Merah Putih Kami

Mengutip kalimat mas Hunggul Budi Prihono.
Ibarat puzzle. Para relawan, dermawan, manusia berhati sosial, pemilik ide cemerlang tersebar dan bertebaran (nampak berantakan karena saking banyaknya) di seluruh penjuru negeri yg teramat kaya ini (kalo ada yg tidak mau mengakui bahwa negeri ini kaya silahkan minggir ke negeri tetangga 󾌼).
Semua mereka ada, karena pada dasarnya negeri ini merdeka dg kerja keras, merdeka dg saling gotong royong, merdeka dg penuh darah dan airmata, merdeka dg segala kekuatan yg tersebar yg mulanya satu menjadi dua, dua menjadi tiga yg kemudian saling bersatu bermodal bambu runcing dan nasi bungkus ala kadarnya. Lempengan2 puzzle menjadi kuat dan berwujud sebuah gambar merah putih di dada dan menjadi kekuatan dahsyat melawan mortir dan senapan mesin sang nederland.

Siapa yg menyatukan puzzle tersebut?

Tidaklah penting menanyakan siapa tokoh yg menyatukan puzzle2 kekuatan rakyat semesta saat itu karena pada dasarnya para pahlawan tidak mengharap sebuah penghargaan dan pengakuan.

Relawan juga sebuah kekuatan dahsyat, energi individu yg masih tersebar dan twrcerai di seantero negeri ini. Ibarat sebuah generator listrik, bagian komponennya masih tercecer di seluruh pelosok dan sudut kota.

Si kabel mungkin ada di Padang, si akki ada di Bogor, si karburator ada di Ambon, dll….. Semua akan berfungsi dan memberi manfaat sbg sebuah energi besar setelah ada yg merangkai dan menyatukan.

Siapa yg akan merangkai dan menyatukan puzzle2 ini??

Banyak lembaga sosial, banyak kelompok2 peduli, banyak komunitas (yg positif) dimana mana mulai para abg, emak2 rempong, bapak2 sampai civitas kampus dan teknokrat dan cendikia.

Tidak penting siapa mereka menurut saya.

Kekuatan yg akan menyatukan puzzle2 ini adalah MERAH PUTIH di dada.
Kekuatan dahsyat seperti sang bambu runcing melawan mortir dan senapan mesin.
Di MERAH PUTIH tidak ada RAS, MERAH PUTIH tidak menanyakan agamamu MERAH PUTIH tidak menanyakan asalmu.

Selamat menebar manfaat RELAWAN!!

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Ini penulis aslinya. Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Ini penulis aslinya.
Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Birds of a Feather

Duluuuuu waktu saya jadi rekruter di salah satu perusahaan grup Astra, saya paling menikmati fase wawancara kandidat. Entahlah. Buat sebagian orang mungkin wawancara itu melelahkan. Sementara buat saya, seruuuu sekali ngobrol tentang hidup orang lain, ngeliat bagaimana hidupnya dari satu titik ke titik lain, dan most of all setiap selesai wawancara sering kali saya terharu kalau bertemu orang2 yang inspiring.

Suatu ketika ada kandidat kuat waktu itu, saya lupa posisinya, kayaknya lulusan STM kalo gak salah. Dia datang dengan baju standar atasan putih celana hitam. Padahal ga diwajibkan untuk berbaju begitu. Pun itu atasan bukan putih lagi warnanya. Agak kelabu dan ada titik-titik jamur di sekitar kerah dan kancingnya. Tapi hasil tesnya sangat strong. Saya sendiri yang wawancara dia. Selesai wawancara, langsung saya rekomendasikan dia untuk diterima. Semangatnya luar biasa, sekolah naik sepeda, pulang bantu orang tuanya, nyari kerja pun dia niati membantu orang tuanya.

Sementara di kesempatan yang lain saya ketemu kandidat lulusan universitas negeri terkenal, yang saya juga alumninya. Dari observasi selama dia ngantri saja, saya terganggu sama obrolannya yang tinggi, nyela2 temennya sesama kandidat, duduk kaki diangkat. Hasil tesnya, rata-rata lah, not bad. Tapi profile psikologinya cocok buat sales waktu itu, jadi saya wawancara juga. Ngobrol ke kanan, jawabannya saya yakin bisa bu. Ditanya, udah pernah lakuin tugas dengan target, belum bu, tapi saya yakin bisa.

Pernah punya pengalaman membujuk orang?
Pernah bu, saya membujuk ortu saya buat nyekolahin saya di SMA anu, walaupun ortu saya pengennya saya seolah di SMA ono.
Oh kenapa kok Anda pengen sekolah di SMA anu?
Soalnya deket rumah bu, gak capek, panas saya naik motor soalnya.

Blaaaaaaaarrrrrrrr *nelen udah*

Milih sekolah kok semata2 berdasarkan jarak, SMA pula. Singkat kata singkat cerita, saya rekomendasikan dia untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain.

Suami saya milih sekolah di Yogya waktu SMA, padahal orang tuanya di Tangerang, demi pendidikannya. Temen2 saya di Loyola, banyak yang rela ngekos karena asalnya dari kota2 lain, buat dapat pendidikan yang berkualitas. Saya ngiler pengen nyekolahin Genta di Jerman atau Mesir atau Madinah. Temen saya di IWPC, rela keluar kota sebulan sekali buat dapet “sekolah” buat bisnisnya.

Karena for some people who understand, education is a must. Learning is a life changing moment. And it happen every second in your life.

Memilih sekolah adalah memilih kelompok. Jika Anda memilih kelompok yang tepat, bersama mereka, you could be the best version of who you really are.

One in A Million

Sebagai enterpreneur, sering kali kita lupa, ealah kok kita, saya lupa. Sering saya berpikir kesuksesan saya berkorelasi linier dengan kerja keras saya, kerja pintar saya, jumlah jam kerja saya, jumlah jam mikir saya, jumlah network saya. Ketika semua hal yang saya sangka baik sudah saya lakukan, eh lha kok malah bangkrut, ditagih bayar hutang oleh orang2 yang dulu bilang mengagumi keputusan saya untuk jadi enterpreneur. Saya punya 2 pilihan.

Merajuk. Merengek. Dalam hati bertanya dan ngeyel, aku sudah lakukan hal yang benaaaaar, tapi kenapa kau bangkrutkan juga akuuuu? Sementara mereka kau sukseskaaaaaan? Kemudian melacurkan diri dengan melabel diri sendiri gagal, kehilangan muka bertemu orang lain, menyerah pada mimpi2 idealistik saya. Terakhir hidup menjadi versi terburuk dari segala kemungkinan diri saya.

Atau….
Sebaliknya…..
Anda bisa bayangkan sendiri kan sebaliknya? Atau tetep perlu saya ketik? Gimana? Manja ya? Tetep mau diketikin? Baiklah, saya ketikin, Anda tinggal share….

Atau saya bisa tetap tegak berdiri dengan kepala diangkat. Bangga atas kesempatan jatuh, yang artinya saya mencoba. Bangga dengan kesempatan bangkrut, yang artinya saya pernah memulai. Bangga dengan kesempatan berada di luar jalur umum, yang artinya saya elang yang terbang sendiri. Bangga dengan dkesempatan tertinggal, yang artinya saya punya waktu untuk berdiri dan membersihkan badan dari debu.

Sambil bersyukur dalam hati, terima kasih untuk tetap memintaku rendah hati. Terima kasih untuk tetap memintaku hidup sak madya. Terima kasih untuk menunjukkan padaku siapa teman2ku. Terima kasih untuk men-jlentrek-kan *use google translate for detail* siapa orang yang bersorak ketika saya sukses, siapa yang diam2 ndepipis di pojokan bersorak ketika saya jatuh. Terima kasih untuk memintaku tetap dekat denganMu. Terima kasih untuk tetap menjagaku dalam kebaikan. Tapi lain kali, tolong ajari aku semua itu, dengan uang 5M di rekening. Please? Biaya kuliah Genta sama Puti kan tetap perlu dicari kan, ya Allah?

Dah, udah saya ketikin yaaaa….. kebangeten kalau gak di share…..
Love you friends

*di bawah ini tulisan teman yang saya share*

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus.
Jujur dalam berucap
Ikhlas dalam bekerja…
(Copas dari grup WA GK Psikologi ’96)

Ada & Bermakna

Jaman dulu saya inget betul tren banget handuk pakai nama kita. Wah yang punya jelas orang berkelas lah waktu itu. Padahal mah hiasannya cuma garis garis doang. Udah seneeeeeng banget. Namanya anak-anak.

Terus tren nya bergeser, tas dikasih nama. Saya sama adek adek juga punya itu. Seruuu bener kesannya, naik kereta senja utama, nenteng tas ada nama kami masing2. Yesss, kami kecil di masa senja utama my dear. Kereta eksekutif belum ada waktu itu. Huaaaa….. ketahuan umurnya.

Terus ada juga tren label nama. Yang berduit label namanya ukurannya gede, ada gambarnya sanrio, hello kitty, mickey mouse. Doraemon belum nyampe pada masa itu. Apalagi ben ten sama hot wheels. Sudahlah, masih dinperut ibunya masing2, kalau istilah Genta.

Ada apa ya soal anak2 dan benda bernama mereka? Kok nampak spesial sekali? Aaaah, anak2 hidup di dunia orang dewasa yang asing, bising dan kadang tidak ramah. Bayangkan saja, di mata anak2, pintu mal itu jelas tinggiiiiii sekali. WC umum jaraaang yang ada ukuran tinggi mereka. Naik mobil pun kadang harus dibantu. Sepatu anak tempatnya nyempil di antara deretan sepatu orang dewasa. Mereka seperti ngekos di dunianya orang dewasa.

Maka barang bernama mereka seperti oase. Sebuah kedipan dari para orang dewasa yang menyayanginya, bahwa dunia ini juga milik mereka. Sebuah anggukan yang menenangkan dari orang dewasa yang mereka percayai, bahwa mereka juga diakui hadirnya. Ada. Nampak. Dan berarti.

*status serius mengandung iklan*

Kontak japri yang berminat sama handuk namanya. *wink

Happy New Year from @butikbocah

Happy new year… Maaf ya bun, agak telat….
Hiks, tahun 2014 ditutup dengan sedih nih ceritanya, owner kehilangan ibu yang meninggal akhir desember kemarin

Jadi pengen ngingetin temen2 tersayang soal menyayangi orang tua. Terdengar klise memang, tapi bunda dan ayah yang sekarang sudah punya bocah kecil pasti paham kan, gimana sayangnya ortu itu sama anak2nya? I know you do. Bayangin aja kalau bunda sakit, serumah jadi kayak sedih dan kelabakan. Betul kan?

Sekalian share ah, ummi dalam bahasa arab, kabarnya memiliki arti menuju. Itu makanya dalam keluarga, semua anggota seperti menuju ke sang bunda. Mulai cari kaos kaki bocah, kacamata ayah atau mungkin sekedar menunjukkan bangunan dari lego yang baru dibuat.
Saya baru paham juga kenapa anak2 senang sekali gelendotan di saya. Haaa, semoga semua bunda diberkahi kesabaran dan keikhlasan buat mengurus bocah2 kecilnya. Dan semoga orang tua kita semua ditinggikan derajatnya ya, di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Juga semoga sukses, bahagia dan barokah menghujani kita semua di tahun 2015 dan selanjutnya. Muaaachh…

image

#komikbutikbocah #ilustrasibutikbocah #mom #ibu #2015 #butikbocahparenting

An adventure of life

Dulu waktu jadi konsultan HR, mamah saya pernah tanya tentang sejak kapan saya memutuskan mau jadi konsultan. Saya agak bingung jawabnya, karena sesungguhnya saya lupa sejak kapan. Sejak masuk psikologi ugm di tahun 94, eh 2004 ding, atau 2014 ya. Anyway, sejak masuk UGM, kok rasanya saya memang langsung membayangkan kerja mandiri dan tidak jadi karyawan sebuah perusahaan. Kenapa? Namanya pengen, kan bebas ya.

Kemudian Genta lahir. Sampai hamil 8 bulan, saya masih ngonsultan bareng juraga spatoe Fatriya Herdiana, psikolog kondang Henri Arkan dan lusia-no-facebook-account. Begitu Genta lahir, ya berhenti gitu aja. Kok bisa? Ga ada tawaran? Wah tawaran banyak, hihihihi, malah sombong. Yaaa tawaran ada lah, klo pun menghindar bilang banyak. Tapi kok saya kembali lakukan yang dari dulu saya bayangkan kalau punya anak. Tinggal di rumah dan mengurus anak saya. Kenapa? Lagi2 ini soal pengen atau bahasa kerennya mimpi saya. Untung mimpi itu gratis.

Lalu sampai deh di dunia enterpreneur ini. Pertama kali buka booth jus, sahabat saya Yulia Prawito mampir, duduk di depan saya dan dengan serius bertanya.

“Mbak, are you serious doing this? Are you happy with this?” diiringi tatapan tidak percaya.

Lagi lagi saya jawab, iya. Memang ini yang sudah lama kubayangkan yul.

Hidup itu memang banyak pilihan ya. Walau terkadang pilihan kita nampak anehndi depan orang lain, bahkan orang dekat kita, rasanya memang manteb kalau hidup berdasar pada pilihan bukan paksaan. Paksaan kondisi. Paksaan suami. Paksaan pikiran, terutama.

Namun jika saya boleh mengulang, ijinkan saya mengulang beberapa hal dalam hidup saya. Salah satunya, memulai @butikbocah lebih awal. But here I am now, getting older everyday, but again age is just numbers. The inside-self is still that same 18y-old-girl ready to taste her first rafting adventure, only it’s business adventure now.

Tentang jualan

Sejak kapan senang jualan? Tanya teman

Hmm.. sejak kapan ya?

Waktu SD saya keliling di tetangga jualan sabun cuci kiloan dari kantor papah. Mamah yang ngiloin satu satu, saya nggeret tas koper segede gaban, ngetokin pintu tetangga, nawarin mau beli rins* apa nggak. Yang beli yaaa mamahnya Dony Hendro Wibowo sama Whisnu Ferry Kartika. Saksi hidup mereka.

Waktu SMA, saya ikut member segala macam kosmetik. Jualnya ke siapa? Ya tetangga sama saudara lah. Pulang sekolah, saya mampir ke kantor av*n ambil pesenan barang. Jelas saya yang paling muda. Hasilnya? Saya bisa beli fancy stationeries sama lip balm  buat diri saya sendiri.

Kuliah? Saya bikin brownies bareng mamah dan adek2, terus jual ke teman tetangga dan saudara. Kadang kalau pas pulang ke Semarang, buka lapak di simpang lima. Pernah juga jualan stationery dan asesoris sama adek2. Seruuuu. Daaaan, jangan lupakan, selaluuuu jadi sie dana usah bareng bos Lely Setiowati. Cuci motor, mobil, jual nasi goreng, jadi fasilitator outbound, crawling di pinggiran tol jakarta sama ms Sony Gudel Dwijayanto dan mas Giri Triatmojo, jual kaos sama kalender? Terlalu mainstream.

Waktu S2, jualannya lebih keren. Jasa training, rekrutmen dan konsultan. Juga jualan segala macem lainnya. Dendeng homemade. Pastel tutup. Parfum.

Sampai sekarang dengan butikbocah dan segala mimpi besarnya.

You know what? That little feeling when you try to sell something good to customers, and they buy it. Uuuuh, its not the 1000 or 2000 margin that lift me up to the sky. Its the trust. The trust they gave me. Thats what soo addicting.

Yesss, selling is about trust. But again, in life, what is not about trust?

Night night friends. Dont forget to kiss your kids. Love.

Sharing Bisnis : How Bad Do You Want It?

Sekali-kali mau sharing tentang usaha ah, eh tentang bisnis maksud saya.

Entah sejak kapan saya tertarik sama dunia bisnis. Bahkan sejak kuliah, saya tidak pernah membayangkan setelah lulus saya akan jadi karyawan di sebuah perusahaan besar. Saya selalu membayangkan diri saya adalah seorang wirausaha.

Jaman SD-SMP, saya sering membantu mamah saya jualan RINSO kiloan yang dibeli dari kantor papah saya. Saya narik-narik koper beroda yang keren banget itu bawa RINSO dan nawarin ke tetangga-tetangga sekitar rumah. Saya ingat mereka selalu komentar,

“Ah, Fanny. Pinternya. Anak kecil sudah pinter jualan.”

Sambil nunggu mereka ambil uang buat bayar, saya duduk tenang di teras sambil mengingat rute berikutnya. Terkadang saya sambil ngobrol dengan anak si empunya rumah yang adalah teman saya. Malu? Gak pernah terpikir bahwa saya bisa malu karena kegiatan ini. Saya justru bangga, dibilang pinter lah, cantik lah. Daaaan, saya merasa keren karena mirip kayak mbak-mbak sales door-to-door yang pada masa itu masih banyaaaak sekali jumlahnya.

Waktu SMA, mamah saya mendaftarkan saya ke AVON dan Sara Lee. Uang pendaftaran dari mamah tapi operasional selanjutnya (ini istilah mamah saya) urusan saya. Yang pesan ke saya kebanyakan saudara, tante, bude, tetangga, juga beberapa teman. Hasilnya? Saya belikann stationery di Gramedia, yang posisinya persis di sebelah kantor AVON Semarang waktu itu.

Selama kuliah, saya sering sekali didapuk jadi seksi dana dan usaha. Seru. Dan hampir selalu mencapai target. Kecuali waktu harus mengumpulkan dana buat Ekspedisi New Zealand waktu itu. Ah sedihnya kalau ingat. Anyway, soal cari dana, mulai dari cuci motor, bikin parcel, bikin kaos, kalender, masak nasi goreng, pernah saya lakukan. Lagi-lagi gak malu, seru malahan. Kali ini disambi lirik-lirikan sama gebetan masa muda. Huahaha. Hush.

Begitu lulus kuliah, saya sempat kerja formal 1 tahun di grup Astra. Habis itu lanjut lagi usaha sendiri selama kuliah S2. Jadi konsultan, lumayan juga. Cari klien sendiri,, bikin konsep sendiri, presentasi, eksekusi, bikin laporan. Teman-teman saya banyak yang sudah jadi manajer saat itu, kalau saya mau kerja formal, mungkin saya juga sudah dalam posisi mereka. *PD kan boleh ya?*

Begitu ada Genta, kegiatan konsultan otomatis berhenti. Prioritas berubah. Saya butuh bisnis yang lebih sederhana. Hahaha. Memang ada bisnis yang sederhana. Anyway, saya pernah berbisnis pendidikan, yang kemudian saya terminate karena ketidak-cocokan dengan master franchisor-nya. Sekarang saya berbisnis perlengkapan bayi dan anak, masih online dan offline ngikutin bazaar. Malu? Sekali lagi kok gak ya. Ini jenis kegiatan yang saya suka. Saya bisa bawa anak-anak, bisa meeting kapan saja, bisa kasih pekerjaan buat orang lain dan bisa ketemu konsumen yang puas sama layanan saya.

Psst, lagipula 9 dari 10 pintu rejeki itu kan konon kabarnya adalah berniaga to?

Eh jangan salah, saya juga ngalami rugi kok. Hehehe. Jutaan? pernah. Puluhan juta? pernah. Ratusan juta?? juga pernah. Namanya juga bisnis, kalau gak untung ya rugi. Sama kayak karyawan, kalau gak berprestasi ya dipecat. Sama kok.Tapi saya ga menyerah, doakan saya ya. Bisnis itu sungguh pelajaran yang lengkap dalam hidup, sayang kalau ditinggalkan.

Saya kagum sama perempuan-perempuan yang rela anaknya diasuh orang lain karena dia bekerja. Bagi saya, itu contoh konkrit kepasrahan dan keikhlasan. Pasrah dan yakin bahwa Allah akan menjaga anak-anak mereka, sehingga bisa tenang bekerja. Saya mungkin orangnya belum seikhlas dan sepasrah itu sama Allah. Saya lebih tenang dan senang mengasuh anak saya sendiri. Tapi saya bisa pasrah dan ikhlas kok menyerahkan rejeki toko saya sama Allah. Jadi saya jangan dimarahin ya? Please.

Wirausaha itu bisa dimulai kapan saja, oleh siapa saja, di mana saja. Kalau Anda salah satu yang selama ini bermimpi jadi wirausaha dan belum juga mulai bergerak, pertanyaannya adalah…. how bad do you want it?

Sopan Santun – Subo Seto

Attitude is everything - Blog Fanny Herdina

Haiyaaa…. sopan santun selalu jadi isu di keluarga saya. Dan selalu ada dobel standar dalam penilaiannya. Kadang sopan berarti yang muda wajib mendatangi yang tua, tapi di lain kesempatan sopan artinya yang sempat yang mampir (Oh teriring doa untuk almarhum papah saya Tatok M. Heriyantono yang dengan bijak menganut paham kedua). Sering kali -khususnya ketika menyangkut saya- sopan artinya mengantar orang-orang tua ke tempat mereka mau pergi walaupun itu saya harus “menthang” dari tujuan saya, tapi bagi orang lain sopan itu cukup dengan mencarikan taksi di depan rumah atau bahkan cuma dengan meyakinkan bahwa akan ada taksi lewat di depan rumah. Ada kalanya sopan itu artinya kalau lagi di deket-deket ya mbok mampir, sementara bagi yang lain sopan itu artinya “biarpun deket-deket gw kan kerja jadi ya gak bisa mampir”.

Anyway saya paling bingung kalau ngomongin sopan santun. Jadi bahkan untuk memulai tulisan ini saja saya bingung harus mulai dari mana. Supaya mulainya pun sopan. Baiklah, saya mulai saja dari pendapat ahli ya.

—————————————————————-

Daniel Goleman menyatakan dalam salah satu buku bersejarah dalam psikologi populer, bagaimana faktor EQ berperan dalam kesuksesan seseorang. Faktor IQ yang dulunya menjadi raja diraja dalam menentukan kesuksesan, ternyata turun derajat sejak eranya David Goleman.

Yah anggap saja di dalam EQ termaktub pantang menyerah, mampu bersosialisasi, inisiatif, mampu bekerja dalam tim, senang dan bisa belajar dengan cepat. Dan lain sebagainya. Mari bicara soal sosialisasi saja, di mana sopan santun mungkin berpengaruh.

Bayangkan saja, Anda lagi mimpin meeting nih di kantor, tiba-tiba teman kuliah Anda yang baru join di perusahaan yang sama main nylonong aja masuk ruangan Anda dan menyapa Anda dengan,

“Hai Mbul. Gila, masih gembul aja lo. Makmur lo ya sekarang. Sukses.”

Sambil nepuk-nepuk punggung dan salaman sih memang. Di depan anak buah. Kira-kira apa ya perasaan Anda? Kalau Anda kemudian berkesempatan ditanya atasan Anda tentang teman Anda, Anda bakal jawab apa ya?

Ah itu sih contoh ekstrem. Baru cerita rekayasa. Belum sungguh-sungguh terjadi. Masak ada sih orang kayak gitu.

———————————————————-

Di sebuah gedung perkuliahan di kota besar, para mahasiswa yang datang 10 menit sebelum kuliah dimulai terbirit-birit menuju pintu lift. Sori, bagi yang mengalami kuliah naik tangga, wake up, it’s 2014 now. Tangga mempunyai istri now, namanya darurat. Ok? So, face it. Anak kuliah sekarang naiknya lift man. Pegangnya IPhone. Ngetiknya di IPad. Makannnya sih teteap Indomie. Eh, ini kenapa sampai sini sih? Balik!

Nah di depan lift ini, sudah menunguu lah seorang ibu yang menggendong anak bayi, membawa stroller dan 1 anak balita di sebelahnya. Ribet? Sudahlah. Demikian hidup emak-emak jaman sekarang. See the differences? Bawaan mahasiswa sekarang vs. bawaan emak-emak sekarang. Jelas saya bukan dua-duanya, karena saya adalah seorang….. ^sensor^

Pintu lift terbuka untuk pertama kalinya, setelah si Emak ini menunggu sekitar 10 menit. Oh sori, lift nya cuma 1, yang 1 rusak. Isinya penuh mahasiswa yang suaranya terdengar bahkan sebelum lift sampai di lantai itu. Tanpa ba bi bu. Pintu lift ditutup lagi dari dalam diiringi cekikikan para kaum belum-pernah-ngerjain-skripsi itu. Nunggu lagi deh, 10 menit kemudian muncul lah si mahasiswa yang terbirit-birit tadi, langsung tanpa permisi berdiri di depan pintu lift, bikin si emak terpaksa mundur dan menarik pelan anak balitanya. Saat lift terbuka, langsung 2 mahasiswa ini masuk seperti tanpa pernah tahu definisi antri.

Dasar Emak ga mau kalah, anak, bayi sama stroller tetep dijejelin ke dalam lift. Muat lah. Pintu lift tertutup. Tiba-tiba ada suara.

“hmm, lantai 3 dong”

*Emak clingak clinguk karena berdiri di dekat tombol lift* sambil tahu diri mencet angka 3 sesuai order si mahasiswa k*t*k*pr*t itu. #eh maaf sudah tidak sopan.

Cerita selanjutnya ga penting kan? Dan kabarnya mahasiswa adalah embrio cendekia bangsa. Calon penerus kebesaran atau kekerdilan bangsa.

————————————————————-

Saya lupa dengar cerita ini dari mana. Detailnya pun mungkin banyak yang salah. Tapi ambil saja seperlunya, lainnya kembalikan lagi atau buang ke sampah.

Alkisah seorang pengusaha yang sudah sangat sukses tinggal di sebuah apartemen. Setiap pagi si Bapak ini selalu turun dari apartemennya, membeli koran dari penjual koran kaki lima di depan lobi apartemennya. Setiap pagi saat beli koran, si Bapak selalu menyapa penjual korannya dengan ramah. Selamat pagi. Apa kabar. Dan segala sapaan sopan lainnya. Sementara si Penjual koran menjawabnya dengan asal-asalan bahkan sering kali dengan gerutuan dan suara yang kasar. Kejadian ini berlangsung tiap hari.

Dan seseorang di tempat jual koran itu yang punya kebiasaan membeli koran juga di tempat yang sama terheran-heran. Kenapa si Bapak pengusaha sukses ini tetap “ngotot” menyapa pak Penjual koran dengan sapaan yang hangat dan bersahabat, padahal sudah pasti jawabannya gerutuan dan keluhan? Keheranannya tidak tertahan sampai akhirnya dia bertanya pada si Bapak. Dan si Bapak pengusaha sukses itu menjawab.

“Perilaku saya yang membawa saya ke kesuksesan seperti yang saya miliki saat ini. Perilaku dia yang membawa dia ke posisi dia saat ini.”

———————————————————

Dan saya masih bingung bagaimana cara sopan memulai tulisan ini. Fiuh. Please help.