Benci Yang Membabi Buta

Masih dari perjalanan ke Kalsel kemarin. Kalau hari Senin lalu saya melihatnya dari sisi kepemimpinan. Maka sekarang ada lagi yang menarik.
Sang pemberi sambutan menyebutkan seorang tokoh Thomas Lickona yang langsung membuat saya teringat pada salah satu bukunya yang berjejer di rak buku raksasa di rumah saya. Aah lagi-lagi beginilah seharusnya sebuah kata sambutan, di dalamnya ada ilmu barang satu kalimat, yang bisa dibawa pulang oleh para peserta.

Di antara banyak kata yang diucapkan, saya langsung terpaku pada 10 indikator kemunduran suatu bangsa. Khususnya yang ini;

“Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama”

Huks. Saya bisa jadi pelakunya. Bayangkan ketika kecurigaan udah jadi komunal behavior maka apa saja sih yang bisa terjadi?

Saat orang nunjukin ban kempes. Kita langsung curiga dia mau ngerampok.

Saat orang nawarin bantuan. Kita langsung curiga, tujuan dia apa ya nolongin guwe?

Saat orang kasih makan siang di hari Jumat. Sebagian penerima awalnya mengira itu adalah bagian dari syarat pesugihan yang memberi.

Saat orang mengungkapkan pendapatnya. Orang menangkapnya sebagai sindiran personal pada dirinya yang punya pendapat berbeda.

Saat orang lain posting kebahagiaan keluarganya. Orang mengira mereka sedang riya’ atas kebahagiaan duniawinya.

Saat orang mem-posting foto foto selfie nya. Orang mengira dia kurang perhatian dan butuh kasih sayang sampai sering selfie.

Kemarin salah seorang teman bertanya. Benarkah orang yang sering selfie itu artinya dia butuh tatih tayang?

Saya jawab. Orang yang suka selfie itu artinya dia punya hape yang ada kamera depannya. Itu kesimpulan paling umum yang bisa saya buat. Menghubungkan selfie dengan segala atribut lainnya terasa terlalu menggeneralisir satu perilaku.

Menjaga supaya tetap waspada tanpa jadi penuh kecurigaan, bisa jadi adalah bentuk kontribusi terbaik diri kita pada bangsa negara dan masyarakat. Minimal kalau merujuk ke pendapat Thomas Lickona.

Sementara menjaga perbedaan tanpa kebencian bisa jadi hadiah indah kita buat negara. Gimana sih cara tetap beda tanpa membenci?

Sesungguhnya kita terbiasa kok dari kecil berbeda dan baik baik saja. Setelah dewasa entah dapat ide dari mana, pun menurut saya juga batu 5 tahun belakangan, perbedaan kemudian layak menjadi bahan ece ecenan. Huks.

Perbedaan mungkin bisa bikin kita skip baca status teman yang tidak kita sepakati. Atau abaikan saja. Gak usah like. Tapi kebencian membuat kita meng-unfriend mereka. Saya bersalah dalam hal ini. Meng-unfriend 1 orang senior.

Perbedaan mungkin membuat kita membatasi obrolan dengan beberapa orang teman. Supaya gak salah omong dan menyakiti hatinya. Tapi kebencian yang membuat kita tidak merespon segala kata dan perilakunya dengan standar sopan santun yang layak. 

Perbedaan mungkin membuat kita pergi ke rumah ibadah yang berbeda tiap harinya. Tapi kebencian yang membuat kita memliki bahan bakar untuk mengomentari pemimpin agama lain dengan kata kata tidak senonoh yang penuh asumsi.

Perbedaan mungkin membuat kita mencoblos wajah yang berbeda di bilik pemilihan umum suatu waktu. Tapi kebencian yang membuat kita memiliki julukan bagi kelompok yang beda pilihan dengan label label yang disrespect, baik verbal maupun visual, oral maupun written or in some way melalu gambar.

Perbedaan membuat kita manusia. Kebencian membakar kemanusiaan kita.

Melihatnya dari sudut ini. Ada mixed feelings yang sulit digambarkan. Tapi kita pasti gak mau kan ya jadi salah satu sebab kemunduran bangsa ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s