The One That Warm My Heart (& Eyes)

Mau share sesuatu hari ini

Udah tahu kan kalau kemarin hari Minggu, Sedekah Ilmu Goes To School perdana berlangsung di Bogor? Tepatnya di desa Caringin Bogor.

Sekian tahun yang lalu saya sering ke sana bahkan bisa nginep 2 minggu buat kasih training korporate komunikasi terbesar di Indonesia yang warnanya merah itu. Hahaha. Jelas yak?

Waktu itu saya dibayar lumayan dan ketemunya sama orang2 lulusan universitas keren2 yang kalau nama universitasnya disebut bakal greng lah dengernya. Mereka ga punya mimpi jalan2 ke luar negeri, karena terlalu sering udahan.

Kemarin saya datang lagi ke tempat yang cukup familiar ini. Seperti nostalgia. Kali ini saya punya misi berbeda. Sekitar jam 7.30 saya sampai ke sebuah MA yang anak2nya sedang belajar bermimpi. Saya dibikin speechless sama anak anak ini.

Awalnya mereka sedikit ragu bicara mimpi. Nampaknya mungkin ga terbiasa bermimpi. Tapi semangatnya makin meningkat seiring sesi makin panas.

Di akhir hari, mimpi mereka semakin jelas. Saya quote kan sebagian WFO mereka…

“Saya berdiri di panggung bersama teman teman paduan suara saya, selesai bernyanyi di kontes Internasional di Amerika tahun 2020”

“Saya melihat baju baju muslim rancangan saya diperagakan oleh para model di acara fashion show international dan saya mendengar tepuk tangan para penonton tahun 2025”

“Saya berdiri di atas pegunungan sedang mengambil gambar dengan sudut yang berganti ganti supaya hisa menjadi fitur di surat kabar tempat saya bekerja”

Now. You tell me how you feel membaca WFO macam itu dari remaja kita. You tell me.

Yes, now you feel me, right?

Memang benar Soekarno waktu bilang masa depan bangsa ada di tangan para pemuda ya?

Bayangkan kalau tiap remaja di bahkan di pelosok dapat kesempatan buat mengeskplor mimpinya dan diberi tools untuk mengejarnya. Pemuda #AntiGalau istilah mereka. Hehehe.

Sampai sekarang saya teringat ekspresi wajah mereka. Senyumnya salah satu dari mereka saat berhasil melupakan kejadian yang selama ini mengganggu hidupnya. Senyum saat tiba tiba merasa kesedihannya berkurang drastis. Senyum saat bisa membayangkan dirinya memegang piala kemenangan.

Terutama, senyum saat berkata.

“Sekarang berangkat sekolah kok terasa ringan ya bu?” *abaikan kekurang ajaran mereka memanggil saya bu padahal harusnya kan panggil kakak* huaaa

Sungguh saya super jaim saat ini karena sesungguhnya kalau boleh saya mau joged joged sambil nyanyi I love to move it move it 󾠀󾠀󾠚󾠚

Ijinkan saya bercerita kisah ini di pagi Senin yang mendung. Sekedar menyampaikan terima kasih atas dukungan semua teman donatur, relawan, partner yang diam diam mendoakan dan mensuppSedekah Oksigenigen.

Yesterday, it was your love that touches their heart. I was honored to witness it all.

Again, thank you. Stay close. Stay in touch.
Mari kita lanjutkan bergandengan tangan ini buat mereka.

 

Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Watching The Clear Blue Sky

Waktunya sore-sore, di kota yang terkenal sama hujan dan angkotnya. Tiba-tiba badan ingin sekali digeletakkan di atas rumput hijau. Begitu kepala rebah, mata langsung terpukau dengan keindahan awan biru di atas sana. Kata-kata yang keluar dari mulut saya adalah;

“Kapan ya terakhir kali lihat langit kayak gini? “

Semakin diingat, semakin yakin. Terakhir kali menggeletak di rumput hijau menatap langit sudah lamaaaa sekali.  Mungkin waktu umur saya masih kepala 2. Hehehe. Ketahuan deh umurnya.

Ya. Saya suka sekali lihat benda-benda langit saat teduh. Bulan. Bintang. Langit biru. Awan. Burung pulang ke sangkar. Saya baru ingat betapa sukanya saya sama hal-hal itu. Segala rutinitas yang sudah sengaja dibikin gak rutin itu, ternyata tetap bikin saya lupa sama keindahannya. Keindahan yang bikin hati rasanya adeeeeem banget.

Duluuu sekali, waktu muda. Saya suka naik ke atap saat bulan purnama. Tidur di atas menikmati bulatnya bulan. Sungguh indah lo. Itu dulu. Sekarang tidur di atap, efeknya panjang pasti. Masuk angin. Muntah-muntah. Halaaaah, umur gak bisa dikibulin memang. Saya juga suka sekali nongkrong di bawah tiang bendera kampus sore-sore menjelang maghrib, sambil tiduran ngeliatin langit biru.

Sudah lamaaaa sekali saya tidak dengan sengaja tiduran dan memandang langit biru. Kalau kata Barney, doing nothing. Ternyata efeknya tetap sama. Bikin hati adem. Otak semacam di-defrag. Dan super refresh. Cobain deh.

-pulang dari Kebun Raya Bogor, 26 Nopember 2011

LOWONGAN for TUMBLE TOTS BINTARO

 

LOWONGAN TEACHER & ADMINISTRATION for TUMBLE TOTS BINTARO
(An Internationally Recognized Pre-school)

Requirements
Degree from any major, fresh graduate are welcome
English literate, spoken & written
– Loving children & specially love working around them
– Feeling energetic & creative

Send your CV to fannyherdina@yahoo.com. TQ.

People DO NOT CHANGE

Manusia itu gak berubah kok… dari jaman Nabi Adam sampai sekarang….

Begitu kalimat yang bulan puasa lalu saya dengar di pagi buta. Lumayan membuat mata membelalak. Lumayan membantu saya bangun makan sahur. Lumayan. Cuman kepala saya jadi bertanya-tanya. Yakin itu kalimat bener?

Manusia itu gak berubah? Jadi yang dibilang people changes itu PLASU? Eh, PALSU maksud saya.

Time flies. Dan saya masih belum dapat jawaban yang memuaskan dari pertanyaan saya malam itu. So, people DO NOT CHANGE?

Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah pelatihan. Salah satu pelatihan favorit saya. Di mana saya bisa menangis, tanpa mengundang tertawaan orang lain. Jangan salah. Mata saya mudah sekali mengeluarkan air mata. Lihat film FRIENDS, saya nangis. Lihat So You Think You Can Dance, becek juga mata saya. Apalagi di pelatihan, di mana otak dan hati dibulak-balik? Pastinya saya nangis. Lha wong jadi trainer, dengerin trainee-nya cerita masa lalunya, saya malah yang nangis kok. Yup. Anyway, di pelatihan favorit saya ini, saya bebas menangis. Yihaaaaaa.

Ups. Back to laptop. Di pelatihan ini, intinya perilaku peserta jadi super terkendali. Sopan. Antri makan dengan tertib. Mau jalan juga bilang permisi. Berhenti gak di tengah jalan. Ampuuuun, ini salah satu yang bikin saya suka sama komunitasnya. Nah, pas di pelatihan kemarin, trainernya tanya sama kami, para peserta. Siapa yang mau bantu orang di gambar ini? Ratusan orang angkat tangan. Idenya macem-macem, berasa makan es buah. Selalu ada kejutan dari tiap gigitannya. Tapi intinya, mereka semua mau menolong sosok di depan. Dengan mudah dan bersemangat. Sebuah kenangan yang indah tentang “manusia”.

Waktu gunung Merapi meletus beberapa waktu lalu. Seorang teman yang asli dari Yogya bercerita tentang sebuah panti asuhan yang butuh genset. Dibutuhkan dana sekitar 4 juta. Setelah minta ijin pada yang bercerita, saya langsung ajak beberapa teman buat saweran 150.000 an buat beli gen set itu. Kurang dari 2 minggu dana terkumpul. Langsung transfer ke teman saya di Yogya yang rumah mertuanya tetanggaan sama panti asuhan itu. That small genset problem solved. Ingat lain tentang “manusia” yang indah.

Duluuu sekali, saat tulang muda masih bergejolak, saya pernah jatuh dalam pendakian ke Gunung Sindoro. Bukan pendakian tepatnya, saya jatuh saat turun dari puncak Gunung Sindoro. Seorang teman yang tidak mengenal saya dengan baik, menawarkan diri menemani saya tinggal di atas sampai bala bantuan datang keesokan hari bersama matahari yang penuh harapan. Masih tentang “manusia”.

Suatu potongan waktu di Yogya, seorang teman mengeluh pada teman lainnya tentang kesulitan keuangan. Teman pertama butuh uang untuk bayar SPP-nya. Teman kedua dikenal anak keluarga kaya, mengaku tidak pegang uang cash. Tapi buru-buru melepas jam tangan merek mahal miliknya. Sambil berkata, “Mungkin ini bisa digadai atau dijual.” Manusia.

Seorang kenalan mendedikasikan waktu luangnya untuk mengjaar GRATIS bagi anak-anak yang terpinggirkan, dalam misi untuk anak Indonesia-nya. Manusia.

Seorang kawan yang lain, menyediakan waktu 2-3 kali seminggu untuk mengadakan cara bermain bersama anak-anak di sekitar rumahnya. Manusia.

Papah saya baru-baru saja didiagnosa ada benjolan di paru-paru kirinya. Tiba-tiba setiap orang yang mendengar berita itu mampir ke rumah saya, tempat papah dan mamah menginap selama di Jakarta, menawarkan alternatif penyembuhan. Saudara di Semarang meminta fotokopi hasil rontgen buat dibawa ke dokter herbalis di kota lumpia itu. Saudara di Kudus tiba-tiba mengirim propolis yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tante di Cinere rela pagi-pagi nongkrong di Rumah Sakit, ngantri nomor buat papah, yang akhirnya masuk ke ruangan dokter baru jam 2. Aaaah. Inikah “manusia” sama yang tidak pernah berubah itu?

Sekarang saya mengamini kata ustadz Qurais Shihab tentang manusia tu pada dasarnya tidak berubah. Ibu dari dulu menyayangi anaknya. Ayah dari dulu ingin memberikan nafkah terbaik bagi keluarganya. Manusia memang tidak pernah berubah, pada inti kebaikannya. Pada dorongan murni untuk berbuat kebaikan.

Thank God I’m human.

Bintaro, September 2011

Emptyness

 “Emptyness is the beginning of perfection”

Begitu kira-kira kalimat yang terngiangngiang di telinga saya. Setelah menonton video tentang Borobudur beberapa tahun lalu. Kalimat itu juga jadi bola panas di tangan teman-teman saya, para pengajar bahasa Inggris di Yogya. Setiap kali ada yang bengong, digodain, dibilang otaknya lagi menuju perfection. Hahaha. I was sooooo very young. And it was a great great time.

 

Beberapa bulan yang lalu, ada juga kejadian soal emptyempty nih di rumah saya. Adek saya, Fatriya, setiap kali lagi bantuin saya gantiin baju Genta. Selalu saja dia teriak, “Mbak, mbok Genta itu dibeliin baju to. Baju kok cuman 5, yang 3 seragam sekolah.” Hahaha. Waktu itu saya pikir, la buat apa baju banyak-banyak, wong Genta kalau keluar rumah juga cuman sekolah sama weekend. Kan pas tuh? Sekolah seragamnya 3, 2 hari weekend pakai baju sisanya. Main pasir ngapain pakai baju bagus-bagus?

Genta punya bertumpuktumpuk kaos singlet, baju tipis rumahan, celana pendek dan celana panjang buat tidur. Dan waktu itu memang cuman 5 kaosnya yang “layak” buat dipakai pergi. Kami –saya dan suami- memang bukan pembeli pakaian. Kalau diingat-ingat, saya terakhir beli baju yang cukup banyak waktu tahun 2008, sebelum Genta lahir, di Bandung. Belakangan karna adek bungsu saya jualan baju, jadilah saya beli beli baju lagi. Prinsip yang sama berlaku buat Genta. Beli baju sesuai kebutuhan saja.

Karena bosan diteriakin terus-terusan sama Iya, saya beride untuk create empty space di lemari Genta. Sebagian bajunya saya pilih dan saya berikan ke beberapa orang yang masih punya anak kecil dan bisa memakai baju-baju itu. Loh, baju cuman sedikit kok malah dibagibagikan? Tenaaaang. Ini tips lama dari mamah saya.

Sejak kami kecil, menjelang bulan puasa atau mau tahun ajaran baru. Kami punya ritual. Kalau orang lain ritualnya motong ayam. Kami gak seserem itu. Namanya juga ritual. Tujuannya buat melancarkan segala sesuatunya. Kata mamah. Kami beresin lemari. Kami –saya dan adek-adek saya– harus milih baju-baju yang sudah cukup lama ga pernah kami pakai, dan menyerahkan baju-baju itu ke orang-orang yang bakalan lebih butuh daripada membiarkan baju-baju itu mondok di lemari kami, kayak tikus nungguin penghuni rumah pergi tidur.

Mamah selalu bilang,

Lihat saja. Begitu lemari kalian kosong. Pasti ada aja yang bakalan ngisi.”

Dalam hati saya bertanya-tanya, saya yakin adek-adek saya juga,

Siapa yang mau ngisi kalau bukan mamah papah?”

Tapi otoritas tentunya yang paling menentukan tindakan waktu itu. Kalau mamah bilang beresin lemari. Artinya apa? Yaaaa, kami harus beresin lemari. Titik. No negotiation.

Kembali soal Genta. Alkisah, singkat cerita, laci Genta yang cuma 3 biji berukuran sekitar 30 x 10 x 50 cm itu, nampak melompong. Rapi. Bersih. Dan kosong. Sudah. Selesai tugas saya. Apa saya langsung tergopoh-gopoh ke Tanah Abang buat belanja baju Genta? Waaah, gak ada magic-nya kalau ceritanya ber-ending ke situ. Gak. Saya lagi mau ngetes. Hahaha. Bukan bukan. Saya lagi mau mengulang pengalaman yang sudah berulangulang saya buktikan.

I create empty space. And I shall wait the universe to fill it in.

Sekitar bulan lalu, saya main ke Semarang. Di hari ke 4 atau 5, tiba-tiba adek bungsu saya beresin lemari keponakan saya, Arci. Pakaian Arci banyak banget. Banyak juga yang sudah kekecilan. Bagus-bagus. Tanpa saya minta, tiba-tiba dia bilang,

”Mbak, ini bajunya Arci udah kekecilan, buat Genta aja.”

Ya Allaaaaah. Mantranya bekerja. Masih ampuh juga. Itu baju banyak banget. Jauuuuh lebih banyak dari baju yang kemarin dikeluarin dari lacinya Genta. Dengan semangat, saya pack baju-baju bekas itu dan saya bawa ke Jakarta. Semuanya muat buat Genta. Semuanya masih sangat layak dipakai. Dan laci Genta super penuh. Jauh lebih penuh dari sebelum saya keluarin baju-baju Genta. Baju-baju bekas yang dengan sengaja saya undang berdesakan di dalamnya seperti penumpang busway di jam-jam pulang kantor.

The universe is really keeping its promises.

Sekarang Genta punya banyak baju buat pergi. Bibinya, adek saya, gak pernah lagi teriak-teriak minta saya beliin baju buat Genta. Problem solved. And it all started with an empty space.

Bisa jadi itu maksud video di Borobudur ya? Emptyness is the beginning of perfection. PERFECT. Karena universe menepati janjinya. PERFECT. Karena tugas kita cuma menciptakan empty space. PERFECT. Karena itu tugas yang sangat mudah. Hihihi.

29 July 2011
-bergaya spiritual

LASKAR MEJIKUHIBINIU

Saya bukan fans-nya Andrea Hirata.

Entahlah, for some personal reason, saya memutuskan saya bukanlah fans-nya Andrea Hirata. Saya TIDAK baca buku Laskar Pelanginya. Saya ulang ya? Saya TIDAK baca buku Laskar Pelanginya. Karena alasan yang saya lupa, saya menonton filmnya. Mungkin karena ada keterlibatan Mira Lesmana di dalamnya. Dan untuk alasan yang berbeda lagi, saya menonton pertunjukan musikal Laskar Pelangi-nya. Begitulah hidup mengantarkan saya tepat ke pintu yang sudah 6 bulan saya hindari. Hehehe. Tapi…

Apakah saya puas? Hmm. Let me think.

Saya SUPER PUAS dengan pertunjukan musikalnya. Hampir tidak ada cacat dalam pertunjukan musikalnya. Liriknya. Musiknya. Akting anak-anaknya. Totalitas property-nya. Kenapa saya bilang ”hampir tidak ada cacatnya”? Karena tiketnya masih membatasi diri pada orang-orang yang memiliki akses ke uang 150.000 rupiah per kursinya. Sungguh saya berharap anak-anak Indonesia punya kesempatan untuk menonton pertunjukan musikal itu.

Kenapa? KENAPA? Anda tanya kenapa?

Bukaaaaan. Bukan saya minta mereka belajar semangat dari anak-anak sekolah miring itu. BUKAAAAAN. Bukan juga saya berharap anak-anak belajar kembali tentang savana, proses terjadinya hujan maupun siapa wakil Indonesia di Konferensi Meja Bundar dengan Belanda. Bukan. Bukan. Bukan itu.

Saya ingin anak-anak Indonesia menikmati alunan musik nan indah dengan lirik-lirik yang menyentuh di hati. Saya membayangkan anak-anak Indonesia melangkahkan kaki keluar gedung pertunjukan dengan ringan. Hampir seringan langkah penari balet. Saking jiwanya penuh terisi keindahan seni lokal yang, sampai berbuih keluar dari kedalaman jiwa mereka. Seperti minuman soda yang sudah dikocok-kocok, sebelum dibuka. Wuuuuusssssshhhhh, begitu bunyi buihnya melesak keluar dari botol. Efek yang sangat meringankan hati dan kepala.

Efek menonton pertunjukan seni memang sangat beda dengan efek berjalan-jalan ke mall. Saya berharap anak-anak Indonesia memiliki kesempatan untuk menikmati buih seni Indonesia ini. Saya berharap semakin banyak anak-anak Indonesia yang mendapatkan privilege ini, dari para orang tuanya yang sangat mencintainya. Orang tua yang memberikan piala kemenangan pada pertunjukan seni, ketika dikompetisikan dengan jalan-jalan di mall.

 

Tapi sekali saya katakan. Saya TETAP BUKAN fans-nya Andrea Hirata.

Saya pengagum presisi dan kecerdasan Jay Subiakto dalam menterjemahkan Laskar Pelangi dalam property-property yang (bagi saya) GENIUS.

Saya juga bertepuk tangan bagi kerja keras Mira Lesmana, Riri Riza dan Erwin Gutawa.

Saya penasaran dengan ibu Hartati, sang superwoman di balik kedahsyatan liukan tubuh para penari di atas panggung.

Terlebih-lebih, saya ingin memeluk anak-anak yang menarikannya di atas panggung (terutama Kucai ya? Hihihihi). Kenapa? Karena mereka mampu bersenang-senang di atas panggung. Karena, bukankah itu yang terpenting bagi anak-anak? Menikmati setiap momen hidup mereka. Di atas panggung maupun di luar panggung.

 

Ahhh, seandainya semua ini tidak perlu melibatkan Andrea Hirata.

Hahahaha. Apakah saya terdengar membencinya?

Bukan. Bukan. Saya bukan pembenci Andrea Hirata.

Saya hanya BUKAN fans Andrea Hirata.

 

17 July 2011
Kurang lebih 2 minggu setelah menonton pertunjukan musikal Laskar Pelangi.
-karena butuh waktu lama untuk mencerna rasa

Belajar Ikhlas di Pesawat

Setiap kali pergi naik pesawat, aku tertarik untuk mengamati wajah-wajah sesama penumpang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, “Hebat betul oarng-orang ini ya. Senyum-senyum. Kayaknya gak takut sama sekali mau terbang.” Hehehe. Sementara aku, sebenarnya setiap kali mau terbang, selalu sibuk “menggusah” wourst case scenarios yang menari-nari di kepalaku. Belakangan skenarionya semakin menegangkan karena aku pergi bersama Genta.

Hari Senin kemarin aku naik pesawat lagi dari Semarang ke Jakarta, cuma berdua sama Genta. Soal cuma berdua, sama sekali bukan masalah besar. Genta sangat mudah diajak kerja sama. Lagipula sepengalamanku, orang-orang nampak sangat berempati dan ringan tangan membantuku setiap kali aku bepergian hanya berdua sama Genta.

Problemnya adalah, Genta nangis setiap kali pesawat mau take-off. Well, ini bukan pertama kali Genta naik pesawat. Tapi ini memang pertama kalinya Genta naik pesawat hanya berdua denganku. Dan juga pertama kalinya Genta nangis di dalam pesawat.

Sebagai orang yang intuitif, langsung saja skenarionya semakin kencang menari di kepalaku. “Anak kecil kan sensitive,” ujarku dalam hati. Jangan-jangan dia kerasa kalau pesawat ini nggak aman. Ok. Pintu daruratnya di mana? Diikuti dengan langkah-langkah antisipatif lainnya yang seperti SOP langsung aku susun di kepalaku. Alhasil, tentunya Genta semakin keras nangisnya. Minta keluar. Nunjuk-nunjuk pintu keluar. Detak jantungku aku sadari makin kencang. Napasku juga makin memburu kayak lagi lari. Bagian bawah lenganku mulai hangat. Aduh, apa yang harus aku lakukan?

Tiba-tiba ada suara kecil, ramah dan sangat lembut bilang, ”Pasrah Fan. Ikhlas. Dan sabar.” Suaranya kecil sekali. Kalau ditanya di mana tepatnya suara itu muncul, tepatnya muncul dari belakang my belly button. Apakah suara itu seperti laki-laki atau perempuan? Perempuan. Seperti suara anak-anak yang menarik-narik ujung bajuku dengan wajah polosnya. Kemudian, napasku melambat, detak jantungku mulai tertata kembali. AC pesawat juga mulai terasa sejuknya. Aku melihat ke luar pesawat lewat jendelaku. Sesaat kemudian aku menengok ke arah Genta, matanya mulai menutup pelan-pelan. Dalam hitungan detik dia tidur memelukku dengan tenangnya.

Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Sungguh. Naik pesawat adalah momen yang tepat buat belajar ikhlas. Aku teringat guru NLP ku, mas Ronny dan tanpa sebab yang jelas ada running text muncul di kepalaku, ”Happiness atau apa pun emosi yang ingin kau rasakan is a decision away.” Suara anak perempuan tadi membantuku mengambil keputusan yang tepat soal emosi apa yang ingin aku rasakan.

Dan aku juga membuktikan satu hal lagi tentang parenting. Anak sungguh adalah perasa energi yang luar biasa akurat. Genta nangis bukan karena takut. Genta nangis karena terkena aliran energi ketakutanku yang berusaha keras aku tutupi. Orang dewasa bisa dibohongi soal energi. Tapi Genta, dan anak-anak lainnya, sepertinya tidak bisa dibohongi.

Kurang lebih 1 jam kemudian aku dan Genta sudah ada di mobil kami, dalam perjalanan pulang ke rumah kami, Bintaro. Dalam beberapa helaan napas, rasanya mataku hangat dan airmataku hampir turun, terutama waktu ketemu ayahnya Genta dan bibinya, yang menjemput. Well, sebuah pengalaman worth to share.