Buku Ini Aku Pinjam

Tahun 90an saat pertama kali ketemu mas bojo, lagu ini jadi kenangan pertama kami. Bukan kenangan romantis. Kenangan in term of persahabatan. Huahahaha. Keinget lupus yaaa ngomong sahabat.

Waktu itu acara kemping. Angkatan kami dibagi jadi beberapa kelompok. Kelompok kami memilih menyanyikan lagu ini di pinggir api unggun. Diiringi 2 gitaris legendaris angkatan kami. Dipimpin seorang teman yang kemudian jadi legenda juga di angkatan kami.

Walah mak nyes kalau inget. Buku ini aku pinjam, kan kutulis sajak indah….

buku-ini-akupinjam

Sore ini pulang menjemput si adek dari kelas menggambarnya. Pandangan saya ter-amprok pada jaket seorang pengendara motor yang bertuliskan kalimat itu. Di atasnya sang penyanyi dengan rambut gondrong ikalnya yang lebat dan kumis tebalnya. Bersandar di sebuah pohon, memakai jaket, seperti di alam yang sejuk.

Aih, langsung ingat memori kami. Waktu itu memang berasa keren banget nyanyi lagu ini. Romantis. Pake mau dibikinin sajak. Educated. Pinjemnya buku bukan uang. Rebel. Yang nyanyi die, ya kan?

Sang penyanyi memang suangat keren pada masanya. Kalau sekarang sudahlah; bagaikan batik murahan yang dicuci langsung bareng pakaian lain. Udah luntur, warnanya habis. Pakai ganggu pakaian lain pula jadi ke coklat coklatan. Habis kerennya.

Tapi kemudian saya jadi mikir. Ada banyak memang orang yang tingkat kekerenannya bergeser, bisa naik bisa turun. Tergantung nilai yang yang kita yakini.

Kalau dulu,
Cukuplah gondrong udah keren.
Bisa main gitar, jreeeeng, kerennya 2x.
Jago naik gunung, widih, keren 3x.
Gak banyak omong, keren 4x.
Sekali ngomong, lucu tur cerdas, resmi. Keren 5x.

Kalau sekarang,
Gondrong masih keren sih menurut saya. Apalagi kalau sholatnya di masjid.
Bisa main gitar juga masih keren. Apalagi kalau bisa ngiringin anak anak nyanyi dengan ekspresif.
Jago naik gunung. Well. Hmmm. Oke lah.
Gak banyak omong. Juga well. Tolerable.
Lucu. Cerdas. Masih keren buat saya.

Tapi saya ingat moment seorang teman yang kekerenannya meningkat melonjak jauh di atas harga pasaran. Waktu itu di Depok. Kami sedang heboh kumpul di rumah teman. Nginep dua malam nyelesein tugas. Pas sholat maghrib, we all needed a break. Diputuskan sholat berjamaah. Asal tunjuk. Sebutlah si kumbang jadi imamnya. Saya dan temen temen perempuan lainnya di belakang ngikutin sholat.

Allahu Akbar. Bismillahirochmanirochiiiiim…..

Buset. Sayang udah mulai sholatnya. Jadi gak bisa nengok nengok lagi. Itu suara merdu amat. Agak gak konsen sholatnya. Selesai sholat, kami yang perempuan di belakang pandang pandangan, alamak itu temen laki yang selama ini gak pernah kami omongin mendadak jadi topik. Keren banget.

Kekerenannya meningkat drastis sore itu. Karena suara dan bacaannya yang indah di maghrib itu.

So soal kekerenan memang subjektif. Dan bisa naik turun pada suatu waktu. Tergantung nilai yang kita yakini pada waktu itu.

Sang penyanyi buku itu sama sekali kehilangan kekerenannya bagi saya saat ini. Entahlah. Sama. Bisa jadi kekerenan saya juga habis bagi sebagian orang. Itu pun kalau dulu pernah dianggap keren. Kalau gak. Lak malah minus saya.

Dulu gak keren. Sekarang berkurang kekerenannya. Untung gak masuk dalam hitungan hutang piutang ya yang kayak gini. Alhamdulillah.

Yang hutang itu kalau pinjam buku janjinya mau ditulisin sajak indah. Jebul dibalikin aja gak. Tekor namanya. Ya kan?

Buku ini aku pinjam

kan kutulis sajak indah

hanya untukmu seorang

tentang mimpi-mimpi malam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s