This Mixed Feeling

Entah kapan saya nonton film itu, entah juga judulnya apa. Tapi salah satu adegannya adalah 2 orang yang ngobrol dan berakhir dengan percakapan.

“Emosi manusia itu penuh dengan kontradiksi, complicated.”

Dan saat ini saya baru memahami sepenuhnya. Dalam 1 saat, saya, manusia, mengalami beberapa perasaan sekaligus. Bukan cuma satu.

Saat pesawat Garuda yang saya tumpangi tadi pagi take off, saya cemas, juga yakin akan baik baik saja.
Saat menonton Genta, mas Anton B Priyantoro dan keponakan2 main hujan2an beberapa hari lalu, saya gembira liat anak2 tertawa lepas, takut mereka kesambar petir, sedih karena mamah ga bisa nonton juga lega karena suami saya menemukan cara membebaskan anak2 dari awan berkabung di rumah kami.

Saat menyaksikan ijab adek tersayang Fauziah Herdiyanti dan Awwal Adi Basuki, rasanya plong karena tanggung jawab papah berhasil ditunaikan oleh kami, sedih karena orang tua kami tidak hadir fisiknya bersama kami, bangga karena kami ber4 berhasil menyelesaikan mission impossible ini, juga terharu betapa om kami begitu erat persaudaraannya dengan kami bersaudara.

Saat berpisah dengan adek2 barusan, sedih karena tiba2 kami officially yatim piatu, excited dengan pola hubungan kami yang baru, harap2 cemas atas kejutan di masa2 mendatang juga percaya bahwa rencana Dia ga ada jelek2nya buat kami.

Mixed feeling. Sambil berkali kali mengulang dalam hati
“BERSAMA kesulitan selalu ada kemudahan”

Tante saya bertanya kemarin, “Kalian kok ga ada sedih2nya sih? Aku aja sedihnya ga udah udah lo”

Kami bertiga saat itu cuma bisa saling memandang dan menjawab dengat seret. How do I explain? Saya tahu persis dukanya belum sirna, di hati saya, juga di hati adek2. Awannya masih gelap menggantung. Tapi hidup tetap berjalan.

Mungkin itu makanya SEHARUSNYA makin tua orang makin  bijak dia. Seharusnya. Karena walau sedih tetap dirasa, tapi optimisme harus lebih perkasa. Karena bukan hidup nampaknya kalau dijalani terus menerus berkalung airmata. Jika pun sekali dua kami terjatuh dalam kubangan airmata, cuma sebagai tanda hati kami masih ada, teraba, di dalam dada.

Peluk terhangat buat semua yang mengirimkan doa, bantuan, pelukan, ciuman, sms, bbm, wa, pm. Terutama bagi para cintaku yang belum ditag Fatriya Herdiana Romi Romadhoni Muhammad Herdiyantono Dwi Astuti Widiantari. Love you.

Meeting point berikut, Tanjung Lesung dulu apa Solo?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s