Kamu Jahat!

Mau menyendiri dulu di sinj yang agak sepi. sambil menikmati sejuknya malam dan temaram bulan. Diiringi hembusan napas para cinta di kiri kanan.

Sayang, malam ini duniaku tak lagi sama. duniaku seperti jungkir balik di hadapanku. Atau bahkan aku ikut jungkir balik di dalamnya. Entah yang mana sensasi rasa, mana sensasi pikir, perlu ayakan mental buat memisahkannya.

Sayang, dulu di masa lalu, pernah kujatuh cinta pada kelompok orang ini. Yang kukagumi karena kukenal kedisiplinannya, toleransinya, alur logikanya, kematangan emosinya, bahkan di usia remajanya. Belakangan aku gigit jari melihat lontaran kata kasar berlompatan dari mulut mulut mereka. Ya, mereka yang kukira pendukung keberagaman, toleransi dan kebebasan berpendapat. Ternyata tak segitu anggunnya saat keberagaman benar benar di depan mata, saat oendapatnya disanggah dengan data data.

Mereka tak tahu sayang, padahal dari merekalah aku belajar berargumentasi dengan logis dan tidak menyerang personal. Sekarang mereka main serang personal. Mereka tidak tahu, bahwa diam diam sudut hatiku dihuni kelompok ini. Kelompok yang berbeda denganku, tapi kucinta sedegup dada.

Tapi ternyata mereka tak seperti bayanganku. Kujatuh cinta pada mereka belasan puluhan tahun yang lalu. Beberapa hari ini patag hati ku dibuatnya.

Mengapa lantang teriak demokrasi, jika lantang pula menghina orang berdemonstrasi? Bukankah demobstrasi adalah salah satu channel demokrasi? Atau hanya lantang kau teriakkan demokrasi ketika dia bisa kau tunggangi sesuai arah tujuanmu, tapi tidak saat orang lain menungganginya sesuai arah tujuan mereka? Ah. Tak kusangka kau yang dulu kucinta bisa bermuka dua macam ini.

Mengapa terus terusan teriak Bhinneka Tunggal Ika, jika orang berpendapat beda saja langsung kau serang secara personal? Tidakkah dulu kita pernah sama belajar tentang keindahan alur pikir logis dalam argumentasi? Ya, kita sama sama belajar waktu itu di sore hari saat matahari berwarna orens di ruangan ruangan berjendela besar kebanggaan kita. Lalu di mana remah remah puluhan tahun itu kau simpan? Habis dimakan pahitnya hidupkah? Ah.

Mengapa terus kau bicara toleransi sementara kau jelas jelas tak bisa memahami sakitnya hati kami ini, tergores sembilu lidah dia yang beracun. Mengapa terus kau bela dia atas nama toleransi? Lalu kami yang sedang sakit ini, tak boleh meminta cuilan toleransimu yang sudah kau habiskan hanya bagi mereka yang menyamankan hidupmu? Ah kau, jauh benar perginya idealisme yang kita bagi waktu itu dalam dikusi diskusi panjang soal toleransi umat beragama.

Bahwa tidak ada kebebasan mutlak. Karena kebebasan tertinggi dibatasi oleh kebebasan orang lain. Ingatkah kau akan diskusi ini. Diselingi beberapa pria berambut panjang yang wara wiri di sekitar kita? Ingat?

Ingatkah kau akan jargon kita saat itu? Bebas tapi bertanggung jawab. Karena bersama kebebasan ada tanggung jawab, konsekuensi atas tiap perilaku. Lalu mengapa kau diam saat kau tahu ada dia yang bebas menyakiti hati orang tanpa ada konsekuensi sedikit pun, barang nyabuti rumput di lapangan tengah.

Lalu? 

Kau bebas ber taik taik, sementara kami hanya bebas untuk mendengarmu, gitu?

Kau bebas bicara hal hal yang tak kau tahu, smeentara kami yang tahu tak bebas mengingatkanmu?

Kau bebas, kami tidak. Begitukah idemu?

Aaaah cinta. Kupelihara cintaku untukmu bertahun tahun, berpuluh puluh tahun, hanya untuk kau campakkan macam ini dengan hal hal yang dulu membuatku jatuh cinta. Kau tak mampu memelihara cinta. Kau bohong. Kau jahat. 

Kau tanamkan idealisme kosong, yang tak kau pelihara sendiri. Kau janjikan dunia penuh warna, yang kau monokromkan sendiri. Kau beriku mimpi akan masa depan yang kita hadapi berdua, bergandengan tangan, lalu kau campakkan tanganku saat langkahku tak lagi seirama langkahmu.

Cinta oh cinta. Betapa hatiku hancur berkeping keping mengetahui kau yang kubanggakan, tak ubahnya mereka yang dulu kau sebut monster.

Selamat tinggal cinta…

Hatiku patah dan berdarah, tapi aku terus akan melangkah. Kali ini tanpamu. Biar kau jadi cerita lamaku, kisah cinta remajaku yang berakhir di usia ini.

03.11.2016

Dalam patah hati yang amat sangat pada cinta remajaku

Advertisements