Si TEMPE

Saya dan tempe punya hubungan sangat romantis yang tidka terkalahkan oleh siapa pun.

Sejak kecil makanan kesukaan saya adalag tempe. Bahkan saya hanya bisa makan nasi dan tempe sampaj umur saya kurang lebih 23 tahun. Beberapa kali saya kena kurang gizi saat kecil karena makanannya yaaaa cuma 1 jenis saja, tempe pol polnya ditambah telur. Lucunya kalau bakso saya doyan, selain itu segaka daging2an saya gak makan.

Untungny tempe inu makanan umum yaaa di Indonesia Raya ini… hehehehe…

Masalah pertama muncul saat saya SMP dan bergabung dengan Marching Band sekolah saya. Kami diundang parade senja di istana merdeka. Ikutan GPMB di Senayan. Orang tua gak ikuuut. Cuma kami, 100an anak SMP ditemani guru dan beberapa official. Saya ga bisa makan. Cuma makan nasi sama krupuk. Sampai akhirnya, salah satu guru saya, ibu Mariatmi berinisiatif mengantongi tempe di bajunya buat dikasih ke saya tiap jam makan. Tentunya terbatas dan ga tau juga itu beliau dapat dari mana. Tapu adaaaa aja setoran tenpe buat saya di jam makan.

Sampai sekarang, maksud saya sampai beberapa bulan lalu saat ketemu, bu Mariatmi dengan lantang akan menyebut nama saya, Fannyyyyyy tempeeeeeeeee…… Kami berdua kemudin tertawa.

Beruntung saya ketemu teman-teman pecinta alam di kampus. Sedikit dipaksa penuh cinta buat mencoba makanan lain selain tempe. Saya ingat makanan pertama yang saya suka selain tempe, adalah dendeng. Adalah dia yang tak perlu disebut namanya, yang memperkanalkan dendeng dalam hidup saya. Jiaaaah, umur saya 18-19 tahun saat itu. Kemudian diikuti kornet. Lanjut dengan lele. Dan seterusnya dan seterusnya. Dan di akhir usia 20an, saya tiba tiba pemakan segala.

Tapi namanya cinta pertama, susaaaaaaahnyaaaaa dilupakan. Tempe selalu tetap dalam jiwa. Ihik.

Segitunya saya sama tempe, bahkan melihat sekilas gorengan pinggir jalan dari jendela mobil, saya tahu mana tempe yang cocok yang kriuk dan gak. Sekenyang kenyangnya perut kalau ada tempe di depan mata, minimal pengen nyobain barang 1 saja. Dan saya super pede bahwa favorit saya ini gak berbahaya seperti favorit orang-orang lain yang hobinya makan sop kaki kambing, soto betawi, steak atau makanan lainnya.

Sampai hari Senin lalu, tepatnya tanggal 11 Januari 2016, lutut saya bengkak di pagi hari bangun tidur sampai gak bisa jalan. Malamnya untuk menuju tempat makan malam saja, saya perlu digendong suami saya. Cieeeee. Oh hmm begini, kalau Anda pernah ketemu saya, proporsi besaran tubuh saya sama suami memang kurang populer, huahahaha, tapi dia kuat kok gendong saya waktu itu. Mungkin itu namanya cinta, hiyaaaa…… *kibas rambut*

Anyway hari Selasanya saya terpaksa ke dokter. Singkat kata singkar cerita, saya terindikasi kena asam urat. Whaaat? Gak terima saya. Langsung saya tanya dokternya, apa gara2nya.
Makan tape ketan, duren, santan, pete, disebutkanlah sederet makanan yang most of them belum pernah saya makan, kayak tape, duren, pete, jerohan itu 100% belum pernah saya makan. Sementara santan jaraaaaaang sekali masakan santan yang saya makan, karena memang gak suka. Seafood kebetukan saya habis maka  memang beberapa hari sebelumnya, tapi itu juga jarang.

Gak terima lagi, sya bilang. Tapi saya gak makan itu semua dok.
Dokternya ngelanjutin, kacang2an juga bikin asam urat, tempe…
Blaaaaarr…. seperti tersambar petir di siang bolong…. *bayangkan ekspresi saya seperti bintang-bintang sinetron di tersandung 27 dengan kamera yang maju mundur*

Well, tempe? Cintaku? Cinta pertamaku? Uhuk….

Hari-hari berikutnya saya mengucapkan kata berpisah sama tempe. Saya bilang, ini buat sementara saja. Kita temenan aja. Tapi gak bisa deket-deket. Bahkan untuk meliriknya saja saya gak punya keberanian. Suami saya langsung pindah meja saat makan tempe penyet di suatu siang dalam minggu ini. Mungkin dia takut saya terluka. Huaaaaah, opo sih iki.

Anyway, sungguh benar kata orang ya. Bahkan dalam hal paling sederhana pun, sesuatu yang kita pikir baik tidak selaly baik bagi kita, sementara sesuatu yang kita pikir buruk tidak selalu buruk bagi kita.

Seorang teman ninggalin komen di timeline facebook, sesudah timeline rame dengan hinaan teman-teman serra ucapan selamar datang di usia 40an. Huahahaha.
“Semua makanan sebenernya baik mbak, tapi jangan berlebihan. Juga diirngi olahraga”

Aaah seandainya dia tahu, tempe itu gak cuman baik, dià sungguh sungguh menyayangiku…. huahahaha…. *ketularan hashtag kaminaksir*

But again, life change…. dalam beberapa waktu ke depan si tempe ini kayaknya perlu berpisah sebentar sama tempe. But we shall meet again, someday, soon.

*coretan buat mengingatkan diri sendiri dan teman-teman yang menjelang usia 40*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s