The One That Warm My Heart (& Eyes)

Mau share sesuatu hari ini

Udah tahu kan kalau kemarin hari Minggu, Sedekah Ilmu Goes To School perdana berlangsung di Bogor? Tepatnya di desa Caringin Bogor.

Sekian tahun yang lalu saya sering ke sana bahkan bisa nginep 2 minggu buat kasih training korporate komunikasi terbesar di Indonesia yang warnanya merah itu. Hahaha. Jelas yak?

Waktu itu saya dibayar lumayan dan ketemunya sama orang2 lulusan universitas keren2 yang kalau nama universitasnya disebut bakal greng lah dengernya. Mereka ga punya mimpi jalan2 ke luar negeri, karena terlalu sering udahan.

Kemarin saya datang lagi ke tempat yang cukup familiar ini. Seperti nostalgia. Kali ini saya punya misi berbeda. Sekitar jam 7.30 saya sampai ke sebuah MA yang anak2nya sedang belajar bermimpi. Saya dibikin speechless sama anak anak ini.

Awalnya mereka sedikit ragu bicara mimpi. Nampaknya mungkin ga terbiasa bermimpi. Tapi semangatnya makin meningkat seiring sesi makin panas.

Di akhir hari, mimpi mereka semakin jelas. Saya quote kan sebagian WFO mereka…

“Saya berdiri di panggung bersama teman teman paduan suara saya, selesai bernyanyi di kontes Internasional di Amerika tahun 2020”

“Saya melihat baju baju muslim rancangan saya diperagakan oleh para model di acara fashion show international dan saya mendengar tepuk tangan para penonton tahun 2025”

“Saya berdiri di atas pegunungan sedang mengambil gambar dengan sudut yang berganti ganti supaya hisa menjadi fitur di surat kabar tempat saya bekerja”

Now. You tell me how you feel membaca WFO macam itu dari remaja kita. You tell me.

Yes, now you feel me, right?

Memang benar Soekarno waktu bilang masa depan bangsa ada di tangan para pemuda ya?

Bayangkan kalau tiap remaja di bahkan di pelosok dapat kesempatan buat mengeskplor mimpinya dan diberi tools untuk mengejarnya. Pemuda #AntiGalau istilah mereka. Hehehe.

Sampai sekarang saya teringat ekspresi wajah mereka. Senyumnya salah satu dari mereka saat berhasil melupakan kejadian yang selama ini mengganggu hidupnya. Senyum saat tiba tiba merasa kesedihannya berkurang drastis. Senyum saat bisa membayangkan dirinya memegang piala kemenangan.

Terutama, senyum saat berkata.

“Sekarang berangkat sekolah kok terasa ringan ya bu?” *abaikan kekurang ajaran mereka memanggil saya bu padahal harusnya kan panggil kakak* huaaa

Sungguh saya super jaim saat ini karena sesungguhnya kalau boleh saya mau joged joged sambil nyanyi I love to move it move it 󾠀󾠀󾠚󾠚

Ijinkan saya bercerita kisah ini di pagi Senin yang mendung. Sekedar menyampaikan terima kasih atas dukungan semua teman donatur, relawan, partner yang diam diam mendoakan dan mensuppSedekah Oksigenigen.

Yesterday, it was your love that touches their heart. I was honored to witness it all.

Again, thank you. Stay close. Stay in touch.
Mari kita lanjutkan bergandengan tangan ini buat mereka.

 

Jakarta Short Escape: Scientia Park

Salah satu mimpi saya adalah meninggalkan Jakarta kemudian tinggal di satu kota sejuk, udaranya atau hawanya atau keduanya, semacam Salatiga Magelang Malang atau Yogya, kota sejuta kenangan.

Entah buat temen-temen semua, buat saya tinggal di Bintaro saja, yang pinggiran kota Jakarta, rasanya melelahkan. Saya banyak kehilangan kesenangan yang dulu sering saya lakukan. Mau nonton theater jam 8, harus berangkat dari rumah jam 5 sore, jelas mengganggu jadwal latihan Genta. Mau janjian makan malam sama pacar, itu artinya dia harus pulang jam 3 dari kantor supaya bisa sampai rumah pas maghrib. Hiks, Jakarta memang bukan kota kesayangan saya.

Karena itu setiap wiken, libur kecepit atau cuti yang disengaja dengan alasan apa pun, saya dan suami suka jalan-jalan, sekedar hirup udara segar, foto-foto dan melihat Genta dan Puti lari-lari di tempat yang luas. Yes, bahkan tempat lari-lari yang luas yang ada rumputnya pu  adalah sebuah privilege yang harus sengaja kami cari.

Nah kebetulan akhir Desember 2015 kemarin seorang sahabat dari #sedekahoksigen datang dari Surabaya. Tentuuuu kami menyambut gembira kesempatn buat short escape ini. Kali ini kami escape di seputaran Bintaro Serpong saja… hehehehe….

Setelag puas mengelilingi Ikea, saya dan sahabat saya, Mbak Asti langsung ke Scientia Park Serpong. Hiks, kasihan banget yaaa oranag Jakarta ini. Kalau denger taman kok semrinthil.

Etapi ini taman lumayan looooo buat short escape. Gabungan yang cocik buat ayah, ibu dana anak-anak. Sayang foto tempat bermainnya belum dikirim suami saya, nanti saya update yaaa….

Sementar menunggu foto lengkap, lets see bisa ngapain aja di sini ya…

Ada rerumputan yang cukup luas buat anak-anak main lari-larian. Amaaaan, kalau pun jatuh, lukanya tipis, gak kayak luka kena aspal. Sementara anak main bola di rumput atau lari-larian atau bahkan glundhung-glundhungan dari bukit mini, ayah dan ibu bisa santai istirahat di atas bantal besar sambil sesekali foto. Hehehehe.

Ada juga kolam kecil tempat anak-anak bisa main air. Aaah, nanti saya carikan fotonya. Pasti seneng deh anak-anak kalau disurug main air. Belum ayunan, baik yabg konvensional maupun yang cukup besar buat bikin orang dewasa muntah-muntah selesai naiknya. Hehehehe.

Ada panjat dinding, tempar khusus buat main roller skate, oeminjaman inline skate atau sepatu roda. Bahkan ada sepetak sawah kecil, buat mengajarkan anak-anak tentang asal juasal makanan, in case Anda belum pernah kasih tahu mereka. Ada taman kupu-kupu juga…

Lapar? Sekitar 50m dari pintu keluar langsung berjejer penjual makanan. Mau makanan kecil atau makanan besar? You name it, banyak banget. Bahkan pas terakhir kami datang, ada pertunjukan music live. Seru kan?

Tiket masuknya 25rb kalau gak salah di weekend, di weekdays 15rb. Dan taman ini tutup jam 10 malam. Makin malam makin syahdu main di sana. Kami meninggalkan taman saat itu sudah hampir jam 11 malam. Itu pun anak-anak keberatan sekali pulang, cuma kami nya yang sudah ngantuk.

So, cuma punya setengah hari buat bersenang-senang sama anak-anak? Ke scientia park menurut saya bisa banget.

image

Itu dia bantal besarnya... bisa buat tiduran bertiga... padahal saya size XL looooo

image

Puti mainan uap air yang dikasih lampu warna warni.... seru kan?

image

Pas warnanya berubah tu lampunya....

image

Sedikit sawah buat mengenalkan asal muasla makanan ke anak-anak

image

Itu lapangan rumputnya tempat anak-anak bisa lelarian. Backgroundny lampu warna warni....

Bedtime Story

Sudah sejak lama, Genta selalu dibacakan setiap kali mau tidur. Kalau gak, bisa pecah perang dunia di kerajaan kami. Jadi sengantuk2nya sejengkel2nya secapek2nya kami, selalu ada yang mbacain cerita buat Genta. Kecuali kasus khusus, pulang terlalu malam, dia sudah ketiduran, terlalu , maka selalu ada cerita sebelum tidur buat ksatria kami.

Biasanya ayahnya yang mbacain. Namun karena satu dan lain hal, which is kemacetan Jakarta yang nggilani hari ini, saya yang kemudian mbacain critanya.

Judulnya “Siapa yang akan jadi raja”

Ceritanya hutan pohon besar lagi mau pemilihan raja. Singa, harimau, elang, gajah menemukan alasan masing2 buat menjadikan dirinya raja. Sementara si tupai, yang sibuk memikirkan siapa di antara 4 yang mau jadi raja itu, yang bisa jadi raja, dengan cara yang adil. Kenapa tupai yang sibuk? Karena tupai ini memang terkenal ringan tangan, suka membantu memecahkan maslah orang lain.

Singkat kata singkat cerita, aku dan dia jatuuuuh cinta. Cinta yang dalam sedalam laut, laut meluap cinta pun hanyut. Jatuh cinta ayo ta…. *oh sori, malah nyanyi*

Nah, akhirnya tupai mengusulkan buat pemungutan suara. Karena apa? Karena raja kan memimpin semua hewan, jadi semua hewan harus terlibat pemilihannya. Bukan cuman siapa yang mau. Naaaah, hasil vvvoting *baca dengan v yang berat* malah menunjukkan suara terbanyak adalah TUPAI. Tupailah yang jadi raja, karena dia yang selalu membantu menyelesaikan maslah teman2nya.

Paragraf terakhir dari cerita itu yang semoga tertanam betul di Genta, harapan saya adalah…

“Dan tupai pun menjadi raja hutan pohon besar. Dan dia semakin banyak mendengarkan masalah hewan2, semakin banyak membantu menyelesaikannya, semakin rendah hati dan semakin dicintai oleh rakyatnya”

Somehow saya teringat Umar bin Khattab, sang ksatria sejati favorit saya, dengan cerita beliau yang membantu seorang suami yang istrinya mau melahirkan. Umar bin Khattab memang selalu mengundang bulu kuduk saya berdiri atas “kekuatan” nya.

Yaaah, seru ya. Jaman dulu, rakyat punya Umar bin Khattab. Hutan pohon besar saja punya raja tupai. ‪#‎demikian‬ ‪#‎theend‬ ‪#‎endofstory‬ ‪#‎selesai‬ ‪#‎nggantungyoben‬

Eh eh bedtime story mu apah?

Ada & Bermakna

Jaman dulu saya inget betul tren banget handuk pakai nama kita. Wah yang punya jelas orang berkelas lah waktu itu. Padahal mah hiasannya cuma garis garis doang. Udah seneeeeeng banget. Namanya anak-anak.

Terus tren nya bergeser, tas dikasih nama. Saya sama adek adek juga punya itu. Seruuu bener kesannya, naik kereta senja utama, nenteng tas ada nama kami masing2. Yesss, kami kecil di masa senja utama my dear. Kereta eksekutif belum ada waktu itu. Huaaaa….. ketahuan umurnya.

Terus ada juga tren label nama. Yang berduit label namanya ukurannya gede, ada gambarnya sanrio, hello kitty, mickey mouse. Doraemon belum nyampe pada masa itu. Apalagi ben ten sama hot wheels. Sudahlah, masih dinperut ibunya masing2, kalau istilah Genta.

Ada apa ya soal anak2 dan benda bernama mereka? Kok nampak spesial sekali? Aaaah, anak2 hidup di dunia orang dewasa yang asing, bising dan kadang tidak ramah. Bayangkan saja, di mata anak2, pintu mal itu jelas tinggiiiiii sekali. WC umum jaraaang yang ada ukuran tinggi mereka. Naik mobil pun kadang harus dibantu. Sepatu anak tempatnya nyempil di antara deretan sepatu orang dewasa. Mereka seperti ngekos di dunianya orang dewasa.

Maka barang bernama mereka seperti oase. Sebuah kedipan dari para orang dewasa yang menyayanginya, bahwa dunia ini juga milik mereka. Sebuah anggukan yang menenangkan dari orang dewasa yang mereka percayai, bahwa mereka juga diakui hadirnya. Ada. Nampak. Dan berarti.

*status serius mengandung iklan*

Kontak japri yang berminat sama handuk namanya. *wink

Happy New Year from @butikbocah

Happy new year… Maaf ya bun, agak telat….
Hiks, tahun 2014 ditutup dengan sedih nih ceritanya, owner kehilangan ibu yang meninggal akhir desember kemarin

Jadi pengen ngingetin temen2 tersayang soal menyayangi orang tua. Terdengar klise memang, tapi bunda dan ayah yang sekarang sudah punya bocah kecil pasti paham kan, gimana sayangnya ortu itu sama anak2nya? I know you do. Bayangin aja kalau bunda sakit, serumah jadi kayak sedih dan kelabakan. Betul kan?

Sekalian share ah, ummi dalam bahasa arab, kabarnya memiliki arti menuju. Itu makanya dalam keluarga, semua anggota seperti menuju ke sang bunda. Mulai cari kaos kaki bocah, kacamata ayah atau mungkin sekedar menunjukkan bangunan dari lego yang baru dibuat.
Saya baru paham juga kenapa anak2 senang sekali gelendotan di saya. Haaa, semoga semua bunda diberkahi kesabaran dan keikhlasan buat mengurus bocah2 kecilnya. Dan semoga orang tua kita semua ditinggikan derajatnya ya, di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Juga semoga sukses, bahagia dan barokah menghujani kita semua di tahun 2015 dan selanjutnya. Muaaachh…

image

#komikbutikbocah #ilustrasibutikbocah #mom #ibu #2015 #butikbocahparenting

My Shoes vs. Gen Y Shoes

Dunia pewayangan gegeeerrrr…….

Pregnancy Empathy – Blog Fanny Herdina

*mari kita tarik napas sebelum mulai menulis*

Sudah sejak lama saya ingin menulis dengan tema ini, tapi lagi lagi saya kesulitan menemukan kata sifat yang tepat untuk jadi ide utamanya. Nah, gegernya dunia pewayangan beberapa hari belakangan membantu saya menemukan kata sifatnya.

Sebut saja Bunga -nama samaran-red-. Jiaaah, dia juga ga keberatan kok kayaknya jadi topik pembicaraan di sosial media, jadi ya sudahlah. Kegegeran dimulai dari posting-an di bawah ini. Buat yang ngerasa tua, please tarik napas dulu sebelum baca, ok? Buat yang muda, juga tarik napas, karena dalam beberapa detik ke depan, Anda akan merasakan perasaan maluuuuu sangat berada pada kohort yang sama dengan si Bunga ini,

ABG Edan - Blog Fanny Herdina

Begitulah mbak cantik ini berkicau di halaman personalnya. Gak bisa terlalu disalahkan memang, karena itu halaman personalnya. Semacam teras rumahnya lah. Tapi doski *biar sekalian ketahuan umur gw berapa* tereak tereak di teras bok, jadi ya wajar juga sih ya kalau yang lewat ngerasa terganggu dan mulai ngrasani sama orang lain. *enough for Bunga*

Sekarang giliran saya. Saya juga punya sederet komplen soal anak-anak se-kohort mbak-teteh-uni-apa pun lah sebutannya *orang-orang sekohort saya gak biasa manggil cuman nama say, maaf*.

Satu nih. Tetangga saya punya motor nih, Ganti-ganti motornya. Dulu vespa. Sekarang motor cowok gitu deh *jiaaaah motor dikasih jenis kelamin*. Nah biarpun ganti motor, tapi rupanya soal selera memang sulit berubah cuy. Selera anak tetangga saya ini hmmm… anu…. hmmm…. suara yang keras-lah, sebut saja begitu. Vespa dia, waktu dinyalain dulu, bikin ayah saya bangun dari tidurnya terus batuk-batuk, menjelang beliau meninggal awal tahun 2012. Ah, saya sibuk berduka, jadi saya cuekin. Walaupun saat ayah saya meninggal pun, dia ga muncul di rumah saya. Tetangga saya man, tetangga 1 tembok. Nah motor barunya ini kalau dinyalain, berhasil dengan sukses membangunkan Puti dari tidur siangnya. plus juga membangunkan bibi-bibinya dan utinya sekaligus. Waktu saya ingetin, dia marah-marah dari balik pintu rumahnya dan mengusir ibunya suruh pergi. Fiuuh.

Kedua. Pernah ngantri di McD yang buka 24 jam gak, di malam Minggu? Yes. Asep rokok. DSLR nganggur di meja atau dipakai dengan mode AUTOMATIC. Obrolan dengan suara keras diiringi kata “anj*ng” “bangs*t” “mony*t”. Itu sesudah mereka ngantri di depan kasir selama minimal 45 menit, karena dilema besar menghantui mereka, yaitu mau pilih french fries aja atau ice coffee aja. Juga sesudah mereka membayar ke mas/mbak kasir tanpa mengucapkan terima kasih, tentunya. Ganggu gak?

Ketiga ya, terakhir ah, males bahasnya walaupun bisa sampai 45 sih nomernya. Uhuk. Ketularan lebay gw. Cara mereka nongkrong seenak udelnya di depan Her* atau Indomar*t yang udah jelas-jelas gak nyediain kursi, setelah mereka beli sebotol air mineral, itu ganggu banget. Ga kinormat banget sama mbak/ mas cleaning service yang mau bersihin lantai. Kalau ditegur satpam, terus sok ngomong “gak asik gak asik”. Lah, memang situ asik?

Anyway….. *tarik napas lagi dah* Kemarin-kemarin saya anggap perilaku mereka sebagi “ya sudahlah”. Walaupun gondok dan selalu dilanjut dengan menggandeng Genta di depan mereka sambil bilang,

“Genta, kayak begitu itu tidak baik ya mas, jangan ditiru. Itu namanya tidak sopan. Kalau habis bayar, bilang terima kasih. Bla bla bla”

Tapi ketika gegernya sampai membawa-bawa orang hamil dianggap egois. Rasanya logika saya gak mampu lagi mengikuti logika mereka. Berangkat subuh? saya pernah mbak. Tulang nggeser? Udah pernah jatuh terduduk pas naik gunung? Kalau belum ,gimana kalau rasain dulu? *jiaaah, gw ketularan dia* *please stop me*

Intinya kegegeran ini membuat saya ngobrol sama suami. Hasil obrolan kami yang sangat sepihak ini -cuma pihak orang hampir 40an saja maksudnya- menyimpulkan segala kenyamanan hidup ternyata berefek negatif bagi generation Y ini. Tentunya tidak semua, tetap ada beberapa yang menunjukkan kemampuan empati yang luar biasa.

Semacam gini deh. Kalau Anda hidup enak terus dan tidak dilatih untuk bersyukur, dari mana Anda belajar menghargai kerja keras orang lain? Dari mana Anda belajar bahwa ada orang yang hidupnya mungkin tak seberuntung Anda? Dari mana Anda belajar bahwa untuk sebagian orang, hamil dan berhenti bekerja itu bukan pilihan? Dari mana Anda belajar bahwa beberapa orang itu bahkan belum pernah lihat yang namanya I-Phone? Jangankan punya atau beli, megang tu belum pernah, lihat gambarnya aja mungkin di koran? Tentunya sulit ya.

Di salah satu web yang menceritakan ciri Generation Y, nomor satu cirinya adalah, saya kutipkan,

“Tidak sabaran, tak mau rugi, banyak menuntut”

Again, tentunya tidak semua seperti itu. Tapi kegegeran dunia pewayangan di atas mungkin mengacu pada ciri ini yang dominan pada si Bunga dan beberapa komentator di bawahnya. Tidak sabar dan banyak menuntut nampaknya adalah hasil dari perilaku self-centered yang berlebihan. Sehingga tidak membuka ruang bagi mereka untuk berempati, untuk melihat melalui kacamata orang lain. Atau berjalan memakai sepatu orang lain. Dalam rangka apa mereka mau pakai sepatu orang lain wong sepatu mereka udah enak banget dipakenya?

Kehilangan empati memang tugas berat untuk dibetulkan jika terjadi pada usia Bunga. Kecuali sesuatu yang intens terjadi padanya dan mampu mengubah seluruh paradigmanya plus cara merespon dunia luar. Tanggung jawab siapa? Gak usaha gaya deh menuduh dunia pendidikan bertanggung jawab atas ini, ya jelas sekolahan bertanggung-jawab. Orang tua juga bertanggung jawab. Tapi itu tanggung jawab yang private yang gak manis disobek-sobek di muka umum seperti di blog saya ini.

Gimana dengan tanggung jawab kita sebagai masyarakat? Apa yang sudah kita lakukan untuk bersama-sama memetik kekuatan Generation Y dan memotong ranting-ranting busuk mereka? Apakah kita sudah….

  • mengingatkan mereka untuk membuang sampah di tempatnya karena yang kebanjiran bisa jadi bukan rumah mereka, tapi mereka tetap bisa ikut berkontribusi mencegahnya
  • mengingatkan mereka untuk tidak merokok di sembarang tempat, walaupun tempat umum dan ada tanda boleh merokok, terutama kalau berdekatan dengan orang hamil, orang tua, anak-anak atau orang-orang yang memberi kode dengan manis melalui batuknya
  • mengingatkan mereka bahwa di luar sana ada banyak orang yang butuh kerjaan, rela bekerja apa pun demi memberi makan anak istrinya sehingga tidak etis bagi mereka menolak begitu saja pekerjaan karena alasan yang tidak esensial
  • mengingatkan mereka bahwa antri itu tanda orang berpendidikan bukan tanda pecundang atau orang yang takut sama mereka
  • mengingatkan bahwa sebaiknya hobi itu bukan yang mengganggu orang lain, punya motor berisik misalnya, piara anjing tapi gak pernah dikasih makan misalnya
  • mengingatkan bahwa terkadang senyum dan menundukkan kepala sedikit ketika bertemu orang adalah tanpa sopan santun yang umum, bahkan di dunia internasional yang biasanya mereka bangga-banggakan
  • mengingatkan bahwa di luar negeri tren memanggil orang itu dengan “dear” “honey” bukan monyet, anjing atau kutil, masak gaya baju ikut luar negeri kelakukan jaman jahiliyah
  • mengingatkan bahwa merawat dan menjaga kerapian rambut itu penting, tapi melempar poni ke kiri kemudian menyibakkannya kembali ke kanan pakai tangan setiap 2 menit sekali itu mengganggu, bahkan menunjukkan rendahnya tingkat PD mereka
  • mengingatkan bahwa berbaju rapi dan bersih saat keluar rumah itu baik, tapi bukan berarti sibuk ngaca setiap kali ada cermin atau selfie-an di sembarang tempat

Yess. Saya yakin Anda bisa menambahkan sendiri daftarnya. Silakan tambahkan di komen ya, sekaligus tinggalkan link blog Anda, saya saya tambahkan ke dalam tulisan ini bersama link-nya. Itung-itung selain komplen, kita sedikiiiiiit berkontribusi menyampaikan ini ke dunia *gak janji juga bakal sampai ke mereka sih* tentang hal-hal yang mungkin bisa kita lakukan bagi generasi yang tidak mau merepotkan orang lain itu.

Pssst, kalau baju sepatu tas belum bisa bikin sendiri benernya itu juga masih merepotkan sih bok. Apalagi masih kerja sama orang, itu juga ngerepotin. Belum lagi kalau mulutnya kayak gitu, itu juga merepotkan sih. Jadi ya, saya simpulkan doa Bunga belum diijabah nampaknya. Dia masih merepotkan banyak orang. Yang bantuin ibunya ngelairin, juga repot. DOkter yang betulin tulangnya yang nggeser juga repot. *priiiit Fan, priiiit, enough*

Sebagai penutup, sebelum acara ramah tamah dimulai dan lagu kemesraan dikumandangkan *hanya yang bukan Gen Y yang paham ini nampaknya*, gambar di bawah mungkin bisa jadi pengingat yang manis. Selamat malam teman-teman. Selamat malam Bunga, semoga tempat tidur, kasur dan sprei tempatmu tidur malam ini buatanmu sendiri, sehingga tidak merepotkan orang lain. Banyak cinta kukirim untukmu, karena …… *mari katakan ini bersama-sama dear readers* 

hanya orang kekurangan kehangatanlah yang mampu mengeluarkan kata-kata sedingin itu

*meminjam ungkapan kakak kelas saya di salah satu status facebook-nya*. Muaaaah *cium basah*

Berikan kursi - Blog Fanny Herdina

Mama Lebay

image

 

Lihat tulisan ini di facebook teman, terus ketawa sendiri.

Nomor 1, betul banget. Waktu Genta dan Puti bayi, kalau gak ada asisten dan suami harus berangkat pagi. Mandi berarti nunggu suami pulang, yaitu jam 8 malem, atau jam 5 sore dengan pintu kamar mandi dibuka dan bayi duduk di kursi di depan pintu kamar mandi. Jangankan cuci muka pakai pembersih, sempat handukan sampai kering aja, udah alhamdulillah nya panjaaaang bener.

Nomor 2. Nah ini yang sempet bikin nangis. Tetangga depan rumah suka kedatangan tamu yang pakai baju rapi. Hiks. I call it smart dress. Terus karena lagi melow, jadi inget jaman kerja pakai blazer, beli baju cantik, pakai asesoris, huaaaaa. Jadi pengeeeeen.

Nomor 3. Hihihihi, waktu nikah suami kasih hadiah satu set perhiasan, semua bentuknya hoop, lingkaran. Anting2 yang paling bertahan dipakai. Cincin kawin hilang dijual orang. Liontin dan kalung jarang dipakai. Gelang apalagi. Anting selamet dipakai sampai Genta mulai narik-narik buat gondhelan pas belajar berdiri. Well, selamet sampai sekarang gak pake anting. Sempet sih pake anting sebelum Puti lahir beberapa bulan, tapi sekarang udah lepas lagi. Until then, hoop earrings.

Nomor 4, emang dari dulu ga pake heels sih sepatunya jadi aman. Cuman ribet aja pas kondangan. Kenapa ribet? COba aja gendong bayi atau nitah bayi pake rok span sama high heels. Then we’ll talk yey?

Nomor 5 kupikir lebay. Sampai beberapa bulan lalu, gigi depan saya gumpil nggigit garpu. Ceritanya karena mulai pusing, maksain makan pas Puti belum tidur. Karena ga tenang di kursinya, pas lagi masukin makanan ke mulut, lompatlah saya lihat Puti yang hampir jatuh. Garpu belum keluar dari mulut saya gigit. Aduuuuuh, itu linunya beberapa hari ga hilang. Dan gigi depan saya gumpil. hihihih.

Eh eh eh. Ini bukan mengeluh atau tidak bersyukur. Ini cuman cara mengingat bahwa saya tidak sendirian melakukan pekerjaan ini. Saya nulisnya juga pakai senyum-senyum kok. Senang aja, ternyata yang saya rasakan itu skalanya internasional. Wong yang pakai bahasa Inggris juga ternyata ngalamin. I have an international experience. Do you have it?

Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?

Catatan kecil keluarga kami: I’ll love you for a thousand more

http://fikihfikih.blogspot.com/2012/06/ill-love-you-for-thousand-more.html?m=1

What can I say. I really wish I don’t have reason to be angry at smokers, but I do. And there are lots of it.

But I guess I’m still not credible enough to be listened at this peculiar matter.

Segala doa terbaik teriring bagi semua anak yang tidak mampu memilih orang tuanya. Semoga kalian semua sehat walafiat. Dan tidak menganggap kami kurang mencintaimu.