Birds of a Feather

Duluuuuu waktu saya jadi rekruter di salah satu perusahaan grup Astra, saya paling menikmati fase wawancara kandidat. Entahlah. Buat sebagian orang mungkin wawancara itu melelahkan. Sementara buat saya, seruuuu sekali ngobrol tentang hidup orang lain, ngeliat bagaimana hidupnya dari satu titik ke titik lain, dan most of all setiap selesai wawancara sering kali saya terharu kalau bertemu orang2 yang inspiring.

Suatu ketika ada kandidat kuat waktu itu, saya lupa posisinya, kayaknya lulusan STM kalo gak salah. Dia datang dengan baju standar atasan putih celana hitam. Padahal ga diwajibkan untuk berbaju begitu. Pun itu atasan bukan putih lagi warnanya. Agak kelabu dan ada titik-titik jamur di sekitar kerah dan kancingnya. Tapi hasil tesnya sangat strong. Saya sendiri yang wawancara dia. Selesai wawancara, langsung saya rekomendasikan dia untuk diterima. Semangatnya luar biasa, sekolah naik sepeda, pulang bantu orang tuanya, nyari kerja pun dia niati membantu orang tuanya.

Sementara di kesempatan yang lain saya ketemu kandidat lulusan universitas negeri terkenal, yang saya juga alumninya. Dari observasi selama dia ngantri saja, saya terganggu sama obrolannya yang tinggi, nyela2 temennya sesama kandidat, duduk kaki diangkat. Hasil tesnya, rata-rata lah, not bad. Tapi profile psikologinya cocok buat sales waktu itu, jadi saya wawancara juga. Ngobrol ke kanan, jawabannya saya yakin bisa bu. Ditanya, udah pernah lakuin tugas dengan target, belum bu, tapi saya yakin bisa.

Pernah punya pengalaman membujuk orang?
Pernah bu, saya membujuk ortu saya buat nyekolahin saya di SMA anu, walaupun ortu saya pengennya saya seolah di SMA ono.
Oh kenapa kok Anda pengen sekolah di SMA anu?
Soalnya deket rumah bu, gak capek, panas saya naik motor soalnya.

Blaaaaaaaarrrrrrrr *nelen udah*

Milih sekolah kok semata2 berdasarkan jarak, SMA pula. Singkat kata singkat cerita, saya rekomendasikan dia untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain.

Suami saya milih sekolah di Yogya waktu SMA, padahal orang tuanya di Tangerang, demi pendidikannya. Temen2 saya di Loyola, banyak yang rela ngekos karena asalnya dari kota2 lain, buat dapat pendidikan yang berkualitas. Saya ngiler pengen nyekolahin Genta di Jerman atau Mesir atau Madinah. Temen saya di IWPC, rela keluar kota sebulan sekali buat dapet “sekolah” buat bisnisnya.

Karena for some people who understand, education is a must. Learning is a life changing moment. And it happen every second in your life.

Memilih sekolah adalah memilih kelompok. Jika Anda memilih kelompok yang tepat, bersama mereka, you could be the best version of who you really are.

One in A Million

Sebagai enterpreneur, sering kali kita lupa, ealah kok kita, saya lupa. Sering saya berpikir kesuksesan saya berkorelasi linier dengan kerja keras saya, kerja pintar saya, jumlah jam kerja saya, jumlah jam mikir saya, jumlah network saya. Ketika semua hal yang saya sangka baik sudah saya lakukan, eh lha kok malah bangkrut, ditagih bayar hutang oleh orang2 yang dulu bilang mengagumi keputusan saya untuk jadi enterpreneur. Saya punya 2 pilihan.

Merajuk. Merengek. Dalam hati bertanya dan ngeyel, aku sudah lakukan hal yang benaaaaar, tapi kenapa kau bangkrutkan juga akuuuu? Sementara mereka kau sukseskaaaaaan? Kemudian melacurkan diri dengan melabel diri sendiri gagal, kehilangan muka bertemu orang lain, menyerah pada mimpi2 idealistik saya. Terakhir hidup menjadi versi terburuk dari segala kemungkinan diri saya.

Atau….
Sebaliknya…..
Anda bisa bayangkan sendiri kan sebaliknya? Atau tetep perlu saya ketik? Gimana? Manja ya? Tetep mau diketikin? Baiklah, saya ketikin, Anda tinggal share….

Atau saya bisa tetap tegak berdiri dengan kepala diangkat. Bangga atas kesempatan jatuh, yang artinya saya mencoba. Bangga dengan kesempatan bangkrut, yang artinya saya pernah memulai. Bangga dengan kesempatan berada di luar jalur umum, yang artinya saya elang yang terbang sendiri. Bangga dengan dkesempatan tertinggal, yang artinya saya punya waktu untuk berdiri dan membersihkan badan dari debu.

Sambil bersyukur dalam hati, terima kasih untuk tetap memintaku rendah hati. Terima kasih untuk tetap memintaku hidup sak madya. Terima kasih untuk menunjukkan padaku siapa teman2ku. Terima kasih untuk men-jlentrek-kan *use google translate for detail* siapa orang yang bersorak ketika saya sukses, siapa yang diam2 ndepipis di pojokan bersorak ketika saya jatuh. Terima kasih untuk memintaku tetap dekat denganMu. Terima kasih untuk tetap menjagaku dalam kebaikan. Tapi lain kali, tolong ajari aku semua itu, dengan uang 5M di rekening. Please? Biaya kuliah Genta sama Puti kan tetap perlu dicari kan, ya Allah?

Dah, udah saya ketikin yaaaa….. kebangeten kalau gak di share…..
Love you friends

*di bawah ini tulisan teman yang saya share*

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus.
Jujur dalam berucap
Ikhlas dalam bekerja…
(Copas dari grup WA GK Psikologi ’96)

Ada & Bermakna

Jaman dulu saya inget betul tren banget handuk pakai nama kita. Wah yang punya jelas orang berkelas lah waktu itu. Padahal mah hiasannya cuma garis garis doang. Udah seneeeeeng banget. Namanya anak-anak.

Terus tren nya bergeser, tas dikasih nama. Saya sama adek adek juga punya itu. Seruuu bener kesannya, naik kereta senja utama, nenteng tas ada nama kami masing2. Yesss, kami kecil di masa senja utama my dear. Kereta eksekutif belum ada waktu itu. Huaaaa….. ketahuan umurnya.

Terus ada juga tren label nama. Yang berduit label namanya ukurannya gede, ada gambarnya sanrio, hello kitty, mickey mouse. Doraemon belum nyampe pada masa itu. Apalagi ben ten sama hot wheels. Sudahlah, masih dinperut ibunya masing2, kalau istilah Genta.

Ada apa ya soal anak2 dan benda bernama mereka? Kok nampak spesial sekali? Aaaah, anak2 hidup di dunia orang dewasa yang asing, bising dan kadang tidak ramah. Bayangkan saja, di mata anak2, pintu mal itu jelas tinggiiiiii sekali. WC umum jaraaang yang ada ukuran tinggi mereka. Naik mobil pun kadang harus dibantu. Sepatu anak tempatnya nyempil di antara deretan sepatu orang dewasa. Mereka seperti ngekos di dunianya orang dewasa.

Maka barang bernama mereka seperti oase. Sebuah kedipan dari para orang dewasa yang menyayanginya, bahwa dunia ini juga milik mereka. Sebuah anggukan yang menenangkan dari orang dewasa yang mereka percayai, bahwa mereka juga diakui hadirnya. Ada. Nampak. Dan berarti.

*status serius mengandung iklan*

Kontak japri yang berminat sama handuk namanya. *wink

Happy New Year from @butikbocah

Happy new year… Maaf ya bun, agak telat….
Hiks, tahun 2014 ditutup dengan sedih nih ceritanya, owner kehilangan ibu yang meninggal akhir desember kemarin

Jadi pengen ngingetin temen2 tersayang soal menyayangi orang tua. Terdengar klise memang, tapi bunda dan ayah yang sekarang sudah punya bocah kecil pasti paham kan, gimana sayangnya ortu itu sama anak2nya? I know you do. Bayangin aja kalau bunda sakit, serumah jadi kayak sedih dan kelabakan. Betul kan?

Sekalian share ah, ummi dalam bahasa arab, kabarnya memiliki arti menuju. Itu makanya dalam keluarga, semua anggota seperti menuju ke sang bunda. Mulai cari kaos kaki bocah, kacamata ayah atau mungkin sekedar menunjukkan bangunan dari lego yang baru dibuat.
Saya baru paham juga kenapa anak2 senang sekali gelendotan di saya. Haaa, semoga semua bunda diberkahi kesabaran dan keikhlasan buat mengurus bocah2 kecilnya. Dan semoga orang tua kita semua ditinggikan derajatnya ya, di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Juga semoga sukses, bahagia dan barokah menghujani kita semua di tahun 2015 dan selanjutnya. Muaaachh…

image

#komikbutikbocah #ilustrasibutikbocah #mom #ibu #2015 #butikbocahparenting

I Have A Dream

Fanny Herdina IWPC2 at Kalbis Institute

I have a dream……

Siapa yang gak tahu potongan frase itu? Ah, hampir semua orang tahu kan? Sudah pernah denger suaranya yang menggelegar itu? Menggelegar bukan karena dia ngomong sambil teriak, kayak di acara-acara TV sekarang. Tapi menggelegar karena terasa ada dorongan dari dalam jiwa yang siap dimuntahkan. Cieee.

Anyway, I do have dreams too. Banyak mimpi saya. Salah satunya adalah berwirausaha. Ups. Sukses mandiri barokah berwirausaha. Nah, gitu lebih tepat. Kalau cuman berwirausaha kan semua juga bisa ya? Tapi saya mau sukses mandiri juga barokah.

Cerita soal wirausaha ini memang seru deh. Sejak SMA saya senang cari uang saku sendiri memang. Waktu SMA mamah saya mendaftarkan saya jadi member di beberapa direct selling kosmetik, Avon, Sara Lee (masih ada gak nih?). Mamah cuma mau bayar biaya member, habis itu, saya jualan sendiri, uangnya buat saya sendiri. Kebetulan kantor Avon Semarang sebelahan sama Gramedia. Hihihi. Jadi kalau habis order, untungnya langsung saya bawa ke Gramedia. Kebanyakan konsumennya keluarga, tante, bude, mamah sendiri. Hihihi.

Waktu kuliah, saya bekerja sampai lulus kuliah di UGM. Ngajar bahasa Inggris, terjemahan, jadi admin kegiatan dosen, fasilitator outbond, isi training. Apa aja. Yang penting SPP dan uang kos kebayar. Alhamdulillah, banyak teman, banyak kenalan. Sayang, lulusnya jadi lama. Kesenangan cari duit. #eh

Setelah lulus kuliah, sempat kerja di grup Astra. Keren kan? hihihi. Anak psikologi UGM keterima di Astra grup, wuah, a dream come true. Tapi gak lama. Jiwa saya sungguh tersiksa. Why? That’s another story. Waktu ngelanjutin kuliah di UI, pun masih saya nyambi kerja. Kali ini agak kerenan lah, lha wong udah lulus S1-nya. Sebutannya konsultan. Lama kelamaan bahkan saya bisa punya tim konsultan sendiri. Senang rasanya. Klien percaya sama saya. Saya bisa kerja dengan teman-teman pilihan saya.

Aaah, tapi itu tetap bukan wirausaha seperti bayangan saya. Betul sih selama bekerja mandiri dengan tim Arupakarta!, saya juga melakukan aktivitas promosi, networking, marketing, dll. Tapi saya mau wirausaha yang tanpa kehadiran saya, bisnis tetap bisa berjalan. Bisnis konsultan ini menuntut kehadiran saya. Klien sering kali hanya mau ketemu saya pas presentasi. Well, dengan Genta dan Puti, aktivitas konsultan pun saya hentikan. Priority change darling.

Tapi diam saja di rumah ternyata bukan hal yang mudah. Dan mimpi itu tetap menghantui. Btw, when I say “diam saja di rumah” I do not underestimate the scope of stay-at-home-mom responsibility, ok? I am myself a stay at home mom. Tapi saya merasa perlu berinteraksi dengan orang dewasa. Saya perlu memakai baju rapi dan bertemu orang-orang dewasa. Again, dont get it wrong, I love my kids. But I can’t tlak about SBY to Genta, right? Or whining about Angel Lelga to Puti. No. These kids are my love, I don’y want to ruin their brain talking about that sh*t at their early stage. #ups. #abaikan

Begitulah mimpi saya tentang berwirausaha tetap menghantui. Saya pernah coba bisnis kuliner, di pelataran Indomaret, di kolam renang, gagal. Tutup dalam tahun pertama. Onlineshop? Pernah juga. Jual beras organik, buku anak-anak, tas buatan lokal, just name it. Untung? Yes. Tapi gak sustain. Saya lapar. Saya haus. Saya rindu punya bisnis yang sustain. Saya juga pernah ambil franchise pendidikan, yang berakhir dengan hutang ratusan juta, yang masih saya cicil sampai sekarang pembayarannya.

Tapi mimpi belum berakhir. Hari masih panjang. Fajar belum merekah. And I never give up. Sekarang saya bisnis baju anak-anak dengan brand @butikbocah. Online, untung banyak, rame. Sayang asisten pulang kampung dan gak kembali lagi. Coba bazaar. Juga rame dan prospektif nampaknya.

Kemudian tahun baru 2014 datang. People talk about resolution. Tiba-tiba saya terpikir. Resolusi saya tahun ini, salah staunya adalah serius berinvestasi pada mimpi saya yang satu ini, sukses mandiri barokah berwirausaha. Dan tiba-tiba banyak pintu terbuka. Salah satunya ikut Kompetisi Womenpreneur Indonesia II yang mulai pembekalannya tanggal 24-25 Januari kemarin.

Ribet? Ya iyalah ribet. Atur waktu dengan 2 balita, no maid, no babysitter, no dedicated car for me. But, I believe it’s worth the effort.

Saya teringat kesukaan saya main arung jeram di awal usia 20-an. Saya harus angkat perahu, pompa perahu sebelum arung jeram. Setelah selesai, semua ritual diulang lagi dengan urutan yang terbalik. Was it worth? Yes. So I guess this would worth even more.

Wish me luck guys.

PS. Are you looking for me at the above picture? That’s me with orange veil, a baby in my hand, Genta by my side, in the right corner. Hihi.