Bedtime Story

Sudah sejak lama, Genta selalu dibacakan setiap kali mau tidur. Kalau gak, bisa pecah perang dunia di kerajaan kami. Jadi sengantuk2nya sejengkel2nya secapek2nya kami, selalu ada yang mbacain cerita buat Genta. Kecuali kasus khusus, pulang terlalu malam, dia sudah ketiduran, terlalu , maka selalu ada cerita sebelum tidur buat ksatria kami.

Biasanya ayahnya yang mbacain. Namun karena satu dan lain hal, which is kemacetan Jakarta yang nggilani hari ini, saya yang kemudian mbacain critanya.

Judulnya “Siapa yang akan jadi raja”

Ceritanya hutan pohon besar lagi mau pemilihan raja. Singa, harimau, elang, gajah menemukan alasan masing2 buat menjadikan dirinya raja. Sementara si tupai, yang sibuk memikirkan siapa di antara 4 yang mau jadi raja itu, yang bisa jadi raja, dengan cara yang adil. Kenapa tupai yang sibuk? Karena tupai ini memang terkenal ringan tangan, suka membantu memecahkan maslah orang lain.

Singkat kata singkat cerita, aku dan dia jatuuuuh cinta. Cinta yang dalam sedalam laut, laut meluap cinta pun hanyut. Jatuh cinta ayo ta…. *oh sori, malah nyanyi*

Nah, akhirnya tupai mengusulkan buat pemungutan suara. Karena apa? Karena raja kan memimpin semua hewan, jadi semua hewan harus terlibat pemilihannya. Bukan cuman siapa yang mau. Naaaah, hasil vvvoting *baca dengan v yang berat* malah menunjukkan suara terbanyak adalah TUPAI. Tupailah yang jadi raja, karena dia yang selalu membantu menyelesaikan maslah teman2nya.

Paragraf terakhir dari cerita itu yang semoga tertanam betul di Genta, harapan saya adalah…

“Dan tupai pun menjadi raja hutan pohon besar. Dan dia semakin banyak mendengarkan masalah hewan2, semakin banyak membantu menyelesaikannya, semakin rendah hati dan semakin dicintai oleh rakyatnya”

Somehow saya teringat Umar bin Khattab, sang ksatria sejati favorit saya, dengan cerita beliau yang membantu seorang suami yang istrinya mau melahirkan. Umar bin Khattab memang selalu mengundang bulu kuduk saya berdiri atas “kekuatan” nya.

Yaaah, seru ya. Jaman dulu, rakyat punya Umar bin Khattab. Hutan pohon besar saja punya raja tupai. ‪#‎demikian‬ ‪#‎theend‬ ‪#‎endofstory‬ ‪#‎selesai‬ ‪#‎nggantungyoben‬

Eh eh bedtime story mu apah?

Ada & Bermakna

Jaman dulu saya inget betul tren banget handuk pakai nama kita. Wah yang punya jelas orang berkelas lah waktu itu. Padahal mah hiasannya cuma garis garis doang. Udah seneeeeeng banget. Namanya anak-anak.

Terus tren nya bergeser, tas dikasih nama. Saya sama adek adek juga punya itu. Seruuu bener kesannya, naik kereta senja utama, nenteng tas ada nama kami masing2. Yesss, kami kecil di masa senja utama my dear. Kereta eksekutif belum ada waktu itu. Huaaaa….. ketahuan umurnya.

Terus ada juga tren label nama. Yang berduit label namanya ukurannya gede, ada gambarnya sanrio, hello kitty, mickey mouse. Doraemon belum nyampe pada masa itu. Apalagi ben ten sama hot wheels. Sudahlah, masih dinperut ibunya masing2, kalau istilah Genta.

Ada apa ya soal anak2 dan benda bernama mereka? Kok nampak spesial sekali? Aaaah, anak2 hidup di dunia orang dewasa yang asing, bising dan kadang tidak ramah. Bayangkan saja, di mata anak2, pintu mal itu jelas tinggiiiiii sekali. WC umum jaraaang yang ada ukuran tinggi mereka. Naik mobil pun kadang harus dibantu. Sepatu anak tempatnya nyempil di antara deretan sepatu orang dewasa. Mereka seperti ngekos di dunianya orang dewasa.

Maka barang bernama mereka seperti oase. Sebuah kedipan dari para orang dewasa yang menyayanginya, bahwa dunia ini juga milik mereka. Sebuah anggukan yang menenangkan dari orang dewasa yang mereka percayai, bahwa mereka juga diakui hadirnya. Ada. Nampak. Dan berarti.

*status serius mengandung iklan*

Kontak japri yang berminat sama handuk namanya. *wink

Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?

Fun Being A Mom

Saya lupa saya dapat gambar di atas dari mana. Mungkin kiriman dari grup WA, atau juga mungkin salah satu page parenting yang saya follow, tapi jelas itu bukan buatan saya sendiri. Kenapa?

Pertama, dapur saya tidak nampak sedikit pun seperti di gambar. Jadi itu pasti bukan di rumah saya.

Kedua, anak saya dua-duanya berambut hitam dan ikal, bahkan cenderung keriting kriwil. Jadi 2 anak di bawah itu bukan anak saya.

Ketiga, saya sudah cek berkali-kali di lemari saya, jelas pakaian yang dipakai sang ibu, bukan termasuk wardrobe saya. Jadi jelas itu foto bukan bikinan saya sendiri.

Tapi saya sungguh merasa sangat relate dengan gambar di atas. Sungguh. Saya memahami perasaan sang ibu, sampai-sampai saya tidak sanggup menahan tawa saya setiap kali melihat gambar di atas. Bukan tawa menghina. Lebih tawa yang “you are not alone”. Tawa yang penuh kelegaan.

Huahahaha. Kondisi rumah saya di akhir hari, mirip sekali gambar di atas. Bentuk saya saat suami pulang kantor, juga mirip, dengan rambut berantakan dan kelek bau asem, serta energi bar yang sudah berwarna merah. Dan 2 anak saya di akhir hari, juga mirip 2 anak di atas, tertawa riang, di antara mainannya yang berantakan di lantai, dengan energi yang masih full seperti baru bangun tidur.

Aha. Bukankah memang itu yang penting untuk diperhatikan? 2 anak yang tetap riang di akhir hari. Biarpun rumah kecil, berantakan kayak kapal pecah. Kelek ibunya bau asem. Tapi tawa mereka tetap mengembang.  Apakah mungkin karena mereka tidak memperhatikan rumah yang berantakan dan kelek bau asem? Apakah itu mungkin karena mereka merasakan cinta? Apakah mungkin, pada akhirnya, saya bisa bilang, I have done a great job today, that contribute to that wonderful smiles. Mungkinkah?

Please say yes. Please. Don’t make me beg.

Weekly Photo Challenge : Family

Family Fun - Cerita Fanny

It was actually a lazy saturday afternoon, when we all woke up late, took a bath late and ate late. It was almost midday and both parents haven’t eat anything for breakfast. We were both starving. So on our way taking Genta to his martial art, we stopped in front of Masjid near our house to buy siomay from a street-food seller.

Hungry and kids just won’t stop singing and bouncing, we decided to capture the moment. The special lazy starving Saturday afternoon.

People say that when your life-light begins to dim, it’s the most important thing in life that would come flashing in your mind. I don’t know for I am not dimming yet (I hope). But I know for sure that when in trouble I think of these people. When I lay down and try to close my eyes, I wish the very best for all of them. I even think of them when I’m alone in the bathroom. So I guess it’s right that people say, you finally have only your family.

ODOJ : Mission Impossible (For Me)

ODOJ - Cerita Fanny

Hi again. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang perjalanan saya belajar baca Quran.

Biarpun beragama Islam sejak lahir, saya baru bisa lancar baca Al-Quran tahun 2011-2012 an. Itu pun karena kebingungan. 2012 saya dan suami berencana berangkat umroh. Membayangkan saya harus membawa Al-Quran super besar yang ada tulisan latin dan bahasa Indonesianya selama di sana, membuat saya terbiritbirit belajar baca Quran. Sampai berangkat umroh tahun 2012, saya gagal meng-khatamkan baca Quran. Baru di Ramadhan 2013 saya berhasil khatam baca Al-Quran pertama kali. Yak. Pertama kali dalam hidup saya.

Rasanya superb sekali. Surreal. Buku setebal itu dengan tulisan se-unfamiliar itu, akhirnya bisa saya selesaikan. Sejak saya mulai belajar baca Quran, dalam hati saya berkata,

“Sekurang-kurangnya saya pengen khatam 1x dalam hidup saya.”

Mengingat segala kondisi saya. Jadi waktu akhirnya berhasil khatam 1x, rasanya kayak top of the world. Mimpi di siang bolong.

Buat Anda yang belajar baca Quran sejak kecil, Anda mungkin sulit memahami rasanya. Belajar baca Quran itu saya lakukan kadang sambil mangku anak, nyusuin Puti, sampai kadang kepala saya pusing saking tegang karena ga bisa-bisa. Jadi saat akhirnya berhasil menyelesaikan satu Quran, wuuuuaaaah, sungguh pencapaian yang luar biasa bagi saya yang hampir 40 tahun ini. (Perhatikan kata “hampir” nya ya, bukan “40” nya)

Saya bangga. Juga tidak bangga. Senang tapi juga malu. Pengen teriak pengumuman ke seluruh dunia tapi juga rasanya pengen ngumpet saking menyesalnya. But anyway, saya berhasil belajar membaca Quran di usia saya yang hampir 40 tahun dan khatam 1x di tahun 2013. Semoga tidak ada orang di dunia ini yang merasa berhak mengecilkan pencapaian saya ini.

Kemudian di Desember 2013 seorang kenalan mengajak saya ikut di komunitas One Day One Juz. Komentar pertama saya adalah, whaaaaaattttt???? Kami sempat berbalas-balasan beberapa kali sms. Saya sibuk menerangkan, saya ini baru bisa baca mbak, saya ini bacanya masih pelan, nanti kalau gak berhasil gimana, malah ngerepotin orang, jadi kesannya gak committed, padahal mah memang ga mampu. Sementara sms dari sisi sebelah sana isinya sekitar, yang penting diusahain dulu bu, pasti nanti dibantu sama Allah, temen-temen satu grup juga pasti bantu, coba aja dulu, kalau memang gagal ya gak papa.

Ah, saya sudah putuskan tahun 2013 saya akan melakukan hal yang berbeda dalam hidup saya, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dengan niat makin mendekatkan Quran dalam keseharian dan bismillah, saya setuju bergabung. Deg-degan luar biasa. Grupnya isinya perempuan-perempuan yang entah sudah berapa kali khatam. Pada jago pakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, sementara doa makan saja, saya baru tahu artinya dari Genta. (Thanks to Miss Atie dan Miss Alif, gurunya Genta di Budi Mulia Dua Bintaro)

Begitu on grup-nya, eeeeh tamu bulanan saya datang, kebagian deh baca terjemahannya. Bisa? Ya masih bisalah kalau cuma baca terjemahan. Saya biasa baca buku tulisan Latin, jadi lancar. Selameeet selamet, dalam hati saya. Belum selesai tamu bulanan, Genta libur sekolah. Jadwal harian mulai kacau. Baca terjemahan masih kepegang. DI tengah-tengah libur, tamu bulanan sudah pamit, Puti dan suami sakit. Huaaa. Sungguh saya sudah menghubungi penanggung jawab grup nya untuk mengundurkann diri. Hihihihi, sebut saja saya cemen, gpp. Hiks. Huaaa. Tapi jangan dong please?

Tapi jawaban dari mbak Admin Grup ODOJ 774, Bunda Choir, bener-bener ampuh.

Jangan off mbak. Kalau lagi pada sakit dan gak kepegang bacaannya, gpp, juz nya dilelang dulu, tapi jangan off ya.

Wuah. Rasanya malu dan heran. Malu karena saya mudah menyerah. Padahal dalam banyak hal lain, sungguh, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya keras kepala, man. Saya sungguh bertekad baja. Juga heran, kenapa sih saya sudah bilang gak mampu, ga bisa, ga mungkin, enggak lah pokoknya sama 2 orang dan 2-2 nya dengan indahnya menolak sejuta daftar alasan saya.

Bermodal malu dan tekad yang menguat, awal Januari 2014, saat Genta mulai sekolah lagi. Saya menjawab sms mbak Admin.

Ok mbak. Insyaa allah hari ini saya mulai on.

Dalam hati, mulai on piyeeeee? Tapi tetep dijalanin. Kan udah commit. Urusan gagal entar kita omongin. Yang penting, perang dulu, kalah belakangan. Begini kurang lebih  urutan saya dalam sehari kalau baca Quran. Siapa tahu ada yang heran atau mau meniru.

Pagi, Genta sekolah, saya nyusuin Puti sambil nunggu Puti tidur. Begitu dia tidur, saya langsung baca Quran, sebisanya, sampai Puti bangun. Kemudian aktivitas rumah tangga sudah menunggu.

Siang, Genta pulang sekolah, nyuapin Puti, kemudian Genta main sendiri, Puti duduk di kursinya, saya sholat Dhuhur sambil membaca situasi. Kalau memungkinkan, selesai sholat saya baca sampai Puti atau Genta sudah tidak sabar meminta perhatian saya.

Saat mereka tidur siang, saya baca lagi. Biasanya jam segini saya sudah selesai 1 juz. Ngeri kan? Ternyata saya yang bacanya kayak kurakura aja bisa selesai lo 1 juz sebelum Ashar.

Tapi dalam kondisi tertentu (yang tentunya ini lebih sering sih), sholat Ashar, Maghrib dan Isha’, saya masih membaca juga sisa-sisa lembar yang belum terpegang. Kadang bahkan saya minta perpanjangan waktu, menunggu anak-anak tidur, kemudian mulai baca Quran jam 10-11 malam. Sering kali saya orang terakhir yang menyetorkan bacaannya.

Malu? Iya. Tapi saya committed. Saya tidak menyerah.

Sampai sekarang saya masih bergabung di ODOJ Grup 774. Keponthalponthal? Iya. Belum bisa ambil lelangan juz orang lain. Tapi saya sungguhsungguhsungguh berusaha. Sampai saat ini saya hampir selalu berhasil menyelesaikan bacaan 1 juz dalam 1 hari. Tapi saya juga kadang mendapat bantuan dari teman-teman untuk menyelesaikan lembar-lembar terakhir yang belum saya pegang, karena waktu yang sudah terlalu mepet.

Apakah saya menyerah? Nope. Saya masih berperang. Doakan saya ya.

Tapi btw, bahkan dalam bacaan saya yang entah segronjalan apa. Saya menemukan ketenangan, seperti yang dijanjikanNya pada hambaNya yang membaca Quran. Dan ketenangan yang seperti ini sungguh addicted. Jadi saya kecanduan. Semoga Allah ridha dengan usaha dan kecanduan saya yang satu ini.

*hari ini, di rumah mertua saya yang beragama Katolik, di pojok ruangan, saya membaca jatah juz saya dengan suara lirih.

Libur 2 Tahun Saya

Hampir 2 tahun saya tidak menulis di blog. Kalau ditanya alasannya, saya bisa sebutkan banyak sekali alasan yang masuk akal. Tapi bukan itu tujuan tulisan ini. Saya cuma ingin cerita apa yang terjadi kurang lebih 2 tahun yang lalu yang belum pernah saya tulis di mana pun.

wpid-img-20120502-wa0000

Makam papah di Bergota, Semarang

Tanggal 1 Januari 2012, papah saya meninggal dunia di usianya yang ke-62. Masih relatif muda. Kurang lebih di usia yang sama dengan usia Nabi Muhammad meninggal, insyaa allah itu tanda baik bagi jiwanya. Papah meninggal di rumah saya, di atas sofa hitam, yang sampai sekarang masih bertengger indah di depan TV di rumah kami, Tanggal 2 Januari sesungguhnya beliau akan merayakan ulang tahun pernikahan dengan mamah saya yang ke-37 tahun.

Papah sudah sakit kurang lebih 4 bulan sejak lebaran tahun 2011. Bulan Agustus 2011, keponakan saya lahir. Seperti biasa, kemudian papah dan mamah datang ke Jakarta dan menghabiskan libur lebaran di Jakarta. Libur Lebaran inilah papah ketahuan sakit. Badannya panas tinggi selama beberapa hari. Tapi papah memang bukan orang yang manja atau banyak mulut. Dia tidak mengeluh sedikit pun selama ritual lebaran itu. Kami tetap pergi ke sana kemari. Sampai suatu hari, saya kebetulan melewati beliau yang lagi istirahat dan tidak sengaja bersentuhan dengan kulitnya. Wow, panas betul. Langsung saya minta buat dibawa ke rumah sakit. Akhirnya beliau bersedia, setelah berhari-hari menolak ajakan mamah.

Dokter bilang, “Ada massa di dalam paru-parunya.” Harus dilakukan tindakan lain untuk mengetahui massa itu apa. Second opinion? Sudah langsung dilakukan. Jawabannya sama, standar, ada massa dalam paru-paru. Harus dilakukan biopsi untuk tahu itu apa.

Papah langsung menolak. Entah kenapa. Unrealistic optimism saya bergejolak. Jauh dalam hati, saya takut itu massa tidak bersahabat. Tapi dengan optimisme dan segala pikiran positif, plus papah masih sangat segar bisa bersepeda dari rumah kami sampai kompleks Emerald dengan sangat cepat, menurut saya everything’s gonna be OK. Papah pilih pengobatan secara herbal.

Aha. Begitulah paradoksnya. Walaupun belum jelas ketahuan itu apa sakitnya. Tapi semua langsung setuju pengobatan herbal. Seolah-olah, jika kami semua melakukan pengobatan herbal, maka itu artinya penyakitnya tidak terlalu parah. Ngobrol dengan salah seorang dokter, katany silakan kalau mau pulang ke Semarang dan mencoba herbal. Tapi dalam waktu 3 bulan, harus kembali diperiksakan untuk melihat perkembangannya.

Mamah langsung in charge di Semarang. Papah pulang ke Semarang dan segala makan dan obat-obatan herbal dihandle langsung oleh mamah. Tidak makan ayam dan daging sapi. Kebanyakan sayuran, ikan, no MSG dan segala macam ide yang entah kami dapatkan dari mana pada waktu itu.

But somehow kondisi papah memburuk sangat cepat. Sejak Agustus 2011 sampai Desember 2011, papah jauuuuh lebih kurus dan tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang tadinya mampu dilakukannya. Mamah menelpon bilang beliau ketakutan soal papah. Papah menelpon bilang pingin ke Jakarta, tapi takut tidak diijinkan mamah karena badannya terlalu lemah. Pertengahan Desember 2011, papah akhirnya berhasil meyakinkan mamah untuk pergi ke Jakarta dengan alasan jadwalnya check up 3 bulan, sesuai permintaan dokter.

Waktu beliau datang sampai di rumah saya, saya sungguh terkejut. Saya tidak mampu melihat matanya. Saya takut, ketakutan yang ada di mata saya akan terbaca oleh beliau. Badannya kurus kering, tinggal kulit dan tulang. 4 bulan yang lalau setiap orang yang bertemu selalu memuji betapa gagah dan gantengnya beliau di usianya, sekarang bahkan untuk berjalan dari pesawat ke tempat baggage claim, dia tidak mampu. Ditawari untuk pakai kursi roda? Sudah. Tapi Anda yang kenal papah saya pasti tahu apa jawabab beliau.

Mulailah lagi kami gerilya mencari dokter paling tepat untuk mengobatinya. Mencari info tentang apa sesungguhnya penyakitya. Banyak cerita tidak mengenakkan tentang bagaimana dokter meminta kami melakukan banyak tes, menunggu seminggu hasil tesnya, belum jadi juga, kemudian semena-mena saja menebak papah sakit apa tanpa ada hasil tesnya.

“Ya walaupun hasil lab-nya belum keluar, tapi saya sudah tahulah ini penyakitnya apa. Ini kanker. Ganas.”

Kurang lebih begitu jawaban dokter atas pertanyaan saya. Saya dan suami yang bertugas menemui dokter ini sungguh pengen marah. Tapi kami berdua paham, bahwa kesok-tahuan dokter itu cuma sedikit alasan bagi kami untuk marah. Alasan sesungguhnya kami ingin marah adalah isi dari beritanya; yang sebenarnya mungkin sudah kami ketahui juga kebenarannya. Hiks.

Kami berdua memutuskan untuk tidak memberi-tahu mamah soal berita ini sampai hasil lab benar-benar keluar. DI rumah kesibukan kami sekitar memasak makanan sesuai permintaan papah, mencari tabung oksigen, browsing rumah sakit di Penang dan Singapura, cari tiket di awal tahun dan merencanakan membawa papah ke 2 kota tersebut untuk berobat segera di awal tahun.

Sekitar 3 hari setelah berita itu, hasil lab sungguh-sungguh keluar. Kami -saya, suami dan adek- bertugas lagi mengambil hasilnya. Dalam perjalanan saya dan suami tidak banyak bicara. Cuaca Desember yang mendung rasanya tambah bikin suasana hati gelaaaaap betul. Sampai di rumah setelah mengambil hasil lab, suami saya bertugas memberi-tahu mamah dan papah soal hasilnya. Alhamdulillah bukan saya yang bertugas untuk itu. Saya dengan gamblang menyatakan bisa melakukan banyak hal lainnya, tapi tidak yang satu itu.

Sekitar jam 7 malam, tanggal 31 Januari 2011, mas Tonny jongkok di sebelah papah yang duduk di sofa hitam, menerangkan hasil lab nya ke papah. Papah tidak banyak bicara. Saya lelah sungguh secara psikologis. Saya ingin liburan akhir tahun ini segera berlalu. Segera Senin dan saya akan langsung menghubungi perwakilan rumah sakit Penang di Jakarta, sesuai rekomendasi teman yang suaminya bolak-balik dirawat ginjalnya di sana. Saya langsung tidur.

Pagi-pagi kami bangun, Bintaro hujan deras. Hampir tidak ada suara motor atau mobil yang lewat. Papah sedang sangat kesakitan karena tidak bisa bernapas. Mamah kebingungan karena semalaman dibangunkan papah yang tidak bisa bernapas. Mas Tonny tadi malam mengantarkan papah untuk pipis ke kamar mandi dan terkejut melihat warna pipisnya yang hitam dan ada endapan-endapannya. Pagi yang sangat tidak ingin saya ulangi.

Kemudian, setelah mamah selesai membimbing papah sholat Dhuha, menemani mamah istirahat, kami ngobrol di kamar depan. Tiba-tiba mas Tonny yang ada di luar bersama papah, memanggil kami dengan wajah sangat cemas dan meminta kami membawa papah ke rumah sakit. Mata papah sudah tertutup. Napasnya masih satu-satu. Again. Unrealistic optimists saya terlalu berlebihan.

Pun saya langsung memakai celana saya, berusaha membantu mas Tonny mengangkat papah dan tidak berhasil. Saya mengambil payung, mengetuk rumah tetangga satu demi satu. Rumah ke-4 yang saya ketuk akhirnya keluar penghuninya, mas ARif namanya membantu kami mengangkat papah ke mobil. Suami saya juga sudah mengundang satpam untuk membantu. Saya menyetir mobil. Mamah di samping saya. Mas Tonny di belakang memangku papah.

Sampai rumah sakit. Waktu berjalan sangat lambat. Rasanya hampir tidak ada suara di sekitar kami. Tik tok tik tok. Mas Tonny menyusul saya dan sedang memarkir mobil sambil bilang.

“Ayo masuk cepetan, tengokin papah. Papah udah gak ada”

Saat menulis kalimat di atas barusan, kembali saya menangis. Well, saya bukan orang bodoh. Ilmu agama saya tidak sempurna, tapi saya tahu semua orang pasti mati. Dan mati bukanlah suatu hal yang menimpa hanya orang-orang jahat. Tapi ketika papah saya meninggal, rasanya saya tidak tahu lagi harus bereaksi apa dan bagaimana. Mamah histeris dan berkali-kali hampir menjatuhkan diri di lantai UGD rumah sakit. Sambil mengulang-ulang.

“Mas Tatok. Janjinya gak begini mas Tatok. Katanya mau ngurus cucu sama-sama mas Tatok.”

Well well well. Apalah arti janji manusia dibanding takdir Allah. Papah dimakamkan di Semarang. Suami saya menemani jenasah papah di ambulance dalam perjalanan darat terakhirnya menuju kota kelahirannya. Tetap ada terselip cerita lucu selama proses berduka itu.

Seperti suami saya yang sedang menunggu ambulance datang menjemput jenasah papah di RS, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Nama yang tertera di hp itu adalah “PAPAH”. Tanpa sadar suami saya menjawab perlahan,”Iya iya pah. Sebentar pah.” Baru kemudian ingat bahwa papah sudah meninggal.

Sejaka papah meninggal dunia saya berubah. Saya bukan anak yang dekat dengan papah. Adek-adek saya ada yang memiliki hubungan lebih akrab sama papah. Papah bukan sosok yang banyak bicara atau banyak memuji atau bahkan nimbrung kalau kami pas ngumpul ngrasai orang lain. Tapi kepergian beliau merubah hidup saya. Saya yang dikenal sebagai orang yang selalu optimis dan bahagia, sekarang seperti selalu ada bayang-bayang berwarna grey di belakangnya. Seperti ada lubang yang besar di peryt saya. My life change internally. Orang yang mengenal saya dengan baik, pasti melihat perubahan itu.

Tidak banyak yang saya sesali dalam perjalanan papah sampai waktu meninggalnya. Karena saya bukan jenis orang yang kemudian sibuk dengan pertanyaan mengapa. Atau seandainya. Saya menerima takdir ini. Hanya saya menyesal tidak ada di sampingnya -literally di sampingnya- saat beliau menghembuskan napas terakhirnya. Jarak saya memang cuma 1 meter dari beliau, tapi saya tidak di sampingnya.

Papah yang dalam diamnya melindungi. Tidak hanya melindungi kami. ternyata diamnya adalah perlindungan bagi banyak aib keluarga yang beliau ketahui, yang kemudian baru setelah beliau meninggal kami ketahui. Papah yang diamnya membuat sebagian orang tak bernyali makin ciut nyalinya untuk menyakiti kami. Dan kepergian beliau seperti siraman minyak tanah di atas api egoisme dan sirik sebagian orang. Papah yang diamnya adalah tanda kuatnya beliau menahan lisannya dari bergunjing.

Mohon doa bagi arwah beliau, Tatok Mohammad Heriyantono. Mohon dimaafkan segala kesalahannya, bagi yang pernah mengenalnya. Tulisan ini baru berhasil saya buat 2 tahun setelah kepergiannya. Semoga itu bisa menunjukkan bagaimana kepergian beliau sungguh membuat beda bagi hidup saya.

Pesan Allah di Januari

Genta sambil mandi sore sendiri, tiba-tiba nyeletuk

“Bu, menurut Allah, di bulan Januari ini, kalau mandi sore ga harus rata sabunannya, ada yang kelewatan sedikit gak papa”

Hmm. Where should I start?

First of all, I am a proud mom of him being able to compose that complex statement. Yes the statement is beyond any wild imagination a mom could have at 5 pm, after a very tiring swimming day. But that sentence is great, isn’t it?

Secondly, I’m also proud that he understand the existence of Allah and also understand that if he wants to convince me of doing things, he should associate his action with Allah. That is also a complex understanding, right?

Third, I’m glad that he has that much confidenceknowing that he said what he said in the bathroom, totally naked, calmly brush his skin using bubbles– to try to persuade me of doing things he knew exactly would not be the thing I prefer. I want to have confident boy. There he is. If he is that confident talking about Allah nakedly, I could only imagine what he can do in a full working suit. Ah.

Last, of course not the least. I’m contented with the fact that he composed the statement really thoroughly. Provided with a lot of details, like the month now, the exact kind of mandi and of course the explanation of “gak rata”.

By the way, here is the rest of the conversation after that convincing killing statement.

Me : Oh, ya? Mas Genta tahu dari mana kalau Allah ngomong itu?

G : Ya dari Allah. Bener lo bu. Genta ga bercanda

M : Iya iya. Ibu tahu *ga bercanda adalah kata kuncinya Fan*. Tapi Allah itu ngomongnya di mana?

G : Ya di Mekah lah. Allah kan di Mekah.

M : Oh *salah lagi kalimatku*, maksud ibu omongan Allah itu kan biasanya di Quran.

G : Ya gak di Al Quran lah. Masak di Quran.

M : Lah tapi Allah itu omongannya semua adanya di Quran mas. Kok ibu belum pernah tahu ya di Quran, Allah ngomong gitu.

G : Ya memang gak di Quran siiih… *fade out

Nampaknya jawaban terakhir itu saat Genta mulai merasa statementnya kurang didukung data faktual. Kemudian dia mundur teratur dengan terhormat, tentunya setelah pertarungan yang fair.

*for more parenting stories and tips, please visit my Keep The Tiger In The Closet blog.

Sepatu Butut

Hari Rabu adalah hari paling sibuk bagi saya dalam tahun ini. Hari ini adalah hari Genta harus latihan wushu dan kelas seninya. Jadi saya harus memastikan dia tisur sebelum jam 2, bangun jam 3, masuk taksi jam 3.30, supaya jam 4 dia bisa mulai kelas seninya. Semua, termasuk pesan taksi, saya lakukan sendiri. Resiko ibu-ibu yang gaya ga mau pakai baby-sitter. Hihihi.

Sampailah saya di hari Rabu pertama setelah libur panjang. Semua beres. Genta bangun sendiri, cuci muka, pakai baju, siap berangkat. Saya siapkan Puti, pakai kerudung dan segala macamnya, keluar rumah, taksi sudah siap di depan. Aaah, Rabu pertama yang lancaaaar. Cuaca mendung memang, hujan rintik-rintik, jadi saya juga sudah siapkan kain, payung dan meminta Genta pakai sepatunya yang lebih tahan air. Semua siap? Tinggal saya pakai sepatu dan kami bisa berangkat.

But, wait. Tunggu dulu. Ga segampang itu dong. Ini Rabu pertama. Habis libur panjang. Masak semudah itu? Ok, mari kita mulai dengan, mana sepatu satu-satunya punya sayaaaaaaa? &8*^%$#

Ya, saya cuma punya 1 sepatu casual yang biasanya saya pakai sampai jebol. Dan suami saya punya kebiasaan membiarkan barang yang ketinggalan di mobil tetap di mobil, siapa tahu nanti dibutuhkan. Huaaa, sayangnya kali ini sepatu saya yang jado korban.

Ok. Think. Think. Fast. Come on. Pakai sandal aja. Uh, gak punya sandal juga. Apa ya udah pakai sandal jepit aja. Kan bagus tuh sandal. Baru kok. Ya udahlah nyerah. GAK ah. Malu. Cari sepatu lain yang ada.

Berangkatlah saya pakai sepatu yang satu ini. Warnanya coklat. Pernah jadi kesukaan saya karena sangat empuk di kaki. Saya bahkan ingat belinya di FO di Bandung, waktu saya masih kerja jadi konsultan dan ada proyek di sana. Harganya juga masih ingat. Saya langsung beli 2 waktu itu, hitam dan coklat. Begitu saya pakai, sempat terpikir, lah sepatu ini masih enak, kenapa jarang kupakai ya?

Turun taksi, sampai di tempat gym, pertanyaan saya di paragraf terakhir tadi mulai terjawab. Kulit sepatu coklat saya ada yang tertinggal di lantai lobby mall tempat Genta nge-gym. Ups. Sementara sisa kulit yang masih nempel di sepatu “nglunthung” ke bagian tengah sepatu, membuat sepatu saya seolah separuh warna hitam separuh lagi warna coklat.

Untungnya saya pakai rok panjang. Jadi selama menunggu Genta, saya lebih banyak duduk, menutupi sepatu dengan rok saya. Malu ah. Ibu-ibu yang lain pakai hot-pants, tasnya aja kinclong, baby-sitter jumlahnya sama sama jumlah anaknya, naik mobil sendiri, nyetir sendiri, handphone jelas paling canggih, masak sepatu saya kulitnya “nglunthung”? “Semoga ga ada yang liat ke bawah,” pikir saya.

Selesai urusan Genta, sambil nunggu dijemput suami kami lari menyebrang ke gedung sebelah -tepatnya saya yang lari mendorong stroller, Genta terpaksa lari ngikutin saya-. Niat saya sekalian beli sandal, buat gantiin sepatu yang saya pakai. Walaaah, belum sampai tempatnya sol sepatu saya malah lepas. Jadilah saya kayak pakai sepatu tapi segala air hujan di tempat parkir pun bisa saya rasakan di kaki saya. Baiklah. Baiklah. Kayak belum cukup deg-degan saya, eeeh di tempat parkir ketemu teman lama semasa di Yogya. Sambil ngobrol-ngobrol, sungguh saya berharap dia gak nengok ke bagian bawah.

Saya berakhir beli sepatu di gedung seberang itu. Hehe. Lumayan, sekarang saya punya 2 sepatu casual.

—————————–

Saya punya banyak cerita tentang sepatu. Keluarga saya menyebut saya buldoser kalau urusannya sama sepatu. Sepatu paling lama tahan 3 bulan di kaki saya, sebelum jebol.

Saya pernah njebolin sepatu waktu hiking di pedalaman Sumatera Barat. Saya lupa gimana cara saya pulang waktu itu. Kayaknya seorang teman meminjamkan sepatunya ke saya dan dia pulang “nyeker”.

Sepatu adek saya bertahun-tahun dipakai baik-baik saja, bahkan bentuknya masih mulus kayak baru keluar toko. Dipakai saya 2 minggu langsung jebol.

Waktu tahun lalu jalan-jalan ke Turki bareng suami dan mamah saya. Sepatu kesayangan saya warna orange saya bawa. Jauh-jauh ke negeri impian saya, sepatu saya jebol dan bauuuuunya luar biasa. Dengan berat hati saya buang akhirnya sepatu itu.

Turun dari angkot jaman kerja di Sunter dulu, saya jatuh gelondangan, gara-gara pakai sepatu hak tinggi. Well, sesungguhnya sepatu yang saya pakai saat itu adalah sepatu hak tinggi satu-satunya punya saya. Rusak? Ya iyalah.

Ada juga sepatu putih kesayangan saya dulu. Saya pakai terus-terusan waktu masih kuliah di Depok. Sampai waktunya kelulusan sepatu itu rusak, bagian bawahnya lepas. Saking sayangnya, saya bawa sepatu itu ke tukang sol sepatu di mall buat dibetulin. Katanya bisa dibetulin, ongkosnya 75rb, karena ganti semua alasnya. Hmm, sampai speechless saya jawabnya.

“Gimana mbak” kata mas yang tukang reparasi.

“Hmm, ga usah aja deh mas” kata saya. Harga sepatunya aja cuma 30 ribu. masak betulinnya 75rb? -kata saya dalam hati-

—————————————-

Sebut saja saya lebay. Tapi dari sepatu putih itu saya paham betul tentang tidak ada yang abadi di dunia. Makin sayang sama sesuatu, makin diuji sama sesuatu itu. Udah ah cerita soal sepatunya. Pesan saya cuma 1, kalau punya sepatu rusak, jangan dipakai di musim hujan. Kecuali Anda siap sama potensi malu. Ok?

LOWONGAN for TUMBLE TOTS BINTARO

 

LOWONGAN TEACHER & ADMINISTRATION for TUMBLE TOTS BINTARO
(An Internationally Recognized Pre-school)

Requirements
Degree from any major, fresh graduate are welcome
English literate, spoken & written
– Loving children & specially love working around them
– Feeling energetic & creative

Send your CV to fannyherdina@yahoo.com. TQ.