Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Tebar Cinta Anak Bangsa

Yesss…..

Bayangkan pemandangan berikut ini….

Anak anak berbaju merah putih tertawa riang di pagi hari sambil berjalab kaki menuju sekolah…
Anak anak berbaju putih biru tersenyum tersipu saat bertemu temannya mengayuh sepeda menuju sekolah dengan udara pagi yang segar…
Anak anak yang bangun pagi dengan niat berangkat sekolah apa pun kondisinya saat itu…
Anak anak di pelosok Indonesia dengan mimpi besaaaar bagi bangsanya menyusuri pematang menuju gedung berbendera merag putih…
Anak anak yang dengan setia menunggu rakit di pinggir sungai untuk membawa mereka ke pelukan bapak ibu guru yang sudah menanti dengan senyumannya…

Yes… pertahankan gambar itu….

Sekarang bayangkan Anda yang mengukir senyuman itu…
Mereka, anak anak itu melambaikan tangan dan senyumannya buat Anda…

Anda yang membuat segalanya mungkin bagi mereka…
Anda yang menyisihkan sebagian rejekinya buat tas tas mereka… buku buku mereka… pensil yang mereka genggam… buat masa depan mereka… yang at the end adalah masa depan bangsa kita juga, Indonesia…

Well… Anda bergetar?
Saya nulisnya pun bergetar…

Bantu saya dan temen teman di @sedekaoksigen yaaaa buat bikin bergetar hati anak2 itu… supaya mereka tahu ada banyak ayah bunda yang peduli pada mereka di tanah airnya…

Bantu kami yaaa….
Bantu mereka….
Bantu anak anak bangsa kita…. – with Fauziah H, farino, Fatriya, Danti, Awwal, Dian, Henri, and Anton

View on Path

Merah Putih Kami

Mengutip kalimat mas Hunggul Budi Prihono.
Ibarat puzzle. Para relawan, dermawan, manusia berhati sosial, pemilik ide cemerlang tersebar dan bertebaran (nampak berantakan karena saking banyaknya) di seluruh penjuru negeri yg teramat kaya ini (kalo ada yg tidak mau mengakui bahwa negeri ini kaya silahkan minggir ke negeri tetangga 󾌼).
Semua mereka ada, karena pada dasarnya negeri ini merdeka dg kerja keras, merdeka dg saling gotong royong, merdeka dg penuh darah dan airmata, merdeka dg segala kekuatan yg tersebar yg mulanya satu menjadi dua, dua menjadi tiga yg kemudian saling bersatu bermodal bambu runcing dan nasi bungkus ala kadarnya. Lempengan2 puzzle menjadi kuat dan berwujud sebuah gambar merah putih di dada dan menjadi kekuatan dahsyat melawan mortir dan senapan mesin sang nederland.

Siapa yg menyatukan puzzle tersebut?

Tidaklah penting menanyakan siapa tokoh yg menyatukan puzzle2 kekuatan rakyat semesta saat itu karena pada dasarnya para pahlawan tidak mengharap sebuah penghargaan dan pengakuan.

Relawan juga sebuah kekuatan dahsyat, energi individu yg masih tersebar dan twrcerai di seantero negeri ini. Ibarat sebuah generator listrik, bagian komponennya masih tercecer di seluruh pelosok dan sudut kota.

Si kabel mungkin ada di Padang, si akki ada di Bogor, si karburator ada di Ambon, dll….. Semua akan berfungsi dan memberi manfaat sbg sebuah energi besar setelah ada yg merangkai dan menyatukan.

Siapa yg akan merangkai dan menyatukan puzzle2 ini??

Banyak lembaga sosial, banyak kelompok2 peduli, banyak komunitas (yg positif) dimana mana mulai para abg, emak2 rempong, bapak2 sampai civitas kampus dan teknokrat dan cendikia.

Tidak penting siapa mereka menurut saya.

Kekuatan yg akan menyatukan puzzle2 ini adalah MERAH PUTIH di dada.
Kekuatan dahsyat seperti sang bambu runcing melawan mortir dan senapan mesin.
Di MERAH PUTIH tidak ada RAS, MERAH PUTIH tidak menanyakan agamamu MERAH PUTIH tidak menanyakan asalmu.

Selamat menebar manfaat RELAWAN!!

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Ini penulis aslinya. Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Ini penulis aslinya.
Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Lebay Yang Berlebihan

Berdasarkan pengamatan yang sifatnya random dan tidak bersistematika penelitian yang baik, belakangan kok saya melihat ada peningkatan signifikan atas kelebayan ekspresi individu di dunia maya. Bahkan kelebayan ini menghinggapi teman-teman yang saya kita nJogja banget.

Ada apakah gerangan dengan fenomena ini? *ala siket* #eh *siket* #teteptypo

Saya sudah jauh dari dunia observasi ilmiah, maka saya ga berani banyak bicara soal segala yang ikmiah dengan dasar teori dan lain lain. Anggap saja ini pengamatan random terbatas dari seornag ibu rumah tangga yang kurang kerjaan.

Belakangan setiap kali ada berita, langsung muncuk 2 kubu. Kubu pro dan kubu kontra. Klasiiiiik kaaaan? Dari jaman Aristoteles juga begitu. Gak papa, ga ada yang baru. Kemudian kedua pihak menjentrehkan oendapatnya, opininya, fakta yang didapat melalui kacamatanya, menuliskan dengan gayanya, memposting di halamannya sendiri. Berharap setiap ornag yang kewat depan rumahnya semoat membaca dan sekedar menunjukkan persetujuan atau tidak setuju atas pendapatnya. Hiks, inintermasuk saya ya.

Nah yang menarik adalah gaya bahasa yang dipakai 2 pihak ini. Buat yang setuju, tulisannya dipenuhi kata2…

Brilian
Jenius
Visioner
Orang pilihan

Yang kontra akan menjawab

Kurang pikniiiiikkkk
Kurang gauuuul
Mungkin dia lelah

Urusan salju di Arab misalnya, yang satu bilang.
Kiamat sudah dekat, apakah sudah cukup bekal kalian wahai kaum yang suka menistakab agama?
Satunya
Salju memang biasa turun di Arab kaliiii, situ aja yang kurang piknik. Makanya jangan cuman shokat, sana jalan jalann.

Soal bom sarinah, yang satu bilang
Rekayasa! Jelas ini konspirasi kepolisian.
Satunya bikang
Jonruuuuu, diajakin nangkep teroris tuuu, jangan diem ajaaaa

Soal freeport, yang satu bikang
Keputusab yang brilian dengan permainan catur yang hanya dipahami sedikit orang
Satunya bikang
Pengkhianat negaraaaa, main jual sana sini, emang itu emas nenek lo?

Soal LGBT, satu sisi bilang
Susah ngomong sama ornag yang narrow minded, kurang modern, ga terbuka kayak orang2 barat sana.
Satunya jawv…
Iiih jijik aku liat, masak jeruk makan jeruk, jijaaaaaay…

Brooo, siiiiis, cuman seginikah pelajaran kosa kata dan tata bahasa yang berhasil menyelip di sela sela sel kelabumu? Bapak ibu guru dulu itu ngajarin bahasa Indonesia ada sinonim antonim, SPOK, majas perumpamaan, peribahasa. Itu kan semuanya tujuannya supaya kemampuan berbahasa kita makin syantiiik makin elegan, makin bisa mengungkapkan rasa dan pikir tanpa harus menyakiti rasa atau merendahkan pikir oranf la8n. Itu bukan sih tujuannya?

Kenapa harus melempar seribu pisau dan jarum pentul bersama setiap character yang kau ketikkan? *udah kayak katon belum bahasanya?* *belum ya?* *baeklah*

Di satu sisi saya penging merayakan keberagaman pendapat dan gaya menyampaikannya. Merayakan keberanian orang mengekspresimab rasa dan pendapatnya. Merayakan kemampuan berdiplomasi, mempertahankan pendapat.

Tapu di sisi lain saya termangu sedih mengingat betapa bahasa hanya dipakai untuk kepentingan terbatas, sebatas melempar pisay dan ribuan jarum pentul ke pihak-pihak yang berbeda pendapat.

Ok, gapapa kita berbeda pendapat, katamu.

Tapi sesungguhnya gak se ok itu di dalam hatimu ketika aku sungguh-sungguh berbeda.

Lha mosok kaum modern kayak kita mau kembali lagi ke jaman baheulak di mana segala sesuatu harus seragam? Bedanya kalau dulu gak seragam itu impossible. Kalau sekarang boleh gak seragam, asal siap dibully secara verbal minimal. Intinya yaaa podo wae sami mawon, kudu seragam. Are we that kind of people?

Kalau ya, ijinkan saya tersedu. Di SMA saya berlatih 3 tahun hanya untuk mengungkapkan pendapat. Di SMA saya juga berlatih menerima perbedaan, yang kadang hasilnya merugikan bagi saya yang minoritas. Buat saya ABG, yang mana itu udah puluhan tahun lalu saja, beda itu biasa, ga usah dibesar besarkan. Kadang dirugikan sebagai minoritas, yaaaa itu pilihanmu Fan masuk lingkungan yang jelas jelas kamu minoriras pangkat sekian.

But hey, I still love my high school. Rugi apa gak rugi sekedar perspektif sesungguhnya. Di saat yang sama kerugian yang nampaknya saya terima justru adalah keuntungan di sisi lainnya. Itu pelajaran yang diterima oleh anak umur 18tahun puluhan tahun yang lalu.

Are we even dumber than that 18 years old girl? Are we?
Atau sesungguhnya kita semua terk9ntaminasi virus lebay yang sering kita hina hinakan pada kelompok alay itu?
Mana yang lebih mengerikan? Dumb? Or lebay?

*diiringi permohonan maaf yang sebesar besarnya pada guru guru bahasa Indonesia saya*

image

Si TEMPE

Saya dan tempe punya hubungan sangat romantis yang tidka terkalahkan oleh siapa pun.

Sejak kecil makanan kesukaan saya adalag tempe. Bahkan saya hanya bisa makan nasi dan tempe sampaj umur saya kurang lebih 23 tahun. Beberapa kali saya kena kurang gizi saat kecil karena makanannya yaaaa cuma 1 jenis saja, tempe pol polnya ditambah telur. Lucunya kalau bakso saya doyan, selain itu segaka daging2an saya gak makan.

Untungny tempe inu makanan umum yaaa di Indonesia Raya ini… hehehehe…

Masalah pertama muncul saat saya SMP dan bergabung dengan Marching Band sekolah saya. Kami diundang parade senja di istana merdeka. Ikutan GPMB di Senayan. Orang tua gak ikuuut. Cuma kami, 100an anak SMP ditemani guru dan beberapa official. Saya ga bisa makan. Cuma makan nasi sama krupuk. Sampai akhirnya, salah satu guru saya, ibu Mariatmi berinisiatif mengantongi tempe di bajunya buat dikasih ke saya tiap jam makan. Tentunya terbatas dan ga tau juga itu beliau dapat dari mana. Tapu adaaaa aja setoran tenpe buat saya di jam makan.

Sampai sekarang, maksud saya sampai beberapa bulan lalu saat ketemu, bu Mariatmi dengan lantang akan menyebut nama saya, Fannyyyyyy tempeeeeeeeee…… Kami berdua kemudin tertawa.

Beruntung saya ketemu teman-teman pecinta alam di kampus. Sedikit dipaksa penuh cinta buat mencoba makanan lain selain tempe. Saya ingat makanan pertama yang saya suka selain tempe, adalah dendeng. Adalah dia yang tak perlu disebut namanya, yang memperkanalkan dendeng dalam hidup saya. Jiaaaah, umur saya 18-19 tahun saat itu. Kemudian diikuti kornet. Lanjut dengan lele. Dan seterusnya dan seterusnya. Dan di akhir usia 20an, saya tiba tiba pemakan segala.

Tapi namanya cinta pertama, susaaaaaaahnyaaaaa dilupakan. Tempe selalu tetap dalam jiwa. Ihik.

Segitunya saya sama tempe, bahkan melihat sekilas gorengan pinggir jalan dari jendela mobil, saya tahu mana tempe yang cocok yang kriuk dan gak. Sekenyang kenyangnya perut kalau ada tempe di depan mata, minimal pengen nyobain barang 1 saja. Dan saya super pede bahwa favorit saya ini gak berbahaya seperti favorit orang-orang lain yang hobinya makan sop kaki kambing, soto betawi, steak atau makanan lainnya.

Sampai hari Senin lalu, tepatnya tanggal 11 Januari 2016, lutut saya bengkak di pagi hari bangun tidur sampai gak bisa jalan. Malamnya untuk menuju tempat makan malam saja, saya perlu digendong suami saya. Cieeeee. Oh hmm begini, kalau Anda pernah ketemu saya, proporsi besaran tubuh saya sama suami memang kurang populer, huahahaha, tapi dia kuat kok gendong saya waktu itu. Mungkin itu namanya cinta, hiyaaaa…… *kibas rambut*

Anyway hari Selasanya saya terpaksa ke dokter. Singkat kata singkar cerita, saya terindikasi kena asam urat. Whaaat? Gak terima saya. Langsung saya tanya dokternya, apa gara2nya.
Makan tape ketan, duren, santan, pete, disebutkanlah sederet makanan yang most of them belum pernah saya makan, kayak tape, duren, pete, jerohan itu 100% belum pernah saya makan. Sementara santan jaraaaaaang sekali masakan santan yang saya makan, karena memang gak suka. Seafood kebetukan saya habis maka  memang beberapa hari sebelumnya, tapi itu juga jarang.

Gak terima lagi, sya bilang. Tapi saya gak makan itu semua dok.
Dokternya ngelanjutin, kacang2an juga bikin asam urat, tempe…
Blaaaaarr…. seperti tersambar petir di siang bolong…. *bayangkan ekspresi saya seperti bintang-bintang sinetron di tersandung 27 dengan kamera yang maju mundur*

Well, tempe? Cintaku? Cinta pertamaku? Uhuk….

Hari-hari berikutnya saya mengucapkan kata berpisah sama tempe. Saya bilang, ini buat sementara saja. Kita temenan aja. Tapi gak bisa deket-deket. Bahkan untuk meliriknya saja saya gak punya keberanian. Suami saya langsung pindah meja saat makan tempe penyet di suatu siang dalam minggu ini. Mungkin dia takut saya terluka. Huaaaaah, opo sih iki.

Anyway, sungguh benar kata orang ya. Bahkan dalam hal paling sederhana pun, sesuatu yang kita pikir baik tidak selaly baik bagi kita, sementara sesuatu yang kita pikir buruk tidak selalu buruk bagi kita.

Seorang teman ninggalin komen di timeline facebook, sesudah timeline rame dengan hinaan teman-teman serra ucapan selamar datang di usia 40an. Huahahaha.
“Semua makanan sebenernya baik mbak, tapi jangan berlebihan. Juga diirngi olahraga”

Aaah seandainya dia tahu, tempe itu gak cuman baik, dià sungguh sungguh menyayangiku…. huahahaha…. *ketularan hashtag kaminaksir*

But again, life change…. dalam beberapa waktu ke depan si tempe ini kayaknya perlu berpisah sebentar sama tempe. But we shall meet again, someday, soon.

*coretan buat mengingatkan diri sendiri dan teman-teman yang menjelang usia 40*

Life in a Bowl of Indomie

Berada di Semarang, malam-malam, kemudian memutuskan makan Indomie di warung burjo akang2 di Tembalang, sungguh semacam melemparkan saya ke badai memori sekian puluh atau belas tahun yang lalu.

Semua ingatan seperti menari-nari berusaha menarik ingatan syaa lebih dalan pada satu ingatan khusus. Sayang saya sedang tak dalam tahap setia pada satu ingatan saja. Saya memilih terbang menikmati terjangan semua memori itu. Mulai dari yang indah dan mengundang senyum sampai yang biru dan butuh tenaga untuk menahan airmata.

18 tahun pertama hidup saya, saya habiskan di kota ini. Pertama kali nonton bioskop. Pertama kali pacaran. Pertama kali ditinggal cowok tanpa jelas apa alasannya. Pertama kali dikirim mewakili sekolah untuk pertandingan. Banyaj hal yang pertama kali terjadi dalam hidup saya, terjadi di kota ini. So, harddisk external 1TM juga nampaknya gak cukup menampung kilasan videonya, apalagi muatan emosinya.

Sementar warung Indomie warna hijay yang layoutnya khas itu mengingatkan saya pada malam-malam sepi di Yogya saat darah muda menggelegak. Menghabiskan malam dengan diskusi-diskusi ngotot tentang hidup, tentang negara, tentang cinta, tentang pertunjukan-pertunjukan drama, tentang “dia”, tentang masa depan. Tentang hidup pasca kampus biru, pasca kartu mahasiswa expired.

Sungguh, kebahagiaan hidup memang terletak pada kemampuan bersyukur.

Saya tersenyum mengingat malam-malam kami, saya dan suami, berburu indomie. Naik motor. Berjaket. Jam 9-10 malam, setelah pulang dari saya mengajar, menenteng printer pinjaman dari tempat kursus saya mengajar bahasa inggris, mampir sebentar sebelum lanjut nebeng ngetik skripsi di rumah teman yang punya komputer. Kenapa malam? Karena siangnya saya kerja, komputernya dipakai yang punya serta printernya dipakai buat ngeprint tagihan di kantor. Hehehehe.

Malam berlanjut dengan teman saya tidur di kamar teman lainnya. Suami saya yang saat itu jabatannya sahabat saya akan melek semalamam sambil baca buku tanpa berkata sepatah kata pun. Dan saya akan akan mengetik sampai jam 3-4 pagi sebelum tergeletak di depan komputer. Bangun jam 5, ngesave ulang semua ketikan, minum teh buatan teman yang punya komputer, kemudian menembus udara pagi dinginnya Yogya di tahun 2000an awal bersama sahabat saya mengembalikan printer sebelum jam 7 kantor buka lagi. Aaaah romantisme masa muda memanag luar biasa.

Badai memori saya terinterupsi suami yang mengingatkan soal beli salonpas untuk tangannya yang sakit.

Well, laki-laki ini, yang dulu mengantar, menjemput dan menemani saya mengeyik skripsi. Yang kuat tanpa jaket menerjang dinginnya Kaliurang. Sekarang mengeluhkan pergelangan tangannya sakit dan perlu salonpas buat meredakan sakitnya

Sekali lagi saya tersenyum geli, gimana selempar kertas berlem mampu melemparkan saya kembali ke tahun 2016. Di kamar mandi, saya melirik kilasan benang putih yang nampaknya enggan terlepas dari kepala saya. Aaah si putih pun mulai bertebaran di kepala. But I dont feel like I am getting older for even a day. Hihihi.

Wow. How time flash. It was only yesterday, or even this morning as I remember. But hearing my kids breathing in their sleep right in the rear seat of the car reminds me of one peculiar thing. Time is slow and fast at the same time that it makes me confused of separating memory and dream. Or are they really from the same planet? *sigh*

Here at my almost 40 stage, I realize that this sentence below is really really giving you harsh fact.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”

Dan Fan, kaudapatkan insight itu melalui Indomie dan Salonpas? Well, may be you should try salmon steak next time for better insight. Hihihi.

image

Sebelah Hati

Seumur hidup saya yang menjelang 40th ini saya jarang punya teman dekat perempuan. Entah kenapa.

Waktu SMA mungkin alasannya karena sekolah saya memang oerempuannya cuma 30% dari total jumlah siswanya. Kebanyakan anak kos dan beretnis cina, yang kadang sulit saya dekati karena beda gaya hidup. Mereka bisa makan apa saja saat makan siang sementara satu2nya makanan halal di dekat sekolah adalah bakso gepeng. Lainnya, mencurigakan kehalalannya. Mereka bisa main sampai jam berapa pun, sementara saya sebelum maghrib harus sampai rumah. Well, alasan kan bisa dibikin. *menyeringai*

Waktu SMP saya sempat di 2 sekolah. Di sekolah pertama, saya kelas 1 dan 3, long story, nanti kapan2 saya ceritakan alasannya. Di kelas 1 saya berteman dengan 2 perempuan. Di kelas 3 saya berteman juga dengan beberapa perempuan. Tapi semuanya sudah berbahasa beda saat ini kalau ketemu. Entah saya yang nganeh-nganehi atau memang dunianya terlalu berbeda.

Lulus SMA saya cabut dari Semarang langsung ke Yogya, masuk fakultas yang cowoknya 30% dari seluruh siswa per angkatannya. Teteeep saja teman saya kebanyakan laki-laki. Yang perempuan entah kenapa kok kayaknya gatel deket2 saya.

Kemudian tahun 2015 saya berkenalan dengan sekelompok ibu2 yang sebagian besarnya belum pernah saya temui. Kami ngobrol via WA. Colek2an via Facebook. Telpon2an koordinasi ala ala gitu deh. Sebelum akhirnya kami bertemu setelah kurang lebih 2 bulan bersama di #sedekahoksigen. Menariknya, pertemuan pertama kami ga sempat diisi basa basi. Pembahasan langsung merangsek masuk ke area personal diselingi tawa dari mode terkikih terkekek sampai terbahak-bahak.

Sampai-sampai saya perlu mengingatkan,
Kalau ada orang lain, tolong behave yaaa….
Hehehehe

Saya pikir hubungan kami akan mereda ketika #sedekahoksigen berkurang kegiatannya. Ternyata tidak. Grup yang tadinya dibuat untuk koordinasi kemudian berubah jadi ajang sharing ilmu, dari biologi sel sampai ke internet marketing. Juga tempat curhat, tentang apa lagi kalau bukan suami anak mertua juga tentang dia yangbtak boleh disebut namanya. Juga jadi tempat menyembuhkan luka-luka lama. Tempat saling support saat sakit, merasa sedih, butuh dukungan. Bahkan jadi saran kirim mengirim hadiah satu sama lain, dari sekedar eclair sampai ke pil )(€£₩&^$@* *nama dirahasiakan*, hehehehehehe.

Suami saya sempat bertanya.
Kamu convinient dengan temen2mu itu? Nyaman? Karena mereka jelas gak akan kamu temenin sekian belas tahun yang lalu.

Saya jawab.
Iya nyaman. Kayak aku gak perlu jadi orang lain. Gak perlu pura-pura, basa-basi, ga takut di judge, gak takut dibilang aneh. Nyaman. Dan sering kali rindu.

Pssst, saat berpisah dengan salah satu teman saya ini di Palangkaraya beberapa waktu lalu. Saya berpelukan dengan dia cukup lama sambil keras menahan airmata kami. Kemudian ketika 2 minggu berikutnya saya datang dan harus pulanv lagi, saya pikir akan lebih mudah, ternyata tidak juga. Dada dan perut saya terasa bolong saat harus berpisah.

Belum saat salah satunya berlibur ke Jakarta akhir tahun lalu. Saya pikir intensitas rsanya akan berkurang, ternyata gak juga. Saat kami berpisah, kali ini tanpa pelukan, karena ada suami dan anak2 yang hebooooh bin ribet. Tapi saat taksi mulai berjalan meninggalkan saya, sebagian hati saya rasanya ikut pulang ke Surabaya.

Aaaah saya memanflah seoranf Gemini yang lebay soal merasa.

Mamah saya di masa lalu pernah bilang.
Kurangi keterus-teranganmu, sebagian orang gak suka sama gayamu yang tanpa basa-basi, main langsung clekop aja.

Butuh hampir 40th buat saya membuktikan. Teman sejati. Teman yang insyaa allah berteman karena Allah, melalui hati, gak menuntut saya to act less than who I am. Hampir 40th.

Am i happy? Yeeeessss, sure… perjalanan panjang dan berliku memang hampir gak terasa ketika kita dapat sesuatu yang sungguh2 kita inginkan. Dan dalam kasus saya, sekelompok teman perempuan. Yipiiieee….

Dan impian saya dan teman2 makin berlanjut. Bisa liburan sambil ngobrol sana sini sambil baksos di tempat2 di Indonesia tiap 2-3 bulan sekali. Semoga Allah ridho.

5 januari. Saya bersyukur bertemu teman2 baik yang mengisi hati saya dengan kehangatan yang tidak bisa diterangkan dengan kata2. Saya bersyukur teman2 saya bersedia menjambak rambut saya saat saya mulai keluar jalur. Saya bersyukur saya senang dan gak sakit hati, bahkan kadang sukarela dijambak oleh mereka. Saya bersyukur atas gerakan #sedekahoksigen yang mempertemukan saya dengan ibu-ibu cadaz macam mereka.

I love you giiiiirrrrlllllsssss…..

image

Ini salah satu yang ingin saya lakukan bareng temen2 saya. Di pantai, lereng gunung, atau sekedar di hotel atau di mobil. Hehehehe.

image

Salah satu baksos yang kami lakukan di Palembang

image

Baksos juga di Palangkaraya

Di Januari *bukan oleh Glenn Fredly*

Hari keempat tahun 2016. Alhamdulillah I survived December 2015. Hehehehe.

Januari selalu penuh optimisme. Entah kenapa. Mungkin karena mayoritas penduduk dunia bersepakat soal tanggal yang tepat untuk memulai hitungan tahun. Atau karena sebagian habis berpesta semalaman hingga keriaan masih tersisa. Buat saya Januari terasa optimus #eh optimis, karena saya berhasil melewati Desember tanpa berkurang kewarasannya. Hiks. Lebay.

Di Januari ini saya berjanji buat bersyukur setiap hari atas hal-hal dalam hidup saya.

1 januari, saya bersyukur berhasil melalui 4th meninggalnya papah saya. Melewati 1 tahun jadi yatim piatu tanpa kehilangan my sanity. Huks. Bersyukur sudah melewati malam bersama 2 sahabat baru-rasa-lama dengan segala macam pembicaraa dari yang intelektual soal buku sampai blas gak intelek soal voldemort a.k.a misteri hilangnya kota di peta. Hihihi.

2 januari, saya bersyukur Genta memutuskan untuk menginap dan meng-exercise kemandiriannya lagi, walau diselingi tangisan kangen di malam harinya. Bersyukur saya dan suami punya waktu mengingat masa muda dengan nonton bioskop. Bersyukur Puti yang sangat kooperatif dipaksa nemenin ayah ibunya nonton bioskop.  Hiyak.

3 januari, saya bersyukur berhasil marathon nonton bioskop bareng laki2 yang sudah bersama saya selama 14th. Menonton 2 film Indonesia yang keren, Bulan Terbelah di Langit Amerika juga Negeri Van Oranje. Saya bersyukur menonton 2 film apik dan membuat saya  teringat tentang pentingnya beragama dengn baik. Juga film yang menghibur, membuat saya tertawa dan bernostalgia. Aaaah nostalgiaaa memang selalu syahdu buat dilakukan. Hehehe.

4 januari, hari ini. Saya bersyukur atas semangat baru yang entah datang dari celh sebelah mana di tubuh saya tapi terasa nggremet sejuk dan hangt di waktu yang sama. Saya berayukur atas berita baik dari adek kecil saya dan keluarganya yang akan segera bertambah anggotanya. Saya bersyukur saya menikahi sahabat saya. Saya bersyukur atas usia yang hampir 40th serta aset di kepala saya yang akan menjadi cahaya di alam kubur nanti *if you know what I mean*.

Saya bersyukur atas gadget ini di mana saya bisa menuliskan rasa syukur saya sambil menemani Puti yang tidur siang. Saya bersyukur atas liburan yang sudah lewat juga liburan yang sebentar lagi akan datang. *sayang gak ada icon joged*

Anyway saya berniat hanya akan bersyukur di tahun ini. Semoga Allag ridho dan menambahkan nikmatNya sehingga saya makin bersyukur.

Happy 2016. May the force be with you. #ealah. May you have a great and barokah life ahead.

image