Rasa Dan Kata

Tahun 2015 hampir berakhir. Barusan saya disuguhi perbandingan statistik pengunjung blog saya di tahun 2014 dan 2015. Hiks. saya tersenyum kecut. Beda sekali jumlah pengunjungya. Dan 2015 tidak lebih banyak dari 2014.

Lalu ngapain saja saya di tahun 2015 yang tinggal beberapa hari ini?

Entahlah. Rasanya waktu berjalan lambat sekaligus cepat di tahun ini. Tahun pertama saya tanpa mamah. Ah masih melo rupanya temanya. Saya ingin kembali menulis kata-kata yang penuh inspirasi seperti tahun tahun lalu, tapi sungguh saya gak mampu. Entah kenapa. Sulit menerangkan rasa yang ada. Ciyeee..

Tahun ini, menjelang usia ke-40, ups, saya menyadari beberapa hal. Well, kalau ditanya tahun 2015 ngapain aja, saya agak sulit jawabnya. Tapi mungkin beberapa hal ini bisa mewakili lah tentang arti 2015 buat saya.

Saya sadar kamera tidak akan pernah menggantikan mata. Sebagus apa pun itu megapixelnya kamera, dia gak akan mampu menangkap yang ditangkap mata.

Saya sadar kata tidak akan pernah berhasil mengekspresikan rasa. Kalau pun terasa berhasil, sesungguhnya itu keberhasilan semu, karena kita terbiasa berdamai sama kemampuan kata yang terbatas mengekspresikan rasa. Gak. Gak semua rasa bisa diwakili oleh kata-kata.

Saya sadar bahwa cinta bukan segalanya. Well, cinta memang bikin hidup jadi indah. Tapi dia bukan segalanya atau satu-satunya yang bikin hidup jadi indah. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu, pengabdian. Banyak kali saya bilang cinta sesuatu tapi saya gak mampu mengabdikan diri padanya. Padahal gombal lah namanya cinta itu, tanpa pengabdian. Bilang cinta Islam, cinta Allah, cinta Rasulullah, tapi tanpa pengabdian, entahlah terasa gak pas di telinga emak-emak HAMPIR 40 ini.

Saya sadar bahwa umur sungguh adalah sekedar angka. Bukan penentu apa pun selain berapa lama kita ada di bumi yang fana ini. Bukan penentu kebijaksanaan. Bukan penentu kedewasaan. Bukan pembatas cinta. Bukan penentu keriput. Bukan juga penentu berapa banyak uban di kepala. Umur sekedar angka yang menunjukkan berapa lama kita ada di dunia ini. Karena mati juga tidak berdasarkan urutan umur.

Last but not least, saya sadar bahwa everything happens for a reason. Saya tahu ini sudah lama. Tapii menjelang 40, saya mengamini-nya sekali lagi. Yes, selalu ada alasannya. Hanya kadang kita gak tahu alasannya. Kadang butuh waktu 22 tahun untuk mengerti alasannya. Dan 22 tahun lagi mungkin buat menerimanya. Kadang bahkan mungkin sampai akhir hayat, kita masih bertanya apa kebaikan kejadian ini bagi kita? Karena sungguh logika manusia saya yang terbatas gak ada artinya bagi Allah Sang Maha Segala Maha.

Jika saja 2015 saya lewatkan dengan ongkang ongkang kaki, semoga segala kesadaran yang saya dapat di tahun yang sama, membawa saya menjadi makhlukNya yang lebih baik. HambaNya yang semakin pasrah, bukan terus meronta memaksa jalan hidup serupa impian saya. Semoga.

Betul kata teman saya, mendung selalu membawa ingatan-ingatan masa lalu. Dan kesedihan membawa kita masuk ke dalam kesadaran diri, larut, indah dan megap megap di saat yang sama.

Missing you mah, pah, so intensely that words can not explain.

n1287356437_30313314_880

Ini foto mamah dan papah saya saat menikah. Sudahlah, gak bisa komen lainnya lagi saya. Hiks.

n1287356437_30313329_4967

Yes, itu kami sekeluarga sekitar tahun 89-90 saat kami tinggal di Magelang. Our happy time, kami menyebutnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s