Lebay Yang Berlebihan

Berdasarkan pengamatan yang sifatnya random dan tidak bersistematika penelitian yang baik, belakangan kok saya melihat ada peningkatan signifikan atas kelebayan ekspresi individu di dunia maya. Bahkan kelebayan ini menghinggapi teman-teman yang saya kita nJogja banget.

Ada apakah gerangan dengan fenomena ini? *ala siket* #eh *siket* #teteptypo

Saya sudah jauh dari dunia observasi ilmiah, maka saya ga berani banyak bicara soal segala yang ikmiah dengan dasar teori dan lain lain. Anggap saja ini pengamatan random terbatas dari seornag ibu rumah tangga yang kurang kerjaan.

Belakangan setiap kali ada berita, langsung muncuk 2 kubu. Kubu pro dan kubu kontra. Klasiiiiik kaaaan? Dari jaman Aristoteles juga begitu. Gak papa, ga ada yang baru. Kemudian kedua pihak menjentrehkan oendapatnya, opininya, fakta yang didapat melalui kacamatanya, menuliskan dengan gayanya, memposting di halamannya sendiri. Berharap setiap ornag yang kewat depan rumahnya semoat membaca dan sekedar menunjukkan persetujuan atau tidak setuju atas pendapatnya. Hiks, inintermasuk saya ya.

Nah yang menarik adalah gaya bahasa yang dipakai 2 pihak ini. Buat yang setuju, tulisannya dipenuhi kata2…

Brilian
Jenius
Visioner
Orang pilihan

Yang kontra akan menjawab

Kurang pikniiiiikkkk
Kurang gauuuul
Mungkin dia lelah

Urusan salju di Arab misalnya, yang satu bilang.
Kiamat sudah dekat, apakah sudah cukup bekal kalian wahai kaum yang suka menistakab agama?
Satunya
Salju memang biasa turun di Arab kaliiii, situ aja yang kurang piknik. Makanya jangan cuman shokat, sana jalan jalann.

Soal bom sarinah, yang satu bilang
Rekayasa! Jelas ini konspirasi kepolisian.
Satunya bikang
Jonruuuuu, diajakin nangkep teroris tuuu, jangan diem ajaaaa

Soal freeport, yang satu bikang
Keputusab yang brilian dengan permainan catur yang hanya dipahami sedikit orang
Satunya bikang
Pengkhianat negaraaaa, main jual sana sini, emang itu emas nenek lo?

Soal LGBT, satu sisi bilang
Susah ngomong sama ornag yang narrow minded, kurang modern, ga terbuka kayak orang2 barat sana.
Satunya jawv…
Iiih jijik aku liat, masak jeruk makan jeruk, jijaaaaaay…

Brooo, siiiiis, cuman seginikah pelajaran kosa kata dan tata bahasa yang berhasil menyelip di sela sela sel kelabumu? Bapak ibu guru dulu itu ngajarin bahasa Indonesia ada sinonim antonim, SPOK, majas perumpamaan, peribahasa. Itu kan semuanya tujuannya supaya kemampuan berbahasa kita makin syantiiik makin elegan, makin bisa mengungkapkan rasa dan pikir tanpa harus menyakiti rasa atau merendahkan pikir oranf la8n. Itu bukan sih tujuannya?

Kenapa harus melempar seribu pisau dan jarum pentul bersama setiap character yang kau ketikkan? *udah kayak katon belum bahasanya?* *belum ya?* *baeklah*

Di satu sisi saya penging merayakan keberagaman pendapat dan gaya menyampaikannya. Merayakan keberanian orang mengekspresimab rasa dan pendapatnya. Merayakan kemampuan berdiplomasi, mempertahankan pendapat.

Tapu di sisi lain saya termangu sedih mengingat betapa bahasa hanya dipakai untuk kepentingan terbatas, sebatas melempar pisay dan ribuan jarum pentul ke pihak-pihak yang berbeda pendapat.

Ok, gapapa kita berbeda pendapat, katamu.

Tapi sesungguhnya gak se ok itu di dalam hatimu ketika aku sungguh-sungguh berbeda.

Lha mosok kaum modern kayak kita mau kembali lagi ke jaman baheulak di mana segala sesuatu harus seragam? Bedanya kalau dulu gak seragam itu impossible. Kalau sekarang boleh gak seragam, asal siap dibully secara verbal minimal. Intinya yaaa podo wae sami mawon, kudu seragam. Are we that kind of people?

Kalau ya, ijinkan saya tersedu. Di SMA saya berlatih 3 tahun hanya untuk mengungkapkan pendapat. Di SMA saya juga berlatih menerima perbedaan, yang kadang hasilnya merugikan bagi saya yang minoritas. Buat saya ABG, yang mana itu udah puluhan tahun lalu saja, beda itu biasa, ga usah dibesar besarkan. Kadang dirugikan sebagai minoritas, yaaaa itu pilihanmu Fan masuk lingkungan yang jelas jelas kamu minoriras pangkat sekian.

But hey, I still love my high school. Rugi apa gak rugi sekedar perspektif sesungguhnya. Di saat yang sama kerugian yang nampaknya saya terima justru adalah keuntungan di sisi lainnya. Itu pelajaran yang diterima oleh anak umur 18tahun puluhan tahun yang lalu.

Are we even dumber than that 18 years old girl? Are we?
Atau sesungguhnya kita semua terk9ntaminasi virus lebay yang sering kita hina hinakan pada kelompok alay itu?
Mana yang lebih mengerikan? Dumb? Or lebay?

*diiringi permohonan maaf yang sebesar besarnya pada guru guru bahasa Indonesia saya*

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s