​Punya TV Ga Punya Antene

Sekitar bulan Agustus nanti, resmi 3 tahun kami sekeluarga jarang nonton TV. Dibilang ga pernah, padahal kalau di hotel nonton, di Villa Kandang Sapi langganan kami nonton juga, di Villa Mbantul Madu nonton juga. Jadi merasa bersalah kalau ngakunya ga nonton TV.
Sebelumnya sejak sekitar 2008 pun sesungguhnya kami jarang nonton TV lokal. Jiaaah. Nontonnya TV Internasional lah, CSI, NCIS, Lie To Me. Pokokna mah di mana asa kejahatan, di situ kami nongton lah. Horatio bintangnya buat saya. Yang selalu mengundang suami membully saya dengan pilihan lelaki saya. Komen suami,

“Memang pilihan laki lakimu tu yang bener cuman aku ok dek.” #abaikan

Sampai suatu ketika tanpa dinyana, bagai petir di siang bolong, si internasional tea pun memutuskan hubungan secara sepihak. Karena harga diri yang tinggi menutupi alasan sesungguhnya, yati malas, kami biarkan itu TV mati tak terurus. Maka sunyi sepilah dunia kami dari pertelevisian.

Namun di antara waktu waktu itu, suatu ketika pak suami kangen nonton ILC. Tontonan favorit beliau yang mendapatkan dukungan penuh dari almarhumah mamah. Di depan Bang Karni dan suara khasnya, biasanya mamah dan mas akan sibuk berdiskusi tentang tema tema heboh tanah air. Saya? Saya pilih nemenin bocah2 aja, main game atau baca buku.

Karena rindu yang tak terkira, dibelilah antene indoor ala ala. Sekedae bisa memunculkan gambar di kotak hitam besar yang menghias ruang depan kami. *mau bilang ruang tamu kok ya bukan, ruang keluarga ya iya, fungsinya macrm macrm jadi sebut saja ruang depan*

Dan ajaibnya, hanya si bapak yang bisa memakai itu antene. Mungkin sesungguhnya saya bisa, tapi ga sronto kata orang Jawa suruh muter muter tombol sambil gerakin 2 antene panjang itu sampai ketemu titik yang pas yang bisa menghapus semut semut dari layar TV kami. Alhasil, again, saya cuman nonton TV kalau si bapak ada dan beliau lagi pengeb nonton TV.

Rupanya TV yang harganya mahal itu tak jadi bermanfaat juga kalau gak didampingi si antena ala ala yang harganya 100ribuan ya? Kok bisa? Gimana sih kerjanya dunia industri pertelevisian ini? Kok bisa satu pabrik raksasa yang terkenal jadi ga berkutik tanpa kehadiran produk dari pavrik kuecil yang entah apa namanya itu. What a plot!

Hanya karena harganya murah atau sering kali gratis diberikan sebagai bonus pembelian TV, we take it for granted. Begitu antena rusak, bubar semua. TV cuman jadi kotak pajangan. Or in my case, jadi cermin buat my littlr princess nyanyi dan ngapalin dialognya Sopo Jarwo dan Cherrybelle.

Plot plot macam TV tanpa antena ini jebul banyak juga kita temui ya di dunia nyata? 

Seperti 

mampu beli mobil, tapi menganggap kemampuan menyetir sepele

mampu beli motor Ninja, tapi lupa kalau rumahnya ga muat buat diparkirin Ninja

mampu beli buku, tapi nyempetin bacanya nunggu tak sok tar sok

mampu beli tempe, tapi ga punya cabe buat temen makannya…. haaaaa…… huahahahaha…..

Nampaknya memang standar dan manusiawi saat kita fokus pada yang besar dan magrong magrong, yang keren, yang mengundang decak kagum, dibanding fokus pada hal hal kecil yang sepi dari tepukan. Umum juga kalau manusia lebih suka melihat yang bisa dibeli dengan harga mahal, lupa sama yang (dikira) gratisan dan (dikira) punya dia sendiri, macam oksigen, tanah negara, air dan banyak lainnya.

Maka sebagai bentuk aksi anti mainstream, saat banyak orang menuliskan salah satu dreamnya punya TV yang inch nya sak hohak, saya dengan ini memutuskan bahwa salah satu dream saya adalah punya antene TV yang mudah dioperasikan. Demikian!

Selanjutnya hal hal mengenai itu akan diatur dalam tempo segera dengan sepengetahuan si bapak. *yes pak?*

Ok. Sebelum Anda membayangkan saya membeli antena. Saya ingatkan. Kadang kala plot macam ini juga muncul dalam cerita macam lupa seberapa menderitanya ga bisa BAB rutin setiap hari karena sibuk mengatur sebuah negara. Begitu deh!

Ini Soal Kepentingan!

Puluhan tahun yang lalu, saya berkumpul bersama puluhan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas di sebuah villa di Kaliurang. Saya datang terlambat karrna memilih menyelesaikan dulu urusan dengan organisasi pecinta alam yang waktu itu sungguh sudah membuat hati saya tersekap. *bosoku rek*
Saya datang terlambat saat acara rapat sudah dimulai. Dingin udara kaliurang nampaknya kurang mampu meniup hawa panas di ruang rapat. Saya duduk di bangku tengah, tepat di belakang teman teman yang sedang berdiri dari kursinya untyk meneriakkan pendapatnya.

When I say meneriakkan, itu bukan konotatif, tapi denotatif. Mereka saling berteriak. Sementara di bangku belakang sebagian mahasiswa sedang bergeromvol sendiri. Sebagian nampak serius berdiskusi dengan wajah gabungan jengkel dan kecewa, tapi suaranya sangat kecil. Sebagian acuh tak peduli, bayangan saya mereka lelah dan tak habis pikir.

Saya terjebak dalam posisi tengah antara kelompok mahasiswa yang berdiri dan teriak dengan kelompok mahasiswa yang duduk dan berbisik. Saya mencoba mendengarkan, cukup keras, untuk tahu masalah pelik apakah gerangan yang sedang kami -para mahasiswa yang di bahunya terletak masa drpan bangsa- bahas.

Dahi saya berkerut. Telinga berusaha keras mendengar kata2 para pemimpin rapat di ujung depan ruangan. Sementara mata senantiasa melihat pantat2 di depan saya yang bergerak gerak. Aaaah betapa banyak godaan saya saat itu untyk fokus.

Ahaaaa….. saya akhirnya mendengar kata2 dari pengeras suara….

Jadi apakah sebaiknya kita pakai koma atau titik koma setelah kata sementara?

Koma!

Titik koma!

Kalau titik koma iti bisa disalahartikan!

Justru koma yang bisa disalahartikan!

Atau titik saja?
Whaaaaaaat? What? What? What? 

Apa ini yang kita bicarakan? 
Saya cek jadwal acara di kertas yang saya pegang. Harusnya ini sesi pembahasan tata tertib sidang.

Whaaaaat? Masih bahas tata tertib udah hangat hangat bagai indomie baru diangkat dari wajan? Gimana sesi sidangnya nih?

Aaaah dari jauh saya mengenali 2 pantat yang nampak familiar. Saya colek pelan dengan harapan dia tidak kaget. Kawan saya satu ini menoleh. 

Hei.

Hai. Apa ini? Tata tertib?

Heeh

Udah seheboh ini?

Teman saya menunjukkan wajah yang tidak setuju. #ups. Rupanya dia salah satu pihak yang sedang bersikukuh soal tanda baca tadi. Dahinya verkerut menggantikan kerutan di dahi spaya tadi. Bibitnya mulai terangkat sedikit ke satu sisi. Kemudian dengan keras dia menjawab….

Ini soal kepentingan Fan! Semua ini soal kepentingan! Aaaah kamu gak paham sih!

Jleb, auuuuuuu……

Mendadak saya mengalami disorientasi. Saya duduk sambil melihat sekeliling saya. Bukankah kita semua yang ada di sini baru saja selesai dipilih dan dilantik? Lalu dari mana dia jadi lanyah bicara kepentingan sementara saya masih menggerutu harus meninggalkan pacar saya di Yogya buat acara ini?

Merasa seperti kura kura tertinggal dala  lomba lati oleh kelinci……

Malam ini saya terlempar ke villa itu di Kaliurang, tempat saya kemudian mengenal beberapa teman lain yang sempat saya kagumi saat itu. Dinginnya udara. Ketusnya ucapan. Batunya ekspresi wajah. 

Saya ingat pada waktu itu syaa memilih meninggalkan ruangan menikmati udara dingin gunung yang memanf kesukaan saya.

Kepentingan. Kepentingan. Mahasiswa. Peneruz perjuangan. Tata tertib sidang. Titik koma. Koma. Titik. Kepentingan. Oh. Why am i lost?

Puluhan tahun kemudian orang2 yanga da di ruangan itu menjelma menjadi banyak hal. Entah berapa yang mrnjadi ibu rumah tangga, saya gak tahu. Tapi kebanyakan menjadi aktivis, independen atau bagian dari organisasi. Organisasinya bisa lokal, internasional bahkan juga pemetintahan. Well. 

Kemudian malam ini saya entah kenapa ingat pada sebuah berita yang sekilas saya baca di TL.

Cabr mahal. Tanem sendiri. Gak usah bikin sambel. Bersyukur!. Salah pemerintah. Ini kepentingan.

BBM naik. Pindah ke Arab sana yang BBM murah. Untungku berkurang berapa nih?. Walk out dari sidang sambil nangis termehek mehek atau pura pura aja ga tahu sambil ga komen, toh kan beda periode. Tergantung kepentingan.

Kalah duel atau dikeroyok? Tergantung kepentingan.

Bubarkan FPI atau dukung FPI? Tergantung kepentingan.

Fitza hats. Salah pengetik, prlapor, pembaca, penyebar foto atau salah kita yang mengolok olok? Tergantung kepentingan.

Saya ga akan kasih pilihan sebarkan hoax atau hentikan. Karena saya yakin seyakin yakinnya, kalau orang itu ga suka nyebarin hoax, kalau mereka tahu itu hoax. Soal malas ngecek atau rasa puas saat terima hoax yang sesuai kepentingan, itu mah urusan pengendalian jempol.

Di usia sekarang saya paham maksud kenalan saya itu bilang bahwa di dunia ini semua serva kepentingan. Apakah maksudnya serba terlalu penting? Hahahahaga……

Memang kepentingan yang menggerakkan kita rupanya. Masalahnya adalah kepentingan apa?

Kepentingan perut? Lapar vs. Kenyang?

Kepentingan dada? Penghargaan vs. Penghinaan?

Kepentingan mata? Indah vs. Busuk?

Kepentingan jempol? Nyinyir vs. *apa ya anyi nyinyir itu?*

Kepentingan apa? Duniawi vs. Akhirat?

Usia udah 40. Di Quran sudah diingatkan surug hati hati. Keluar malem dikit udah masuk angin. Kena AC kelamaan udah pilek besoknya. Roadtrip ke Curebon aja recovery 3 hari. 1x begadang pulangnya kerokan. Jadi yaaaa harusnya kepentingannya disortir, sehingga efeknya diksi pun jadi terfilter.

Tapi itu saya yang udah 40 tahun. Kepentingan saya cuman sehat, biar bisa tetep jalanan jalan dan makan makan bareng Pak Bondan. Hahahahaha.

Malrm friends. Sleep tight. Dream of me.

Ecieeee….. itu kan dulu penutup di surat surat cinta ayeeeee….. uhuk…..


2 weeks of sleep, everyone?

Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Tebar Cinta Anak Bangsa

Yesss…..

Bayangkan pemandangan berikut ini….

Anak anak berbaju merah putih tertawa riang di pagi hari sambil berjalab kaki menuju sekolah…
Anak anak berbaju putih biru tersenyum tersipu saat bertemu temannya mengayuh sepeda menuju sekolah dengan udara pagi yang segar…
Anak anak yang bangun pagi dengan niat berangkat sekolah apa pun kondisinya saat itu…
Anak anak di pelosok Indonesia dengan mimpi besaaaar bagi bangsanya menyusuri pematang menuju gedung berbendera merag putih…
Anak anak yang dengan setia menunggu rakit di pinggir sungai untuk membawa mereka ke pelukan bapak ibu guru yang sudah menanti dengan senyumannya…

Yes… pertahankan gambar itu….

Sekarang bayangkan Anda yang mengukir senyuman itu…
Mereka, anak anak itu melambaikan tangan dan senyumannya buat Anda…

Anda yang membuat segalanya mungkin bagi mereka…
Anda yang menyisihkan sebagian rejekinya buat tas tas mereka… buku buku mereka… pensil yang mereka genggam… buat masa depan mereka… yang at the end adalah masa depan bangsa kita juga, Indonesia…

Well… Anda bergetar?
Saya nulisnya pun bergetar…

Bantu saya dan temen teman di @sedekaoksigen yaaaa buat bikin bergetar hati anak2 itu… supaya mereka tahu ada banyak ayah bunda yang peduli pada mereka di tanah airnya…

Bantu kami yaaa….
Bantu mereka….
Bantu anak anak bangsa kita…. – with Fauziah H, farino, Fatriya, Danti, Awwal, Dian, Henri, and Anton

View on Path

People DO NOT CHANGE

Manusia itu gak berubah kok… dari jaman Nabi Adam sampai sekarang….

Begitu kalimat yang bulan puasa lalu saya dengar di pagi buta. Lumayan membuat mata membelalak. Lumayan membantu saya bangun makan sahur. Lumayan. Cuman kepala saya jadi bertanya-tanya. Yakin itu kalimat bener?

Manusia itu gak berubah? Jadi yang dibilang people changes itu PLASU? Eh, PALSU maksud saya.

Time flies. Dan saya masih belum dapat jawaban yang memuaskan dari pertanyaan saya malam itu. So, people DO NOT CHANGE?

Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah pelatihan. Salah satu pelatihan favorit saya. Di mana saya bisa menangis, tanpa mengundang tertawaan orang lain. Jangan salah. Mata saya mudah sekali mengeluarkan air mata. Lihat film FRIENDS, saya nangis. Lihat So You Think You Can Dance, becek juga mata saya. Apalagi di pelatihan, di mana otak dan hati dibulak-balik? Pastinya saya nangis. Lha wong jadi trainer, dengerin trainee-nya cerita masa lalunya, saya malah yang nangis kok. Yup. Anyway, di pelatihan favorit saya ini, saya bebas menangis. Yihaaaaaa.

Ups. Back to laptop. Di pelatihan ini, intinya perilaku peserta jadi super terkendali. Sopan. Antri makan dengan tertib. Mau jalan juga bilang permisi. Berhenti gak di tengah jalan. Ampuuuun, ini salah satu yang bikin saya suka sama komunitasnya. Nah, pas di pelatihan kemarin, trainernya tanya sama kami, para peserta. Siapa yang mau bantu orang di gambar ini? Ratusan orang angkat tangan. Idenya macem-macem, berasa makan es buah. Selalu ada kejutan dari tiap gigitannya. Tapi intinya, mereka semua mau menolong sosok di depan. Dengan mudah dan bersemangat. Sebuah kenangan yang indah tentang “manusia”.

Waktu gunung Merapi meletus beberapa waktu lalu. Seorang teman yang asli dari Yogya bercerita tentang sebuah panti asuhan yang butuh genset. Dibutuhkan dana sekitar 4 juta. Setelah minta ijin pada yang bercerita, saya langsung ajak beberapa teman buat saweran 150.000 an buat beli gen set itu. Kurang dari 2 minggu dana terkumpul. Langsung transfer ke teman saya di Yogya yang rumah mertuanya tetanggaan sama panti asuhan itu. That small genset problem solved. Ingat lain tentang “manusia” yang indah.

Duluuu sekali, saat tulang muda masih bergejolak, saya pernah jatuh dalam pendakian ke Gunung Sindoro. Bukan pendakian tepatnya, saya jatuh saat turun dari puncak Gunung Sindoro. Seorang teman yang tidak mengenal saya dengan baik, menawarkan diri menemani saya tinggal di atas sampai bala bantuan datang keesokan hari bersama matahari yang penuh harapan. Masih tentang “manusia”.

Suatu potongan waktu di Yogya, seorang teman mengeluh pada teman lainnya tentang kesulitan keuangan. Teman pertama butuh uang untuk bayar SPP-nya. Teman kedua dikenal anak keluarga kaya, mengaku tidak pegang uang cash. Tapi buru-buru melepas jam tangan merek mahal miliknya. Sambil berkata, “Mungkin ini bisa digadai atau dijual.” Manusia.

Seorang kenalan mendedikasikan waktu luangnya untuk mengjaar GRATIS bagi anak-anak yang terpinggirkan, dalam misi untuk anak Indonesia-nya. Manusia.

Seorang kawan yang lain, menyediakan waktu 2-3 kali seminggu untuk mengadakan cara bermain bersama anak-anak di sekitar rumahnya. Manusia.

Papah saya baru-baru saja didiagnosa ada benjolan di paru-paru kirinya. Tiba-tiba setiap orang yang mendengar berita itu mampir ke rumah saya, tempat papah dan mamah menginap selama di Jakarta, menawarkan alternatif penyembuhan. Saudara di Semarang meminta fotokopi hasil rontgen buat dibawa ke dokter herbalis di kota lumpia itu. Saudara di Kudus tiba-tiba mengirim propolis yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tante di Cinere rela pagi-pagi nongkrong di Rumah Sakit, ngantri nomor buat papah, yang akhirnya masuk ke ruangan dokter baru jam 2. Aaaah. Inikah “manusia” sama yang tidak pernah berubah itu?

Sekarang saya mengamini kata ustadz Qurais Shihab tentang manusia tu pada dasarnya tidak berubah. Ibu dari dulu menyayangi anaknya. Ayah dari dulu ingin memberikan nafkah terbaik bagi keluarganya. Manusia memang tidak pernah berubah, pada inti kebaikannya. Pada dorongan murni untuk berbuat kebaikan.

Thank God I’m human.

Bintaro, September 2011

Emptyness

 “Emptyness is the beginning of perfection”

Begitu kira-kira kalimat yang terngiangngiang di telinga saya. Setelah menonton video tentang Borobudur beberapa tahun lalu. Kalimat itu juga jadi bola panas di tangan teman-teman saya, para pengajar bahasa Inggris di Yogya. Setiap kali ada yang bengong, digodain, dibilang otaknya lagi menuju perfection. Hahaha. I was sooooo very young. And it was a great great time.

 

Beberapa bulan yang lalu, ada juga kejadian soal emptyempty nih di rumah saya. Adek saya, Fatriya, setiap kali lagi bantuin saya gantiin baju Genta. Selalu saja dia teriak, “Mbak, mbok Genta itu dibeliin baju to. Baju kok cuman 5, yang 3 seragam sekolah.” Hahaha. Waktu itu saya pikir, la buat apa baju banyak-banyak, wong Genta kalau keluar rumah juga cuman sekolah sama weekend. Kan pas tuh? Sekolah seragamnya 3, 2 hari weekend pakai baju sisanya. Main pasir ngapain pakai baju bagus-bagus?

Genta punya bertumpuktumpuk kaos singlet, baju tipis rumahan, celana pendek dan celana panjang buat tidur. Dan waktu itu memang cuman 5 kaosnya yang “layak” buat dipakai pergi. Kami –saya dan suami- memang bukan pembeli pakaian. Kalau diingat-ingat, saya terakhir beli baju yang cukup banyak waktu tahun 2008, sebelum Genta lahir, di Bandung. Belakangan karna adek bungsu saya jualan baju, jadilah saya beli beli baju lagi. Prinsip yang sama berlaku buat Genta. Beli baju sesuai kebutuhan saja.

Karena bosan diteriakin terus-terusan sama Iya, saya beride untuk create empty space di lemari Genta. Sebagian bajunya saya pilih dan saya berikan ke beberapa orang yang masih punya anak kecil dan bisa memakai baju-baju itu. Loh, baju cuman sedikit kok malah dibagibagikan? Tenaaaang. Ini tips lama dari mamah saya.

Sejak kami kecil, menjelang bulan puasa atau mau tahun ajaran baru. Kami punya ritual. Kalau orang lain ritualnya motong ayam. Kami gak seserem itu. Namanya juga ritual. Tujuannya buat melancarkan segala sesuatunya. Kata mamah. Kami beresin lemari. Kami –saya dan adek-adek saya– harus milih baju-baju yang sudah cukup lama ga pernah kami pakai, dan menyerahkan baju-baju itu ke orang-orang yang bakalan lebih butuh daripada membiarkan baju-baju itu mondok di lemari kami, kayak tikus nungguin penghuni rumah pergi tidur.

Mamah selalu bilang,

Lihat saja. Begitu lemari kalian kosong. Pasti ada aja yang bakalan ngisi.”

Dalam hati saya bertanya-tanya, saya yakin adek-adek saya juga,

Siapa yang mau ngisi kalau bukan mamah papah?”

Tapi otoritas tentunya yang paling menentukan tindakan waktu itu. Kalau mamah bilang beresin lemari. Artinya apa? Yaaaa, kami harus beresin lemari. Titik. No negotiation.

Kembali soal Genta. Alkisah, singkat cerita, laci Genta yang cuma 3 biji berukuran sekitar 30 x 10 x 50 cm itu, nampak melompong. Rapi. Bersih. Dan kosong. Sudah. Selesai tugas saya. Apa saya langsung tergopoh-gopoh ke Tanah Abang buat belanja baju Genta? Waaah, gak ada magic-nya kalau ceritanya ber-ending ke situ. Gak. Saya lagi mau ngetes. Hahaha. Bukan bukan. Saya lagi mau mengulang pengalaman yang sudah berulangulang saya buktikan.

I create empty space. And I shall wait the universe to fill it in.

Sekitar bulan lalu, saya main ke Semarang. Di hari ke 4 atau 5, tiba-tiba adek bungsu saya beresin lemari keponakan saya, Arci. Pakaian Arci banyak banget. Banyak juga yang sudah kekecilan. Bagus-bagus. Tanpa saya minta, tiba-tiba dia bilang,

”Mbak, ini bajunya Arci udah kekecilan, buat Genta aja.”

Ya Allaaaaah. Mantranya bekerja. Masih ampuh juga. Itu baju banyak banget. Jauuuuh lebih banyak dari baju yang kemarin dikeluarin dari lacinya Genta. Dengan semangat, saya pack baju-baju bekas itu dan saya bawa ke Jakarta. Semuanya muat buat Genta. Semuanya masih sangat layak dipakai. Dan laci Genta super penuh. Jauh lebih penuh dari sebelum saya keluarin baju-baju Genta. Baju-baju bekas yang dengan sengaja saya undang berdesakan di dalamnya seperti penumpang busway di jam-jam pulang kantor.

The universe is really keeping its promises.

Sekarang Genta punya banyak baju buat pergi. Bibinya, adek saya, gak pernah lagi teriak-teriak minta saya beliin baju buat Genta. Problem solved. And it all started with an empty space.

Bisa jadi itu maksud video di Borobudur ya? Emptyness is the beginning of perfection. PERFECT. Karena universe menepati janjinya. PERFECT. Karena tugas kita cuma menciptakan empty space. PERFECT. Karena itu tugas yang sangat mudah. Hihihi.

29 July 2011
-bergaya spiritual

Tentang Cinta, Hypnosis dan Martial Arts

Anda suka teringat-ingat pacar lama Anda gak?

Saya kadang teringat. Seperti barusan saja. Saya teringat pacar saya dengan nomor pendaftaran G2345. Iya, harus pakai nomor pendaftaran, kalo gak nanti mengganggu privacy orang. hehehe.

Ok. Balik ke awal. Saya teringat pacar lama saya karena alasan yang baik kok.

Tadi malam giliran mas Tonny, suami saya, pacar baru saya, yang menidurkan Genta. Genta pakai segala cara buat keluar kamar. Beberapa minggu lalu, mas Tonny terkecoh dengan trik Genta yang pura-pura mau pup. Udah keluar kamar, bukannya lari ke kamar mandi, Genta langsung nggabruk ke saya, minta nonton Barney. Ok. Salah satu trik yang akan diwaspadai.

Kesempatan berikutnya, Genta pakai trik “pup” lagi. Tapi ayahnya dengan tegas bilang, gak. Pikir punya pikir, Genta nemu trik yang berbeda. Kali ini alasannya batuk, minta minum air putih. Sekali lagi, begitu pintu kamar dibuka, Genta langsung menghambur keluar. Hahaha. Gotcha, kata Genta dalam hati mungkin. Akhirnya, setiap trik ini dipakai, ayahnya bakal bilang, “OK. Genta tetap di tempat tidur. Ayah yang ambil air putihnya.” Genta menyerah.

Sama saya, trik akhir Genta adalah minta peluk. Dan biasanya dia akan segera tidur setelah dipeluk. Sama ayahnya rupanya triknya berbeda. Dia minta gendong. Ayahnya setuju tadi malam. Tentunya syarat dan ketentuan berlaku. Hanya digendong di dalam kamar, TIDAK keluar. Hehehe. Kamar cuman seupil gitu. Jalan-jalan di dalam kamar ya sama aja sama joget maju mundur. Anyway, trik ini berhasil. Berhasil buat bikin Genta tidur. Juga berhasil buat negosiasi ayahnya.

Oiya. Saya dan suami termasuk orang tua yang SUKA menggendong anak. Kami tidak percaya bahwa anak yang digendong bakalan jadi manja atau minta digendong terus-terusan. Ya, so far, pendapat kami terbukti. Sejak Genta belajar jalan saja, dia sudah gak mau digendong lagi. Dia hanya minta gendong buat kesempatan tertentu. Dan kami JARANG sekali menolaknya. Tenang saja. Keputusan ini adalah hasil dari riset kami berdua. Anda tidak setuju? Silakan riset ulang. Hehehe.

Soal tidur, Genta juga sebenarnya hampir tidak ada masalah. Dia tidur hampir di mana saja. Dia bisa tidur di car seatnya, saat tape lagi keceng-kencengnya muter baba black sheep. Kadang dia tidur begitu aja di kasur, saat keluarga besar kami klonthangan makan siang. Intinya, dia jarang punya masalah tidur. Tapi saat dia butuh perhatian lebih, kayak tadi malam, memang butuh special treatment. Bayangan saya, kayak saya minta dielus-elus kalau mau tidur, setelah seharian BETE. Atau mas Tonny yang minta dipijet, sepulang meeting seharian sama bule, ngomongin tentang pemecatan karyawan. Kami saja kadang butuh special treatment, gimana Genta.

Kembali soal si nomor pendaftaran G2345. Saya teringat dia karena dia pernah mengajak saya nonton film waktu itu. Saya sudah lupa judulnya. Namanya juga orang pacaran. judulnya ma gak penting. Hihihi. Tapi ada salah satu kalimatnya yang saya ingat

“Talking about love, is like dancing about architecture”.

Ingatan ini memicu ingatan lain saya tentang pak Yan Nurindra, suhunya hypnosis Indonesia. Dia bilang, hypnosis itu seperti bela diri, ada ilmunya, ada tekniknya, ada kursusnya, ada sertifikasinya. Tapi ada 1 hal yang gak bisa ditransfer, yaitu seninya. Persis seperti itu pikiran saya tentang jadi orang tua. Betul ada ilmunya, tekniknya, trainingnya, workshopnya, bukunya, forumnya. Tapi seninya jadi orang tua anak Anda, memang cuman Anda yang menguasai.

Peluk cium hangat for you all, parents.

20 July 2011
-sambil mengirimkan energi kehangatan buat para orang tua di luar sana