Sudah Sampaikah?

​Apakah kita sudah sampai di masa ketika
Bicara baik baik dibilang pencitraan

Bicara kasar kotor dibilang jujur
Ngajak yang baik baik malah diunfriend

Ngajak yang dilarang agama malah banyak follower nya
Menegur dengan santun katanya ga kelihatan hasilnya

Menegur dengan marah marah bikin banyak fans
Polisi dicela karena menangkap idolanya

Lalu dipuji karena menangkap walau tanpa bukti
Pemimpin jelas jadi terdakwa masih dicinta

Pemimpin jelas jadi manfaat terus dicari celanya
Mengumbar aib pribadi adalah bagian dari strategi

Sementara bicara prestasi cukup main klaim satu sisi
Teman dihujat karena beda pendapat

Orang tak dikenal dipuja karena cinta buta
Sudah sampaikah kita pada masa itu?

Semoga tidak

Pemimpin Jadi Beban

​Apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakannya untuk engkau?
Aku tahu apa pun akan kalian korbankan untukku. Akan tetapi, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti jika sebagai peminpin aku menjadi beban bagi umatku?

Tentang Kodok

Bertahun tahun yang lalu saya mendengar kisah tentang kodok ini. 
Seekor kodok yang masuk dalam panci air di atas kompor. Kodok masuk sejak air masih dingin. Jadi ketika kompor mulai dinyalakan dan air mulai hangat pelan pelan, kodok ikut merasakan perubahannya. Karena perubahannya pelan, dia merasa baik baik saja. Sampai akhirnya air mendidih, kodok tewas, matang di air mendidih.
Padahal temannya yang lain, yang masuk dalam air mendidih, langsung lompat setelah kakinya menyentuh air panas itu. Tak mampu menahan panasnya.
Yes ini cerita tentang kodok beneran. Bukan soal kodok yang belakanhan ini sering dijadikan bahan hinaan di sosial media. Kisah itu sering kali disebut boiled frog.
Kisah tentang kodok di atas sering dipakai dalam training training sebagai pengantar tentang pentingnya menginisiasi perubahan. Bagaimana kenyamanan sesungguhnya sedang mengintai dan pada saatnya akan menerkam Anda seperti air mendidik.
Jangankan kodok, manusia pun beberapa kali menunjukkan kualitas kekodokannya. 
Dari kecil, gak mau nyuri gak mau nyontek. 

Begitu sekolah, bolehlah nyontek. Kan semua temenku nyontek. Guru pun menganggap, aah namanya juga anak kecil.

Waktu remaja, bolehlah gangguin adek kelas. Kan ga sampe mati ini. 1-2x ngeroyok kan bisa bikin kuat mental. Orang tua dan gurunya berpikir, yaaah namanya anak remaja, lagi cari identitas.

Begitu bikin skripsi, bayar senior atau juniornya. 5 juta. Bukan gak mampu, kata dia. Cuman gak ada waktu aja. Temen temennya yang tau bilang, yah dia kan memang sibuk, lagian sebenernya dia pinter kok.

Begitu kerja, masukin temennya tanpa psikotes. Katanya, yah kan persahabatan harus dibuktikan.

Di kantor, sering pulang cepet. Namanya juga work life balance. Working from home. Padahal mah ga working juga.
Begitu aja terus, begitu mati, apa kabar?
Sering kali kita mentolerir kesalahan kesalahan atau keburukan keburukan kecil, dengan melakukan rasionalisasi, yaaah manusia kan ga luput dari salah. Mau cari manusia sempurna? Mana ada?
Udah mending ini duitnya dipake juga buat bangun kota. Walau dapetnya entah gimana.

Udahlah lisannya tajam setajam silet gpp, yang penting kan sekarang udah enak ke mana mana naik angkot.

Udahlah bukan niatnya buat ngomong gitu, namanya manusia kan bisa kepleset. Yang penting udah banyak orang dibayarin umroh.

Udahlah masak dokumen setumpuk kudu dibaca semua. Kan salahnya cuman 1 dari ribuan dokumen. Yang penting kan sekarang…..

Udahlah harga harga naik, itu kan nunjuknin pertumbuhan ekonomi. Jangn sok kere ga percaya sama rejeki dari Allah deh….

Udahlah memang kita kudu toleransi sama mereka, kan mereka minoritas. Kalau mereka ngusilin kita, yah namanya selama ini tertekan jadi kaum minoritas….
Terusin aja. Bisa panjang entar…..
Manusia itu memang pada dasarnya baik. Apalagi manusia Indonesia. Orang orangnya tu pemaaf banget. Saking pemaafnya kadang ga sadar kalau ni air diem diem naik nih suhunya. Ntar kalau udah hampir mendidih baru deh pada sadar berlompatan tu kodok, padahal mah udah telaaaaat, udah hampir mateng. Ups.
Pertanyaannya, itu kodok memang seneng mandi air anget ya kayaknya, kok jelas jelas air tambah panas maish tenang tenang aja? Berasa di pemandian air panas mungkin ya?

Kuadukan Kelemahanku

​Dalam sebuah kesempatan di sudut kebun anggur, seorang laki laki berlengan kokoh, memanjatkan doa. Laki laki yang kemuliaan akhlaknya dikenal di langit dan bumi. Laki laki yang nanti akan menunggu umatnya di ujung jembatan itu. Laki laki yang di sakaratul mautnya masih memikirkan kita.
“Ya Allah, hanya kepadaMu kuadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku.”
Dalam kondisi sudah memberikan segala daya upaya dan kemampuan menyalahkan pihak lain. Dia memilih buat membicarakan kekurangannua. Mengadukan pada pemiliknya.
What a romantic story.

​Sarah Sechan : VJ Favorit

Hmm…. baiklah sekali lagi saya menunjukkan usia saya sezungguhnya. Yaaa mau ditutupin gimana juga. Misalkan nih misalkan tampang masih bisa dibilang muda, la itu gembolan di perut paha lengen mau bohong gimana caranya? Hiks.
Anyway, dulu waktu Sarah Sechan *ini bener gak nulis namanya?* jadi VJ MTV pertama kali, saya ga bosen boseeeen liat dia ngomong. Jangankan ngomong, berdiri aja kok sajak tenaaaaang banget. Ngomong juga santaaaai gitu, ga kesusu kayak VJ lainnya. Ngeliatnya tuuu enaaaaak banget.
Lalu saya ingey beberapa tahu  sebelumnya saya oernah di rumah nenek saya di Sekayu, nonton Dunia Dalam Berita. Hayo jam berapa hayoooo Dunia Dalam Berita disiarkan? Sebelum Film Cerita Akhir Pekan laaah tentunyaaaa…. halah kok sampe situ….
Waktu itu kami lagi nonton DBD, bibi Dini ikut nonton vareng kami seperti biasa. Dan memang udah agak beberapa saat saya terganggu sama pembawa beritanya yang tangannya gerak getak terus, eh bibi Dini kayak paham aja pikiran saya, dia komentar,
“Pembawa beritanya cemas tuh. Orang kalau cemas tu suka gerak gerakin tangan kayak gitu”
Manalah saya tahu itu bener apa gak. Denger itu diucapin dari beliau aja udah kayak keren vanget. Kok bisa tahu ya? Dari mana?
Dari pembaca berita DBD sampai Sarah Sechan, bahkan presebtasi perdana saya saat kuliah di psikologi UGM kok ya temanya tentang gesture. Entahlah. Memang semua itu ga ada yang kebetulan ya?
Dan salah satu alasan saya ga suka nonton ILC juga adalah karena yang saya tonton sama yang ditonton suami itu beda. Saya ngeliatin mata orang saat bicara. Saya ngeliatin bahunya saat duduk dan berdiri. Saya memperhatikan kecepatan bicaranya, intonasinya, belibetnya lidah. 
Kemudian setelah belajar NLP, saya juga memperhatikan diksinya, pilihan kata sambungnya. Terakhir saya merasakan energinya. Dan semuanya itu sulit diterangkan. Sama sulitnya seperti saat saya menikmati melihat Sarah sechan sekedar berdiri dan bicara.
Koo bisa? Karena mungkin semua itu nampak tapi tak teramati oleh sebagian orang. Padahal meninggalkan kesan.
Maka saya selalu terkesan pada orang orang yang bahunya tenang tak vergerak saat berdiri. Juga pada orang yang matanya fokus tak sibuk mencari cari. Juga pada orang yang bicaranya mantab, tak dibikin pelan supaya nampak berwibawa juga tak dibikin cepat supaya nampak cerdas dan tanggap. Juga pada orang yang mendengarkab orang lain ketika gilirannya mendengar, bukan sibuk bersiap atas jawabannya sendiri.
Tentunya saya juga suka pada orang yang sibuk menunjukkan kebaikannya tanpa harus memvandingkan not to mention menjatuhkan orang lain, karena orang macam ini sungguh tak pantas memimpin. Beliaunya bahkan belum selesai dengan dirinya sendiri, apa mau diharap dari orang yang masih butuh menjatuhkan orang lain untuk mengunggulkan dirinya sendiri? Kosong! Ompong!
Seperti Sarah Sechan. Bicaranya tenang. Intonasinya cantik. Kecepatannya variatif. Bahunya kokoh. Telinganya mendengar. Otaknya bekerja. Gagasan ada. Tinggal waktu yang akan menunjukkan prestasinya.
Sarah Sechan dari dulu memanglah VJ favorit saya. Kalau VJ favorit Anda siapa? Yang ngomongnya cepet? Atau yang sukanya nyindir? #eh apa sih ini?

​Punya TV Ga Punya Antene

Sekitar bulan Agustus nanti, resmi 3 tahun kami sekeluarga jarang nonton TV. Dibilang ga pernah, padahal kalau di hotel nonton, di Villa Kandang Sapi langganan kami nonton juga, di Villa Mbantul Madu nonton juga. Jadi merasa bersalah kalau ngakunya ga nonton TV.
Sebelumnya sejak sekitar 2008 pun sesungguhnya kami jarang nonton TV lokal. Jiaaah. Nontonnya TV Internasional lah, CSI, NCIS, Lie To Me. Pokokna mah di mana asa kejahatan, di situ kami nongton lah. Horatio bintangnya buat saya. Yang selalu mengundang suami membully saya dengan pilihan lelaki saya. Komen suami,

“Memang pilihan laki lakimu tu yang bener cuman aku ok dek.” #abaikan

Sampai suatu ketika tanpa dinyana, bagai petir di siang bolong, si internasional tea pun memutuskan hubungan secara sepihak. Karena harga diri yang tinggi menutupi alasan sesungguhnya, yati malas, kami biarkan itu TV mati tak terurus. Maka sunyi sepilah dunia kami dari pertelevisian.

Namun di antara waktu waktu itu, suatu ketika pak suami kangen nonton ILC. Tontonan favorit beliau yang mendapatkan dukungan penuh dari almarhumah mamah. Di depan Bang Karni dan suara khasnya, biasanya mamah dan mas akan sibuk berdiskusi tentang tema tema heboh tanah air. Saya? Saya pilih nemenin bocah2 aja, main game atau baca buku.

Karena rindu yang tak terkira, dibelilah antene indoor ala ala. Sekedae bisa memunculkan gambar di kotak hitam besar yang menghias ruang depan kami. *mau bilang ruang tamu kok ya bukan, ruang keluarga ya iya, fungsinya macrm macrm jadi sebut saja ruang depan*

Dan ajaibnya, hanya si bapak yang bisa memakai itu antene. Mungkin sesungguhnya saya bisa, tapi ga sronto kata orang Jawa suruh muter muter tombol sambil gerakin 2 antene panjang itu sampai ketemu titik yang pas yang bisa menghapus semut semut dari layar TV kami. Alhasil, again, saya cuman nonton TV kalau si bapak ada dan beliau lagi pengeb nonton TV.

Rupanya TV yang harganya mahal itu tak jadi bermanfaat juga kalau gak didampingi si antena ala ala yang harganya 100ribuan ya? Kok bisa? Gimana sih kerjanya dunia industri pertelevisian ini? Kok bisa satu pabrik raksasa yang terkenal jadi ga berkutik tanpa kehadiran produk dari pavrik kuecil yang entah apa namanya itu. What a plot!

Hanya karena harganya murah atau sering kali gratis diberikan sebagai bonus pembelian TV, we take it for granted. Begitu antena rusak, bubar semua. TV cuman jadi kotak pajangan. Or in my case, jadi cermin buat my littlr princess nyanyi dan ngapalin dialognya Sopo Jarwo dan Cherrybelle.

Plot plot macam TV tanpa antena ini jebul banyak juga kita temui ya di dunia nyata? 

Seperti 

mampu beli mobil, tapi menganggap kemampuan menyetir sepele

mampu beli motor Ninja, tapi lupa kalau rumahnya ga muat buat diparkirin Ninja

mampu beli buku, tapi nyempetin bacanya nunggu tak sok tar sok

mampu beli tempe, tapi ga punya cabe buat temen makannya…. haaaaa…… huahahahaha…..

Nampaknya memang standar dan manusiawi saat kita fokus pada yang besar dan magrong magrong, yang keren, yang mengundang decak kagum, dibanding fokus pada hal hal kecil yang sepi dari tepukan. Umum juga kalau manusia lebih suka melihat yang bisa dibeli dengan harga mahal, lupa sama yang (dikira) gratisan dan (dikira) punya dia sendiri, macam oksigen, tanah negara, air dan banyak lainnya.

Maka sebagai bentuk aksi anti mainstream, saat banyak orang menuliskan salah satu dreamnya punya TV yang inch nya sak hohak, saya dengan ini memutuskan bahwa salah satu dream saya adalah punya antene TV yang mudah dioperasikan. Demikian!

Selanjutnya hal hal mengenai itu akan diatur dalam tempo segera dengan sepengetahuan si bapak. *yes pak?*

Ok. Sebelum Anda membayangkan saya membeli antena. Saya ingatkan. Kadang kala plot macam ini juga muncul dalam cerita macam lupa seberapa menderitanya ga bisa BAB rutin setiap hari karena sibuk mengatur sebuah negara. Begitu deh!

Ini Soal Kepentingan!

Puluhan tahun yang lalu, saya berkumpul bersama puluhan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas di sebuah villa di Kaliurang. Saya datang terlambat karrna memilih menyelesaikan dulu urusan dengan organisasi pecinta alam yang waktu itu sungguh sudah membuat hati saya tersekap. *bosoku rek*
Saya datang terlambat saat acara rapat sudah dimulai. Dingin udara kaliurang nampaknya kurang mampu meniup hawa panas di ruang rapat. Saya duduk di bangku tengah, tepat di belakang teman teman yang sedang berdiri dari kursinya untyk meneriakkan pendapatnya.

When I say meneriakkan, itu bukan konotatif, tapi denotatif. Mereka saling berteriak. Sementara di bangku belakang sebagian mahasiswa sedang bergeromvol sendiri. Sebagian nampak serius berdiskusi dengan wajah gabungan jengkel dan kecewa, tapi suaranya sangat kecil. Sebagian acuh tak peduli, bayangan saya mereka lelah dan tak habis pikir.

Saya terjebak dalam posisi tengah antara kelompok mahasiswa yang berdiri dan teriak dengan kelompok mahasiswa yang duduk dan berbisik. Saya mencoba mendengarkan, cukup keras, untuk tahu masalah pelik apakah gerangan yang sedang kami -para mahasiswa yang di bahunya terletak masa drpan bangsa- bahas.

Dahi saya berkerut. Telinga berusaha keras mendengar kata2 para pemimpin rapat di ujung depan ruangan. Sementara mata senantiasa melihat pantat2 di depan saya yang bergerak gerak. Aaaah betapa banyak godaan saya saat itu untyk fokus.

Ahaaaa….. saya akhirnya mendengar kata2 dari pengeras suara….

Jadi apakah sebaiknya kita pakai koma atau titik koma setelah kata sementara?

Koma!

Titik koma!

Kalau titik koma iti bisa disalahartikan!

Justru koma yang bisa disalahartikan!

Atau titik saja?
Whaaaaaaat? What? What? What? 

Apa ini yang kita bicarakan? 
Saya cek jadwal acara di kertas yang saya pegang. Harusnya ini sesi pembahasan tata tertib sidang.

Whaaaaat? Masih bahas tata tertib udah hangat hangat bagai indomie baru diangkat dari wajan? Gimana sesi sidangnya nih?

Aaaah dari jauh saya mengenali 2 pantat yang nampak familiar. Saya colek pelan dengan harapan dia tidak kaget. Kawan saya satu ini menoleh. 

Hei.

Hai. Apa ini? Tata tertib?

Heeh

Udah seheboh ini?

Teman saya menunjukkan wajah yang tidak setuju. #ups. Rupanya dia salah satu pihak yang sedang bersikukuh soal tanda baca tadi. Dahinya verkerut menggantikan kerutan di dahi spaya tadi. Bibitnya mulai terangkat sedikit ke satu sisi. Kemudian dengan keras dia menjawab….

Ini soal kepentingan Fan! Semua ini soal kepentingan! Aaaah kamu gak paham sih!

Jleb, auuuuuuu……

Mendadak saya mengalami disorientasi. Saya duduk sambil melihat sekeliling saya. Bukankah kita semua yang ada di sini baru saja selesai dipilih dan dilantik? Lalu dari mana dia jadi lanyah bicara kepentingan sementara saya masih menggerutu harus meninggalkan pacar saya di Yogya buat acara ini?

Merasa seperti kura kura tertinggal dala  lomba lati oleh kelinci……

Malam ini saya terlempar ke villa itu di Kaliurang, tempat saya kemudian mengenal beberapa teman lain yang sempat saya kagumi saat itu. Dinginnya udara. Ketusnya ucapan. Batunya ekspresi wajah. 

Saya ingat pada waktu itu syaa memilih meninggalkan ruangan menikmati udara dingin gunung yang memanf kesukaan saya.

Kepentingan. Kepentingan. Mahasiswa. Peneruz perjuangan. Tata tertib sidang. Titik koma. Koma. Titik. Kepentingan. Oh. Why am i lost?

Puluhan tahun kemudian orang2 yanga da di ruangan itu menjelma menjadi banyak hal. Entah berapa yang mrnjadi ibu rumah tangga, saya gak tahu. Tapi kebanyakan menjadi aktivis, independen atau bagian dari organisasi. Organisasinya bisa lokal, internasional bahkan juga pemetintahan. Well. 

Kemudian malam ini saya entah kenapa ingat pada sebuah berita yang sekilas saya baca di TL.

Cabr mahal. Tanem sendiri. Gak usah bikin sambel. Bersyukur!. Salah pemerintah. Ini kepentingan.

BBM naik. Pindah ke Arab sana yang BBM murah. Untungku berkurang berapa nih?. Walk out dari sidang sambil nangis termehek mehek atau pura pura aja ga tahu sambil ga komen, toh kan beda periode. Tergantung kepentingan.

Kalah duel atau dikeroyok? Tergantung kepentingan.

Bubarkan FPI atau dukung FPI? Tergantung kepentingan.

Fitza hats. Salah pengetik, prlapor, pembaca, penyebar foto atau salah kita yang mengolok olok? Tergantung kepentingan.

Saya ga akan kasih pilihan sebarkan hoax atau hentikan. Karena saya yakin seyakin yakinnya, kalau orang itu ga suka nyebarin hoax, kalau mereka tahu itu hoax. Soal malas ngecek atau rasa puas saat terima hoax yang sesuai kepentingan, itu mah urusan pengendalian jempol.

Di usia sekarang saya paham maksud kenalan saya itu bilang bahwa di dunia ini semua serva kepentingan. Apakah maksudnya serba terlalu penting? Hahahahaga……

Memang kepentingan yang menggerakkan kita rupanya. Masalahnya adalah kepentingan apa?

Kepentingan perut? Lapar vs. Kenyang?

Kepentingan dada? Penghargaan vs. Penghinaan?

Kepentingan mata? Indah vs. Busuk?

Kepentingan jempol? Nyinyir vs. *apa ya anyi nyinyir itu?*

Kepentingan apa? Duniawi vs. Akhirat?

Usia udah 40. Di Quran sudah diingatkan surug hati hati. Keluar malem dikit udah masuk angin. Kena AC kelamaan udah pilek besoknya. Roadtrip ke Curebon aja recovery 3 hari. 1x begadang pulangnya kerokan. Jadi yaaaa harusnya kepentingannya disortir, sehingga efeknya diksi pun jadi terfilter.

Tapi itu saya yang udah 40 tahun. Kepentingan saya cuman sehat, biar bisa tetep jalanan jalan dan makan makan bareng Pak Bondan. Hahahahaha.

Malrm friends. Sleep tight. Dream of me.

Ecieeee….. itu kan dulu penutup di surat surat cinta ayeeeee….. uhuk…..


2 weeks of sleep, everyone?