The Leader


Dalam dunia HR sebenarnya ini bukan isu baru. Ini isu lama banget. Bahwa orang itu resign biasanya karena gak cocok sama atasannya.

Dalam sebuah pebelitian yang saya baca tahun 2003an. *biasanya mas G terus ngekek mbayangin ada orang di tahun 2003 yang udah hidup dan besar, hahaha*. 80% orang yang resign alasannya adalah meninggalkan atasannya.
Gaji yang selama ini dikira jadi alasan. Bukan itu yang utama.
Kesempatan karir yang lebih bagus. Juga ternyata bukan itu yang mayoritas.Lokasi kantor yang lebih dekat. Atau allowance yang lebih menggiurkan.

Bukan. Ternyata mostly orang meninggalkan pekerjaan karena mereka meninggalkan atasannya.

Segitu pentingnya jadi atasan, mungkin itu alasannya jadi pemimpin itu berat hisabnya.

Banyak organisasi yang kurang aware atas hal ini atau memang memutuskan untuk me-run organisasinya secara tradisional, memilih meletakkan pemimpin yang untouchable. Sehingga isu bergerak hanya di kalangan bawah. Gak sampai ke atas. Kesannya sih effortnya gak banyak tapi organisasinya gak akan bisa berkembang.

Sementara organisasi yang visioner meletakkan pemimpin pemimpin yang mudah dijangkau. Tentunya juga didukung kompetensinya yang memang mantab. Mosok mudah dijangkau tanpa peduli kompetensi, bakal jadi apa pula organisasinya kan?

Nah pada perjalanan di awal Januari 2018 kemarin, saya menemukan pemimpin yang mudah dijangkau sesuai definisi saya.

Dalam sebuah sesi pembukaan acara, saya terkagum-kagum dengan dua orang pejabat pemdanya yang di satu sisi memahami betul tantangan pekerjannya, sementara di sisi lain cara menyampaikannya begitu mudah dipahami dan sangat natural. Saya mengaku memiliki asumsi yang salah tentang pejabat pejabat pemda. Mungkin karena saya selama ini salah gaul sama pejabat pemda yang aduhai. Hehe.
Anyway, pemimpin pemimpin macam yanh saya temui kemarin perlu dikloning sebanyak banyaknya baik di level pemerintahan, level corporate, level sekolahan maupun level cere mende macam organisasi POMG/ komite di sekolahan yang keberadaannya terjebak di antara love and hate relations. Dan tentunya level keluarga yang pemimpinnya pun bisa kita pilih, buat yang  masih jomblo. Hehehe.

Sesungguhnya, ternyata, memahami hasil riset pun bisa jadi senjata bermata dua bukan? Fortunately, kalau pemimpinnya benar insyaa allah organisasinya pun benar. Itu satu sisi pandang. Atau; Unfortunately, kalau pemimpinnya salah maka organisasinya pun ikut bubar. Gak peduli sebesar atau sekecil apa pun organisasinya.

Soal perspektif, Anda ahlinya.
Saya lebih suka melihatnya dari kacamata yang indah. Alhamdulillah berarti sesungguhnya mudah mengerakkan organisasi itu asal pemimpinnya bener.

Makanya Allah bahkan kasih panduan ya soal memilih pemimpin? Segitu pentingnya ternyata.
#SatuHariSatuKaryaIIDN #HariKe1 #DayOne

Advertisements

The One That Warm My Heart (& Eyes)

Mau share sesuatu hari ini

Udah tahu kan kalau kemarin hari Minggu, Sedekah Ilmu Goes To School perdana berlangsung di Bogor? Tepatnya di desa Caringin Bogor.

Sekian tahun yang lalu saya sering ke sana bahkan bisa nginep 2 minggu buat kasih training korporate komunikasi terbesar di Indonesia yang warnanya merah itu. Hahaha. Jelas yak?

Waktu itu saya dibayar lumayan dan ketemunya sama orang2 lulusan universitas keren2 yang kalau nama universitasnya disebut bakal greng lah dengernya. Mereka ga punya mimpi jalan2 ke luar negeri, karena terlalu sering udahan.

Kemarin saya datang lagi ke tempat yang cukup familiar ini. Seperti nostalgia. Kali ini saya punya misi berbeda. Sekitar jam 7.30 saya sampai ke sebuah MA yang anak2nya sedang belajar bermimpi. Saya dibikin speechless sama anak anak ini.

Awalnya mereka sedikit ragu bicara mimpi. Nampaknya mungkin ga terbiasa bermimpi. Tapi semangatnya makin meningkat seiring sesi makin panas.

Di akhir hari, mimpi mereka semakin jelas. Saya quote kan sebagian WFO mereka…

“Saya berdiri di panggung bersama teman teman paduan suara saya, selesai bernyanyi di kontes Internasional di Amerika tahun 2020”

“Saya melihat baju baju muslim rancangan saya diperagakan oleh para model di acara fashion show international dan saya mendengar tepuk tangan para penonton tahun 2025”

“Saya berdiri di atas pegunungan sedang mengambil gambar dengan sudut yang berganti ganti supaya hisa menjadi fitur di surat kabar tempat saya bekerja”

Now. You tell me how you feel membaca WFO macam itu dari remaja kita. You tell me.

Yes, now you feel me, right?

Memang benar Soekarno waktu bilang masa depan bangsa ada di tangan para pemuda ya?

Bayangkan kalau tiap remaja di bahkan di pelosok dapat kesempatan buat mengeskplor mimpinya dan diberi tools untuk mengejarnya. Pemuda #AntiGalau istilah mereka. Hehehe.

Sampai sekarang saya teringat ekspresi wajah mereka. Senyumnya salah satu dari mereka saat berhasil melupakan kejadian yang selama ini mengganggu hidupnya. Senyum saat tiba tiba merasa kesedihannya berkurang drastis. Senyum saat bisa membayangkan dirinya memegang piala kemenangan.

Terutama, senyum saat berkata.

“Sekarang berangkat sekolah kok terasa ringan ya bu?” *abaikan kekurang ajaran mereka memanggil saya bu padahal harusnya kan panggil kakak* huaaa

Sungguh saya super jaim saat ini karena sesungguhnya kalau boleh saya mau joged joged sambil nyanyi I love to move it move it 󾠀󾠀󾠚󾠚

Ijinkan saya bercerita kisah ini di pagi Senin yang mendung. Sekedar menyampaikan terima kasih atas dukungan semua teman donatur, relawan, partner yang diam diam mendoakan dan mensuppSedekah Oksigenigen.

Yesterday, it was your love that touches their heart. I was honored to witness it all.

Again, thank you. Stay close. Stay in touch.
Mari kita lanjutkan bergandengan tangan ini buat mereka.