Pemimpin Jadi Beban

​Apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakannya untuk engkau?
Aku tahu apa pun akan kalian korbankan untukku. Akan tetapi, apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti jika sebagai peminpin aku menjadi beban bagi umatku?

The One That Warm My Heart (& Eyes)

Mau share sesuatu hari ini

Udah tahu kan kalau kemarin hari Minggu, Sedekah Ilmu Goes To School perdana berlangsung di Bogor? Tepatnya di desa Caringin Bogor.

Sekian tahun yang lalu saya sering ke sana bahkan bisa nginep 2 minggu buat kasih training korporate komunikasi terbesar di Indonesia yang warnanya merah itu. Hahaha. Jelas yak?

Waktu itu saya dibayar lumayan dan ketemunya sama orang2 lulusan universitas keren2 yang kalau nama universitasnya disebut bakal greng lah dengernya. Mereka ga punya mimpi jalan2 ke luar negeri, karena terlalu sering udahan.

Kemarin saya datang lagi ke tempat yang cukup familiar ini. Seperti nostalgia. Kali ini saya punya misi berbeda. Sekitar jam 7.30 saya sampai ke sebuah MA yang anak2nya sedang belajar bermimpi. Saya dibikin speechless sama anak anak ini.

Awalnya mereka sedikit ragu bicara mimpi. Nampaknya mungkin ga terbiasa bermimpi. Tapi semangatnya makin meningkat seiring sesi makin panas.

Di akhir hari, mimpi mereka semakin jelas. Saya quote kan sebagian WFO mereka…

“Saya berdiri di panggung bersama teman teman paduan suara saya, selesai bernyanyi di kontes Internasional di Amerika tahun 2020”

“Saya melihat baju baju muslim rancangan saya diperagakan oleh para model di acara fashion show international dan saya mendengar tepuk tangan para penonton tahun 2025”

“Saya berdiri di atas pegunungan sedang mengambil gambar dengan sudut yang berganti ganti supaya hisa menjadi fitur di surat kabar tempat saya bekerja”

Now. You tell me how you feel membaca WFO macam itu dari remaja kita. You tell me.

Yes, now you feel me, right?

Memang benar Soekarno waktu bilang masa depan bangsa ada di tangan para pemuda ya?

Bayangkan kalau tiap remaja di bahkan di pelosok dapat kesempatan buat mengeskplor mimpinya dan diberi tools untuk mengejarnya. Pemuda #AntiGalau istilah mereka. Hehehe.

Sampai sekarang saya teringat ekspresi wajah mereka. Senyumnya salah satu dari mereka saat berhasil melupakan kejadian yang selama ini mengganggu hidupnya. Senyum saat tiba tiba merasa kesedihannya berkurang drastis. Senyum saat bisa membayangkan dirinya memegang piala kemenangan.

Terutama, senyum saat berkata.

“Sekarang berangkat sekolah kok terasa ringan ya bu?” *abaikan kekurang ajaran mereka memanggil saya bu padahal harusnya kan panggil kakak* huaaa

Sungguh saya super jaim saat ini karena sesungguhnya kalau boleh saya mau joged joged sambil nyanyi I love to move it move it 󾠀󾠀󾠚󾠚

Ijinkan saya bercerita kisah ini di pagi Senin yang mendung. Sekedar menyampaikan terima kasih atas dukungan semua teman donatur, relawan, partner yang diam diam mendoakan dan mensuppSedekah Oksigenigen.

Yesterday, it was your love that touches their heart. I was honored to witness it all.

Again, thank you. Stay close. Stay in touch.
Mari kita lanjutkan bergandengan tangan ini buat mereka.

 

Tebar Cinta Anak Bangsa

Yesss…..

Bayangkan pemandangan berikut ini….

Anak anak berbaju merah putih tertawa riang di pagi hari sambil berjalab kaki menuju sekolah…
Anak anak berbaju putih biru tersenyum tersipu saat bertemu temannya mengayuh sepeda menuju sekolah dengan udara pagi yang segar…
Anak anak yang bangun pagi dengan niat berangkat sekolah apa pun kondisinya saat itu…
Anak anak di pelosok Indonesia dengan mimpi besaaaar bagi bangsanya menyusuri pematang menuju gedung berbendera merag putih…
Anak anak yang dengan setia menunggu rakit di pinggir sungai untuk membawa mereka ke pelukan bapak ibu guru yang sudah menanti dengan senyumannya…

Yes… pertahankan gambar itu….

Sekarang bayangkan Anda yang mengukir senyuman itu…
Mereka, anak anak itu melambaikan tangan dan senyumannya buat Anda…

Anda yang membuat segalanya mungkin bagi mereka…
Anda yang menyisihkan sebagian rejekinya buat tas tas mereka… buku buku mereka… pensil yang mereka genggam… buat masa depan mereka… yang at the end adalah masa depan bangsa kita juga, Indonesia…

Well… Anda bergetar?
Saya nulisnya pun bergetar…

Bantu saya dan temen teman di @sedekaoksigen yaaaa buat bikin bergetar hati anak2 itu… supaya mereka tahu ada banyak ayah bunda yang peduli pada mereka di tanah airnya…

Bantu kami yaaa….
Bantu mereka….
Bantu anak anak bangsa kita…. – with Fauziah H, farino, Fatriya, Danti, Awwal, Dian, Henri, and Anton

View on Path

Merah Putih Kami

Mengutip kalimat mas Hunggul Budi Prihono.
Ibarat puzzle. Para relawan, dermawan, manusia berhati sosial, pemilik ide cemerlang tersebar dan bertebaran (nampak berantakan karena saking banyaknya) di seluruh penjuru negeri yg teramat kaya ini (kalo ada yg tidak mau mengakui bahwa negeri ini kaya silahkan minggir ke negeri tetangga 󾌼).
Semua mereka ada, karena pada dasarnya negeri ini merdeka dg kerja keras, merdeka dg saling gotong royong, merdeka dg penuh darah dan airmata, merdeka dg segala kekuatan yg tersebar yg mulanya satu menjadi dua, dua menjadi tiga yg kemudian saling bersatu bermodal bambu runcing dan nasi bungkus ala kadarnya. Lempengan2 puzzle menjadi kuat dan berwujud sebuah gambar merah putih di dada dan menjadi kekuatan dahsyat melawan mortir dan senapan mesin sang nederland.

Siapa yg menyatukan puzzle tersebut?

Tidaklah penting menanyakan siapa tokoh yg menyatukan puzzle2 kekuatan rakyat semesta saat itu karena pada dasarnya para pahlawan tidak mengharap sebuah penghargaan dan pengakuan.

Relawan juga sebuah kekuatan dahsyat, energi individu yg masih tersebar dan twrcerai di seantero negeri ini. Ibarat sebuah generator listrik, bagian komponennya masih tercecer di seluruh pelosok dan sudut kota.

Si kabel mungkin ada di Padang, si akki ada di Bogor, si karburator ada di Ambon, dll….. Semua akan berfungsi dan memberi manfaat sbg sebuah energi besar setelah ada yg merangkai dan menyatukan.

Siapa yg akan merangkai dan menyatukan puzzle2 ini??

Banyak lembaga sosial, banyak kelompok2 peduli, banyak komunitas (yg positif) dimana mana mulai para abg, emak2 rempong, bapak2 sampai civitas kampus dan teknokrat dan cendikia.

Tidak penting siapa mereka menurut saya.

Kekuatan yg akan menyatukan puzzle2 ini adalah MERAH PUTIH di dada.
Kekuatan dahsyat seperti sang bambu runcing melawan mortir dan senapan mesin.
Di MERAH PUTIH tidak ada RAS, MERAH PUTIH tidak menanyakan agamamu MERAH PUTIH tidak menanyakan asalmu.

Selamat menebar manfaat RELAWAN!!

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Ini penulis aslinya. Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Ini penulis aslinya.
Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Sebelah Hati

Seumur hidup saya yang menjelang 40th ini saya jarang punya teman dekat perempuan. Entah kenapa.

Waktu SMA mungkin alasannya karena sekolah saya memang oerempuannya cuma 30% dari total jumlah siswanya. Kebanyakan anak kos dan beretnis cina, yang kadang sulit saya dekati karena beda gaya hidup. Mereka bisa makan apa saja saat makan siang sementara satu2nya makanan halal di dekat sekolah adalah bakso gepeng. Lainnya, mencurigakan kehalalannya. Mereka bisa main sampai jam berapa pun, sementara saya sebelum maghrib harus sampai rumah. Well, alasan kan bisa dibikin. *menyeringai*

Waktu SMP saya sempat di 2 sekolah. Di sekolah pertama, saya kelas 1 dan 3, long story, nanti kapan2 saya ceritakan alasannya. Di kelas 1 saya berteman dengan 2 perempuan. Di kelas 3 saya berteman juga dengan beberapa perempuan. Tapi semuanya sudah berbahasa beda saat ini kalau ketemu. Entah saya yang nganeh-nganehi atau memang dunianya terlalu berbeda.

Lulus SMA saya cabut dari Semarang langsung ke Yogya, masuk fakultas yang cowoknya 30% dari seluruh siswa per angkatannya. Teteeep saja teman saya kebanyakan laki-laki. Yang perempuan entah kenapa kok kayaknya gatel deket2 saya.

Kemudian tahun 2015 saya berkenalan dengan sekelompok ibu2 yang sebagian besarnya belum pernah saya temui. Kami ngobrol via WA. Colek2an via Facebook. Telpon2an koordinasi ala ala gitu deh. Sebelum akhirnya kami bertemu setelah kurang lebih 2 bulan bersama di #sedekahoksigen. Menariknya, pertemuan pertama kami ga sempat diisi basa basi. Pembahasan langsung merangsek masuk ke area personal diselingi tawa dari mode terkikih terkekek sampai terbahak-bahak.

Sampai-sampai saya perlu mengingatkan,
Kalau ada orang lain, tolong behave yaaa….
Hehehehe

Saya pikir hubungan kami akan mereda ketika #sedekahoksigen berkurang kegiatannya. Ternyata tidak. Grup yang tadinya dibuat untuk koordinasi kemudian berubah jadi ajang sharing ilmu, dari biologi sel sampai ke internet marketing. Juga tempat curhat, tentang apa lagi kalau bukan suami anak mertua juga tentang dia yangbtak boleh disebut namanya. Juga jadi tempat menyembuhkan luka-luka lama. Tempat saling support saat sakit, merasa sedih, butuh dukungan. Bahkan jadi saran kirim mengirim hadiah satu sama lain, dari sekedar eclair sampai ke pil )(€£₩&^$@* *nama dirahasiakan*, hehehehehehe.

Suami saya sempat bertanya.
Kamu convinient dengan temen2mu itu? Nyaman? Karena mereka jelas gak akan kamu temenin sekian belas tahun yang lalu.

Saya jawab.
Iya nyaman. Kayak aku gak perlu jadi orang lain. Gak perlu pura-pura, basa-basi, ga takut di judge, gak takut dibilang aneh. Nyaman. Dan sering kali rindu.

Pssst, saat berpisah dengan salah satu teman saya ini di Palangkaraya beberapa waktu lalu. Saya berpelukan dengan dia cukup lama sambil keras menahan airmata kami. Kemudian ketika 2 minggu berikutnya saya datang dan harus pulanv lagi, saya pikir akan lebih mudah, ternyata tidak juga. Dada dan perut saya terasa bolong saat harus berpisah.

Belum saat salah satunya berlibur ke Jakarta akhir tahun lalu. Saya pikir intensitas rsanya akan berkurang, ternyata gak juga. Saat kami berpisah, kali ini tanpa pelukan, karena ada suami dan anak2 yang hebooooh bin ribet. Tapi saat taksi mulai berjalan meninggalkan saya, sebagian hati saya rasanya ikut pulang ke Surabaya.

Aaaah saya memanflah seoranf Gemini yang lebay soal merasa.

Mamah saya di masa lalu pernah bilang.
Kurangi keterus-teranganmu, sebagian orang gak suka sama gayamu yang tanpa basa-basi, main langsung clekop aja.

Butuh hampir 40th buat saya membuktikan. Teman sejati. Teman yang insyaa allah berteman karena Allah, melalui hati, gak menuntut saya to act less than who I am. Hampir 40th.

Am i happy? Yeeeessss, sure… perjalanan panjang dan berliku memang hampir gak terasa ketika kita dapat sesuatu yang sungguh2 kita inginkan. Dan dalam kasus saya, sekelompok teman perempuan. Yipiiieee….

Dan impian saya dan teman2 makin berlanjut. Bisa liburan sambil ngobrol sana sini sambil baksos di tempat2 di Indonesia tiap 2-3 bulan sekali. Semoga Allah ridho.

5 januari. Saya bersyukur bertemu teman2 baik yang mengisi hati saya dengan kehangatan yang tidak bisa diterangkan dengan kata2. Saya bersyukur teman2 saya bersedia menjambak rambut saya saat saya mulai keluar jalur. Saya bersyukur saya senang dan gak sakit hati, bahkan kadang sukarela dijambak oleh mereka. Saya bersyukur atas gerakan #sedekahoksigen yang mempertemukan saya dengan ibu-ibu cadaz macam mereka.

I love you giiiiirrrrlllllsssss…..

image

Ini salah satu yang ingin saya lakukan bareng temen2 saya. Di pantai, lereng gunung, atau sekedar di hotel atau di mobil. Hehehehe.

image

Salah satu baksos yang kami lakukan di Palembang

image

Baksos juga di Palangkaraya

One in A Million

Sebagai enterpreneur, sering kali kita lupa, ealah kok kita, saya lupa. Sering saya berpikir kesuksesan saya berkorelasi linier dengan kerja keras saya, kerja pintar saya, jumlah jam kerja saya, jumlah jam mikir saya, jumlah network saya. Ketika semua hal yang saya sangka baik sudah saya lakukan, eh lha kok malah bangkrut, ditagih bayar hutang oleh orang2 yang dulu bilang mengagumi keputusan saya untuk jadi enterpreneur. Saya punya 2 pilihan.

Merajuk. Merengek. Dalam hati bertanya dan ngeyel, aku sudah lakukan hal yang benaaaaar, tapi kenapa kau bangkrutkan juga akuuuu? Sementara mereka kau sukseskaaaaaan? Kemudian melacurkan diri dengan melabel diri sendiri gagal, kehilangan muka bertemu orang lain, menyerah pada mimpi2 idealistik saya. Terakhir hidup menjadi versi terburuk dari segala kemungkinan diri saya.

Atau….
Sebaliknya…..
Anda bisa bayangkan sendiri kan sebaliknya? Atau tetep perlu saya ketik? Gimana? Manja ya? Tetep mau diketikin? Baiklah, saya ketikin, Anda tinggal share….

Atau saya bisa tetap tegak berdiri dengan kepala diangkat. Bangga atas kesempatan jatuh, yang artinya saya mencoba. Bangga dengan kesempatan bangkrut, yang artinya saya pernah memulai. Bangga dengan kesempatan berada di luar jalur umum, yang artinya saya elang yang terbang sendiri. Bangga dengan dkesempatan tertinggal, yang artinya saya punya waktu untuk berdiri dan membersihkan badan dari debu.

Sambil bersyukur dalam hati, terima kasih untuk tetap memintaku rendah hati. Terima kasih untuk tetap memintaku hidup sak madya. Terima kasih untuk menunjukkan padaku siapa teman2ku. Terima kasih untuk men-jlentrek-kan *use google translate for detail* siapa orang yang bersorak ketika saya sukses, siapa yang diam2 ndepipis di pojokan bersorak ketika saya jatuh. Terima kasih untuk memintaku tetap dekat denganMu. Terima kasih untuk tetap menjagaku dalam kebaikan. Tapi lain kali, tolong ajari aku semua itu, dengan uang 5M di rekening. Please? Biaya kuliah Genta sama Puti kan tetap perlu dicari kan, ya Allah?

Dah, udah saya ketikin yaaaa….. kebangeten kalau gak di share…..
Love you friends

*di bawah ini tulisan teman yang saya share*

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus.
Jujur dalam berucap
Ikhlas dalam bekerja…
(Copas dari grup WA GK Psikologi ’96)

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

Reblog : LAMIS

Puisi ini bukan saya yang bikin. Tapi menarik. Penulisnya mas Joko Setyo Purnomo, klik di link nya untuk kenal lebih jauh dengan artis satu ini.

LAMIS

dua tetes kesturi takkan harumkan secangkir tinja pagi
yang kau bungkus selembar koran bergambar selebriti

tentu saja ini bukan salah kesturi;
tapi, kau: yang terlalu mengobral caci sambil asyik menjilati tinjamu sendiri

sebenarnya, aku ingin memberimu cermin saja
agar lebih irit bicara
sebab, akan terlalu lama melukiskan make up menormu dengan kata-kata

kawan, sebenarnya kau bisa cukup manis
andai saja lidahmu tak terlalu lamis

seperti yang padaku sering kau celakan:
aku tak cukup berpendidikan
karena memilih lurus pada satu jalan ke depan
dan tidak ikut bersamamu menikung ke persimpangan

sungguh, pahit lidahmu telah kutelan

semoga, kelak, kau masih mau meladang bersamaku
dalam semangat dan cinta yang satu

KB: 040717: menjelang isya’
based on curahan hati seorang saudari

Apa Urusanmu?

Bismillah….

Sebelumnya biar saya sebutkan dulu, ada banyak potongan-potongan kalimat di sini, bukanlah buatan atau milik saya pribadi. Sebagian saya lihat di status teman, atau comment di salah satu status teman, atau hasil ngobrol via inbox sama teman, atau juga percakapan imajiner saya sendiri. Jadi kalau nampak inspiring, tolong kirimkan doa kebaikan bagi siapa pun yang membuatnya pertama kali. Buat saya juga boleh, sebagai kurirnya. Hehehehe. Karena saya sering kali lupa dari mana saya dapat tulisan itu, jadi tidak saya tulis sumbernya, tapi jelas, bukan buatan saya.

Btw tulisan ini dibuat sambil mencium bau sayur lodeh yang dimasak  tetanngga. Jadi ingat, persis kayak sayur lodeh dalam proses dimasak, sosial media belakangan juga mendidih dan berbau pedas menjelang pilpres. Kacau, istilah saya. Paraaaaah, kalau kata Genta.

Saya punya preferensi sendiri, saya sudah memutuskan pilihan saya. Dan baru berani mengungkapkan pilihan saya beberapa hari belakangan. Kenapa? Saya jenis orang yang lambat ambil keputusan dalam hal ini juga mungkin kurang berani menyampaikan pendapat. Saya harus betul-betul cari data, ngobrol dengan orang-orang terdekat, sebelum memutuskan memilih apa. Bagi saya, ini soal serius. Ciee cieee, yang serius. Hihihi. Lagipula saya trauma juga dulu pemilu 2004 milih presiden. Huaaaa, sudahlah jangan ingatkan saya. *pinjem bahu*

Anyway, akhirnya saya punya pilihan dan kemudian saya memutuskan untuk berani menunjukkan pilihan saya. Karena toh, itulah kemewahan demokrasi bukan?

Pssst, sini saya bisikin, tapi kemudian saya menyesal.

Huaaa. *pinjem bahu lagi* *aleman*

Kenapa menyesal? Menyesal milih no. 1? Lah, belum ada hasilnya kok udah menyesal? tuh kan, bener kan. Makanya, pilih tuh jangan yang no. 1, menyesal kan jadinya.

Husssh. Saya menyesal mengekspresikan pilihan saya, pendapat saya, preferensi saya.

Kenapa? Karena kemudian TL saya mendadak membara. Lebaaay. Yo ben, penulis harus lebay, blog blog saya, tulisan tulisan saya. Hihihihi. Ternyata demokrasi gak semudah mengetik katanya. Fiuuh. Bebberapa teman kemudian jadi saling menyindir, ini bisa jadi saya GR lo ya. Ada juga yang bilang,

“ihh gak nyangka ya, milih no.1, blas gak nasionalis”

Yang lebih dekat dengan saya lebih berani bilang,

jare educated, kok yo milih no. 1.

Huaaaa. Toloooong. Beebaskan sayaaa…..

Dengan tersedu sedan, saya berjalan-jalan di TL saya. Lalu terdamparlah saya di salah satu comment di status salah seorang teman. Saya sungguh lupa siapa, bisa jadi juga bukan status, tapi share-nya. Anyway. Tulisannya begini

“…. apa urusanmu dengan preferensi politikku?” *ting* *musik syahdu mengalun*

Duar. Plak. Jleb. Auuuuu. Yang terakhir lagi-lagi lebay, maafkan. Bener juga ya, apa urusan Anda dengan preferensi politik saya. Pilihan. pilihan saya. Calon, calon saya. Ngomong, di TL saya. Kenapa situ sewot? semacam itulah bubble di kepala saya isinya. Jadi saya beranikan diri, bukan lagi nulis status soal pilihan saya. Bahkan saya bikin posting di blog ini. Huaaa. Nekad dot com.

*musik semangat* *final countdown* 80s bingiiits yak?

Ok. Balik ke pertama kali saya berani mengekspresikan pilihan saya, Anda gak penasaran kenapa baru bebeerapa hari ini saya berani menunjukkan pilihan saya? Mbok penasaran, biar saya ada alasan nulisin. Penasaran ya? Ya? Pengen tahu A apa pengen tahu B? Ok, terpaksa saya tulisin ya, habis dipaksa sih. *kedip-kedip malu-malu*

Pertama dan utama adalah karena mamah saya bukan pendukung no. 1. Huaaaa. *pinjem bahu yang lain*. Mamah saya cinta mati sama ibuk hmmm, tak perlu disebut lah namanya. Karena apa? karena jaman kecil, denger suara ayahnya si ibuk pidato dan langsung jatuh cinta seketika. Cinta mati ti ti ti. Cinta yang kalau lagi ngomongin ibuk, mata mamah langsung berkaca-kaca. Iya, cinta yang kayak gitu. Saya ya gak berani lah melawan cinta sekaliber ini. Belum lagi, mamah WA semua anak dan menantunya -oh atau comment di status, lupa saya- intinya

“Wis, anak karo mantuku jelas bukan pilih yang no.1. ora usah macem-macem”

-yang kenal mamah saya, pasti tahu ya gimana rasanya di comment gitu- hihihi

Saya tak berdaya dengan cinta sekelas mamah. Apalagi mamah saya jarang salah. Beberapa kali salah memang, tapi jaraaaaaaaang sekali.

Alasan kedua, bagi saya pilihan presiden saya biarlah hanya kertas suara dan Allah yang tahu. Lha wong suami saya aja gak tahu kok pilihan saya sampai saya pasang status di fb. Pribadi. Personal. Kayak warna celana dalam, biarkan hanya kita dan Allah yang tahu, jangan biarkan si mas di belakang kita juga tahu ya. Karena alasan saya memilih no. 1 bisa jadi alasan orang lain membenci no. 1. Saya paham itu. Saya milih berdasar peta saya, orang lain milih berdasar peta orang lain. Lha daripada ribut -bagi yang suka ribut- ya saya pilih diam. Serius. Ini susaaah banget, sampai ada temen inbox saya, gini katanya.

“awakmu milih capres sing endi mbak? kok kuat men le ora ngomong?”

Huahahaha. Jawaban saya.

“Lha kan mung entuk milih 1 (siji) to mas?”

Saya juga gak pernah share berita apa pun tentang capres selain pilihan saya. Baik. Buruk. Fakta. Fitnah. Black campaign. White campaign. Pink. Pick any color. Saya ga pernah share berita tentang capres satunya juga. Bagi saya itu ndak fair. Lagipula kalau saya share, saya tahu persis niat saya bukan membagi innformasi supaya orang milihnya makin mudah, tapi ya memang mau mbelain capres saya. Susah lo. Jaga jari biar gak share berita negatif soal capres satunya, padahal di TL saya juga banyak. Saya juga gak pernah share berita tentang capres no. 1 di TL saya. Saya like kalau cocok, tapi gak pernah saya share. Saya curiga sama niat saya sendiri kalau share, jadi ya mending ndak usah aja.

Nah, tapi beberapa hari yang lalu pas fb-walking, kok hati saya terasa bergejolak. Jiaaan lebay tenan saya hari ini. Hati saya bergejolak karena orang mulai melabel teman lainnya anu ini ono, hanya gara-gara beda pilihan.

Masak ada yang bilang kaum educated pasti pilih no. X? *see? saya sungguh berusaha adil* Pendidikan saya S2, dibilang educated boleh, wong ya sedikit persentase orang Indonesia berpendidikan S2. Tapi dibilang gak berpendidikan juga boleh, karena level pendidikan formal juga gak selalu berkorelasi positif terhadap tingkat “pendidikan” orang. Betul kan? Dan saya pilih no. 1. Sebagian teman memuji sebagian lain mencibir. But again, apa urusanmu sama preferensi politikku? Ini kan demokrasi, kita boleh beda, tapi gak lah saling merendahkan.

Faktanya yang mengakses facebook pastilah berpendidikan, karena minimal bisa baca tulis dan melek internet.

*seingat saya saya gak pernah bilang yang milih capres satunya gak berpendidikan, serius, kalau pernah saya minta maaf*

Ada juga yang ngomongin soal nasionalisme, cinta tanah air. Huaaaa, please don’t drag me into this topic, please. *bahu mana bahuuuu?????*

Temen saya yang buka perpusatakaan kecil pilih no. 1. Temen saya lainnya yang bikin perpustakaan di daerah terpencil, pilih capres 1-nya.

Teman saya yang di Mesir, pilih capres no.1. Teman saya yang di Belanda pilih capres 1-nya lagi.

Teman saya yang tiap weekend ngabisin waktu dengan anak gak mampu buat ngajar mlih no.1. Teman saya yang punya sekolah gratis pilih capres 1-nya.

Ga beraniiiii saya bilang yang mana yang cinta tanah air yang mana yang gak. Jelas buat saya, mereka semua cinta tanah airnya. Sama kayak saya. In fact, cinta tanah air yang bikin saya pilih no.1. Weird? Ya tapi itu faktanya, saya cinta Indoneia, ga percaya? Belahlah dadaku ini. Hiks. Lebay lagi? iya ini kenapa saya jadi lebay ya? Ok. Balik lagi,

lagian kalau kita sama semua, kata Barney

“And if everybody was the same, I couldn’t just be me”

Seorang teman menulis di statusnya, again, saya lupa siapa. Katanya.

“Kebaikan sebuah negara itu ditentukan oleh rakyatnya. Bukan cuma presidennya”

Nampar ya. Heeh. Saya juga ketampar kok. Makanya dengan tulisan ini saya mau minta maaf kalau kemarin-kemarin tulisan saya ada yang menyakitkan hati. Semata-mata berniat ekspresi kok. Kan kabarnya demokrasi itu kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ya kalau beda, ya gak pa pa to. Lha wong Genta sama Puti tu lo bisa punya preferensi yang beda dan mereka bisa saling menghargai pilihannya kok. Ga terus ece-ecenan. Jare demokratis?

Anyway, teman-teman yang saya cintai. Anda boleh percaya boleh gak, Saya menyesal sungguh mengikuti jejak teman-teman yang lebih modern daripada saya, dengan ikutan menunjukkan pendapat saya. Karena efeknya bagi saya, kok terasa lebih banyak tidak baiknya daripada baiknya. Untuk itu saya minta maaf. SATU kali lagi, saya minta maaf. Saya cuma meyakini bahwa dalam demokrasi orang boleh berpendapat beda.

Kata Gede Prama, yang saya singkat.

Keburukan orang lain yang kau bicarakan, lebih banyak menunjukkan keburukanmu sendiri daripada kondisi sesungguhnya dari orang yang kau bicarakan. Nah.

Jadi apa urusan kita sama preferensi politik temen kita? Mbok biar mereka punya preferensi sendiri. Saya cuma berani bilang begini.

Yang pilih no. 1 PASTI orangnya pilih PRABOWO. Yang pilih 1-nya PASTI tidak PILIH PRABOWO.

Cuma sependek itu keberanian saya melabel orang. Maafkan saya. Selamat menjelang Ramadhan.

*sengaja ga pakai gambar, biar ga nambahin dosa dan penyesalan saya*