One in A Million

Sebagai enterpreneur, sering kali kita lupa, ealah kok kita, saya lupa. Sering saya berpikir kesuksesan saya berkorelasi linier dengan kerja keras saya, kerja pintar saya, jumlah jam kerja saya, jumlah jam mikir saya, jumlah network saya. Ketika semua hal yang saya sangka baik sudah saya lakukan, eh lha kok malah bangkrut, ditagih bayar hutang oleh orang2 yang dulu bilang mengagumi keputusan saya untuk jadi enterpreneur. Saya punya 2 pilihan.

Merajuk. Merengek. Dalam hati bertanya dan ngeyel, aku sudah lakukan hal yang benaaaaar, tapi kenapa kau bangkrutkan juga akuuuu? Sementara mereka kau sukseskaaaaaan? Kemudian melacurkan diri dengan melabel diri sendiri gagal, kehilangan muka bertemu orang lain, menyerah pada mimpi2 idealistik saya. Terakhir hidup menjadi versi terburuk dari segala kemungkinan diri saya.

Atau….
Sebaliknya…..
Anda bisa bayangkan sendiri kan sebaliknya? Atau tetep perlu saya ketik? Gimana? Manja ya? Tetep mau diketikin? Baiklah, saya ketikin, Anda tinggal share….

Atau saya bisa tetap tegak berdiri dengan kepala diangkat. Bangga atas kesempatan jatuh, yang artinya saya mencoba. Bangga dengan kesempatan bangkrut, yang artinya saya pernah memulai. Bangga dengan kesempatan berada di luar jalur umum, yang artinya saya elang yang terbang sendiri. Bangga dengan dkesempatan tertinggal, yang artinya saya punya waktu untuk berdiri dan membersihkan badan dari debu.

Sambil bersyukur dalam hati, terima kasih untuk tetap memintaku rendah hati. Terima kasih untuk tetap memintaku hidup sak madya. Terima kasih untuk menunjukkan padaku siapa teman2ku. Terima kasih untuk men-jlentrek-kan *use google translate for detail* siapa orang yang bersorak ketika saya sukses, siapa yang diam2 ndepipis di pojokan bersorak ketika saya jatuh. Terima kasih untuk memintaku tetap dekat denganMu. Terima kasih untuk tetap menjagaku dalam kebaikan. Tapi lain kali, tolong ajari aku semua itu, dengan uang 5M di rekening. Please? Biaya kuliah Genta sama Puti kan tetap perlu dicari kan, ya Allah?

Dah, udah saya ketikin yaaaa….. kebangeten kalau gak di share…..
Love you friends

*di bawah ini tulisan teman yang saya share*

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus.
Jujur dalam berucap
Ikhlas dalam bekerja…
(Copas dari grup WA GK Psikologi ’96)

Ada & Bermakna

Jaman dulu saya inget betul tren banget handuk pakai nama kita. Wah yang punya jelas orang berkelas lah waktu itu. Padahal mah hiasannya cuma garis garis doang. Udah seneeeeeng banget. Namanya anak-anak.

Terus tren nya bergeser, tas dikasih nama. Saya sama adek adek juga punya itu. Seruuu bener kesannya, naik kereta senja utama, nenteng tas ada nama kami masing2. Yesss, kami kecil di masa senja utama my dear. Kereta eksekutif belum ada waktu itu. Huaaaa….. ketahuan umurnya.

Terus ada juga tren label nama. Yang berduit label namanya ukurannya gede, ada gambarnya sanrio, hello kitty, mickey mouse. Doraemon belum nyampe pada masa itu. Apalagi ben ten sama hot wheels. Sudahlah, masih dinperut ibunya masing2, kalau istilah Genta.

Ada apa ya soal anak2 dan benda bernama mereka? Kok nampak spesial sekali? Aaaah, anak2 hidup di dunia orang dewasa yang asing, bising dan kadang tidak ramah. Bayangkan saja, di mata anak2, pintu mal itu jelas tinggiiiiii sekali. WC umum jaraaang yang ada ukuran tinggi mereka. Naik mobil pun kadang harus dibantu. Sepatu anak tempatnya nyempil di antara deretan sepatu orang dewasa. Mereka seperti ngekos di dunianya orang dewasa.

Maka barang bernama mereka seperti oase. Sebuah kedipan dari para orang dewasa yang menyayanginya, bahwa dunia ini juga milik mereka. Sebuah anggukan yang menenangkan dari orang dewasa yang mereka percayai, bahwa mereka juga diakui hadirnya. Ada. Nampak. Dan berarti.

*status serius mengandung iklan*

Kontak japri yang berminat sama handuk namanya. *wink

My Shoes vs. Gen Y Shoes

Dunia pewayangan gegeeerrrr…….

Pregnancy Empathy – Blog Fanny Herdina

*mari kita tarik napas sebelum mulai menulis*

Sudah sejak lama saya ingin menulis dengan tema ini, tapi lagi lagi saya kesulitan menemukan kata sifat yang tepat untuk jadi ide utamanya. Nah, gegernya dunia pewayangan beberapa hari belakangan membantu saya menemukan kata sifatnya.

Sebut saja Bunga -nama samaran-red-. Jiaaah, dia juga ga keberatan kok kayaknya jadi topik pembicaraan di sosial media, jadi ya sudahlah. Kegegeran dimulai dari posting-an di bawah ini. Buat yang ngerasa tua, please tarik napas dulu sebelum baca, ok? Buat yang muda, juga tarik napas, karena dalam beberapa detik ke depan, Anda akan merasakan perasaan maluuuuu sangat berada pada kohort yang sama dengan si Bunga ini,

ABG Edan - Blog Fanny Herdina

Begitulah mbak cantik ini berkicau di halaman personalnya. Gak bisa terlalu disalahkan memang, karena itu halaman personalnya. Semacam teras rumahnya lah. Tapi doski *biar sekalian ketahuan umur gw berapa* tereak tereak di teras bok, jadi ya wajar juga sih ya kalau yang lewat ngerasa terganggu dan mulai ngrasani sama orang lain. *enough for Bunga*

Sekarang giliran saya. Saya juga punya sederet komplen soal anak-anak se-kohort mbak-teteh-uni-apa pun lah sebutannya *orang-orang sekohort saya gak biasa manggil cuman nama say, maaf*.

Satu nih. Tetangga saya punya motor nih, Ganti-ganti motornya. Dulu vespa. Sekarang motor cowok gitu deh *jiaaaah motor dikasih jenis kelamin*. Nah biarpun ganti motor, tapi rupanya soal selera memang sulit berubah cuy. Selera anak tetangga saya ini hmmm… anu…. hmmm…. suara yang keras-lah, sebut saja begitu. Vespa dia, waktu dinyalain dulu, bikin ayah saya bangun dari tidurnya terus batuk-batuk, menjelang beliau meninggal awal tahun 2012. Ah, saya sibuk berduka, jadi saya cuekin. Walaupun saat ayah saya meninggal pun, dia ga muncul di rumah saya. Tetangga saya man, tetangga 1 tembok. Nah motor barunya ini kalau dinyalain, berhasil dengan sukses membangunkan Puti dari tidur siangnya. plus juga membangunkan bibi-bibinya dan utinya sekaligus. Waktu saya ingetin, dia marah-marah dari balik pintu rumahnya dan mengusir ibunya suruh pergi. Fiuuh.

Kedua. Pernah ngantri di McD yang buka 24 jam gak, di malam Minggu? Yes. Asep rokok. DSLR nganggur di meja atau dipakai dengan mode AUTOMATIC. Obrolan dengan suara keras diiringi kata “anj*ng” “bangs*t” “mony*t”. Itu sesudah mereka ngantri di depan kasir selama minimal 45 menit, karena dilema besar menghantui mereka, yaitu mau pilih french fries aja atau ice coffee aja. Juga sesudah mereka membayar ke mas/mbak kasir tanpa mengucapkan terima kasih, tentunya. Ganggu gak?

Ketiga ya, terakhir ah, males bahasnya walaupun bisa sampai 45 sih nomernya. Uhuk. Ketularan lebay gw. Cara mereka nongkrong seenak udelnya di depan Her* atau Indomar*t yang udah jelas-jelas gak nyediain kursi, setelah mereka beli sebotol air mineral, itu ganggu banget. Ga kinormat banget sama mbak/ mas cleaning service yang mau bersihin lantai. Kalau ditegur satpam, terus sok ngomong “gak asik gak asik”. Lah, memang situ asik?

Anyway….. *tarik napas lagi dah* Kemarin-kemarin saya anggap perilaku mereka sebagi “ya sudahlah”. Walaupun gondok dan selalu dilanjut dengan menggandeng Genta di depan mereka sambil bilang,

“Genta, kayak begitu itu tidak baik ya mas, jangan ditiru. Itu namanya tidak sopan. Kalau habis bayar, bilang terima kasih. Bla bla bla”

Tapi ketika gegernya sampai membawa-bawa orang hamil dianggap egois. Rasanya logika saya gak mampu lagi mengikuti logika mereka. Berangkat subuh? saya pernah mbak. Tulang nggeser? Udah pernah jatuh terduduk pas naik gunung? Kalau belum ,gimana kalau rasain dulu? *jiaaah, gw ketularan dia* *please stop me*

Intinya kegegeran ini membuat saya ngobrol sama suami. Hasil obrolan kami yang sangat sepihak ini -cuma pihak orang hampir 40an saja maksudnya- menyimpulkan segala kenyamanan hidup ternyata berefek negatif bagi generation Y ini. Tentunya tidak semua, tetap ada beberapa yang menunjukkan kemampuan empati yang luar biasa.

Semacam gini deh. Kalau Anda hidup enak terus dan tidak dilatih untuk bersyukur, dari mana Anda belajar menghargai kerja keras orang lain? Dari mana Anda belajar bahwa ada orang yang hidupnya mungkin tak seberuntung Anda? Dari mana Anda belajar bahwa untuk sebagian orang, hamil dan berhenti bekerja itu bukan pilihan? Dari mana Anda belajar bahwa beberapa orang itu bahkan belum pernah lihat yang namanya I-Phone? Jangankan punya atau beli, megang tu belum pernah, lihat gambarnya aja mungkin di koran? Tentunya sulit ya.

Di salah satu web yang menceritakan ciri Generation Y, nomor satu cirinya adalah, saya kutipkan,

“Tidak sabaran, tak mau rugi, banyak menuntut”

Again, tentunya tidak semua seperti itu. Tapi kegegeran dunia pewayangan di atas mungkin mengacu pada ciri ini yang dominan pada si Bunga dan beberapa komentator di bawahnya. Tidak sabar dan banyak menuntut nampaknya adalah hasil dari perilaku self-centered yang berlebihan. Sehingga tidak membuka ruang bagi mereka untuk berempati, untuk melihat melalui kacamata orang lain. Atau berjalan memakai sepatu orang lain. Dalam rangka apa mereka mau pakai sepatu orang lain wong sepatu mereka udah enak banget dipakenya?

Kehilangan empati memang tugas berat untuk dibetulkan jika terjadi pada usia Bunga. Kecuali sesuatu yang intens terjadi padanya dan mampu mengubah seluruh paradigmanya plus cara merespon dunia luar. Tanggung jawab siapa? Gak usaha gaya deh menuduh dunia pendidikan bertanggung jawab atas ini, ya jelas sekolahan bertanggung-jawab. Orang tua juga bertanggung jawab. Tapi itu tanggung jawab yang private yang gak manis disobek-sobek di muka umum seperti di blog saya ini.

Gimana dengan tanggung jawab kita sebagai masyarakat? Apa yang sudah kita lakukan untuk bersama-sama memetik kekuatan Generation Y dan memotong ranting-ranting busuk mereka? Apakah kita sudah….

  • mengingatkan mereka untuk membuang sampah di tempatnya karena yang kebanjiran bisa jadi bukan rumah mereka, tapi mereka tetap bisa ikut berkontribusi mencegahnya
  • mengingatkan mereka untuk tidak merokok di sembarang tempat, walaupun tempat umum dan ada tanda boleh merokok, terutama kalau berdekatan dengan orang hamil, orang tua, anak-anak atau orang-orang yang memberi kode dengan manis melalui batuknya
  • mengingatkan mereka bahwa di luar sana ada banyak orang yang butuh kerjaan, rela bekerja apa pun demi memberi makan anak istrinya sehingga tidak etis bagi mereka menolak begitu saja pekerjaan karena alasan yang tidak esensial
  • mengingatkan mereka bahwa antri itu tanda orang berpendidikan bukan tanda pecundang atau orang yang takut sama mereka
  • mengingatkan bahwa sebaiknya hobi itu bukan yang mengganggu orang lain, punya motor berisik misalnya, piara anjing tapi gak pernah dikasih makan misalnya
  • mengingatkan bahwa terkadang senyum dan menundukkan kepala sedikit ketika bertemu orang adalah tanpa sopan santun yang umum, bahkan di dunia internasional yang biasanya mereka bangga-banggakan
  • mengingatkan bahwa di luar negeri tren memanggil orang itu dengan “dear” “honey” bukan monyet, anjing atau kutil, masak gaya baju ikut luar negeri kelakukan jaman jahiliyah
  • mengingatkan bahwa merawat dan menjaga kerapian rambut itu penting, tapi melempar poni ke kiri kemudian menyibakkannya kembali ke kanan pakai tangan setiap 2 menit sekali itu mengganggu, bahkan menunjukkan rendahnya tingkat PD mereka
  • mengingatkan bahwa berbaju rapi dan bersih saat keluar rumah itu baik, tapi bukan berarti sibuk ngaca setiap kali ada cermin atau selfie-an di sembarang tempat

Yess. Saya yakin Anda bisa menambahkan sendiri daftarnya. Silakan tambahkan di komen ya, sekaligus tinggalkan link blog Anda, saya saya tambahkan ke dalam tulisan ini bersama link-nya. Itung-itung selain komplen, kita sedikiiiiiit berkontribusi menyampaikan ini ke dunia *gak janji juga bakal sampai ke mereka sih* tentang hal-hal yang mungkin bisa kita lakukan bagi generasi yang tidak mau merepotkan orang lain itu.

Pssst, kalau baju sepatu tas belum bisa bikin sendiri benernya itu juga masih merepotkan sih bok. Apalagi masih kerja sama orang, itu juga ngerepotin. Belum lagi kalau mulutnya kayak gitu, itu juga merepotkan sih. Jadi ya, saya simpulkan doa Bunga belum diijabah nampaknya. Dia masih merepotkan banyak orang. Yang bantuin ibunya ngelairin, juga repot. DOkter yang betulin tulangnya yang nggeser juga repot. *priiiit Fan, priiiit, enough*

Sebagai penutup, sebelum acara ramah tamah dimulai dan lagu kemesraan dikumandangkan *hanya yang bukan Gen Y yang paham ini nampaknya*, gambar di bawah mungkin bisa jadi pengingat yang manis. Selamat malam teman-teman. Selamat malam Bunga, semoga tempat tidur, kasur dan sprei tempatmu tidur malam ini buatanmu sendiri, sehingga tidak merepotkan orang lain. Banyak cinta kukirim untukmu, karena …… *mari katakan ini bersama-sama dear readers* 

hanya orang kekurangan kehangatanlah yang mampu mengeluarkan kata-kata sedingin itu

*meminjam ungkapan kakak kelas saya di salah satu status facebook-nya*. Muaaaah *cium basah*

Berikan kursi - Blog Fanny Herdina

Banyak Bisnis Gagal di Tahun Pertama

Tahukah Anda, kalau Anda ketik “bisnis di tahun pertama” di Google maka kebanyakan artikel yang muncul adalah tentang kegagalan. Wow. Sama sekali tidak mendukung entrepreneurship ya? Harusnya kan yang muncul artikel tentang, cara-cara memulai, dukungan pemerintah, kebutuhannya, dll, tapi yang muncul justru tentang kegagalan. Ni kalau gak percaya.

Setelah kegagalan saya di bisnis pendidikan tahun 2012 lalu, seorang teman juga mengirim pesan melalui WA saya yang isinya kurang lebih begini.

“Tenang wae. Rugi itu biasa. Bangkrut itu biasa. Aku dulu juga gitu. 90% bisnis gagal di tahun pertama”

Hualaaah. Satu sisi melegakan. Di sisi lain, saya bertanya-tanya, haruskah saya menyerah pada fakta bahwa saya termasuk kaum 90%? Huaaaa, hiks, hiks. Apakah wirausaha bukan jalan saya? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Hah, otak saya langsung dipenuhi banyak pertanyaan.

Anyway, soal gagal di tahun pertama, ada banyak artikel terkait tentang mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasi atau menghindarinya, kalau mungkin. Tapi saya bukan ingin menambah deret artikel tentang mengapa dan bagaimana. Saya mau bercerita tentang rasa. Rasa gagal.

Apakah Anda memahami bahwa Anda tidak pernah sepenuhnya siap gagal, sampai akhirnya Anda sungguh gagal dalam satu lingkup hidup Anda. Ah, saya tidak sedang membahas frase klise “kegagalan adalah sukses yang tertunda” atau “kita tidak akan gagal sampai kita berhenti berusaha”. Ayolah, kita semua sudah dewasa. Sedikit kegagalan bukan masalah besar bagi siapa pun dengan self esteem yang baik. Sedikit kegagalan + banyak denial, itulah yang menimbulkan masalah.

Seorang teman memberi komentar di Facebook suatu hari saat saya share status tentang kegagalan.

“Tenang mbak. Kegagalan itu….. bukanlah kesuksesan”

Nah, itu yang tepat. Ini baru teman sejati menurut saya. Langsung menampar ke intinya. Mengguncang ke dalam ulu hati. Hihihihi.

Saya butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk recover dari kegagalan saya mengelola bisnis pendidikan saya. DIgabung dengan meninggalnya papah dan perlakukan semena-mena orang lain pada mamah saya, 2 tahun rasanya bukan waktu yang lama. Selama 2 tahun, saya mandeg menulis. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Ada malam-malam di mana saya membuka laptop, mengklik tombol “Add New” di wordpress, tapi kemudian timbol-tombol lain di keyboard seperti menghinda jari-jari saya yang diam lumpuh tak bergerak.

Kurang lebih 2 tahun saya tidak melakukan kegiatan bisnis apa pun. Sibuk bertanya, apakah keputusan saya tepat untuk menghentikan bisnis saya itu, yang cukup menguntungkan secara finansial, tapi membuat saya tidak bisa tidur karena bertentangan dengan nilai dasar yang saya miliki. Bertanya-tanya apakah kerugian ratusan juta ini layak menjadi akibat kekeras-kepalaan saya mempertahankan value yang saya yakini betul kebenarannya?

2 tahun saya gigit jari setiap melihat teman menerbitkan buku keduanya. Membuka Indomaret ke-4 nya. Membuka rumah kos-kosan barunya. Membeli lempengan emas ke sekian. Membeli rumah baru. Berlibur jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Menggigit jari dan tidak mampu menyingkirkan awan hitam di kepala saya, tentang kegagalan ini.

2 tahun merasa sendiri dalam kegagalan. Bukan karena tidak ada support, tapi karena merasa sendiri. Merasa malu karena gagal, padahal seharusnya saya bangga memenangkan value hidup saya atas nilai ratusan juta rupiah. Tidak mampu membicarakannya secara publik, tanpa marah dan jengkel pada individu yang menjadi tumpuan saya mengambil keputusan itu.

Buuuut……

2 tahun sudah berlalu my friends, awan gelap pun ada masanya bergerak. Saya di sini sekarang. Berdiri tegak, siap memulai babak baru. Perjuangan belum berakhir, begitu pula kesenangan baru dimulai. Jika dia-dia-dia yang di sana berpikir semua yang dilakukannya membuat saya menderita, saya menolak menjadi objek penderita. Saya pelaku hidup saya sendiri. You have seen me fall and you have seen me stand tall, again, and again, this time, even taller.

Tapi, janganlah ucapkan kata-kata klise soal gagal pada teman yang sedang mengalaminya, friend. Jujurlah seperti teman saya di atas jujur pada saya. Karena saat awan hitam menggantung, bukan harapan tentang sinar matahari yang dibutuhkan. Tapi pelukan hangat, pinjaman payung dan seorang teman yang tetap bertahan, itulah yang membuat saya tetap bertahan.

Ini saya attach beberapa artikel tentang kegagalan bisnis di tahun pertama. Jangan menyerah guys. Your dreams are bigger than this, right?

ODOJ : Mission Impossible (For Me)

ODOJ - Cerita Fanny

Hi again. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang perjalanan saya belajar baca Quran.

Biarpun beragama Islam sejak lahir, saya baru bisa lancar baca Al-Quran tahun 2011-2012 an. Itu pun karena kebingungan. 2012 saya dan suami berencana berangkat umroh. Membayangkan saya harus membawa Al-Quran super besar yang ada tulisan latin dan bahasa Indonesianya selama di sana, membuat saya terbiritbirit belajar baca Quran. Sampai berangkat umroh tahun 2012, saya gagal meng-khatamkan baca Quran. Baru di Ramadhan 2013 saya berhasil khatam baca Al-Quran pertama kali. Yak. Pertama kali dalam hidup saya.

Rasanya superb sekali. Surreal. Buku setebal itu dengan tulisan se-unfamiliar itu, akhirnya bisa saya selesaikan. Sejak saya mulai belajar baca Quran, dalam hati saya berkata,

“Sekurang-kurangnya saya pengen khatam 1x dalam hidup saya.”

Mengingat segala kondisi saya. Jadi waktu akhirnya berhasil khatam 1x, rasanya kayak top of the world. Mimpi di siang bolong.

Buat Anda yang belajar baca Quran sejak kecil, Anda mungkin sulit memahami rasanya. Belajar baca Quran itu saya lakukan kadang sambil mangku anak, nyusuin Puti, sampai kadang kepala saya pusing saking tegang karena ga bisa-bisa. Jadi saat akhirnya berhasil menyelesaikan satu Quran, wuuuuaaaah, sungguh pencapaian yang luar biasa bagi saya yang hampir 40 tahun ini. (Perhatikan kata “hampir” nya ya, bukan “40” nya)

Saya bangga. Juga tidak bangga. Senang tapi juga malu. Pengen teriak pengumuman ke seluruh dunia tapi juga rasanya pengen ngumpet saking menyesalnya. But anyway, saya berhasil belajar membaca Quran di usia saya yang hampir 40 tahun dan khatam 1x di tahun 2013. Semoga tidak ada orang di dunia ini yang merasa berhak mengecilkan pencapaian saya ini.

Kemudian di Desember 2013 seorang kenalan mengajak saya ikut di komunitas One Day One Juz. Komentar pertama saya adalah, whaaaaaattttt???? Kami sempat berbalas-balasan beberapa kali sms. Saya sibuk menerangkan, saya ini baru bisa baca mbak, saya ini bacanya masih pelan, nanti kalau gak berhasil gimana, malah ngerepotin orang, jadi kesannya gak committed, padahal mah memang ga mampu. Sementara sms dari sisi sebelah sana isinya sekitar, yang penting diusahain dulu bu, pasti nanti dibantu sama Allah, temen-temen satu grup juga pasti bantu, coba aja dulu, kalau memang gagal ya gak papa.

Ah, saya sudah putuskan tahun 2013 saya akan melakukan hal yang berbeda dalam hidup saya, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dengan niat makin mendekatkan Quran dalam keseharian dan bismillah, saya setuju bergabung. Deg-degan luar biasa. Grupnya isinya perempuan-perempuan yang entah sudah berapa kali khatam. Pada jago pakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, sementara doa makan saja, saya baru tahu artinya dari Genta. (Thanks to Miss Atie dan Miss Alif, gurunya Genta di Budi Mulia Dua Bintaro)

Begitu on grup-nya, eeeeh tamu bulanan saya datang, kebagian deh baca terjemahannya. Bisa? Ya masih bisalah kalau cuma baca terjemahan. Saya biasa baca buku tulisan Latin, jadi lancar. Selameeet selamet, dalam hati saya. Belum selesai tamu bulanan, Genta libur sekolah. Jadwal harian mulai kacau. Baca terjemahan masih kepegang. DI tengah-tengah libur, tamu bulanan sudah pamit, Puti dan suami sakit. Huaaa. Sungguh saya sudah menghubungi penanggung jawab grup nya untuk mengundurkann diri. Hihihihi, sebut saja saya cemen, gpp. Hiks. Huaaa. Tapi jangan dong please?

Tapi jawaban dari mbak Admin Grup ODOJ 774, Bunda Choir, bener-bener ampuh.

Jangan off mbak. Kalau lagi pada sakit dan gak kepegang bacaannya, gpp, juz nya dilelang dulu, tapi jangan off ya.

Wuah. Rasanya malu dan heran. Malu karena saya mudah menyerah. Padahal dalam banyak hal lain, sungguh, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya keras kepala, man. Saya sungguh bertekad baja. Juga heran, kenapa sih saya sudah bilang gak mampu, ga bisa, ga mungkin, enggak lah pokoknya sama 2 orang dan 2-2 nya dengan indahnya menolak sejuta daftar alasan saya.

Bermodal malu dan tekad yang menguat, awal Januari 2014, saat Genta mulai sekolah lagi. Saya menjawab sms mbak Admin.

Ok mbak. Insyaa allah hari ini saya mulai on.

Dalam hati, mulai on piyeeeee? Tapi tetep dijalanin. Kan udah commit. Urusan gagal entar kita omongin. Yang penting, perang dulu, kalah belakangan. Begini kurang lebih  urutan saya dalam sehari kalau baca Quran. Siapa tahu ada yang heran atau mau meniru.

Pagi, Genta sekolah, saya nyusuin Puti sambil nunggu Puti tidur. Begitu dia tidur, saya langsung baca Quran, sebisanya, sampai Puti bangun. Kemudian aktivitas rumah tangga sudah menunggu.

Siang, Genta pulang sekolah, nyuapin Puti, kemudian Genta main sendiri, Puti duduk di kursinya, saya sholat Dhuhur sambil membaca situasi. Kalau memungkinkan, selesai sholat saya baca sampai Puti atau Genta sudah tidak sabar meminta perhatian saya.

Saat mereka tidur siang, saya baca lagi. Biasanya jam segini saya sudah selesai 1 juz. Ngeri kan? Ternyata saya yang bacanya kayak kurakura aja bisa selesai lo 1 juz sebelum Ashar.

Tapi dalam kondisi tertentu (yang tentunya ini lebih sering sih), sholat Ashar, Maghrib dan Isha’, saya masih membaca juga sisa-sisa lembar yang belum terpegang. Kadang bahkan saya minta perpanjangan waktu, menunggu anak-anak tidur, kemudian mulai baca Quran jam 10-11 malam. Sering kali saya orang terakhir yang menyetorkan bacaannya.

Malu? Iya. Tapi saya committed. Saya tidak menyerah.

Sampai sekarang saya masih bergabung di ODOJ Grup 774. Keponthalponthal? Iya. Belum bisa ambil lelangan juz orang lain. Tapi saya sungguhsungguhsungguh berusaha. Sampai saat ini saya hampir selalu berhasil menyelesaikan bacaan 1 juz dalam 1 hari. Tapi saya juga kadang mendapat bantuan dari teman-teman untuk menyelesaikan lembar-lembar terakhir yang belum saya pegang, karena waktu yang sudah terlalu mepet.

Apakah saya menyerah? Nope. Saya masih berperang. Doakan saya ya.

Tapi btw, bahkan dalam bacaan saya yang entah segronjalan apa. Saya menemukan ketenangan, seperti yang dijanjikanNya pada hambaNya yang membaca Quran. Dan ketenangan yang seperti ini sungguh addicted. Jadi saya kecanduan. Semoga Allah ridha dengan usaha dan kecanduan saya yang satu ini.

*hari ini, di rumah mertua saya yang beragama Katolik, di pojok ruangan, saya membaca jatah juz saya dengan suara lirih.

Repost : Belajar Islam (1)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam sebuah pengajian, dibahas soal kelompok-kelompok muslim yang hobinya “meluruskan” teman-temannya. Kelompok-kelompok ini tersebar berbendera banyak nama di Jakarta. Pilihan kata “meluruskan” memang terdengar kurang enak di hati, terutama bagi yang “diluruskan“.

Namun surat 64:16 (At-Taghābun) di atas nampaknya memang menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui ciptaan-Nya. Sebagian orang sanggup puasa Daud sepanjang tahun, karena diberi nikmat kesehatan perut yang luar biasa. Sementara sebagian lain memperoleh nikmat harta, sehingga mampu bersedekah miliaran rupiah. Yang lain lagi mendapat nikmat kekuatan hati untuk bangun malam dan melaksanakan sholat malam.

Bahkan Abu Bakar dan Umar, dua sahabat nabi memilih waktu yang berbeda untuk melakukan sholat witir. Semuanya dengan pertimbangan kesanggupannya masing-masing. Kalau Rasulullah saw saja membiarkan sahabat-sahabatnya melakukan ibadah sesuai kesanggupannya, lalu apakah manusia sekarang berhak memaksakan pendapatnya pada orang lain yang dianggapnya masih “bengkok“?

*masih belajar

My Map is My Teritorry

Beberapa hari belakangan, saya menghadapi personal circumstances yang cukup menantang fleksibiltas berpikir saya. Pada saat yang sama terelintas beberapa status teman yang cukup menguatkan.

Mas Nuryanto suatu ketika nulis statusnya. “Ahli NlP diuji dgn nlp. Ahli hypnosis diuji dgn hypnosis.”

Mbak alyssa d twitter beberapa saat lalu juga nulis tentang besi yang ditempa biar bisa jadi keris.

Well. Thats my map under my circumstances. And tentunya hak saya melabel semua kejadian yang tejadi dalam hidup saya. Saya memilih label di atas.

Saya juga makin penasaran dengan map, pesepsi, subjektivitas. Apa pun namanya lah. Tapi intinya tentang keyakinan berlebihan atas kebenaran versi pribadi. One thing I learn from this is, keyakinan belebihan kadang kala tidak muncul dalam perdebatan sengit atau diskusi tanpa akhir, atau obrolan yang memancing otot leher mengencang. Namun muncul dalam suara lirih kekeras-kepalaan dan kadang dalam bisik kaum minoritas yang menanti tumbangnya kekuasaan mayoritas. Hiks.

Saya juga belajar bahwa perilaku dholim, bukan cuma hak istimewa kaum berkuasa, kaum berharta ataupun kelompok yang selama ini mendapat stereotype melakukan perilaku dholim. Perbuatan dholim juga bisa dilakukan kaum miskin, kaum minoritas, kaum yang meraa tidak punya kuasa.

Soal dholim saya akan tulis d tulisan berikutnya. Karena ternyata panjang. Hehehe.

Anyway, my map is my teritorry. And your map is your teritorry. I learn a lot from what happen these days. It gives more meanings to my map. I dont really care about others map.

Quiet Moment

Setiap Genta tidur, saya punya kemewahan atas rumah yang begitu sepi dan tenang. Alunan blower AC dan kipas angin bagaikan gemercik air di vila kecil di Sukabumi. Terus menerus, ritmis, ada dan tidak mengganggu. Saya sangat menikmati momen ini. Saya meyebutnya sebagai quiet moment. Tidak sungguh-sungguh tanpa suara. Namun suarnya lirih sekali seperti pecinta sedang berbisik, sampai saya mampu mendengar suara kecil dari dalam dada saya sendiri.

Rasanya? Senang. Damai. Uhh, seperti menarik selimut kesayangan di tengah hujan lebat. Aman.

Dalam quiet moment saya beberapa waktu lalu, saya mendapat kemewahan untuk memikirkan tentang hidup. Saya teringat tahun-tahun saya di Yogya. Segala sesuatu berjalan sangat cepat seperti kilat menyambar. Cepat, keras dan kemudian hilang. Saya juga teringat salah seorang teman baik, yang entah sedang berdiri di bagian dunia yang mana sekarang, berkata,”Ternyata hidup itu gak selalu harus berlari ya Fan? Jalan juga boleh kok.”

Waktu itu saya mengiyakan. Walaupun dalam hati bertanya-tanya. Bagaimana mungkin dalam hidup yang singkat ini kita tidak perlu berlari. Ada banyak tujuan yang harus didatangi. Ada banyak asa yang mau direngkuh. Kalau tidak berlari, tidak mungkin rasanya melakukan semua hal itu sebelum waktunya habis. Namun atas nama hormat, saya iyakan saja.

Kemudian beberapa tahun sesudahnya, ketika kelelahan sedang menggoda. Seperti seorang belly dancer yang menari di kerumunan turis-turis padang pasir, saya teringat lagi kata-katanya. Iya saya semakin dalam, namun masih belum menemukan caranya untuk memperlambat langkah saya. Pertemuan-pertemuan dengan orang hebat lainnya membuat saya paham, bahwa perjalanan sama indahnya seperti tujuan.

Lalu tahun 2009, saya bertemu malaikat kecil yang nampak sangat lugu. Macam bunga mawar yang tumbuh tenang di tengah padang rumput. Dengan caranya yang halus, justru dia mengajarkan saya tentang memperlambat lari saya. Tanpa kata. Tanpa tekanan. Dan hidup saya berjalan lebih pelan. Sekarang saya paham bahwa hidup memang tidak perlu berlari. Saya menikmati hari yang cepat berlalu dengan langkah pelan saya. And yes, I begin to enjoy little things in life.

Apakah saya kehilangan tujuan? Kehabisan mimpi-mimpi yang mau diraih? Kota-kota yang akan dicium aromanya? BUKAN. Saya punya lebih banyak tujuan sekarang. Hidup saya bukan lagi tentang saya saja. Tentunya jadi makin banyak asa yang mau saya rengkuh. Dan saya tetap melangkah pasti menuju semua itu. Hanya kali ini langkah saya lebih pelan. Dengan begitu saya jadi banyak belajar bersyukur.

Apakah lebih lama untuk sampai ke sana dengan langkah yang pelan? Walaupun sulit dijelaskan dengan logika sederhana, saya malah lebih cepat sampai tujuan dengan langkah pelan saya. Genta, si malaikat kecil, mengajarkan ibunya untuk menarik nafas dan mengeluarkannya dalam damai.

Aneh? Ya. Bukannya hidup memang serangkaian keanehan yang menyenangkan?