Tentang Kodok

Bertahun tahun yang lalu saya mendengar kisah tentang kodok ini. 
Seekor kodok yang masuk dalam panci air di atas kompor. Kodok masuk sejak air masih dingin. Jadi ketika kompor mulai dinyalakan dan air mulai hangat pelan pelan, kodok ikut merasakan perubahannya. Karena perubahannya pelan, dia merasa baik baik saja. Sampai akhirnya air mendidih, kodok tewas, matang di air mendidih.
Padahal temannya yang lain, yang masuk dalam air mendidih, langsung lompat setelah kakinya menyentuh air panas itu. Tak mampu menahan panasnya.
Yes ini cerita tentang kodok beneran. Bukan soal kodok yang belakanhan ini sering dijadikan bahan hinaan di sosial media. Kisah itu sering kali disebut boiled frog.
Kisah tentang kodok di atas sering dipakai dalam training training sebagai pengantar tentang pentingnya menginisiasi perubahan. Bagaimana kenyamanan sesungguhnya sedang mengintai dan pada saatnya akan menerkam Anda seperti air mendidik.
Jangankan kodok, manusia pun beberapa kali menunjukkan kualitas kekodokannya. 
Dari kecil, gak mau nyuri gak mau nyontek. 

Begitu sekolah, bolehlah nyontek. Kan semua temenku nyontek. Guru pun menganggap, aah namanya juga anak kecil.

Waktu remaja, bolehlah gangguin adek kelas. Kan ga sampe mati ini. 1-2x ngeroyok kan bisa bikin kuat mental. Orang tua dan gurunya berpikir, yaaah namanya anak remaja, lagi cari identitas.

Begitu bikin skripsi, bayar senior atau juniornya. 5 juta. Bukan gak mampu, kata dia. Cuman gak ada waktu aja. Temen temennya yang tau bilang, yah dia kan memang sibuk, lagian sebenernya dia pinter kok.

Begitu kerja, masukin temennya tanpa psikotes. Katanya, yah kan persahabatan harus dibuktikan.

Di kantor, sering pulang cepet. Namanya juga work life balance. Working from home. Padahal mah ga working juga.
Begitu aja terus, begitu mati, apa kabar?
Sering kali kita mentolerir kesalahan kesalahan atau keburukan keburukan kecil, dengan melakukan rasionalisasi, yaaah manusia kan ga luput dari salah. Mau cari manusia sempurna? Mana ada?
Udah mending ini duitnya dipake juga buat bangun kota. Walau dapetnya entah gimana.

Udahlah lisannya tajam setajam silet gpp, yang penting kan sekarang udah enak ke mana mana naik angkot.

Udahlah bukan niatnya buat ngomong gitu, namanya manusia kan bisa kepleset. Yang penting udah banyak orang dibayarin umroh.

Udahlah masak dokumen setumpuk kudu dibaca semua. Kan salahnya cuman 1 dari ribuan dokumen. Yang penting kan sekarang…..

Udahlah harga harga naik, itu kan nunjuknin pertumbuhan ekonomi. Jangn sok kere ga percaya sama rejeki dari Allah deh….

Udahlah memang kita kudu toleransi sama mereka, kan mereka minoritas. Kalau mereka ngusilin kita, yah namanya selama ini tertekan jadi kaum minoritas….
Terusin aja. Bisa panjang entar…..
Manusia itu memang pada dasarnya baik. Apalagi manusia Indonesia. Orang orangnya tu pemaaf banget. Saking pemaafnya kadang ga sadar kalau ni air diem diem naik nih suhunya. Ntar kalau udah hampir mendidih baru deh pada sadar berlompatan tu kodok, padahal mah udah telaaaaat, udah hampir mateng. Ups.
Pertanyaannya, itu kodok memang seneng mandi air anget ya kayaknya, kok jelas jelas air tambah panas maish tenang tenang aja? Berasa di pemandian air panas mungkin ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s