembali lakukan yang dari dulu saya bayangkan kalau punya anak. Tinggal di rumah dan mengurus anak saya. Kenapa? Lagi2 ini soal pengen atau bahasa kerennya mimpi saya. Untung mimpi itu gratis.

Lalu sampai deh di dunia enterpreneur ini. Pertama kali buka booth jus, sahabat saya Yulia Prawito mampir, duduk di depan saya dan dengan serius bertanya.

“Mbak, are you serious doing this? Are you happy with this?” diiringi tatapan tidak percaya.

Lagi lagi saya jawab, iya. Memang ini yang sudah lama kubayangkan yul.

Hidup itu memang banyak pilihan ya. Walau terkadang pilihan kita nampak anehndi depan orang lain, bahkan orang dekat kita, rasanya memang manteb kalau hidup berdasar pada pilihan bukan paksaan. Paksaan kondisi. Paksaan suami. Paksaan pikiran, terutama.

Namun jika saya boleh mengulang, ijinkan saya mengulang beberapa hal dalam hidup saya. Salah satunya, memulai @butikbocah lebih awal. But here I am now, getting older everyday, but again age is just numbers. The inside-self is still that same 18y-old-girl ready to taste her first rafting adventure, only it’s business adventure now.

Create a better future

Di tempat publik, saya sring dikerubutin ana kecil. Entah kenapa, awalnya mereka ngobrol sama Genta. Nanya2 yang lagi dilakukan Genta, karena Genta selalu siap dengan perlengkapannya, entah crayon, mainan, hari ini kertas origami. Endingnya saya sibuk ngobrol bukan cuma sama 2 anak saya yang super ceriwis. Juga dengan anak orang yang tidak saya kenal, yang ayahnya sibuk ngobrol sambil ngrokok sama temennya, atau ibunya lagi rumpik berat sama sohibnya, bahkan kadang babysittenya lagi sibuk telpon telponan.

Kata suami saya barusan, ini ibunya ke mana sih?
Gak tahu, itu lagi ngobrol sama temennya kayanya.
Lha kamu ngapain? Cuekin aja. Wong ibunya aja cuek.

Jawab saya agak dramatis, i’m creating a better future for my kids to live in.

Haaaaaa, anak2 yang dapat perhatian, kasih sayang dan diajak ngobrol segala topik gak penting tentang astronot yang punya sayap kayak transformer, insyaa allah tumbuh jadi dewasa yang merasa cukup. Cukup dengan pendapatannya, jadi ga prlu korupsi. Cukup dengan keluarganya, jadi ga perlu selingkuh. Cukup dengan dirinya jadi ga perlu menjelek jelekkan orang lain. Cukup dengan opininya jadi ga perlu menyerang yang berbeda.

Cukup. Pas. Enough. Yang terakhir bahasa Inggris itu. Hihihihi