Day 7 – Ada Apa Dengan Cinta

Siapa yang gak kenal Cinta dan Rangga? 2 anak culun bin imut yang merajai hati remaja pada masanya. Dari ga kenal Khairil Anwar jadi nyari2 bukunya ke social agency. Dari ngangkat bibir tiap ada orang baca puisi mendadak kirim bait bait cinta pada yang dipuja. Cinta memang bikin buta.
Ada banyak kisah tentang cinta. Cinta ala Cinderella, sang Pangeran menyelamatkan hidup Upik Abu. Secara sosial dan ekonomi, kemudian ditutup happily everafter. 
Ada cinta ala Aladdin dan Princess siapa itu? Yang selalu ada Abu dan bapak jin di antara mereka. But they  work it out and live happily everafter.
Ada juga cinta ala Jaka Tarub dan Putri siapa itu yang not so happily everafter. But quite happy for a while. Toh hidup juga cuman perhentian sementara, bukan?
Iki arep ngomong opo sih?
Saya mau bicara cinta. Lagu cinta, laku. Film cinta, rame. Sinetron cinta, episode 2743. Kenapa ya cinta bisa segitunya harganya di masyarakat kita?
Sementara di satu sisi. Ada mahasiswa yang becanda sama temennya, walau dilihat dari sisi apapun itu becanda yang blas ga ada lucunya. Becanda tu pakai cinta. Yang ga pakai cinta namanya bully. Bedanya? Bedanya di rasa.
Lets just say ulang tahun diamprokkin pakai telur tepung air dan segala macam. Saya ga pernah ngrlakuin sih. Juga ga suka ngelakuinnya. Berasa ga ad guna dan ganggu aja. Tapi pada beberapa kelompok saya masih merasakan adanya cinta. Sementara kelompok lain sungguh cuman ada “pembalasan”.
Jadi, ada apa dengab cinta? Di saat segala bertema cinta laku dijual, apalagi di kalangan remaja dan mahasiswa. Kenapa justru di kalangan mahasiswa miskin candaan yang kaya cinta?
ABG lancar nyanyikan lagu cinta. Ungkapkan cinta pada lawan jenis. Bawa bunga. Di-shoot kamera. Ciuman di kening. Diiringi tepuk tangan gurunda tersayang yang nampaknya gak merasa ada yang salah dengan adrgan barusan.
Sementaara emberikan selamat datang pad adindanya, kudu pakai pukulan di pipi, wortel jadi kalung, pot tanaman jadi topi, kaus kaki beda kanan kiri dan nanas dengan diameter sebesar semangka sebagai syaratnya. 
Ada apa dengan cinta?
Sementara yang dewasa sibuk mencela perilaku anak anak mudanya yang katanya korban sinetron, kebanyakan micin, otaknya kurang se-ons, beruk aja lebih manusiawi timbang mereka. Dan segala atribut lainnya.
Lalu dalan grup grup kecil sesuai ganknya, kaum yang layak dimintai nasehat ini mempertontonkan metoda canggih mempermalukan orang yang beda pendapat. Tidak ditampar memang, tapi ditertawakan. Tidak diauruh pakai pot di kepala memang, tapi diberi label di jidatnya. Bukan diauruh pakai kalung wortel dan keluarganya, tapi diberi nama nama baru macam kaum anu kaum gemblong kaum mendoan dan lain sebaginha.
Seolah mengucap pada generasa penerusnya. Look. Dont do it physically. Do it in a more educated way. Humiliate them verbally. It is more acceptable.
Ada apa sih dengan cinta?
Yang tua harusnya kasih contoh, malah sibuk saling njongkongke *apa bahasanya ini*

Yang muda kudu sibuk bangun minpinya, malah heboh selfie dan komen di lambe turah

Yang kecil bagusnya sibuk ngaji, hapalan surat pendek, malah kejejelan spongebob yang entah itu berbaju apa gak.
Mungkon benar kita lapar dengan cinta

Sehingga kita sibuk mencarinya 

Dalam rangkaian lirik lirik ibdah Katon Bagaskara

Dalam rangkaian bait bait berima di panggung Salihara

Sampai terlupa

Kita pun punya cinta

Hanya hati belum sempat terbuka

Terjejal benci yang entah terlempar dari mana
Kalau ada lagi yang bertanya

Ada apa dengan cinta?

Cinta baik baik saja

Bisa jadi, bukan cuma Rangga biang keroknya

Kita semua pun selagak Rangga

Sama sama tak paham artinya cinta
Karena bila mulut berkata cinta

Maka tangan membelai bukan menoreh luka

Jari pun mengetik ujaran sayang bukan pilunya tawa

Kata jadi pengikat 2 manusia bukan pembeda
Jadi ada apa dengan cinta?

Saat ini? Di Indonesia?

Entahlah. Mungkin dia baik baik saja.

Mungkin. 

Mungkin.

Day 4 – Komplen

Dalam sehari, kalau mampu membuat daftar, entah sudah berapa komplen bisa dibuat. 

Saya memulainya pagi ini dengan mata bengkak, mungkin karna 2 hari full menghadap laptop bareng temen temen baru. Bisa dilanjutkan dengan teh yang kurang panas, mungkin. Atau cuaca mendung jadi jemuran gak kering. Kran bocor. AC gak dingin. Anak anak sulit dibangunin. Suami yang cuek. Gajian masih lama. Rumah berantakan. Pemerintahan gak becus. Dan selanjutnya.
Bisalah kita dengan mudah bikin daftar macam itu, dalam bentuk real atau sekedar virtual di dalan kepala. 
Atau jangan jangan begitulah yang kita lakukan setiap hari? Siapa sasaran kita biasanya?
Pejalan kaki, komplrn tentang pengemudi motor
Pengemudi motor memaki supir2 roda 4

Supir2 roda 4 mengeluhkan pengemudi angkot

Murid mengeluhkan gurunya

Guru mengeluhkan wali murodnya

Wali murid mengeluhkan sekolahnya

Suami mengeluhkan kelakukan istrinya

Istri mencela kelakukan suaminha

Kapan cycle nya bisa terhenti? 
Bagi saya, seperti tidak ada waktu yang lebih tepat dari SEKARANG untuk menghentikannya. Karena lingkaran komplen hanya akan membesar dan merumit, jika dikeluhkan. Apa sih keluhan yang bisa selesai sendiri jika dikeluhkan?
Bahkan lemak perut saya tetap gak hilang setelah saya cubit2 di depan kaca.
So, jika tanpa sadar ada daftar keluhan virtual yang menari di kepala selama ini. Bukankah daftar virtual syukur akan lebih indah menggantikannya?
Bersyukur mata masih bisa melek dan mengetik
Bersyukur masih ada teh Tong Tji kesayangan buat ngeteh pagi hari

Bersyukur ada suami yang bisa dilihat dipegang dan dipeluk sampai sekarang

Berayukur anak anak sehat jadi tidutnya nyenyak

Berayukur cuaca mendung jadi pagi terakhir liburan jadi syahdu

Berayukur kran air bocor jadi ada alasan buat gak mandi. YES. Ini syukur yang paling mudah syaa lakukan.

Day 3 – Luka

Ngobrol dengan seorang teman baru yang profesinya perawat, membicarakan luka, keloid dan segala treatment nya tadi waktu makan sianh. Mengingatkan saya tentang luka lain yang mungkin tak terlalu kasat mata.

Entah di keluarga yang lain tapi di keluarga saya, sejak kecil, selain memori menyenangkan, liburan juga menibggalkan luka. Bukan luka tusuk yang mematikan. Atau luka bacok yang membunuh karakter #eh. Tapi luka luka kecil siseten kalau orang Jawa bilang, atau susuben, atau sekedar memar jiwa, akibat benturab 2 orang yang tak dinyana perbedaannya.
Kadang dalan ibteraksi, luka luka baru bermunculan. Bisa juga luka luka lama terkorek dan berdarah lagi. 
Bertambah umur sungguh tak terelakkan artinya pengalaman memiliki luka. Sambil memulung rasa cinta, kepingan maaf, ingatan ingatab indah serta keyakinan bahwa manusia memang tempatnya salah, luka bisa lebih mudah disembuhkan.
Bukan perkara mudah memang, tapi ini bukan soal mudah atau susah. Ini perkara wajib, kudu, harus, perlu, penting, demi kesejahteraan jiwa, juga demi Dia yang maafNya tak pernah habis bagi kita, juga cintaNya yang tak jua kering sumbernya.
Lagipula hidup memang tak dinilai dari susah atau mudahnya ujian bukan? Tapi dari jawaban kita atas setiap pertanyaannya.
Selamat menyembuhkan luka luka, my dear friends. Tak ada luka yang tak bisa disembuhkan. Insyaa allah.

Day 1 – Mengingat Kematian

“Jadikan kematian sebagai pengingatmu”
Puluhan tahun lalu seorang teman mengatakan ini pada saya. Saya angguk angguk. Dan menjawab, oooo. Tanpa paham betul apa maksudnya. Tapi kata katanya nancep dan kejadiannya pun masih sangat detail teringat.
Malam kemarin suami seorang teman meninggal. Saat takziah, hanya ucapan itu yang menari nari di kepala saya. Sambil cuma bisa berucap, ya Allah, Allahu Akbar berulang ulang….
Tadi malam saya tiba tiba menyadari bahwa; Ikea atau Informa, sama saja. BMW atau CRV, tak ada bedanya. Bintaro atau Bekasi, mirip mirip belaka. Negeri atau swasta, cuma beda pengelola. Fossil atau LV, sekedar selera.

Tadi malam saya berbisik pada salah satu sahabat yabg menemani saya takziah, habis berantem sama suami, lalu kudu takziah ke suami teman itu rasanyaaaa…… sesuatu….. huks.
Sebelum pulang tadi malam kami saling berpamitan dengab sesama tamu, seorang tamu memeluk saya, kami belum pernag kenal atau ketemu sebelumnya. Dia berbisik…
“Semoga kita semakin tawakkal ya mbak. Semakin sering mengingat kematian. Supaya ga sia sia hidup kita. Aamiin. Insyaa allah. Insyaa allah.”
Masih suasana lebaran dan Syawal.
Taqaballahu minna wa minkum. Semoga Allah berkenan melancarkan segala urusan dan niatan kebaikan kita selanjutnya dan menjauhkan kita dari perilaku sia sia. Aamiin.

Bintaro, 14 Juli 2017

*tulisan ini juga saya post di page* https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=657893037741835&substory_index=0&id=504789756385498

Sudah Sampaikah?

​Apakah kita sudah sampai di masa ketika
Bicara baik baik dibilang pencitraan

Bicara kasar kotor dibilang jujur
Ngajak yang baik baik malah diunfriend

Ngajak yang dilarang agama malah banyak follower nya
Menegur dengan santun katanya ga kelihatan hasilnya

Menegur dengan marah marah bikin banyak fans
Polisi dicela karena menangkap idolanya

Lalu dipuji karena menangkap walau tanpa bukti
Pemimpin jelas jadi terdakwa masih dicinta

Pemimpin jelas jadi manfaat terus dicari celanya
Mengumbar aib pribadi adalah bagian dari strategi

Sementara bicara prestasi cukup main klaim satu sisi
Teman dihujat karena beda pendapat

Orang tak dikenal dipuja karena cinta buta
Sudah sampaikah kita pada masa itu?

Semoga tidak

Tentang Kodok

Bertahun tahun yang lalu saya mendengar kisah tentang kodok ini. 
Seekor kodok yang masuk dalam panci air di atas kompor. Kodok masuk sejak air masih dingin. Jadi ketika kompor mulai dinyalakan dan air mulai hangat pelan pelan, kodok ikut merasakan perubahannya. Karena perubahannya pelan, dia merasa baik baik saja. Sampai akhirnya air mendidih, kodok tewas, matang di air mendidih.
Padahal temannya yang lain, yang masuk dalam air mendidih, langsung lompat setelah kakinya menyentuh air panas itu. Tak mampu menahan panasnya.
Yes ini cerita tentang kodok beneran. Bukan soal kodok yang belakanhan ini sering dijadikan bahan hinaan di sosial media. Kisah itu sering kali disebut boiled frog.
Kisah tentang kodok di atas sering dipakai dalam training training sebagai pengantar tentang pentingnya menginisiasi perubahan. Bagaimana kenyamanan sesungguhnya sedang mengintai dan pada saatnya akan menerkam Anda seperti air mendidik.
Jangankan kodok, manusia pun beberapa kali menunjukkan kualitas kekodokannya. 
Dari kecil, gak mau nyuri gak mau nyontek. 

Begitu sekolah, bolehlah nyontek. Kan semua temenku nyontek. Guru pun menganggap, aah namanya juga anak kecil.

Waktu remaja, bolehlah gangguin adek kelas. Kan ga sampe mati ini. 1-2x ngeroyok kan bisa bikin kuat mental. Orang tua dan gurunya berpikir, yaaah namanya anak remaja, lagi cari identitas.

Begitu bikin skripsi, bayar senior atau juniornya. 5 juta. Bukan gak mampu, kata dia. Cuman gak ada waktu aja. Temen temennya yang tau bilang, yah dia kan memang sibuk, lagian sebenernya dia pinter kok.

Begitu kerja, masukin temennya tanpa psikotes. Katanya, yah kan persahabatan harus dibuktikan.

Di kantor, sering pulang cepet. Namanya juga work life balance. Working from home. Padahal mah ga working juga.
Begitu aja terus, begitu mati, apa kabar?
Sering kali kita mentolerir kesalahan kesalahan atau keburukan keburukan kecil, dengan melakukan rasionalisasi, yaaah manusia kan ga luput dari salah. Mau cari manusia sempurna? Mana ada?
Udah mending ini duitnya dipake juga buat bangun kota. Walau dapetnya entah gimana.

Udahlah lisannya tajam setajam silet gpp, yang penting kan sekarang udah enak ke mana mana naik angkot.

Udahlah bukan niatnya buat ngomong gitu, namanya manusia kan bisa kepleset. Yang penting udah banyak orang dibayarin umroh.

Udahlah masak dokumen setumpuk kudu dibaca semua. Kan salahnya cuman 1 dari ribuan dokumen. Yang penting kan sekarang…..

Udahlah harga harga naik, itu kan nunjuknin pertumbuhan ekonomi. Jangn sok kere ga percaya sama rejeki dari Allah deh….

Udahlah memang kita kudu toleransi sama mereka, kan mereka minoritas. Kalau mereka ngusilin kita, yah namanya selama ini tertekan jadi kaum minoritas….
Terusin aja. Bisa panjang entar…..
Manusia itu memang pada dasarnya baik. Apalagi manusia Indonesia. Orang orangnya tu pemaaf banget. Saking pemaafnya kadang ga sadar kalau ni air diem diem naik nih suhunya. Ntar kalau udah hampir mendidih baru deh pada sadar berlompatan tu kodok, padahal mah udah telaaaaat, udah hampir mateng. Ups.
Pertanyaannya, itu kodok memang seneng mandi air anget ya kayaknya, kok jelas jelas air tambah panas maish tenang tenang aja? Berasa di pemandian air panas mungkin ya?

Kuadukan Kelemahanku

​Dalam sebuah kesempatan di sudut kebun anggur, seorang laki laki berlengan kokoh, memanjatkan doa. Laki laki yang kemuliaan akhlaknya dikenal di langit dan bumi. Laki laki yang nanti akan menunggu umatnya di ujung jembatan itu. Laki laki yang di sakaratul mautnya masih memikirkan kita.
“Ya Allah, hanya kepadaMu kuadukan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku.”
Dalam kondisi sudah memberikan segala daya upaya dan kemampuan menyalahkan pihak lain. Dia memilih buat membicarakan kekurangannua. Mengadukan pada pemiliknya.
What a romantic story.

​Sarah Sechan : VJ Favorit

Hmm…. baiklah sekali lagi saya menunjukkan usia saya sezungguhnya. Yaaa mau ditutupin gimana juga. Misalkan nih misalkan tampang masih bisa dibilang muda, la itu gembolan di perut paha lengen mau bohong gimana caranya? Hiks.
Anyway, dulu waktu Sarah Sechan *ini bener gak nulis namanya?* jadi VJ MTV pertama kali, saya ga bosen boseeeen liat dia ngomong. Jangankan ngomong, berdiri aja kok sajak tenaaaaang banget. Ngomong juga santaaaai gitu, ga kesusu kayak VJ lainnya. Ngeliatnya tuuu enaaaaak banget.
Lalu saya ingey beberapa tahu  sebelumnya saya oernah di rumah nenek saya di Sekayu, nonton Dunia Dalam Berita. Hayo jam berapa hayoooo Dunia Dalam Berita disiarkan? Sebelum Film Cerita Akhir Pekan laaah tentunyaaaa…. halah kok sampe situ….
Waktu itu kami lagi nonton DBD, bibi Dini ikut nonton vareng kami seperti biasa. Dan memang udah agak beberapa saat saya terganggu sama pembawa beritanya yang tangannya gerak getak terus, eh bibi Dini kayak paham aja pikiran saya, dia komentar,
“Pembawa beritanya cemas tuh. Orang kalau cemas tu suka gerak gerakin tangan kayak gitu”
Manalah saya tahu itu bener apa gak. Denger itu diucapin dari beliau aja udah kayak keren vanget. Kok bisa tahu ya? Dari mana?
Dari pembaca berita DBD sampai Sarah Sechan, bahkan presebtasi perdana saya saat kuliah di psikologi UGM kok ya temanya tentang gesture. Entahlah. Memang semua itu ga ada yang kebetulan ya?
Dan salah satu alasan saya ga suka nonton ILC juga adalah karena yang saya tonton sama yang ditonton suami itu beda. Saya ngeliatin mata orang saat bicara. Saya ngeliatin bahunya saat duduk dan berdiri. Saya memperhatikan kecepatan bicaranya, intonasinya, belibetnya lidah. 
Kemudian setelah belajar NLP, saya juga memperhatikan diksinya, pilihan kata sambungnya. Terakhir saya merasakan energinya. Dan semuanya itu sulit diterangkan. Sama sulitnya seperti saat saya menikmati melihat Sarah sechan sekedar berdiri dan bicara.
Koo bisa? Karena mungkin semua itu nampak tapi tak teramati oleh sebagian orang. Padahal meninggalkan kesan.
Maka saya selalu terkesan pada orang orang yang bahunya tenang tak vergerak saat berdiri. Juga pada orang yang matanya fokus tak sibuk mencari cari. Juga pada orang yang bicaranya mantab, tak dibikin pelan supaya nampak berwibawa juga tak dibikin cepat supaya nampak cerdas dan tanggap. Juga pada orang yang mendengarkab orang lain ketika gilirannya mendengar, bukan sibuk bersiap atas jawabannya sendiri.
Tentunya saya juga suka pada orang yang sibuk menunjukkan kebaikannya tanpa harus memvandingkan not to mention menjatuhkan orang lain, karena orang macam ini sungguh tak pantas memimpin. Beliaunya bahkan belum selesai dengan dirinya sendiri, apa mau diharap dari orang yang masih butuh menjatuhkan orang lain untuk mengunggulkan dirinya sendiri? Kosong! Ompong!
Seperti Sarah Sechan. Bicaranya tenang. Intonasinya cantik. Kecepatannya variatif. Bahunya kokoh. Telinganya mendengar. Otaknya bekerja. Gagasan ada. Tinggal waktu yang akan menunjukkan prestasinya.
Sarah Sechan dari dulu memanglah VJ favorit saya. Kalau VJ favorit Anda siapa? Yang ngomongnya cepet? Atau yang sukanya nyindir? #eh apa sih ini?

​Punya TV Ga Punya Antene

Sekitar bulan Agustus nanti, resmi 3 tahun kami sekeluarga jarang nonton TV. Dibilang ga pernah, padahal kalau di hotel nonton, di Villa Kandang Sapi langganan kami nonton juga, di Villa Mbantul Madu nonton juga. Jadi merasa bersalah kalau ngakunya ga nonton TV.
Sebelumnya sejak sekitar 2008 pun sesungguhnya kami jarang nonton TV lokal. Jiaaah. Nontonnya TV Internasional lah, CSI, NCIS, Lie To Me. Pokokna mah di mana asa kejahatan, di situ kami nongton lah. Horatio bintangnya buat saya. Yang selalu mengundang suami membully saya dengan pilihan lelaki saya. Komen suami,

“Memang pilihan laki lakimu tu yang bener cuman aku ok dek.” #abaikan

Sampai suatu ketika tanpa dinyana, bagai petir di siang bolong, si internasional tea pun memutuskan hubungan secara sepihak. Karena harga diri yang tinggi menutupi alasan sesungguhnya, yati malas, kami biarkan itu TV mati tak terurus. Maka sunyi sepilah dunia kami dari pertelevisian.

Namun di antara waktu waktu itu, suatu ketika pak suami kangen nonton ILC. Tontonan favorit beliau yang mendapatkan dukungan penuh dari almarhumah mamah. Di depan Bang Karni dan suara khasnya, biasanya mamah dan mas akan sibuk berdiskusi tentang tema tema heboh tanah air. Saya? Saya pilih nemenin bocah2 aja, main game atau baca buku.

Karena rindu yang tak terkira, dibelilah antene indoor ala ala. Sekedae bisa memunculkan gambar di kotak hitam besar yang menghias ruang depan kami. *mau bilang ruang tamu kok ya bukan, ruang keluarga ya iya, fungsinya macrm macrm jadi sebut saja ruang depan*

Dan ajaibnya, hanya si bapak yang bisa memakai itu antene. Mungkin sesungguhnya saya bisa, tapi ga sronto kata orang Jawa suruh muter muter tombol sambil gerakin 2 antene panjang itu sampai ketemu titik yang pas yang bisa menghapus semut semut dari layar TV kami. Alhasil, again, saya cuman nonton TV kalau si bapak ada dan beliau lagi pengeb nonton TV.

Rupanya TV yang harganya mahal itu tak jadi bermanfaat juga kalau gak didampingi si antena ala ala yang harganya 100ribuan ya? Kok bisa? Gimana sih kerjanya dunia industri pertelevisian ini? Kok bisa satu pabrik raksasa yang terkenal jadi ga berkutik tanpa kehadiran produk dari pavrik kuecil yang entah apa namanya itu. What a plot!

Hanya karena harganya murah atau sering kali gratis diberikan sebagai bonus pembelian TV, we take it for granted. Begitu antena rusak, bubar semua. TV cuman jadi kotak pajangan. Or in my case, jadi cermin buat my littlr princess nyanyi dan ngapalin dialognya Sopo Jarwo dan Cherrybelle.

Plot plot macam TV tanpa antena ini jebul banyak juga kita temui ya di dunia nyata? 

Seperti 

mampu beli mobil, tapi menganggap kemampuan menyetir sepele

mampu beli motor Ninja, tapi lupa kalau rumahnya ga muat buat diparkirin Ninja

mampu beli buku, tapi nyempetin bacanya nunggu tak sok tar sok

mampu beli tempe, tapi ga punya cabe buat temen makannya…. haaaaa…… huahahahaha…..

Nampaknya memang standar dan manusiawi saat kita fokus pada yang besar dan magrong magrong, yang keren, yang mengundang decak kagum, dibanding fokus pada hal hal kecil yang sepi dari tepukan. Umum juga kalau manusia lebih suka melihat yang bisa dibeli dengan harga mahal, lupa sama yang (dikira) gratisan dan (dikira) punya dia sendiri, macam oksigen, tanah negara, air dan banyak lainnya.

Maka sebagai bentuk aksi anti mainstream, saat banyak orang menuliskan salah satu dreamnya punya TV yang inch nya sak hohak, saya dengan ini memutuskan bahwa salah satu dream saya adalah punya antene TV yang mudah dioperasikan. Demikian!

Selanjutnya hal hal mengenai itu akan diatur dalam tempo segera dengan sepengetahuan si bapak. *yes pak?*

Ok. Sebelum Anda membayangkan saya membeli antena. Saya ingatkan. Kadang kala plot macam ini juga muncul dalam cerita macam lupa seberapa menderitanya ga bisa BAB rutin setiap hari karena sibuk mengatur sebuah negara. Begitu deh!