Dari Kaku Jadi Aku

Beberapa hari ini saya ceritanya pagi beradaptasi pada sebuah peran baru. Namanya adaptasi yaaaa jadi agak senggol sana senggol sini, kepentok kiri kepentok kanan, makan nasi makan mie buat energinya. Uhuk.
Karena ceritanya lagi adaptasi efeknya lihat timeline pun jadi kayak ada jeda. Telat aja gitu baca soal isu poligami vs. selingkuh. Isu negara Islam vs. artis RR. Juga isu isu lain yang tak lekang dimakan jaman, seperti vaksib non vaksin, meikarta demiz, plus sekarang soal pelecehan dan tuntutan hukum. Masih banyak pernik pernik lainnya. Heboh ternyata.

Suatu pagi pas lagi buka TL, ada orang misuhi orang lain SESAT PIKIR. Di saat yang sama, orang yang sama mbelain pelaku pelecehan perempuan.

Ada juga yang semangat membela korban pelecehab perempuan. Tapi misuhi pelakunya koyok sampai bawa bawa aktivitas kekerasan nenteng golok.

Sementara ada yang nguamuk berat sama pengusaha yang nipu jemaah itu sampai misuh misuh. Tapi di saat yang sama dia jualan kaos 212 yang messagenya justru menghina esensi 212.

Juga ada yabg bilang suurh memaafkan si pebgusaha itu. Sementara di siai lain entah apa yang dia omongin kalau dia yang ga betangkat.

Kadang kala menurut saya kita tu lupa, kalau kita tu giliran. Gilirah lahir giliran mati. Giliran kaya giliran miskin. Giliran mbayari giliran dibayari. Yang paling sering lupa kita tu giliran bener giliran salah. Sering lupanya. Huks. Saya juga.

Kalau pas bener njuk berlebihan sajak gak pernah salah. Kalau pas salah njuk gengsi minta maaf sajak teraniaya. Weladalah.

Efeknya pikiran hati dab perbuatan jadi kaku. Karena merasa bener gak mungkon salah. Salah gak mungkin bener. Pas gilirab bener ngunek ngunekke wong yang salah sampai gak karuan. Sampai ngguaya pakai tuntutan hukum. Pas giliran salah slinthat slinthut cari pembenaran dan rombongan yang membenarkan dirinya biar lolos dari tuntutan hukum.

Kaku. Bibgung karepe dewe. Belum kalau kekakuan kemudian dijadikan bagian dari dirinya. Huks.

Saya sih masih sering banget salah. Gak pake helm pas bonceng pak ojek. Ngegas pas lampunya kuning. Kenceng pas anaknya rengej rengek. Cemverut pas suami pulang kantor. Pilih SBY pas pemilu keduanya beliau. Uhuk. Nulis status yang bikin orang blingsatan unfriend. Mandi males malesan. Sholat ajrut ajrutan. Ngaji on and off. Pas bagian on ta sama tsa aja belepotan. Bisa panjang bih daftar kalau dilanjutkab.

Maka pas giliran bener yo berusaha ga lebay. Pas giliran salah ya ngaku, minta maaf aja terus direvisi. 

Karena saya gak mau kaku jadi bagian dari aku.

Salah satu kekakuan yang emnurut saya merajalela adalah ketidakmampuan memisahkan diri dari kelompok. Kelompoknya nyinyir, ikutan nyinyir. Kelompoknya kasar, ijutan kasar. Kelompoknya misuh, ikutan misuh. Kelompoknya menghina agamanya sendiri, ijutan menghina agamanya sendiri. Ini kekakuan yang paling menyedihkan kalau dilihat.

La konform sm kelompok bukannya itu luwes? Bukan. Itu kaku. Kaku kentir kanginan mengikut arah arus. Kalau luwes harusnya kelompoknya salah diingatkan. Kelompoknya benar didukung. Bukan asal mbelani kelompoknya. 

Mengakuisisi nilai kelompok tanpa filter. Itu juga kaku. Koyok krupuk karak belum digoreng. Senggol sithik ambrol.

Entahlah usia teman teman berapa. Tapi di usia 40an saya ini, keluwesan biasanya banyak menguntungkan. Kekakuan, apalagi yang jadi bagian dari aku yang permanen, mematikan. Seperti pembuluh darah yang kaku, yang bisa bikin orang jadi stroke atau tekanan darah tinggi.

Mind yourself buddy. Mind your thoughts. Mind your words. Mind your actions. Mind yourself.

Jangan sampai punya keyakinan kayak kaos ini ya….. hahahaha……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s