Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Si TEMPE

Saya dan tempe punya hubungan sangat romantis yang tidka terkalahkan oleh siapa pun.

Sejak kecil makanan kesukaan saya adalag tempe. Bahkan saya hanya bisa makan nasi dan tempe sampaj umur saya kurang lebih 23 tahun. Beberapa kali saya kena kurang gizi saat kecil karena makanannya yaaaa cuma 1 jenis saja, tempe pol polnya ditambah telur. Lucunya kalau bakso saya doyan, selain itu segaka daging2an saya gak makan.

Untungny tempe inu makanan umum yaaa di Indonesia Raya ini… hehehehe…

Masalah pertama muncul saat saya SMP dan bergabung dengan Marching Band sekolah saya. Kami diundang parade senja di istana merdeka. Ikutan GPMB di Senayan. Orang tua gak ikuuut. Cuma kami, 100an anak SMP ditemani guru dan beberapa official. Saya ga bisa makan. Cuma makan nasi sama krupuk. Sampai akhirnya, salah satu guru saya, ibu Mariatmi berinisiatif mengantongi tempe di bajunya buat dikasih ke saya tiap jam makan. Tentunya terbatas dan ga tau juga itu beliau dapat dari mana. Tapu adaaaa aja setoran tenpe buat saya di jam makan.

Sampai sekarang, maksud saya sampai beberapa bulan lalu saat ketemu, bu Mariatmi dengan lantang akan menyebut nama saya, Fannyyyyyy tempeeeeeeeee…… Kami berdua kemudin tertawa.

Beruntung saya ketemu teman-teman pecinta alam di kampus. Sedikit dipaksa penuh cinta buat mencoba makanan lain selain tempe. Saya ingat makanan pertama yang saya suka selain tempe, adalah dendeng. Adalah dia yang tak perlu disebut namanya, yang memperkanalkan dendeng dalam hidup saya. Jiaaaah, umur saya 18-19 tahun saat itu. Kemudian diikuti kornet. Lanjut dengan lele. Dan seterusnya dan seterusnya. Dan di akhir usia 20an, saya tiba tiba pemakan segala.

Tapi namanya cinta pertama, susaaaaaaahnyaaaaa dilupakan. Tempe selalu tetap dalam jiwa. Ihik.

Segitunya saya sama tempe, bahkan melihat sekilas gorengan pinggir jalan dari jendela mobil, saya tahu mana tempe yang cocok yang kriuk dan gak. Sekenyang kenyangnya perut kalau ada tempe di depan mata, minimal pengen nyobain barang 1 saja. Dan saya super pede bahwa favorit saya ini gak berbahaya seperti favorit orang-orang lain yang hobinya makan sop kaki kambing, soto betawi, steak atau makanan lainnya.

Sampai hari Senin lalu, tepatnya tanggal 11 Januari 2016, lutut saya bengkak di pagi hari bangun tidur sampai gak bisa jalan. Malamnya untuk menuju tempat makan malam saja, saya perlu digendong suami saya. Cieeeee. Oh hmm begini, kalau Anda pernah ketemu saya, proporsi besaran tubuh saya sama suami memang kurang populer, huahahaha, tapi dia kuat kok gendong saya waktu itu. Mungkin itu namanya cinta, hiyaaaa…… *kibas rambut*

Anyway hari Selasanya saya terpaksa ke dokter. Singkat kata singkar cerita, saya terindikasi kena asam urat. Whaaat? Gak terima saya. Langsung saya tanya dokternya, apa gara2nya.
Makan tape ketan, duren, santan, pete, disebutkanlah sederet makanan yang most of them belum pernah saya makan, kayak tape, duren, pete, jerohan itu 100% belum pernah saya makan. Sementara santan jaraaaaaang sekali masakan santan yang saya makan, karena memang gak suka. Seafood kebetukan saya habis maka  memang beberapa hari sebelumnya, tapi itu juga jarang.

Gak terima lagi, sya bilang. Tapi saya gak makan itu semua dok.
Dokternya ngelanjutin, kacang2an juga bikin asam urat, tempe…
Blaaaaarr…. seperti tersambar petir di siang bolong…. *bayangkan ekspresi saya seperti bintang-bintang sinetron di tersandung 27 dengan kamera yang maju mundur*

Well, tempe? Cintaku? Cinta pertamaku? Uhuk….

Hari-hari berikutnya saya mengucapkan kata berpisah sama tempe. Saya bilang, ini buat sementara saja. Kita temenan aja. Tapi gak bisa deket-deket. Bahkan untuk meliriknya saja saya gak punya keberanian. Suami saya langsung pindah meja saat makan tempe penyet di suatu siang dalam minggu ini. Mungkin dia takut saya terluka. Huaaaaah, opo sih iki.

Anyway, sungguh benar kata orang ya. Bahkan dalam hal paling sederhana pun, sesuatu yang kita pikir baik tidak selaly baik bagi kita, sementara sesuatu yang kita pikir buruk tidak selalu buruk bagi kita.

Seorang teman ninggalin komen di timeline facebook, sesudah timeline rame dengan hinaan teman-teman serra ucapan selamar datang di usia 40an. Huahahaha.
“Semua makanan sebenernya baik mbak, tapi jangan berlebihan. Juga diirngi olahraga”

Aaah seandainya dia tahu, tempe itu gak cuman baik, dià sungguh sungguh menyayangiku…. huahahaha…. *ketularan hashtag kaminaksir*

But again, life change…. dalam beberapa waktu ke depan si tempe ini kayaknya perlu berpisah sebentar sama tempe. But we shall meet again, someday, soon.

*coretan buat mengingatkan diri sendiri dan teman-teman yang menjelang usia 40*

Tentang Ronde

Wedang Ronde SAlatiga - Blog Fanny Herdina

Ini dia penampakan ronde Salatiga yang super ngetop itu

Duluuu, saat saya masih jauh lebih mudah dari sekarang, saya paling heran kalau papah mamah saya bersama teman-temannya yang datang berkunjung memanggil tukang ronde yang lewat depan rumah. Bagi saya itu makanan atau minuman aja gak jelas. Rasanya pedes tapi bukan cabe. Aneh lah. Minuman khas orang tua. #uhuk #batuk

Kemudian beranjak remaja dan mulai ngekos di Yogya, kadang kala badan rasanya remek kalau habis berkegiatan di alam. Pengen minum sesuatu yang enak di badan. Sekali waktu coba bubuk jahe wangi instan, minumnya pake air es dan es batu. Ternyata rasanya seru. Semriwing gitu. Ga bikin keringetan, seger di lidah tapi hangat di badan. Lumayan sering akhrirnya saya minum es jahe itu.

Sekarang ini, tukang ronde yang suka lewat depan rumah saya, malah jadi langganan saya. Kadang saya bahkan berharap dia lewat, walaupun ditunggu tak kunjung datang. Rasanya badan lebih segar dan hangat setiap kali habis minum ronde, yang buat saya isinya cuma kacang dan air jahe hangat. Soal rasa, ronde sudah jadi favorit saya, beda dengan referensi saya duluuuuu waktu masih lebih muda. Am I getting old? Kok gak terasa ya. #uhuk #batuklagi

Pernah juga suatu ketika, sedang hamil Puti, saya dan keluarga jalan-jalan ke Yogya. Hamil Puti sungguhlah menguras tenaga. SAmpai di Vila Kandang Sapi milik seorang sahabat tersayang, saya terserang demam yang luar biasa. Kondisi hamil, saya berusaha keras ga minum obat. Dikeroki sama budhe yang mengasuh anak teman saya. Mendingan, tapi belum total. DIpijetin. DIbikinin teh panas. Tetep saya nyidam ronde. Malam-malam saya diajak ke angkringan yang saya gak tahu lokasinya di mana. Sepanjang perjalanan, saya cuma tidur sambil sayup-sayup dengar suami dan sahabatnya ngobrol. SAmpe di angkringan, saya langsung dipesenin minuman ini. Uenak pol. Isinya jahe, lemongrass sama apaaa gitu. Ampuuuun itu di lidah sama di badan uenak banget rasanya. Mirip ronde dengan rasa yang lebih kaya. Layak dicoba.

Kemudian saya jadi terpikir malam ini. Pendapat saya soal ronde mengalami perubahan nampaknya. Drastis lo. Dari anti jadi cinta. Dari nolak jadi ngarep. Walah. Kenapa ini kok bisa terjadi. Again. Am I getting old? Selain tulang yang gampang capek dan tumpukan lemak di perut yang tak mau pergi, saya kok merasa tetap orang yang sama dengan yang anti sama ronde beberapa waktu lalu ya. Walau ternyata harus diakui, saya berubah. Perubahannya pelan dan tidak terasa. Tahu-tahu, di sinilah saya sekarang, ngefans sama ronde, yang dulu kepikir mau nyium baunya aja nggak.

Kalau selera minuman saya -yes, ronde itu minuman, now I know- saja sudah berubah sedrastis itu, apakah perilaku dan amalan saya juga sudah berubah ya? Aaah, sekarang baru saya merasa tua. At least lebih tua dari si saya yang gak suka ronde itu. Ya Allah, bantu saya ya. Kulit mulai keriput, rambut putih mulai muncul, bahkan minuman udah jadi ronde, kok amal begini-begini aja. Bantu saya yaaa……

Oiya, soal ronde saya punya cerita lucu. Waktu SMA, saya dan sahabat ikut pelatihan di kota Salatiga yang sejuk. Selesai pelatihan, kami ngobrol dengan instruktur kami yang mahasiswa UKSW.

“Di sini malem-malem gini, enaknya ngapain mbak? Ada apa aja di sini?”

“Hmmm, ada konde”

“Apa? Konde?”

“Bukan. Konde. Wedang konde. Di deretan depan toko roti Tegal”

“Wedang konde? Apa isinya tuh mbak?”

“Hmmm, #salting. Konde. Wedang konde.”

Tiba-tiba baru nyadar, saya dan teman saya teriak hampir bersamaan. “Ooooo, wedang ronde. Iya. iya” #ngacir. Kami berdua langsung masuk kamar sambil nahan tawa. Kami lupa kalau si mbak ngomongnya memang sengau, jadi ngomong “ronde” terdengar “konde” di telinga kami. Kelakuan anak SMA memang adaaaaa aja.

Ah, sudahlah. Cukup soal ronde. Malam ini saya berhasil mencegat si abang penjual ronde. Menjelang tidur ini, ijinkan saya berharap, jika selera saya sudah berubah, semoga akhlak dan amalan saya juga berubah ke arah yang baik. Aamiin.

Gerobak Ronde Salatiga - Blog Fanny Herdina

Ini gerobak rondenya. Hampir semua penjual ronde di Saltiga model gerobaknya kayak gini.

 

Toko Roti Tegal - Blog Fanny Herdina

Ini Toko Roti Tegal di Salatiga. Yak. Nama tokonya Tegal. Roti kejunya enaaak banget. Kamar mandinya bersih. Kalau-kalau nyasar di Salatiga, modal beli roti keju, mampirlah ke kamar mandiinya buat pipis. Hihihi.