​Punya TV Ga Punya Antene

Sekitar bulan Agustus nanti, resmi 3 tahun kami sekeluarga jarang nonton TV. Dibilang ga pernah, padahal kalau di hotel nonton, di Villa Kandang Sapi langganan kami nonton juga, di Villa Mbantul Madu nonton juga. Jadi merasa bersalah kalau ngakunya ga nonton TV.
Sebelumnya sejak sekitar 2008 pun sesungguhnya kami jarang nonton TV lokal. Jiaaah. Nontonnya TV Internasional lah, CSI, NCIS, Lie To Me. Pokokna mah di mana asa kejahatan, di situ kami nongton lah. Horatio bintangnya buat saya. Yang selalu mengundang suami membully saya dengan pilihan lelaki saya. Komen suami,

“Memang pilihan laki lakimu tu yang bener cuman aku ok dek.” #abaikan

Sampai suatu ketika tanpa dinyana, bagai petir di siang bolong, si internasional tea pun memutuskan hubungan secara sepihak. Karena harga diri yang tinggi menutupi alasan sesungguhnya, yati malas, kami biarkan itu TV mati tak terurus. Maka sunyi sepilah dunia kami dari pertelevisian.

Namun di antara waktu waktu itu, suatu ketika pak suami kangen nonton ILC. Tontonan favorit beliau yang mendapatkan dukungan penuh dari almarhumah mamah. Di depan Bang Karni dan suara khasnya, biasanya mamah dan mas akan sibuk berdiskusi tentang tema tema heboh tanah air. Saya? Saya pilih nemenin bocah2 aja, main game atau baca buku.

Karena rindu yang tak terkira, dibelilah antene indoor ala ala. Sekedae bisa memunculkan gambar di kotak hitam besar yang menghias ruang depan kami. *mau bilang ruang tamu kok ya bukan, ruang keluarga ya iya, fungsinya macrm macrm jadi sebut saja ruang depan*

Dan ajaibnya, hanya si bapak yang bisa memakai itu antene. Mungkin sesungguhnya saya bisa, tapi ga sronto kata orang Jawa suruh muter muter tombol sambil gerakin 2 antene panjang itu sampai ketemu titik yang pas yang bisa menghapus semut semut dari layar TV kami. Alhasil, again, saya cuman nonton TV kalau si bapak ada dan beliau lagi pengeb nonton TV.

Rupanya TV yang harganya mahal itu tak jadi bermanfaat juga kalau gak didampingi si antena ala ala yang harganya 100ribuan ya? Kok bisa? Gimana sih kerjanya dunia industri pertelevisian ini? Kok bisa satu pabrik raksasa yang terkenal jadi ga berkutik tanpa kehadiran produk dari pavrik kuecil yang entah apa namanya itu. What a plot!

Hanya karena harganya murah atau sering kali gratis diberikan sebagai bonus pembelian TV, we take it for granted. Begitu antena rusak, bubar semua. TV cuman jadi kotak pajangan. Or in my case, jadi cermin buat my littlr princess nyanyi dan ngapalin dialognya Sopo Jarwo dan Cherrybelle.

Plot plot macam TV tanpa antena ini jebul banyak juga kita temui ya di dunia nyata? 

Seperti 

mampu beli mobil, tapi menganggap kemampuan menyetir sepele

mampu beli motor Ninja, tapi lupa kalau rumahnya ga muat buat diparkirin Ninja

mampu beli buku, tapi nyempetin bacanya nunggu tak sok tar sok

mampu beli tempe, tapi ga punya cabe buat temen makannya…. haaaaa…… huahahahaha…..

Nampaknya memang standar dan manusiawi saat kita fokus pada yang besar dan magrong magrong, yang keren, yang mengundang decak kagum, dibanding fokus pada hal hal kecil yang sepi dari tepukan. Umum juga kalau manusia lebih suka melihat yang bisa dibeli dengan harga mahal, lupa sama yang (dikira) gratisan dan (dikira) punya dia sendiri, macam oksigen, tanah negara, air dan banyak lainnya.

Maka sebagai bentuk aksi anti mainstream, saat banyak orang menuliskan salah satu dreamnya punya TV yang inch nya sak hohak, saya dengan ini memutuskan bahwa salah satu dream saya adalah punya antene TV yang mudah dioperasikan. Demikian!

Selanjutnya hal hal mengenai itu akan diatur dalam tempo segera dengan sepengetahuan si bapak. *yes pak?*

Ok. Sebelum Anda membayangkan saya membeli antena. Saya ingatkan. Kadang kala plot macam ini juga muncul dalam cerita macam lupa seberapa menderitanya ga bisa BAB rutin setiap hari karena sibuk mengatur sebuah negara. Begitu deh!

Ini Soal Kepentingan!

Puluhan tahun yang lalu, saya berkumpul bersama puluhan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas di sebuah villa di Kaliurang. Saya datang terlambat karrna memilih menyelesaikan dulu urusan dengan organisasi pecinta alam yang waktu itu sungguh sudah membuat hati saya tersekap. *bosoku rek*
Saya datang terlambat saat acara rapat sudah dimulai. Dingin udara kaliurang nampaknya kurang mampu meniup hawa panas di ruang rapat. Saya duduk di bangku tengah, tepat di belakang teman teman yang sedang berdiri dari kursinya untyk meneriakkan pendapatnya.

When I say meneriakkan, itu bukan konotatif, tapi denotatif. Mereka saling berteriak. Sementara di bangku belakang sebagian mahasiswa sedang bergeromvol sendiri. Sebagian nampak serius berdiskusi dengan wajah gabungan jengkel dan kecewa, tapi suaranya sangat kecil. Sebagian acuh tak peduli, bayangan saya mereka lelah dan tak habis pikir.

Saya terjebak dalam posisi tengah antara kelompok mahasiswa yang berdiri dan teriak dengan kelompok mahasiswa yang duduk dan berbisik. Saya mencoba mendengarkan, cukup keras, untuk tahu masalah pelik apakah gerangan yang sedang kami -para mahasiswa yang di bahunya terletak masa drpan bangsa- bahas.

Dahi saya berkerut. Telinga berusaha keras mendengar kata2 para pemimpin rapat di ujung depan ruangan. Sementara mata senantiasa melihat pantat2 di depan saya yang bergerak gerak. Aaaah betapa banyak godaan saya saat itu untyk fokus.

Ahaaaa….. saya akhirnya mendengar kata2 dari pengeras suara….

Jadi apakah sebaiknya kita pakai koma atau titik koma setelah kata sementara?

Koma!

Titik koma!

Kalau titik koma iti bisa disalahartikan!

Justru koma yang bisa disalahartikan!

Atau titik saja?
Whaaaaaaat? What? What? What? 

Apa ini yang kita bicarakan? 
Saya cek jadwal acara di kertas yang saya pegang. Harusnya ini sesi pembahasan tata tertib sidang.

Whaaaaat? Masih bahas tata tertib udah hangat hangat bagai indomie baru diangkat dari wajan? Gimana sesi sidangnya nih?

Aaaah dari jauh saya mengenali 2 pantat yang nampak familiar. Saya colek pelan dengan harapan dia tidak kaget. Kawan saya satu ini menoleh. 

Hei.

Hai. Apa ini? Tata tertib?

Heeh

Udah seheboh ini?

Teman saya menunjukkan wajah yang tidak setuju. #ups. Rupanya dia salah satu pihak yang sedang bersikukuh soal tanda baca tadi. Dahinya verkerut menggantikan kerutan di dahi spaya tadi. Bibitnya mulai terangkat sedikit ke satu sisi. Kemudian dengan keras dia menjawab….

Ini soal kepentingan Fan! Semua ini soal kepentingan! Aaaah kamu gak paham sih!

Jleb, auuuuuuu……

Mendadak saya mengalami disorientasi. Saya duduk sambil melihat sekeliling saya. Bukankah kita semua yang ada di sini baru saja selesai dipilih dan dilantik? Lalu dari mana dia jadi lanyah bicara kepentingan sementara saya masih menggerutu harus meninggalkan pacar saya di Yogya buat acara ini?

Merasa seperti kura kura tertinggal dala  lomba lati oleh kelinci……

Malam ini saya terlempar ke villa itu di Kaliurang, tempat saya kemudian mengenal beberapa teman lain yang sempat saya kagumi saat itu. Dinginnya udara. Ketusnya ucapan. Batunya ekspresi wajah. 

Saya ingat pada waktu itu syaa memilih meninggalkan ruangan menikmati udara dingin gunung yang memanf kesukaan saya.

Kepentingan. Kepentingan. Mahasiswa. Peneruz perjuangan. Tata tertib sidang. Titik koma. Koma. Titik. Kepentingan. Oh. Why am i lost?

Puluhan tahun kemudian orang2 yanga da di ruangan itu menjelma menjadi banyak hal. Entah berapa yang mrnjadi ibu rumah tangga, saya gak tahu. Tapi kebanyakan menjadi aktivis, independen atau bagian dari organisasi. Organisasinya bisa lokal, internasional bahkan juga pemetintahan. Well. 

Kemudian malam ini saya entah kenapa ingat pada sebuah berita yang sekilas saya baca di TL.

Cabr mahal. Tanem sendiri. Gak usah bikin sambel. Bersyukur!. Salah pemerintah. Ini kepentingan.

BBM naik. Pindah ke Arab sana yang BBM murah. Untungku berkurang berapa nih?. Walk out dari sidang sambil nangis termehek mehek atau pura pura aja ga tahu sambil ga komen, toh kan beda periode. Tergantung kepentingan.

Kalah duel atau dikeroyok? Tergantung kepentingan.

Bubarkan FPI atau dukung FPI? Tergantung kepentingan.

Fitza hats. Salah pengetik, prlapor, pembaca, penyebar foto atau salah kita yang mengolok olok? Tergantung kepentingan.

Saya ga akan kasih pilihan sebarkan hoax atau hentikan. Karena saya yakin seyakin yakinnya, kalau orang itu ga suka nyebarin hoax, kalau mereka tahu itu hoax. Soal malas ngecek atau rasa puas saat terima hoax yang sesuai kepentingan, itu mah urusan pengendalian jempol.

Di usia sekarang saya paham maksud kenalan saya itu bilang bahwa di dunia ini semua serva kepentingan. Apakah maksudnya serba terlalu penting? Hahahahaga……

Memang kepentingan yang menggerakkan kita rupanya. Masalahnya adalah kepentingan apa?

Kepentingan perut? Lapar vs. Kenyang?

Kepentingan dada? Penghargaan vs. Penghinaan?

Kepentingan mata? Indah vs. Busuk?

Kepentingan jempol? Nyinyir vs. *apa ya anyi nyinyir itu?*

Kepentingan apa? Duniawi vs. Akhirat?

Usia udah 40. Di Quran sudah diingatkan surug hati hati. Keluar malem dikit udah masuk angin. Kena AC kelamaan udah pilek besoknya. Roadtrip ke Curebon aja recovery 3 hari. 1x begadang pulangnya kerokan. Jadi yaaaa harusnya kepentingannya disortir, sehingga efeknya diksi pun jadi terfilter.

Tapi itu saya yang udah 40 tahun. Kepentingan saya cuman sehat, biar bisa tetep jalanan jalan dan makan makan bareng Pak Bondan. Hahahahaha.

Malrm friends. Sleep tight. Dream of me.

Ecieeee….. itu kan dulu penutup di surat surat cinta ayeeeee….. uhuk…..


2 weeks of sleep, everyone?

Kamu Jahat!

Mau menyendiri dulu di sinj yang agak sepi. sambil menikmati sejuknya malam dan temaram bulan. Diiringi hembusan napas para cinta di kiri kanan.

Sayang, malam ini duniaku tak lagi sama. duniaku seperti jungkir balik di hadapanku. Atau bahkan aku ikut jungkir balik di dalamnya. Entah yang mana sensasi rasa, mana sensasi pikir, perlu ayakan mental buat memisahkannya.

Sayang, dulu di masa lalu, pernah kujatuh cinta pada kelompok orang ini. Yang kukagumi karena kukenal kedisiplinannya, toleransinya, alur logikanya, kematangan emosinya, bahkan di usia remajanya. Belakangan aku gigit jari melihat lontaran kata kasar berlompatan dari mulut mulut mereka. Ya, mereka yang kukira pendukung keberagaman, toleransi dan kebebasan berpendapat. Ternyata tak segitu anggunnya saat keberagaman benar benar di depan mata, saat oendapatnya disanggah dengan data data.

Mereka tak tahu sayang, padahal dari merekalah aku belajar berargumentasi dengan logis dan tidak menyerang personal. Sekarang mereka main serang personal. Mereka tidak tahu, bahwa diam diam sudut hatiku dihuni kelompok ini. Kelompok yang berbeda denganku, tapi kucinta sedegup dada.

Tapi ternyata mereka tak seperti bayanganku. Kujatuh cinta pada mereka belasan puluhan tahun yang lalu. Beberapa hari ini patag hati ku dibuatnya.

Mengapa lantang teriak demokrasi, jika lantang pula menghina orang berdemonstrasi? Bukankah demobstrasi adalah salah satu channel demokrasi? Atau hanya lantang kau teriakkan demokrasi ketika dia bisa kau tunggangi sesuai arah tujuanmu, tapi tidak saat orang lain menungganginya sesuai arah tujuan mereka? Ah. Tak kusangka kau yang dulu kucinta bisa bermuka dua macam ini.

Mengapa terus terusan teriak Bhinneka Tunggal Ika, jika orang berpendapat beda saja langsung kau serang secara personal? Tidakkah dulu kita pernah sama belajar tentang keindahan alur pikir logis dalam argumentasi? Ya, kita sama sama belajar waktu itu di sore hari saat matahari berwarna orens di ruangan ruangan berjendela besar kebanggaan kita. Lalu di mana remah remah puluhan tahun itu kau simpan? Habis dimakan pahitnya hidupkah? Ah.

Mengapa terus kau bicara toleransi sementara kau jelas jelas tak bisa memahami sakitnya hati kami ini, tergores sembilu lidah dia yang beracun. Mengapa terus kau bela dia atas nama toleransi? Lalu kami yang sedang sakit ini, tak boleh meminta cuilan toleransimu yang sudah kau habiskan hanya bagi mereka yang menyamankan hidupmu? Ah kau, jauh benar perginya idealisme yang kita bagi waktu itu dalam dikusi diskusi panjang soal toleransi umat beragama.

Bahwa tidak ada kebebasan mutlak. Karena kebebasan tertinggi dibatasi oleh kebebasan orang lain. Ingatkah kau akan diskusi ini. Diselingi beberapa pria berambut panjang yang wara wiri di sekitar kita? Ingat?

Ingatkah kau akan jargon kita saat itu? Bebas tapi bertanggung jawab. Karena bersama kebebasan ada tanggung jawab, konsekuensi atas tiap perilaku. Lalu mengapa kau diam saat kau tahu ada dia yang bebas menyakiti hati orang tanpa ada konsekuensi sedikit pun, barang nyabuti rumput di lapangan tengah.

Lalu? 

Kau bebas ber taik taik, sementara kami hanya bebas untuk mendengarmu, gitu?

Kau bebas bicara hal hal yang tak kau tahu, smeentara kami yang tahu tak bebas mengingatkanmu?

Kau bebas, kami tidak. Begitukah idemu?

Aaaah cinta. Kupelihara cintaku untukmu bertahun tahun, berpuluh puluh tahun, hanya untuk kau campakkan macam ini dengan hal hal yang dulu membuatku jatuh cinta. Kau tak mampu memelihara cinta. Kau bohong. Kau jahat. 

Kau tanamkan idealisme kosong, yang tak kau pelihara sendiri. Kau janjikan dunia penuh warna, yang kau monokromkan sendiri. Kau beriku mimpi akan masa depan yang kita hadapi berdua, bergandengan tangan, lalu kau campakkan tanganku saat langkahku tak lagi seirama langkahmu.

Cinta oh cinta. Betapa hatiku hancur berkeping keping mengetahui kau yang kubanggakan, tak ubahnya mereka yang dulu kau sebut monster.

Selamat tinggal cinta…

Hatiku patah dan berdarah, tapi aku terus akan melangkah. Kali ini tanpamu. Biar kau jadi cerita lamaku, kisah cinta remajaku yang berakhir di usia ini.

03.11.2016

Dalam patah hati yang amat sangat pada cinta remajaku

The One That Warm My Heart (& Eyes)

Mau share sesuatu hari ini

Udah tahu kan kalau kemarin hari Minggu, Sedekah Ilmu Goes To School perdana berlangsung di Bogor? Tepatnya di desa Caringin Bogor.

Sekian tahun yang lalu saya sering ke sana bahkan bisa nginep 2 minggu buat kasih training korporate komunikasi terbesar di Indonesia yang warnanya merah itu. Hahaha. Jelas yak?

Waktu itu saya dibayar lumayan dan ketemunya sama orang2 lulusan universitas keren2 yang kalau nama universitasnya disebut bakal greng lah dengernya. Mereka ga punya mimpi jalan2 ke luar negeri, karena terlalu sering udahan.

Kemarin saya datang lagi ke tempat yang cukup familiar ini. Seperti nostalgia. Kali ini saya punya misi berbeda. Sekitar jam 7.30 saya sampai ke sebuah MA yang anak2nya sedang belajar bermimpi. Saya dibikin speechless sama anak anak ini.

Awalnya mereka sedikit ragu bicara mimpi. Nampaknya mungkin ga terbiasa bermimpi. Tapi semangatnya makin meningkat seiring sesi makin panas.

Di akhir hari, mimpi mereka semakin jelas. Saya quote kan sebagian WFO mereka…

“Saya berdiri di panggung bersama teman teman paduan suara saya, selesai bernyanyi di kontes Internasional di Amerika tahun 2020”

“Saya melihat baju baju muslim rancangan saya diperagakan oleh para model di acara fashion show international dan saya mendengar tepuk tangan para penonton tahun 2025”

“Saya berdiri di atas pegunungan sedang mengambil gambar dengan sudut yang berganti ganti supaya hisa menjadi fitur di surat kabar tempat saya bekerja”

Now. You tell me how you feel membaca WFO macam itu dari remaja kita. You tell me.

Yes, now you feel me, right?

Memang benar Soekarno waktu bilang masa depan bangsa ada di tangan para pemuda ya?

Bayangkan kalau tiap remaja di bahkan di pelosok dapat kesempatan buat mengeskplor mimpinya dan diberi tools untuk mengejarnya. Pemuda #AntiGalau istilah mereka. Hehehe.

Sampai sekarang saya teringat ekspresi wajah mereka. Senyumnya salah satu dari mereka saat berhasil melupakan kejadian yang selama ini mengganggu hidupnya. Senyum saat tiba tiba merasa kesedihannya berkurang drastis. Senyum saat bisa membayangkan dirinya memegang piala kemenangan.

Terutama, senyum saat berkata.

“Sekarang berangkat sekolah kok terasa ringan ya bu?” *abaikan kekurang ajaran mereka memanggil saya bu padahal harusnya kan panggil kakak* huaaa

Sungguh saya super jaim saat ini karena sesungguhnya kalau boleh saya mau joged joged sambil nyanyi I love to move it move it 󾠀󾠀󾠚󾠚

Ijinkan saya bercerita kisah ini di pagi Senin yang mendung. Sekedar menyampaikan terima kasih atas dukungan semua teman donatur, relawan, partner yang diam diam mendoakan dan mensuppSedekah Oksigenigen.

Yesterday, it was your love that touches their heart. I was honored to witness it all.

Again, thank you. Stay close. Stay in touch.
Mari kita lanjutkan bergandengan tangan ini buat mereka.

 

Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Tebar Cinta Anak Bangsa

Yesss…..

Bayangkan pemandangan berikut ini….

Anak anak berbaju merah putih tertawa riang di pagi hari sambil berjalab kaki menuju sekolah…
Anak anak berbaju putih biru tersenyum tersipu saat bertemu temannya mengayuh sepeda menuju sekolah dengan udara pagi yang segar…
Anak anak yang bangun pagi dengan niat berangkat sekolah apa pun kondisinya saat itu…
Anak anak di pelosok Indonesia dengan mimpi besaaaar bagi bangsanya menyusuri pematang menuju gedung berbendera merag putih…
Anak anak yang dengan setia menunggu rakit di pinggir sungai untuk membawa mereka ke pelukan bapak ibu guru yang sudah menanti dengan senyumannya…

Yes… pertahankan gambar itu….

Sekarang bayangkan Anda yang mengukir senyuman itu…
Mereka, anak anak itu melambaikan tangan dan senyumannya buat Anda…

Anda yang membuat segalanya mungkin bagi mereka…
Anda yang menyisihkan sebagian rejekinya buat tas tas mereka… buku buku mereka… pensil yang mereka genggam… buat masa depan mereka… yang at the end adalah masa depan bangsa kita juga, Indonesia…

Well… Anda bergetar?
Saya nulisnya pun bergetar…

Bantu saya dan temen teman di @sedekaoksigen yaaaa buat bikin bergetar hati anak2 itu… supaya mereka tahu ada banyak ayah bunda yang peduli pada mereka di tanah airnya…

Bantu kami yaaa….
Bantu mereka….
Bantu anak anak bangsa kita…. – with Fauziah H, farino, Fatriya, Danti, Awwal, Dian, Henri, and Anton

View on Path

Merah Putih Kami

Mengutip kalimat mas Hunggul Budi Prihono.
Ibarat puzzle. Para relawan, dermawan, manusia berhati sosial, pemilik ide cemerlang tersebar dan bertebaran (nampak berantakan karena saking banyaknya) di seluruh penjuru negeri yg teramat kaya ini (kalo ada yg tidak mau mengakui bahwa negeri ini kaya silahkan minggir ke negeri tetangga 󾌼).
Semua mereka ada, karena pada dasarnya negeri ini merdeka dg kerja keras, merdeka dg saling gotong royong, merdeka dg penuh darah dan airmata, merdeka dg segala kekuatan yg tersebar yg mulanya satu menjadi dua, dua menjadi tiga yg kemudian saling bersatu bermodal bambu runcing dan nasi bungkus ala kadarnya. Lempengan2 puzzle menjadi kuat dan berwujud sebuah gambar merah putih di dada dan menjadi kekuatan dahsyat melawan mortir dan senapan mesin sang nederland.

Siapa yg menyatukan puzzle tersebut?

Tidaklah penting menanyakan siapa tokoh yg menyatukan puzzle2 kekuatan rakyat semesta saat itu karena pada dasarnya para pahlawan tidak mengharap sebuah penghargaan dan pengakuan.

Relawan juga sebuah kekuatan dahsyat, energi individu yg masih tersebar dan twrcerai di seantero negeri ini. Ibarat sebuah generator listrik, bagian komponennya masih tercecer di seluruh pelosok dan sudut kota.

Si kabel mungkin ada di Padang, si akki ada di Bogor, si karburator ada di Ambon, dll….. Semua akan berfungsi dan memberi manfaat sbg sebuah energi besar setelah ada yg merangkai dan menyatukan.

Siapa yg akan merangkai dan menyatukan puzzle2 ini??

Banyak lembaga sosial, banyak kelompok2 peduli, banyak komunitas (yg positif) dimana mana mulai para abg, emak2 rempong, bapak2 sampai civitas kampus dan teknokrat dan cendikia.

Tidak penting siapa mereka menurut saya.

Kekuatan yg akan menyatukan puzzle2 ini adalah MERAH PUTIH di dada.
Kekuatan dahsyat seperti sang bambu runcing melawan mortir dan senapan mesin.
Di MERAH PUTIH tidak ada RAS, MERAH PUTIH tidak menanyakan agamamu MERAH PUTIH tidak menanyakan asalmu.

Selamat menebar manfaat RELAWAN!!

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Ini penulis aslinya. Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Ini penulis aslinya.
Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Lebay Yang Berlebihan

Berdasarkan pengamatan yang sifatnya random dan tidak bersistematika penelitian yang baik, belakangan kok saya melihat ada peningkatan signifikan atas kelebayan ekspresi individu di dunia maya. Bahkan kelebayan ini menghinggapi teman-teman yang saya kita nJogja banget.

Ada apakah gerangan dengan fenomena ini? *ala siket* #eh *siket* #teteptypo

Saya sudah jauh dari dunia observasi ilmiah, maka saya ga berani banyak bicara soal segala yang ikmiah dengan dasar teori dan lain lain. Anggap saja ini pengamatan random terbatas dari seornag ibu rumah tangga yang kurang kerjaan.

Belakangan setiap kali ada berita, langsung muncuk 2 kubu. Kubu pro dan kubu kontra. Klasiiiiik kaaaan? Dari jaman Aristoteles juga begitu. Gak papa, ga ada yang baru. Kemudian kedua pihak menjentrehkan oendapatnya, opininya, fakta yang didapat melalui kacamatanya, menuliskan dengan gayanya, memposting di halamannya sendiri. Berharap setiap ornag yang kewat depan rumahnya semoat membaca dan sekedar menunjukkan persetujuan atau tidak setuju atas pendapatnya. Hiks, inintermasuk saya ya.

Nah yang menarik adalah gaya bahasa yang dipakai 2 pihak ini. Buat yang setuju, tulisannya dipenuhi kata2…

Brilian
Jenius
Visioner
Orang pilihan

Yang kontra akan menjawab

Kurang pikniiiiikkkk
Kurang gauuuul
Mungkin dia lelah

Urusan salju di Arab misalnya, yang satu bilang.
Kiamat sudah dekat, apakah sudah cukup bekal kalian wahai kaum yang suka menistakab agama?
Satunya
Salju memang biasa turun di Arab kaliiii, situ aja yang kurang piknik. Makanya jangan cuman shokat, sana jalan jalann.

Soal bom sarinah, yang satu bilang
Rekayasa! Jelas ini konspirasi kepolisian.
Satunya bikang
Jonruuuuu, diajakin nangkep teroris tuuu, jangan diem ajaaaa

Soal freeport, yang satu bikang
Keputusab yang brilian dengan permainan catur yang hanya dipahami sedikit orang
Satunya bikang
Pengkhianat negaraaaa, main jual sana sini, emang itu emas nenek lo?

Soal LGBT, satu sisi bilang
Susah ngomong sama ornag yang narrow minded, kurang modern, ga terbuka kayak orang2 barat sana.
Satunya jawv…
Iiih jijik aku liat, masak jeruk makan jeruk, jijaaaaaay…

Brooo, siiiiis, cuman seginikah pelajaran kosa kata dan tata bahasa yang berhasil menyelip di sela sela sel kelabumu? Bapak ibu guru dulu itu ngajarin bahasa Indonesia ada sinonim antonim, SPOK, majas perumpamaan, peribahasa. Itu kan semuanya tujuannya supaya kemampuan berbahasa kita makin syantiiik makin elegan, makin bisa mengungkapkan rasa dan pikir tanpa harus menyakiti rasa atau merendahkan pikir oranf la8n. Itu bukan sih tujuannya?

Kenapa harus melempar seribu pisau dan jarum pentul bersama setiap character yang kau ketikkan? *udah kayak katon belum bahasanya?* *belum ya?* *baeklah*

Di satu sisi saya penging merayakan keberagaman pendapat dan gaya menyampaikannya. Merayakan keberanian orang mengekspresimab rasa dan pendapatnya. Merayakan kemampuan berdiplomasi, mempertahankan pendapat.

Tapu di sisi lain saya termangu sedih mengingat betapa bahasa hanya dipakai untuk kepentingan terbatas, sebatas melempar pisay dan ribuan jarum pentul ke pihak-pihak yang berbeda pendapat.

Ok, gapapa kita berbeda pendapat, katamu.

Tapi sesungguhnya gak se ok itu di dalam hatimu ketika aku sungguh-sungguh berbeda.

Lha mosok kaum modern kayak kita mau kembali lagi ke jaman baheulak di mana segala sesuatu harus seragam? Bedanya kalau dulu gak seragam itu impossible. Kalau sekarang boleh gak seragam, asal siap dibully secara verbal minimal. Intinya yaaa podo wae sami mawon, kudu seragam. Are we that kind of people?

Kalau ya, ijinkan saya tersedu. Di SMA saya berlatih 3 tahun hanya untuk mengungkapkan pendapat. Di SMA saya juga berlatih menerima perbedaan, yang kadang hasilnya merugikan bagi saya yang minoritas. Buat saya ABG, yang mana itu udah puluhan tahun lalu saja, beda itu biasa, ga usah dibesar besarkan. Kadang dirugikan sebagai minoritas, yaaaa itu pilihanmu Fan masuk lingkungan yang jelas jelas kamu minoriras pangkat sekian.

But hey, I still love my high school. Rugi apa gak rugi sekedar perspektif sesungguhnya. Di saat yang sama kerugian yang nampaknya saya terima justru adalah keuntungan di sisi lainnya. Itu pelajaran yang diterima oleh anak umur 18tahun puluhan tahun yang lalu.

Are we even dumber than that 18 years old girl? Are we?
Atau sesungguhnya kita semua terk9ntaminasi virus lebay yang sering kita hina hinakan pada kelompok alay itu?
Mana yang lebih mengerikan? Dumb? Or lebay?

*diiringi permohonan maaf yang sebesar besarnya pada guru guru bahasa Indonesia saya*

image