Tidak ada orang baik di dunia

Anda langsung pengen komen kah baca judulnya? Ibu macam apa ini, sinis memandanf dunia? Katanya enterpreneur, kok negative thinking nya setengah mati? Kapan mau sukses kalau mikirnya kayak gitu? Anda benar.

Belasan tahun yang lalu dalam ingatan saya yang agak gelap pada masa masa itu, saya berkenal dengan seseorang, yang dalam ingatan saya, saat ini saya simpulkan sebagai orang baik. Cita-citanya buat Indonesia baik. Omongannya baik baik. Logika runtut, baik. Mimpinya juga mimpi mimpi yang baik. Makin saya kenal saya makin yakin ini orang baik.

Saya tetap yakin dia orang baik bahkan ketika beberapa perilakunya mulai mempermalukan saya di depan teman-teman terbaik saya. Saya tidak bergeming dan masih yakin dia orang baik ketika dia membuat hubungan saya dan mamah saya merenggang. Pun, saya masih yakin dia baik ketika saya tahu nama saya dihual beberapa kali ke pihak lain untuk mendapatkan uang.

Butuh waktu kurang lebih 2 tahun bagi saya untuk menyadari bahwa orang hanya bisa dibilang baik kalau perilaku sehari2nya baik, bukan cuma opininya yang baik. Orang baru bisa dibilang baik kalau keputusan2nya baik, demi kebaikan, menunjukkan kebaikan, bukan semata2 punya mimpi baik. Orang juga baru bisa dibilang baik ketika bukan cuma logikanya yang runtut, tapi juga omongan dan perilakunya runut.

Karena tanpa perilaku sehari2 yang baik, keputusan2 yang baik, kata2 yang diucapkan baik, sesungguhnya yang ada adalah orang berpotensi baik. And we all berpotensi baik. Semua kita, manusia, punya potensi baik. Lalu ketika potensinya mengejawantah, jiaaaah kebanyakan dengerin KLA hari ini, kemudian bolehlah kita disebut orang baik.

Jadi tidak ada orang baik. Yang ada adalah orang yang memiliki kebiasaan berbuat baik, berkata baik, berpikir baik, mengambil keputusan baik. Semacam sedikit sedikit lama lama menjadi bukit. Segala habit baik yang menggunung itu, kemudian menjadikan potensi kebaikannya muncul ke permukaan. Sementara potensi kebaikan yang belum muncul, yaaaa kelompokkan saja dia dengan teman saya berbelas tahun lalu itu, sebut saja “memiliki potensi dan masih membutuhkan pengembangan dalam 2 *atau 20* tahun ke depan.

Selamat tidur. Tidurlah yang baik. Mimpi juga yang baik. Biar bangun juga ingetnya yang baik2.

Happy New Year from @butikbocah

Happy new year… Maaf ya bun, agak telat….
Hiks, tahun 2014 ditutup dengan sedih nih ceritanya, owner kehilangan ibu yang meninggal akhir desember kemarin

Jadi pengen ngingetin temen2 tersayang soal menyayangi orang tua. Terdengar klise memang, tapi bunda dan ayah yang sekarang sudah punya bocah kecil pasti paham kan, gimana sayangnya ortu itu sama anak2nya? I know you do. Bayangin aja kalau bunda sakit, serumah jadi kayak sedih dan kelabakan. Betul kan?

Sekalian share ah, ummi dalam bahasa arab, kabarnya memiliki arti menuju. Itu makanya dalam keluarga, semua anggota seperti menuju ke sang bunda. Mulai cari kaos kaki bocah, kacamata ayah atau mungkin sekedar menunjukkan bangunan dari lego yang baru dibuat.
Saya baru paham juga kenapa anak2 senang sekali gelendotan di saya. Haaa, semoga semua bunda diberkahi kesabaran dan keikhlasan buat mengurus bocah2 kecilnya. Dan semoga orang tua kita semua ditinggikan derajatnya ya, di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Juga semoga sukses, bahagia dan barokah menghujani kita semua di tahun 2015 dan selanjutnya. Muaaachh…

image

#komikbutikbocah #ilustrasibutikbocah #mom #ibu #2015 #butikbocahparenting

Genta’s Question

Sejak di pesawat dalam perjalanan pulang ke Jakarta sampai tadi malam, Genta masih suka tiba2 nangis tertahan. Sambil diakhiri kalimat

“Memang semua yang ditinggal itu pasti nangis ya bu. Pasti ya bu? Gak ada yang gak kan bu? Pasti kan bu?”

Berakhir dengan minta dipeluk dan emotional outburst yang bitter sweet buat saya. Membayangkan kepalanya dipenuhi badai tentang segala peristiwa yang terjadi belakangan.

Hmm….

This Mixed Feeling

Entah kapan saya nonton film itu, entah juga judulnya apa. Tapi salah satu adegannya adalah 2 orang yang ngobrol dan berakhir dengan percakapan.

“Emosi manusia itu penuh dengan kontradiksi, complicated.”

Dan saat ini saya baru memahami sepenuhnya. Dalam 1 saat, saya, manusia, mengalami beberapa perasaan sekaligus. Bukan cuma satu.

Saat pesawat Garuda yang saya tumpangi tadi pagi take off, saya cemas, juga yakin akan baik baik saja.
Saat menonton Genta, mas Anton B Priyantoro dan keponakan2 main hujan2an beberapa hari lalu, saya gembira liat anak2 tertawa lepas, takut mereka kesambar petir, sedih karena mamah ga bisa nonton juga lega karena suami saya menemukan cara membebaskan anak2 dari awan berkabung di rumah kami.

Saat menyaksikan ijab adek tersayang Fauziah Herdiyanti dan Awwal Adi Basuki, rasanya plong karena tanggung jawab papah berhasil ditunaikan oleh kami, sedih karena orang tua kami tidak hadir fisiknya bersama kami, bangga karena kami ber4 berhasil menyelesaikan mission impossible ini, juga terharu betapa om kami begitu erat persaudaraannya dengan kami bersaudara.

Saat berpisah dengan adek2 barusan, sedih karena tiba2 kami officially yatim piatu, excited dengan pola hubungan kami yang baru, harap2 cemas atas kejutan di masa2 mendatang juga percaya bahwa rencana Dia ga ada jelek2nya buat kami.

Mixed feeling. Sambil berkali kali mengulang dalam hati
“BERSAMA kesulitan selalu ada kemudahan”

Tante saya bertanya kemarin, “Kalian kok ga ada sedih2nya sih? Aku aja sedihnya ga udah udah lo”

Kami bertiga saat itu cuma bisa saling memandang dan menjawab dengat seret. How do I explain? Saya tahu persis dukanya belum sirna, di hati saya, juga di hati adek2. Awannya masih gelap menggantung. Tapi hidup tetap berjalan.

Mungkin itu makanya SEHARUSNYA makin tua orang makin  bijak dia. Seharusnya. Karena walau sedih tetap dirasa, tapi optimisme harus lebih perkasa. Karena bukan hidup nampaknya kalau dijalani terus menerus berkalung airmata. Jika pun sekali dua kami terjatuh dalam kubangan airmata, cuma sebagai tanda hati kami masih ada, teraba, di dalam dada.

Peluk terhangat buat semua yang mengirimkan doa, bantuan, pelukan, ciuman, sms, bbm, wa, pm. Terutama bagi para cintaku yang belum ditag Fatriya Herdiana Romi Romadhoni Muhammad Herdiyantono Dwi Astuti Widiantari. Love you.

Meeting point berikut, Tanjung Lesung dulu apa Solo?