Pemimpin Jadi Beban

​Apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakannya untuk engkau?
Aku tahu apa pun akan kalian korbankan untukku. Akan tetapi, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti jika sebagai peminpin aku menjadi beban bagi umatku?

Advertisements

Life in a Bowl of Indomie

Berada di Semarang, malam-malam, kemudian memutuskan makan Indomie di warung burjo akang2 di Tembalang, sungguh semacam melemparkan saya ke badai memori sekian puluh atau belas tahun yang lalu.

Semua ingatan seperti menari-nari berusaha menarik ingatan syaa lebih dalan pada satu ingatan khusus. Sayang saya sedang tak dalam tahap setia pada satu ingatan saja. Saya memilih terbang menikmati terjangan semua memori itu. Mulai dari yang indah dan mengundang senyum sampai yang biru dan butuh tenaga untuk menahan airmata.

18 tahun pertama hidup saya, saya habiskan di kota ini. Pertama kali nonton bioskop. Pertama kali pacaran. Pertama kali ditinggal cowok tanpa jelas apa alasannya. Pertama kali dikirim mewakili sekolah untuk pertandingan. Banyaj hal yang pertama kali terjadi dalam hidup saya, terjadi di kota ini. So, harddisk external 1TM juga nampaknya gak cukup menampung kilasan videonya, apalagi muatan emosinya.

Sementar warung Indomie warna hijay yang layoutnya khas itu mengingatkan saya pada malam-malam sepi di Yogya saat darah muda menggelegak. Menghabiskan malam dengan diskusi-diskusi ngotot tentang hidup, tentang negara, tentang cinta, tentang pertunjukan-pertunjukan drama, tentang “dia”, tentang masa depan. Tentang hidup pasca kampus biru, pasca kartu mahasiswa expired.

Sungguh, kebahagiaan hidup memang terletak pada kemampuan bersyukur.

Saya tersenyum mengingat malam-malam kami, saya dan suami, berburu indomie. Naik motor. Berjaket. Jam 9-10 malam, setelah pulang dari saya mengajar, menenteng printer pinjaman dari tempat kursus saya mengajar bahasa inggris, mampir sebentar sebelum lanjut nebeng ngetik skripsi di rumah teman yang punya komputer. Kenapa malam? Karena siangnya saya kerja, komputernya dipakai yang punya serta printernya dipakai buat ngeprint tagihan di kantor. Hehehehe.

Malam berlanjut dengan teman saya tidur di kamar teman lainnya. Suami saya yang saat itu jabatannya sahabat saya akan melek semalamam sambil baca buku tanpa berkata sepatah kata pun. Dan saya akan akan mengetik sampai jam 3-4 pagi sebelum tergeletak di depan komputer. Bangun jam 5, ngesave ulang semua ketikan, minum teh buatan teman yang punya komputer, kemudian menembus udara pagi dinginnya Yogya di tahun 2000an awal bersama sahabat saya mengembalikan printer sebelum jam 7 kantor buka lagi. Aaaah romantisme masa muda memanag luar biasa.

Badai memori saya terinterupsi suami yang mengingatkan soal beli salonpas untuk tangannya yang sakit.

Well, laki-laki ini, yang dulu mengantar, menjemput dan menemani saya mengeyik skripsi. Yang kuat tanpa jaket menerjang dinginnya Kaliurang. Sekarang mengeluhkan pergelangan tangannya sakit dan perlu salonpas buat meredakan sakitnya

Sekali lagi saya tersenyum geli, gimana selempar kertas berlem mampu melemparkan saya kembali ke tahun 2016. Di kamar mandi, saya melirik kilasan benang putih yang nampaknya enggan terlepas dari kepala saya. Aaah si putih pun mulai bertebaran di kepala. But I dont feel like I am getting older for even a day. Hihihi.

Wow. How time flash. It was only yesterday, or even this morning as I remember. But hearing my kids breathing in their sleep right in the rear seat of the car reminds me of one peculiar thing. Time is slow and fast at the same time that it makes me confused of separating memory and dream. Or are they really from the same planet? *sigh*

Here at my almost 40 stage, I realize that this sentence below is really really giving you harsh fact.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”

Dan Fan, kaudapatkan insight itu melalui Indomie dan Salonpas? Well, may be you should try salmon steak next time for better insight. Hihihi.

image

Rasa Dan Kata

Tahun 2015 hampir berakhir. Barusan saya disuguhi perbandingan statistik pengunjung blog saya di tahun 2014 dan 2015. Hiks. saya tersenyum kecut. Beda sekali jumlah pengunjungya. Dan 2015 tidak lebih banyak dari 2014.

Lalu ngapain saja saya di tahun 2015 yang tinggal beberapa hari ini?

Entahlah. Rasanya waktu berjalan lambat sekaligus cepat di tahun ini. Tahun pertama saya tanpa mamah. Ah masih melo rupanya temanya. Saya ingin kembali menulis kata-kata yang penuh inspirasi seperti tahun tahun lalu, tapi sungguh saya gak mampu. Entah kenapa. Sulit menerangkan rasa yang ada. Ciyeee..

Tahun ini, menjelang usia ke-40, ups, saya menyadari beberapa hal. Well, kalau ditanya tahun 2015 ngapain aja, saya agak sulit jawabnya. Tapi mungkin beberapa hal ini bisa mewakili lah tentang arti 2015 buat saya.

Saya sadar kamera tidak akan pernah menggantikan mata. Sebagus apa pun itu megapixelnya kamera, dia gak akan mampu menangkap yang ditangkap mata.

Saya sadar kata tidak akan pernah berhasil mengekspresikan rasa. Kalau pun terasa berhasil, sesungguhnya itu keberhasilan semu, karena kita terbiasa berdamai sama kemampuan kata yang terbatas mengekspresikan rasa. Gak. Gak semua rasa bisa diwakili oleh kata-kata.

Saya sadar bahwa cinta bukan segalanya. Well, cinta memang bikin hidup jadi indah. Tapi dia bukan segalanya atau satu-satunya yang bikin hidup jadi indah. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu, pengabdian. Banyak kali saya bilang cinta sesuatu tapi saya gak mampu mengabdikan diri padanya. Padahal gombal lah namanya cinta itu, tanpa pengabdian. Bilang cinta Islam, cinta Allah, cinta Rasulullah, tapi tanpa pengabdian, entahlah terasa gak pas di telinga emak-emak HAMPIR 40 ini.

Saya sadar bahwa umur sungguh adalah sekedar angka. Bukan penentu apa pun selain berapa lama kita ada di bumi yang fana ini. Bukan penentu kebijaksanaan. Bukan penentu kedewasaan. Bukan pembatas cinta. Bukan penentu keriput. Bukan juga penentu berapa banyak uban di kepala. Umur sekedar angka yang menunjukkan berapa lama kita ada di dunia ini. Karena mati juga tidak berdasarkan urutan umur.

Last but not least, saya sadar bahwa everything happens for a reason. Saya tahu ini sudah lama. Tapii menjelang 40, saya mengamini-nya sekali lagi. Yes, selalu ada alasannya. Hanya kadang kita gak tahu alasannya. Kadang butuh waktu 22 tahun untuk mengerti alasannya. Dan 22 tahun lagi mungkin buat menerimanya. Kadang bahkan mungkin sampai akhir hayat, kita masih bertanya apa kebaikan kejadian ini bagi kita? Karena sungguh logika manusia saya yang terbatas gak ada artinya bagi Allah Sang Maha Segala Maha.

Jika saja 2015 saya lewatkan dengan ongkang ongkang kaki, semoga segala kesadaran yang saya dapat di tahun yang sama, membawa saya menjadi makhlukNya yang lebih baik. HambaNya yang semakin pasrah, bukan terus meronta memaksa jalan hidup serupa impian saya. Semoga.

Betul kata teman saya, mendung selalu membawa ingatan-ingatan masa lalu. Dan kesedihan membawa kita masuk ke dalam kesadaran diri, larut, indah dan megap megap di saat yang sama.

Missing you mah, pah, so intensely that words can not explain.

n1287356437_30313314_880

Ini foto mamah dan papah saya saat menikah. Sudahlah, gak bisa komen lainnya lagi saya. Hiks.

n1287356437_30313329_4967

Yes, itu kami sekeluarga sekitar tahun 89-90 saat kami tinggal di Magelang. Our happy time, kami menyebutnya. 

This Mixed Feeling

Entah kapan saya nonton film itu, entah juga judulnya apa. Tapi salah satu adegannya adalah 2 orang yang ngobrol dan berakhir dengan percakapan.

“Emosi manusia itu penuh dengan kontradiksi, complicated.”

Dan saat ini saya baru memahami sepenuhnya. Dalam 1 saat, saya, manusia, mengalami beberapa perasaan sekaligus. Bukan cuma satu.

Saat pesawat Garuda yang saya tumpangi tadi pagi take off, saya cemas, juga yakin akan baik baik saja.
Saat menonton Genta, mas Anton B Priyantoro dan keponakan2 main hujan2an beberapa hari lalu, saya gembira liat anak2 tertawa lepas, takut mereka kesambar petir, sedih karena mamah ga bisa nonton juga lega karena suami saya menemukan cara membebaskan anak2 dari awan berkabung di rumah kami.

Saat menyaksikan ijab adek tersayang Fauziah Herdiyanti dan Awwal Adi Basuki, rasanya plong karena tanggung jawab papah berhasil ditunaikan oleh kami, sedih karena orang tua kami tidak hadir fisiknya bersama kami, bangga karena kami ber4 berhasil menyelesaikan mission impossible ini, juga terharu betapa om kami begitu erat persaudaraannya dengan kami bersaudara.

Saat berpisah dengan adek2 barusan, sedih karena tiba2 kami officially yatim piatu, excited dengan pola hubungan kami yang baru, harap2 cemas atas kejutan di masa2 mendatang juga percaya bahwa rencana Dia ga ada jelek2nya buat kami.

Mixed feeling. Sambil berkali kali mengulang dalam hati
“BERSAMA kesulitan selalu ada kemudahan”

Tante saya bertanya kemarin, “Kalian kok ga ada sedih2nya sih? Aku aja sedihnya ga udah udah lo”

Kami bertiga saat itu cuma bisa saling memandang dan menjawab dengat seret. How do I explain? Saya tahu persis dukanya belum sirna, di hati saya, juga di hati adek2. Awannya masih gelap menggantung. Tapi hidup tetap berjalan.

Mungkin itu makanya SEHARUSNYA makin tua orang makin  bijak dia. Seharusnya. Karena walau sedih tetap dirasa, tapi optimisme harus lebih perkasa. Karena bukan hidup nampaknya kalau dijalani terus menerus berkalung airmata. Jika pun sekali dua kami terjatuh dalam kubangan airmata, cuma sebagai tanda hati kami masih ada, teraba, di dalam dada.

Peluk terhangat buat semua yang mengirimkan doa, bantuan, pelukan, ciuman, sms, bbm, wa, pm. Terutama bagi para cintaku yang belum ditag Fatriya Herdiana Romi Romadhoni Muhammad Herdiyantono Dwi Astuti Widiantari. Love you.

Meeting point berikut, Tanjung Lesung dulu apa Solo?

Apa Urusanmu?

Bismillah….

Sebelumnya biar saya sebutkan dulu, ada banyak potongan-potongan kalimat di sini, bukanlah buatan atau milik saya pribadi. Sebagian saya lihat di status teman, atau comment di salah satu status teman, atau hasil ngobrol via inbox sama teman, atau juga percakapan imajiner saya sendiri. Jadi kalau nampak inspiring, tolong kirimkan doa kebaikan bagi siapa pun yang membuatnya pertama kali. Buat saya juga boleh, sebagai kurirnya. Hehehehe. Karena saya sering kali lupa dari mana saya dapat tulisan itu, jadi tidak saya tulis sumbernya, tapi jelas, bukan buatan saya.

Btw tulisan ini dibuat sambil mencium bau sayur lodeh yang dimasak  tetanngga. Jadi ingat, persis kayak sayur lodeh dalam proses dimasak, sosial media belakangan juga mendidih dan berbau pedas menjelang pilpres. Kacau, istilah saya. Paraaaaah, kalau kata Genta.

Saya punya preferensi sendiri, saya sudah memutuskan pilihan saya. Dan baru berani mengungkapkan pilihan saya beberapa hari belakangan. Kenapa? Saya jenis orang yang lambat ambil keputusan dalam hal ini juga mungkin kurang berani menyampaikan pendapat. Saya harus betul-betul cari data, ngobrol dengan orang-orang terdekat, sebelum memutuskan memilih apa. Bagi saya, ini soal serius. Ciee cieee, yang serius. Hihihi. Lagipula saya trauma juga dulu pemilu 2004 milih presiden. Huaaaa, sudahlah jangan ingatkan saya. *pinjem bahu*

Anyway, akhirnya saya punya pilihan dan kemudian saya memutuskan untuk berani menunjukkan pilihan saya. Karena toh, itulah kemewahan demokrasi bukan?

Pssst, sini saya bisikin, tapi kemudian saya menyesal.

Huaaa. *pinjem bahu lagi* *aleman*

Kenapa menyesal? Menyesal milih no. 1? Lah, belum ada hasilnya kok udah menyesal? tuh kan, bener kan. Makanya, pilih tuh jangan yang no. 1, menyesal kan jadinya.

Husssh. Saya menyesal mengekspresikan pilihan saya, pendapat saya, preferensi saya.

Kenapa? Karena kemudian TL saya mendadak membara. Lebaaay. Yo ben, penulis harus lebay, blog blog saya, tulisan tulisan saya. Hihihihi. Ternyata demokrasi gak semudah mengetik katanya. Fiuuh. Bebberapa teman kemudian jadi saling menyindir, ini bisa jadi saya GR lo ya. Ada juga yang bilang,

“ihh gak nyangka ya, milih no.1, blas gak nasionalis”

Yang lebih dekat dengan saya lebih berani bilang,

jare educated, kok yo milih no. 1.

Huaaaa. Toloooong. Beebaskan sayaaa…..

Dengan tersedu sedan, saya berjalan-jalan di TL saya. Lalu terdamparlah saya di salah satu comment di status salah seorang teman. Saya sungguh lupa siapa, bisa jadi juga bukan status, tapi share-nya. Anyway. Tulisannya begini

“…. apa urusanmu dengan preferensi politikku?” *ting* *musik syahdu mengalun*

Duar. Plak. Jleb. Auuuuu. Yang terakhir lagi-lagi lebay, maafkan. Bener juga ya, apa urusan Anda dengan preferensi politik saya. Pilihan. pilihan saya. Calon, calon saya. Ngomong, di TL saya. Kenapa situ sewot? semacam itulah bubble di kepala saya isinya. Jadi saya beranikan diri, bukan lagi nulis status soal pilihan saya. Bahkan saya bikin posting di blog ini. Huaaa. Nekad dot com.

*musik semangat* *final countdown* 80s bingiiits yak?

Ok. Balik ke pertama kali saya berani mengekspresikan pilihan saya, Anda gak penasaran kenapa baru bebeerapa hari ini saya berani menunjukkan pilihan saya? Mbok penasaran, biar saya ada alasan nulisin. Penasaran ya? Ya? Pengen tahu A apa pengen tahu B? Ok, terpaksa saya tulisin ya, habis dipaksa sih. *kedip-kedip malu-malu*

Pertama dan utama adalah karena mamah saya bukan pendukung no. 1. Huaaaa. *pinjem bahu yang lain*. Mamah saya cinta mati sama ibuk hmmm, tak perlu disebut lah namanya. Karena apa? karena jaman kecil, denger suara ayahnya si ibuk pidato dan langsung jatuh cinta seketika. Cinta mati ti ti ti. Cinta yang kalau lagi ngomongin ibuk, mata mamah langsung berkaca-kaca. Iya, cinta yang kayak gitu. Saya ya gak berani lah melawan cinta sekaliber ini. Belum lagi, mamah WA semua anak dan menantunya -oh atau comment di status, lupa saya- intinya

“Wis, anak karo mantuku jelas bukan pilih yang no.1. ora usah macem-macem”

-yang kenal mamah saya, pasti tahu ya gimana rasanya di comment gitu- hihihi

Saya tak berdaya dengan cinta sekelas mamah. Apalagi mamah saya jarang salah. Beberapa kali salah memang, tapi jaraaaaaaaang sekali.

Alasan kedua, bagi saya pilihan presiden saya biarlah hanya kertas suara dan Allah yang tahu. Lha wong suami saya aja gak tahu kok pilihan saya sampai saya pasang status di fb. Pribadi. Personal. Kayak warna celana dalam, biarkan hanya kita dan Allah yang tahu, jangan biarkan si mas di belakang kita juga tahu ya. Karena alasan saya memilih no. 1 bisa jadi alasan orang lain membenci no. 1. Saya paham itu. Saya milih berdasar peta saya, orang lain milih berdasar peta orang lain. Lha daripada ribut -bagi yang suka ribut- ya saya pilih diam. Serius. Ini susaaah banget, sampai ada temen inbox saya, gini katanya.

“awakmu milih capres sing endi mbak? kok kuat men le ora ngomong?”

Huahahaha. Jawaban saya.

“Lha kan mung entuk milih 1 (siji) to mas?”

Saya juga gak pernah share berita apa pun tentang capres selain pilihan saya. Baik. Buruk. Fakta. Fitnah. Black campaign. White campaign. Pink. Pick any color. Saya ga pernah share berita tentang capres satunya juga. Bagi saya itu ndak fair. Lagipula kalau saya share, saya tahu persis niat saya bukan membagi innformasi supaya orang milihnya makin mudah, tapi ya memang mau mbelain capres saya. Susah lo. Jaga jari biar gak share berita negatif soal capres satunya, padahal di TL saya juga banyak. Saya juga gak pernah share berita tentang capres no. 1 di TL saya. Saya like kalau cocok, tapi gak pernah saya share. Saya curiga sama niat saya sendiri kalau share, jadi ya mending ndak usah aja.

Nah, tapi beberapa hari yang lalu pas fb-walking, kok hati saya terasa bergejolak. Jiaaan lebay tenan saya hari ini. Hati saya bergejolak karena orang mulai melabel teman lainnya anu ini ono, hanya gara-gara beda pilihan.

Masak ada yang bilang kaum educated pasti pilih no. X? *see? saya sungguh berusaha adil* Pendidikan saya S2, dibilang educated boleh, wong ya sedikit persentase orang Indonesia berpendidikan S2. Tapi dibilang gak berpendidikan juga boleh, karena level pendidikan formal juga gak selalu berkorelasi positif terhadap tingkat “pendidikan” orang. Betul kan? Dan saya pilih no. 1. Sebagian teman memuji sebagian lain mencibir. But again, apa urusanmu sama preferensi politikku? Ini kan demokrasi, kita boleh beda, tapi gak lah saling merendahkan.

Faktanya yang mengakses facebook pastilah berpendidikan, karena minimal bisa baca tulis dan melek internet.

*seingat saya saya gak pernah bilang yang milih capres satunya gak berpendidikan, serius, kalau pernah saya minta maaf*

Ada juga yang ngomongin soal nasionalisme, cinta tanah air. Huaaaa, please don’t drag me into this topic, please. *bahu mana bahuuuu?????*

Temen saya yang buka perpusatakaan kecil pilih no. 1. Temen saya lainnya yang bikin perpustakaan di daerah terpencil, pilih capres 1-nya.

Teman saya yang di Mesir, pilih capres no.1. Teman saya yang di Belanda pilih capres 1-nya lagi.

Teman saya yang tiap weekend ngabisin waktu dengan anak gak mampu buat ngajar mlih no.1. Teman saya yang punya sekolah gratis pilih capres 1-nya.

Ga beraniiiii saya bilang yang mana yang cinta tanah air yang mana yang gak. Jelas buat saya, mereka semua cinta tanah airnya. Sama kayak saya. In fact, cinta tanah air yang bikin saya pilih no.1. Weird? Ya tapi itu faktanya, saya cinta Indoneia, ga percaya? Belahlah dadaku ini. Hiks. Lebay lagi? iya ini kenapa saya jadi lebay ya? Ok. Balik lagi,

lagian kalau kita sama semua, kata Barney

“And if everybody was the same, I couldn’t just be me”

Seorang teman menulis di statusnya, again, saya lupa siapa. Katanya.

“Kebaikan sebuah negara itu ditentukan oleh rakyatnya. Bukan cuma presidennya”

Nampar ya. Heeh. Saya juga ketampar kok. Makanya dengan tulisan ini saya mau minta maaf kalau kemarin-kemarin tulisan saya ada yang menyakitkan hati. Semata-mata berniat ekspresi kok. Kan kabarnya demokrasi itu kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ya kalau beda, ya gak pa pa to. Lha wong Genta sama Puti tu lo bisa punya preferensi yang beda dan mereka bisa saling menghargai pilihannya kok. Ga terus ece-ecenan. Jare demokratis?

Anyway, teman-teman yang saya cintai. Anda boleh percaya boleh gak, Saya menyesal sungguh mengikuti jejak teman-teman yang lebih modern daripada saya, dengan ikutan menunjukkan pendapat saya. Karena efeknya bagi saya, kok terasa lebih banyak tidak baiknya daripada baiknya. Untuk itu saya minta maaf. SATU kali lagi, saya minta maaf. Saya cuma meyakini bahwa dalam demokrasi orang boleh berpendapat beda.

Kata Gede Prama, yang saya singkat.

Keburukan orang lain yang kau bicarakan, lebih banyak menunjukkan keburukanmu sendiri daripada kondisi sesungguhnya dari orang yang kau bicarakan. Nah.

Jadi apa urusan kita sama preferensi politik temen kita? Mbok biar mereka punya preferensi sendiri. Saya cuma berani bilang begini.

Yang pilih no. 1 PASTI orangnya pilih PRABOWO. Yang pilih 1-nya PASTI tidak PILIH PRABOWO.

Cuma sependek itu keberanian saya melabel orang. Maafkan saya. Selamat menjelang Ramadhan.

*sengaja ga pakai gambar, biar ga nambahin dosa dan penyesalan saya*

Piye Le? Enak Jamanku Mbiyen To?

Bagi yang sering perjalanan darat, pasti sudah tidak asing dengan stiker belakang truk di atas. Pertama kali saya lihat dalam perjalanan Jakarta-Semarang, waktu mudik rame-rame. Ketawa saya gak habis-habis. Mbayangin cara ngomongnya. Nada bicaranya. Tone-nya. Ngekek ga selesai-selesai sama suami. Sekaligus juga membayangkan betapa ibu-ibu di desa sana sungguh merasakan hal yang sama.

Padahal saya juga ingat waktu 1998, saat rasanya hal yang gak mungkin lihat beliau lengser, ternyata lengser juga. sumpah sumpah rasanya waktu itu. Habis era ini pasti Indonesia jadi bakal lebih maju, karena kekayaannya gak disedot sama satu keluarga saja. Pasti Indonesia bakal lebih kreatif karena TV-TV gak takut sama segala peraturan yang dibuat oleh si bapak fenomenal itu.

Nyatanya? Aaah, lepas dari kontroversi soal ekonomi membaik berkorelasi dengan kenaikan harga barang. Nyatanya hidup di Indonesia tidak makin membaik bagi sebagian orang, bahkan memburuk bagi sebagian. Industri kreatif seperti lepas dari kandang, bebas sebebas-bebasnya, bahkan lebih ngartis dari artisnya. Nasionalisme yang rapuh berganti dengan kedaerahan yang tidak kalah rapuhnya. Entah sesungguhnya hutang bangsa ini bertambah atau berkurang, yang jelas Jakarta makin macet. Makin lama waktu yang dibutuhkan dari satu tempat ke tempat lain.

Sering begitu ya kita ini memang. Pas jaman dia, kita ngotot minta presidennya ganti. Habis diganti, kita nyesel, karena gantinya gak lebih baik juga dari dia. Minimal presiden dulu ga hobi curhat dan somasi rakyatnya kan?

Gak cuma soal presiden, soal pembantu rumah tangga juga gitu kan? Ngeluh terus soal si mbak yang ngeyelan, masaknya keasinan, mulutnya bau, begitu lebaran gak balik, terpaksa cari ganti, baru deh kerasa kalau masih mending deh ada si mbak kemaren-kemaren.

Itu masih urusan pembantu, gimana dengan suami atau istri? Eh, dulu saya pernah pacaran sama orang yang seru banget, he made me laugh all the time. Tapi dia kurang bisa diajak ngobrol yang serius. Kurang pas responnya. Terus diam-diam saya berharap, semoga saya bisa dapet pacar yang bisa diajak ngobrol serius. Dapet sih. Bisa banget diajak ngobrol serius, serius banget bahkan, sampai-sampai gak pernah bikin saya ketawa. Bikin saya mikiiiiir terus. Endingnya, nyesel deh. Enak jamanmu maaaasss……, hihihihi.

Suami-istri juga gitu mungkin ya. Ngarep dapet istri yang jago masak, cuantik, badannya keren, wangi, pinter ngasuh anak, bisa kerja dari rumah, omset miliaran. Yang istri juga ngarep dapet suami ganteng, tinggi besar, seksi, gaji miliaran, sayang keluarga. Sampai-sampai lupa bersyukur sama yang udah didapet. Yang udah diketok jadi jodoh kita oleh Sang Maha Empunya Segala. Padahal lupa bersyukur bikin dikurangi nikmatnya. Ampuuuuun deh.

Lupa bersyukur itu memang berat dah balasannya. Yang lupa bersyukur punya pacar bikin ketawaaaaa terus, langsung dikasih pacar yang hobinya bikin nangiiiiiiissss aja. Yang lupa bersyukur punya badan sehat, baru dikasih bisulan aja udah ampun-ampun. Yang lupa bersyukur masih punya rumah buat tidur, dikasih bocor pas musim hujan gini, baru aja ngeh. Yang lupa bersyukur punya saudara yang sayang sama dia, baru dah tuh nyadar kalau dikelilingi orang-orang yang oportunis.

Aaaah, sabar dan syukur memang harus jadi pegangan. Supaya gak gigit jari lain kali lihat stiker di belakang truk. Piye, enak jamanku mbiyen to?

Saya attach beberapa gambar yang sama temanya. Semoga Anda juga bisa ngekek seperti saya.

ODOJ : Mission Impossible (For Me)

ODOJ - Cerita Fanny

Hi again. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang perjalanan saya belajar baca Quran.

Biarpun beragama Islam sejak lahir, saya baru bisa lancar baca Al-Quran tahun 2011-2012 an. Itu pun karena kebingungan. 2012 saya dan suami berencana berangkat umroh. Membayangkan saya harus membawa Al-Quran super besar yang ada tulisan latin dan bahasa Indonesianya selama di sana, membuat saya terbiritbirit belajar baca Quran. Sampai berangkat umroh tahun 2012, saya gagal meng-khatamkan baca Quran. Baru di Ramadhan 2013 saya berhasil khatam baca Al-Quran pertama kali. Yak. Pertama kali dalam hidup saya.

Rasanya superb sekali. Surreal. Buku setebal itu dengan tulisan se-unfamiliar itu, akhirnya bisa saya selesaikan. Sejak saya mulai belajar baca Quran, dalam hati saya berkata,

“Sekurang-kurangnya saya pengen khatam 1x dalam hidup saya.”

Mengingat segala kondisi saya. Jadi waktu akhirnya berhasil khatam 1x, rasanya kayak top of the world. Mimpi di siang bolong.

Buat Anda yang belajar baca Quran sejak kecil, Anda mungkin sulit memahami rasanya. Belajar baca Quran itu saya lakukan kadang sambil mangku anak, nyusuin Puti, sampai kadang kepala saya pusing saking tegang karena ga bisa-bisa. Jadi saat akhirnya berhasil menyelesaikan satu Quran, wuuuuaaaah, sungguh pencapaian yang luar biasa bagi saya yang hampir 40 tahun ini. (Perhatikan kata “hampir” nya ya, bukan “40” nya)

Saya bangga. Juga tidak bangga. Senang tapi juga malu. Pengen teriak pengumuman ke seluruh dunia tapi juga rasanya pengen ngumpet saking menyesalnya. But anyway, saya berhasil belajar membaca Quran di usia saya yang hampir 40 tahun dan khatam 1x di tahun 2013. Semoga tidak ada orang di dunia ini yang merasa berhak mengecilkan pencapaian saya ini.

Kemudian di Desember 2013 seorang kenalan mengajak saya ikut di komunitas One Day One Juz. Komentar pertama saya adalah, whaaaaaattttt???? Kami sempat berbalas-balasan beberapa kali sms. Saya sibuk menerangkan, saya ini baru bisa baca mbak, saya ini bacanya masih pelan, nanti kalau gak berhasil gimana, malah ngerepotin orang, jadi kesannya gak committed, padahal mah memang ga mampu. Sementara sms dari sisi sebelah sana isinya sekitar, yang penting diusahain dulu bu, pasti nanti dibantu sama Allah, temen-temen satu grup juga pasti bantu, coba aja dulu, kalau memang gagal ya gak papa.

Ah, saya sudah putuskan tahun 2013 saya akan melakukan hal yang berbeda dalam hidup saya, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dengan niat makin mendekatkan Quran dalam keseharian dan bismillah, saya setuju bergabung. Deg-degan luar biasa. Grupnya isinya perempuan-perempuan yang entah sudah berapa kali khatam. Pada jago pakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, sementara doa makan saja, saya baru tahu artinya dari Genta. (Thanks to Miss Atie dan Miss Alif, gurunya Genta di Budi Mulia Dua Bintaro)

Begitu on grup-nya, eeeeh tamu bulanan saya datang, kebagian deh baca terjemahannya. Bisa? Ya masih bisalah kalau cuma baca terjemahan. Saya biasa baca buku tulisan Latin, jadi lancar. Selameeet selamet, dalam hati saya. Belum selesai tamu bulanan, Genta libur sekolah. Jadwal harian mulai kacau. Baca terjemahan masih kepegang. DI tengah-tengah libur, tamu bulanan sudah pamit, Puti dan suami sakit. Huaaa. Sungguh saya sudah menghubungi penanggung jawab grup nya untuk mengundurkann diri. Hihihihi, sebut saja saya cemen, gpp. Hiks. Huaaa. Tapi jangan dong please?

Tapi jawaban dari mbak Admin Grup ODOJ 774, Bunda Choir, bener-bener ampuh.

Jangan off mbak. Kalau lagi pada sakit dan gak kepegang bacaannya, gpp, juz nya dilelang dulu, tapi jangan off ya.

Wuah. Rasanya malu dan heran. Malu karena saya mudah menyerah. Padahal dalam banyak hal lain, sungguh, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya keras kepala, man. Saya sungguh bertekad baja. Juga heran, kenapa sih saya sudah bilang gak mampu, ga bisa, ga mungkin, enggak lah pokoknya sama 2 orang dan 2-2 nya dengan indahnya menolak sejuta daftar alasan saya.

Bermodal malu dan tekad yang menguat, awal Januari 2014, saat Genta mulai sekolah lagi. Saya menjawab sms mbak Admin.

Ok mbak. Insyaa allah hari ini saya mulai on.

Dalam hati, mulai on piyeeeee? Tapi tetep dijalanin. Kan udah commit. Urusan gagal entar kita omongin. Yang penting, perang dulu, kalah belakangan. Begini kurang lebih  urutan saya dalam sehari kalau baca Quran. Siapa tahu ada yang heran atau mau meniru.

Pagi, Genta sekolah, saya nyusuin Puti sambil nunggu Puti tidur. Begitu dia tidur, saya langsung baca Quran, sebisanya, sampai Puti bangun. Kemudian aktivitas rumah tangga sudah menunggu.

Siang, Genta pulang sekolah, nyuapin Puti, kemudian Genta main sendiri, Puti duduk di kursinya, saya sholat Dhuhur sambil membaca situasi. Kalau memungkinkan, selesai sholat saya baca sampai Puti atau Genta sudah tidak sabar meminta perhatian saya.

Saat mereka tidur siang, saya baca lagi. Biasanya jam segini saya sudah selesai 1 juz. Ngeri kan? Ternyata saya yang bacanya kayak kurakura aja bisa selesai lo 1 juz sebelum Ashar.

Tapi dalam kondisi tertentu (yang tentunya ini lebih sering sih), sholat Ashar, Maghrib dan Isha’, saya masih membaca juga sisa-sisa lembar yang belum terpegang. Kadang bahkan saya minta perpanjangan waktu, menunggu anak-anak tidur, kemudian mulai baca Quran jam 10-11 malam. Sering kali saya orang terakhir yang menyetorkan bacaannya.

Malu? Iya. Tapi saya committed. Saya tidak menyerah.

Sampai sekarang saya masih bergabung di ODOJ Grup 774. Keponthalponthal? Iya. Belum bisa ambil lelangan juz orang lain. Tapi saya sungguhsungguhsungguh berusaha. Sampai saat ini saya hampir selalu berhasil menyelesaikan bacaan 1 juz dalam 1 hari. Tapi saya juga kadang mendapat bantuan dari teman-teman untuk menyelesaikan lembar-lembar terakhir yang belum saya pegang, karena waktu yang sudah terlalu mepet.

Apakah saya menyerah? Nope. Saya masih berperang. Doakan saya ya.

Tapi btw, bahkan dalam bacaan saya yang entah segronjalan apa. Saya menemukan ketenangan, seperti yang dijanjikanNya pada hambaNya yang membaca Quran. Dan ketenangan yang seperti ini sungguh addicted. Jadi saya kecanduan. Semoga Allah ridha dengan usaha dan kecanduan saya yang satu ini.

*hari ini, di rumah mertua saya yang beragama Katolik, di pojok ruangan, saya membaca jatah juz saya dengan suara lirih.

Repost : Belajar Islam (1)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam sebuah pengajian, dibahas soal kelompok-kelompok muslim yang hobinya “meluruskan” teman-temannya. Kelompok-kelompok ini tersebar berbendera banyak nama di Jakarta. Pilihan kata “meluruskan” memang terdengar kurang enak di hati, terutama bagi yang “diluruskan“.

Namun surat 64:16 (At-Taghābun) di atas nampaknya memang menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui ciptaan-Nya. Sebagian orang sanggup puasa Daud sepanjang tahun, karena diberi nikmat kesehatan perut yang luar biasa. Sementara sebagian lain memperoleh nikmat harta, sehingga mampu bersedekah miliaran rupiah. Yang lain lagi mendapat nikmat kekuatan hati untuk bangun malam dan melaksanakan sholat malam.

Bahkan Abu Bakar dan Umar, dua sahabat nabi memilih waktu yang berbeda untuk melakukan sholat witir. Semuanya dengan pertimbangan kesanggupannya masing-masing. Kalau Rasulullah saw saja membiarkan sahabat-sahabatnya melakukan ibadah sesuai kesanggupannya, lalu apakah manusia sekarang berhak memaksakan pendapatnya pada orang lain yang dianggapnya masih “bengkok“?

*masih belajar