Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

Apa Urusanmu?

Bismillah….

Sebelumnya biar saya sebutkan dulu, ada banyak potongan-potongan kalimat di sini, bukanlah buatan atau milik saya pribadi. Sebagian saya lihat di status teman, atau comment di salah satu status teman, atau hasil ngobrol via inbox sama teman, atau juga percakapan imajiner saya sendiri. Jadi kalau nampak inspiring, tolong kirimkan doa kebaikan bagi siapa pun yang membuatnya pertama kali. Buat saya juga boleh, sebagai kurirnya. Hehehehe. Karena saya sering kali lupa dari mana saya dapat tulisan itu, jadi tidak saya tulis sumbernya, tapi jelas, bukan buatan saya.

Btw tulisan ini dibuat sambil mencium bau sayur lodeh yang dimasak  tetanngga. Jadi ingat, persis kayak sayur lodeh dalam proses dimasak, sosial media belakangan juga mendidih dan berbau pedas menjelang pilpres. Kacau, istilah saya. Paraaaaah, kalau kata Genta.

Saya punya preferensi sendiri, saya sudah memutuskan pilihan saya. Dan baru berani mengungkapkan pilihan saya beberapa hari belakangan. Kenapa? Saya jenis orang yang lambat ambil keputusan dalam hal ini juga mungkin kurang berani menyampaikan pendapat. Saya harus betul-betul cari data, ngobrol dengan orang-orang terdekat, sebelum memutuskan memilih apa. Bagi saya, ini soal serius. Ciee cieee, yang serius. Hihihi. Lagipula saya trauma juga dulu pemilu 2004 milih presiden. Huaaaa, sudahlah jangan ingatkan saya. *pinjem bahu*

Anyway, akhirnya saya punya pilihan dan kemudian saya memutuskan untuk berani menunjukkan pilihan saya. Karena toh, itulah kemewahan demokrasi bukan?

Pssst, sini saya bisikin, tapi kemudian saya menyesal.

Huaaa. *pinjem bahu lagi* *aleman*

Kenapa menyesal? Menyesal milih no. 1? Lah, belum ada hasilnya kok udah menyesal? tuh kan, bener kan. Makanya, pilih tuh jangan yang no. 1, menyesal kan jadinya.

Husssh. Saya menyesal mengekspresikan pilihan saya, pendapat saya, preferensi saya.

Kenapa? Karena kemudian TL saya mendadak membara. Lebaaay. Yo ben, penulis harus lebay, blog blog saya, tulisan tulisan saya. Hihihihi. Ternyata demokrasi gak semudah mengetik katanya. Fiuuh. Bebberapa teman kemudian jadi saling menyindir, ini bisa jadi saya GR lo ya. Ada juga yang bilang,

“ihh gak nyangka ya, milih no.1, blas gak nasionalis”

Yang lebih dekat dengan saya lebih berani bilang,

jare educated, kok yo milih no. 1.

Huaaaa. Toloooong. Beebaskan sayaaa…..

Dengan tersedu sedan, saya berjalan-jalan di TL saya. Lalu terdamparlah saya di salah satu comment di status salah seorang teman. Saya sungguh lupa siapa, bisa jadi juga bukan status, tapi share-nya. Anyway. Tulisannya begini

“…. apa urusanmu dengan preferensi politikku?” *ting* *musik syahdu mengalun*

Duar. Plak. Jleb. Auuuuu. Yang terakhir lagi-lagi lebay, maafkan. Bener juga ya, apa urusan Anda dengan preferensi politik saya. Pilihan. pilihan saya. Calon, calon saya. Ngomong, di TL saya. Kenapa situ sewot? semacam itulah bubble di kepala saya isinya. Jadi saya beranikan diri, bukan lagi nulis status soal pilihan saya. Bahkan saya bikin posting di blog ini. Huaaa. Nekad dot com.

*musik semangat* *final countdown* 80s bingiiits yak?

Ok. Balik ke pertama kali saya berani mengekspresikan pilihan saya, Anda gak penasaran kenapa baru bebeerapa hari ini saya berani menunjukkan pilihan saya? Mbok penasaran, biar saya ada alasan nulisin. Penasaran ya? Ya? Pengen tahu A apa pengen tahu B? Ok, terpaksa saya tulisin ya, habis dipaksa sih. *kedip-kedip malu-malu*

Pertama dan utama adalah karena mamah saya bukan pendukung no. 1. Huaaaa. *pinjem bahu yang lain*. Mamah saya cinta mati sama ibuk hmmm, tak perlu disebut lah namanya. Karena apa? karena jaman kecil, denger suara ayahnya si ibuk pidato dan langsung jatuh cinta seketika. Cinta mati ti ti ti. Cinta yang kalau lagi ngomongin ibuk, mata mamah langsung berkaca-kaca. Iya, cinta yang kayak gitu. Saya ya gak berani lah melawan cinta sekaliber ini. Belum lagi, mamah WA semua anak dan menantunya -oh atau comment di status, lupa saya- intinya

“Wis, anak karo mantuku jelas bukan pilih yang no.1. ora usah macem-macem”

-yang kenal mamah saya, pasti tahu ya gimana rasanya di comment gitu- hihihi

Saya tak berdaya dengan cinta sekelas mamah. Apalagi mamah saya jarang salah. Beberapa kali salah memang, tapi jaraaaaaaaang sekali.

Alasan kedua, bagi saya pilihan presiden saya biarlah hanya kertas suara dan Allah yang tahu. Lha wong suami saya aja gak tahu kok pilihan saya sampai saya pasang status di fb. Pribadi. Personal. Kayak warna celana dalam, biarkan hanya kita dan Allah yang tahu, jangan biarkan si mas di belakang kita juga tahu ya. Karena alasan saya memilih no. 1 bisa jadi alasan orang lain membenci no. 1. Saya paham itu. Saya milih berdasar peta saya, orang lain milih berdasar peta orang lain. Lha daripada ribut -bagi yang suka ribut- ya saya pilih diam. Serius. Ini susaaah banget, sampai ada temen inbox saya, gini katanya.

“awakmu milih capres sing endi mbak? kok kuat men le ora ngomong?”

Huahahaha. Jawaban saya.

“Lha kan mung entuk milih 1 (siji) to mas?”

Saya juga gak pernah share berita apa pun tentang capres selain pilihan saya. Baik. Buruk. Fakta. Fitnah. Black campaign. White campaign. Pink. Pick any color. Saya ga pernah share berita tentang capres satunya juga. Bagi saya itu ndak fair. Lagipula kalau saya share, saya tahu persis niat saya bukan membagi innformasi supaya orang milihnya makin mudah, tapi ya memang mau mbelain capres saya. Susah lo. Jaga jari biar gak share berita negatif soal capres satunya, padahal di TL saya juga banyak. Saya juga gak pernah share berita tentang capres no. 1 di TL saya. Saya like kalau cocok, tapi gak pernah saya share. Saya curiga sama niat saya sendiri kalau share, jadi ya mending ndak usah aja.

Nah, tapi beberapa hari yang lalu pas fb-walking, kok hati saya terasa bergejolak. Jiaaan lebay tenan saya hari ini. Hati saya bergejolak karena orang mulai melabel teman lainnya anu ini ono, hanya gara-gara beda pilihan.

Masak ada yang bilang kaum educated pasti pilih no. X? *see? saya sungguh berusaha adil* Pendidikan saya S2, dibilang educated boleh, wong ya sedikit persentase orang Indonesia berpendidikan S2. Tapi dibilang gak berpendidikan juga boleh, karena level pendidikan formal juga gak selalu berkorelasi positif terhadap tingkat “pendidikan” orang. Betul kan? Dan saya pilih no. 1. Sebagian teman memuji sebagian lain mencibir. But again, apa urusanmu sama preferensi politikku? Ini kan demokrasi, kita boleh beda, tapi gak lah saling merendahkan.

Faktanya yang mengakses facebook pastilah berpendidikan, karena minimal bisa baca tulis dan melek internet.

*seingat saya saya gak pernah bilang yang milih capres satunya gak berpendidikan, serius, kalau pernah saya minta maaf*

Ada juga yang ngomongin soal nasionalisme, cinta tanah air. Huaaaa, please don’t drag me into this topic, please. *bahu mana bahuuuu?????*

Temen saya yang buka perpusatakaan kecil pilih no. 1. Temen saya lainnya yang bikin perpustakaan di daerah terpencil, pilih capres 1-nya.

Teman saya yang di Mesir, pilih capres no.1. Teman saya yang di Belanda pilih capres 1-nya lagi.

Teman saya yang tiap weekend ngabisin waktu dengan anak gak mampu buat ngajar mlih no.1. Teman saya yang punya sekolah gratis pilih capres 1-nya.

Ga beraniiiii saya bilang yang mana yang cinta tanah air yang mana yang gak. Jelas buat saya, mereka semua cinta tanah airnya. Sama kayak saya. In fact, cinta tanah air yang bikin saya pilih no.1. Weird? Ya tapi itu faktanya, saya cinta Indoneia, ga percaya? Belahlah dadaku ini. Hiks. Lebay lagi? iya ini kenapa saya jadi lebay ya? Ok. Balik lagi,

lagian kalau kita sama semua, kata Barney

“And if everybody was the same, I couldn’t just be me”

Seorang teman menulis di statusnya, again, saya lupa siapa. Katanya.

“Kebaikan sebuah negara itu ditentukan oleh rakyatnya. Bukan cuma presidennya”

Nampar ya. Heeh. Saya juga ketampar kok. Makanya dengan tulisan ini saya mau minta maaf kalau kemarin-kemarin tulisan saya ada yang menyakitkan hati. Semata-mata berniat ekspresi kok. Kan kabarnya demokrasi itu kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ya kalau beda, ya gak pa pa to. Lha wong Genta sama Puti tu lo bisa punya preferensi yang beda dan mereka bisa saling menghargai pilihannya kok. Ga terus ece-ecenan. Jare demokratis?

Anyway, teman-teman yang saya cintai. Anda boleh percaya boleh gak, Saya menyesal sungguh mengikuti jejak teman-teman yang lebih modern daripada saya, dengan ikutan menunjukkan pendapat saya. Karena efeknya bagi saya, kok terasa lebih banyak tidak baiknya daripada baiknya. Untuk itu saya minta maaf. SATU kali lagi, saya minta maaf. Saya cuma meyakini bahwa dalam demokrasi orang boleh berpendapat beda.

Kata Gede Prama, yang saya singkat.

Keburukan orang lain yang kau bicarakan, lebih banyak menunjukkan keburukanmu sendiri daripada kondisi sesungguhnya dari orang yang kau bicarakan. Nah.

Jadi apa urusan kita sama preferensi politik temen kita? Mbok biar mereka punya preferensi sendiri. Saya cuma berani bilang begini.

Yang pilih no. 1 PASTI orangnya pilih PRABOWO. Yang pilih 1-nya PASTI tidak PILIH PRABOWO.

Cuma sependek itu keberanian saya melabel orang. Maafkan saya. Selamat menjelang Ramadhan.

*sengaja ga pakai gambar, biar ga nambahin dosa dan penyesalan saya*

My Shoes vs. Gen Y Shoes

Dunia pewayangan gegeeerrrr…….

Pregnancy Empathy – Blog Fanny Herdina

*mari kita tarik napas sebelum mulai menulis*

Sudah sejak lama saya ingin menulis dengan tema ini, tapi lagi lagi saya kesulitan menemukan kata sifat yang tepat untuk jadi ide utamanya. Nah, gegernya dunia pewayangan beberapa hari belakangan membantu saya menemukan kata sifatnya.

Sebut saja Bunga -nama samaran-red-. Jiaaah, dia juga ga keberatan kok kayaknya jadi topik pembicaraan di sosial media, jadi ya sudahlah. Kegegeran dimulai dari posting-an di bawah ini. Buat yang ngerasa tua, please tarik napas dulu sebelum baca, ok? Buat yang muda, juga tarik napas, karena dalam beberapa detik ke depan, Anda akan merasakan perasaan maluuuuu sangat berada pada kohort yang sama dengan si Bunga ini,

ABG Edan - Blog Fanny Herdina

Begitulah mbak cantik ini berkicau di halaman personalnya. Gak bisa terlalu disalahkan memang, karena itu halaman personalnya. Semacam teras rumahnya lah. Tapi doski *biar sekalian ketahuan umur gw berapa* tereak tereak di teras bok, jadi ya wajar juga sih ya kalau yang lewat ngerasa terganggu dan mulai ngrasani sama orang lain. *enough for Bunga*

Sekarang giliran saya. Saya juga punya sederet komplen soal anak-anak se-kohort mbak-teteh-uni-apa pun lah sebutannya *orang-orang sekohort saya gak biasa manggil cuman nama say, maaf*.

Satu nih. Tetangga saya punya motor nih, Ganti-ganti motornya. Dulu vespa. Sekarang motor cowok gitu deh *jiaaaah motor dikasih jenis kelamin*. Nah biarpun ganti motor, tapi rupanya soal selera memang sulit berubah cuy. Selera anak tetangga saya ini hmmm… anu…. hmmm…. suara yang keras-lah, sebut saja begitu. Vespa dia, waktu dinyalain dulu, bikin ayah saya bangun dari tidurnya terus batuk-batuk, menjelang beliau meninggal awal tahun 2012. Ah, saya sibuk berduka, jadi saya cuekin. Walaupun saat ayah saya meninggal pun, dia ga muncul di rumah saya. Tetangga saya man, tetangga 1 tembok. Nah motor barunya ini kalau dinyalain, berhasil dengan sukses membangunkan Puti dari tidur siangnya. plus juga membangunkan bibi-bibinya dan utinya sekaligus. Waktu saya ingetin, dia marah-marah dari balik pintu rumahnya dan mengusir ibunya suruh pergi. Fiuuh.

Kedua. Pernah ngantri di McD yang buka 24 jam gak, di malam Minggu? Yes. Asep rokok. DSLR nganggur di meja atau dipakai dengan mode AUTOMATIC. Obrolan dengan suara keras diiringi kata “anj*ng” “bangs*t” “mony*t”. Itu sesudah mereka ngantri di depan kasir selama minimal 45 menit, karena dilema besar menghantui mereka, yaitu mau pilih french fries aja atau ice coffee aja. Juga sesudah mereka membayar ke mas/mbak kasir tanpa mengucapkan terima kasih, tentunya. Ganggu gak?

Ketiga ya, terakhir ah, males bahasnya walaupun bisa sampai 45 sih nomernya. Uhuk. Ketularan lebay gw. Cara mereka nongkrong seenak udelnya di depan Her* atau Indomar*t yang udah jelas-jelas gak nyediain kursi, setelah mereka beli sebotol air mineral, itu ganggu banget. Ga kinormat banget sama mbak/ mas cleaning service yang mau bersihin lantai. Kalau ditegur satpam, terus sok ngomong “gak asik gak asik”. Lah, memang situ asik?

Anyway….. *tarik napas lagi dah* Kemarin-kemarin saya anggap perilaku mereka sebagi “ya sudahlah”. Walaupun gondok dan selalu dilanjut dengan menggandeng Genta di depan mereka sambil bilang,

“Genta, kayak begitu itu tidak baik ya mas, jangan ditiru. Itu namanya tidak sopan. Kalau habis bayar, bilang terima kasih. Bla bla bla”

Tapi ketika gegernya sampai membawa-bawa orang hamil dianggap egois. Rasanya logika saya gak mampu lagi mengikuti logika mereka. Berangkat subuh? saya pernah mbak. Tulang nggeser? Udah pernah jatuh terduduk pas naik gunung? Kalau belum ,gimana kalau rasain dulu? *jiaaah, gw ketularan dia* *please stop me*

Intinya kegegeran ini membuat saya ngobrol sama suami. Hasil obrolan kami yang sangat sepihak ini -cuma pihak orang hampir 40an saja maksudnya- menyimpulkan segala kenyamanan hidup ternyata berefek negatif bagi generation Y ini. Tentunya tidak semua, tetap ada beberapa yang menunjukkan kemampuan empati yang luar biasa.

Semacam gini deh. Kalau Anda hidup enak terus dan tidak dilatih untuk bersyukur, dari mana Anda belajar menghargai kerja keras orang lain? Dari mana Anda belajar bahwa ada orang yang hidupnya mungkin tak seberuntung Anda? Dari mana Anda belajar bahwa untuk sebagian orang, hamil dan berhenti bekerja itu bukan pilihan? Dari mana Anda belajar bahwa beberapa orang itu bahkan belum pernah lihat yang namanya I-Phone? Jangankan punya atau beli, megang tu belum pernah, lihat gambarnya aja mungkin di koran? Tentunya sulit ya.

Di salah satu web yang menceritakan ciri Generation Y, nomor satu cirinya adalah, saya kutipkan,

“Tidak sabaran, tak mau rugi, banyak menuntut”

Again, tentunya tidak semua seperti itu. Tapi kegegeran dunia pewayangan di atas mungkin mengacu pada ciri ini yang dominan pada si Bunga dan beberapa komentator di bawahnya. Tidak sabar dan banyak menuntut nampaknya adalah hasil dari perilaku self-centered yang berlebihan. Sehingga tidak membuka ruang bagi mereka untuk berempati, untuk melihat melalui kacamata orang lain. Atau berjalan memakai sepatu orang lain. Dalam rangka apa mereka mau pakai sepatu orang lain wong sepatu mereka udah enak banget dipakenya?

Kehilangan empati memang tugas berat untuk dibetulkan jika terjadi pada usia Bunga. Kecuali sesuatu yang intens terjadi padanya dan mampu mengubah seluruh paradigmanya plus cara merespon dunia luar. Tanggung jawab siapa? Gak usaha gaya deh menuduh dunia pendidikan bertanggung jawab atas ini, ya jelas sekolahan bertanggung-jawab. Orang tua juga bertanggung jawab. Tapi itu tanggung jawab yang private yang gak manis disobek-sobek di muka umum seperti di blog saya ini.

Gimana dengan tanggung jawab kita sebagai masyarakat? Apa yang sudah kita lakukan untuk bersama-sama memetik kekuatan Generation Y dan memotong ranting-ranting busuk mereka? Apakah kita sudah….

  • mengingatkan mereka untuk membuang sampah di tempatnya karena yang kebanjiran bisa jadi bukan rumah mereka, tapi mereka tetap bisa ikut berkontribusi mencegahnya
  • mengingatkan mereka untuk tidak merokok di sembarang tempat, walaupun tempat umum dan ada tanda boleh merokok, terutama kalau berdekatan dengan orang hamil, orang tua, anak-anak atau orang-orang yang memberi kode dengan manis melalui batuknya
  • mengingatkan mereka bahwa di luar sana ada banyak orang yang butuh kerjaan, rela bekerja apa pun demi memberi makan anak istrinya sehingga tidak etis bagi mereka menolak begitu saja pekerjaan karena alasan yang tidak esensial
  • mengingatkan mereka bahwa antri itu tanda orang berpendidikan bukan tanda pecundang atau orang yang takut sama mereka
  • mengingatkan bahwa sebaiknya hobi itu bukan yang mengganggu orang lain, punya motor berisik misalnya, piara anjing tapi gak pernah dikasih makan misalnya
  • mengingatkan bahwa terkadang senyum dan menundukkan kepala sedikit ketika bertemu orang adalah tanpa sopan santun yang umum, bahkan di dunia internasional yang biasanya mereka bangga-banggakan
  • mengingatkan bahwa di luar negeri tren memanggil orang itu dengan “dear” “honey” bukan monyet, anjing atau kutil, masak gaya baju ikut luar negeri kelakukan jaman jahiliyah
  • mengingatkan bahwa merawat dan menjaga kerapian rambut itu penting, tapi melempar poni ke kiri kemudian menyibakkannya kembali ke kanan pakai tangan setiap 2 menit sekali itu mengganggu, bahkan menunjukkan rendahnya tingkat PD mereka
  • mengingatkan bahwa berbaju rapi dan bersih saat keluar rumah itu baik, tapi bukan berarti sibuk ngaca setiap kali ada cermin atau selfie-an di sembarang tempat

Yess. Saya yakin Anda bisa menambahkan sendiri daftarnya. Silakan tambahkan di komen ya, sekaligus tinggalkan link blog Anda, saya saya tambahkan ke dalam tulisan ini bersama link-nya. Itung-itung selain komplen, kita sedikiiiiiit berkontribusi menyampaikan ini ke dunia *gak janji juga bakal sampai ke mereka sih* tentang hal-hal yang mungkin bisa kita lakukan bagi generasi yang tidak mau merepotkan orang lain itu.

Pssst, kalau baju sepatu tas belum bisa bikin sendiri benernya itu juga masih merepotkan sih bok. Apalagi masih kerja sama orang, itu juga ngerepotin. Belum lagi kalau mulutnya kayak gitu, itu juga merepotkan sih. Jadi ya, saya simpulkan doa Bunga belum diijabah nampaknya. Dia masih merepotkan banyak orang. Yang bantuin ibunya ngelairin, juga repot. DOkter yang betulin tulangnya yang nggeser juga repot. *priiiit Fan, priiiit, enough*

Sebagai penutup, sebelum acara ramah tamah dimulai dan lagu kemesraan dikumandangkan *hanya yang bukan Gen Y yang paham ini nampaknya*, gambar di bawah mungkin bisa jadi pengingat yang manis. Selamat malam teman-teman. Selamat malam Bunga, semoga tempat tidur, kasur dan sprei tempatmu tidur malam ini buatanmu sendiri, sehingga tidak merepotkan orang lain. Banyak cinta kukirim untukmu, karena …… *mari katakan ini bersama-sama dear readers* 

hanya orang kekurangan kehangatanlah yang mampu mengeluarkan kata-kata sedingin itu

*meminjam ungkapan kakak kelas saya di salah satu status facebook-nya*. Muaaaah *cium basah*

Berikan kursi - Blog Fanny Herdina

Get A Life!

Get A Life -- Blog Fanny Herdina

Rasanya saya pengen teriak judul di atas kalau ketemu sama orang yang sibuuuuuk banget ngurusin hidup orang tapi lupa ngurusin hidupnya sendiri.

Beberapa kenalan saya hobinya menasehati tapi apa sesungguhnya mereka layak menasehati?

Ada yang hobi menasehati soal agama, tapi ya pacaran juga, minum alkohol juga.

Ada yang hobi menasehati soal anak, tapi bahkan menikah saja belum.

Ada yang hobi menasehati soal hubungan dalam pernikahan, laaaah, seriously menikah atau berpacaran saja tidak.

Kemudian saya berpikir apa memang begini ya pembagian tugas di dunia? Yang ahli menasehati, sengaja belum diberi kesempatan jadi pelaku. Karena kalau nglakoni, pasti bakalan klakep ga bisa ngomong karena ga semua teori itu mutlak kebenarannya.

Bukankah 1+1=2 saja masih bisa diperdebatkan?

Tapi tidak bagi para penasehat ini. Mereka yakin betul kebenaran hanya milik dirinya seorang, plus sebagian orang lain yang mereka “approve”.

Begini ya. Mengurus anak orang sama anak sendiri itu berbeda. Sama halnya mengasuh sesekali di hari libur atau dititipi anak 2-4 jam saat ayah ibunya sedang berlibur, itu beda dengan mengasuh anak 24/7 dengan pertanggung-jawaban akhirat.

Atau gini deh. Mengurus orang sakit 1-2 hari atau seminggu lah, itu beda dengan melayani orang sakit selama 7 tahun. Menengok si sakit di hari libur 2-3 kali setahun tentunya beda dinamikanya dengan setiap hari memandikan dan membersihkan kotoran yang keluar dari pantatnya. Bedaaaaaa, jadi please jangan samakan.

Membayari kebutuhan orang lain, mulai dari makan, minum, bensin, sampai kebutuhan gak penting kayak rokok. Kalau dilakukan sekali setahun pas Lebaran, memang terasa ringan, anggap saja sedekah. Tapi kalau bertahun-tahun tanpa ada alasan yang pasti, sementara orang yang dibayari hidup foya-foya dengan uang kita. Ya, sebagai manusia tentu ada rasa jengkel.

Etapi kalau belum pernah merasakan semua itu, lalau menganggap segala yang 1-2 hari itu mewakili yang bertahun-tahun, yaaaaaa gimana ya? Kemudian sibuk berkomentar seolah-olah paling ahli dalam melakukan semuanya. Komentar saya ya itu, GET A LIFE! Karena kalau kita punya kehidupan, biasanya kita ga punya cukup waktu buat berkomentar atas hidup orang lain.

So, atas nama kesehatan mental kita semua.

Get a life and start living, stop commenting.

*meminjam istilah teman, ini tokoh dalam cerita wayang saya*

Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?

Tentang Bapepam

Ada yang tahu singkatan dari Bapepam? Masih ada atau gak itu lembaga, saya juga ga terlalu mengikuti. Well, call me anything, tapi sejak tahun 1995 saat pertama kali mendengar singkatan itu, sampai sekarang, pengetahuan saya tidak banyak berubah tentang Bapepam.

Sebutlah sebuah pagi menjelang siang yang indah di kota Yogya, di sekitar tahun 1995. Saat udara pagi dan sore hari Yogya begitu sejuuuk, Nah di pagi itu, saya diundang menghadiri seleksi tutor bahasa Indonesia untuk orang asing, di REALIA, lembaga bahasa yang cukup dikenal. Datanglah saya dengan rok selutut dan sweater biru tua, karena udara sedang tidak terlalu hangat.

SAmpai di lokasi, saya berkenalan dengan beberapa orang teman baru dan lama. Ya, baru dan lama. Salah seorang teman seangkatan saya di Psikologi UGM ternyata juga lolos seleksi sebelumnya dan terdampar di seleksi lanjutan ini bersama saya dan beberapa teman yang lain. Seleksi pagi ini sederhana, saya dan teman-teman akan diminta mengambil gulungan kertas di mangkok. Apa pun tulisan di gulungan kertas itu, kami lalu bertugas untuk presentasi on the spot di depan teman sesama kandidat dan juga senior di REALIA, dalam bahasa Inggris. Yuhuuu.

Anginnya dingin sih memang. Tapi kelek saya sudah mulai lembab. Lutut saya kayaknya mulai bergetar, mungkin karena dingin. Satu-satu sesama kandida tutor maju sebelum saya. Ampuun. Bahasa Inggris mereka TOP. Ada yang pernah pertukaran pelajar, ada yang lulusan lembaga bahasa Inggris terkenal, ada yang fakultasnya memang berhubungan langsung dengan bahasa Inggris. Lha saya? Saya? Saya gimana?

Belum lagi wawasan mereka yang luas. Apa saja tema yang muncul di gulungan kertas itu, mereka lancar menceritakannya. Bahkan bisa menjawab pertanyaan. Daaan, confidence-nya my man, luar biasa, ga ada itu yang keleknya basah kayak saya atau lutu gemetaran. Manteb semua. Lalu tibalah giliran saya. Uhuk. Kalau bisa lari, pasti saya lari dari kerumunan itu. Tiba-tiba saya menyesal sudah melamar posisi tutor, kenapa gak cari kerjaan lain aja sih Faaan?, begitu hati kecil saya berontak dipermalukan.

Tapi genderang perang sudah ditabuh. Terompet sudah ditiup. Pantang pulang sebelum padam. *opo to iki*. Tiba giliran saya, saya maju perlahan, ambil gulungan kertas, dibuka pelan-pelan sambil tangan gemetaran. Sedikit sedikit tulisan mulai nampak. Ba—–Pe—–Pa——M

Kepala saya mulai bernyanyi. Bapepam? Apa itu? Nah kan, nyesel kan Fan, ngelamar ke sini? Malu kan jadinya?

Melangkah lagi ke posisi presentasi. Pantang menyerah. Pantang menyerah. Atau menyerah aja ya? Bagian ruhut dalam kepala saya mulai berdebat dengan bagian farhat. *kesamaan nama hanyalah kebetulan, semua tokoh dalam kepala saya bersifat imajiner, fiktif, waton*

Sampai di titik presentasi. Tarik napas. Lirik pintu keluar, jaraknya jauh juga, sementara tas saya ada di ujung  lainnya. Aah, si mas itu juga berdiri di tengah jalan lagi, gimana saya mau lari. Telat deh. Udah terlanjur malu. Lanjut aja…

“Good afternoon. Thank you for the opportunity (STD banget kalau kata para asesor). Actually the paper said that I have to talk about Bapepam. But I know nothing about it. So let me talk to you about my blue sweater I am now wearing. Bla bla bla”

Anehnya, tidak satu pun yang tertawa. Yah, satu dua senior di ujung sana tersenyum. Tapi tidak ada yang tertawa. Menertawakan saya? Tidak ada. Saya selamat ngomongin blue sweater sampai waktu presentasi saya selesai. Ditutup dengan thank you. Diperindah dengan tepuk tangan dari audiens.

Yes, hampir 20 tahun yang lalum itu pertama kali saya dengar Bapepam. Dan sampai sekarang, kalau saya diminta presentasi soal Bapepam, allow me to tell you another story of my red high heel. Hihihihi.

Ketika akhirnya kami, para kandidat yang diterima berkumpul untuk briefing sebelum mulai mengajar, beberapa minggu kemudian. Seorang teman bertanya pada juragannya REALIA, apa alasan kami semua diterima.

Yaah, alasannya macam-macam. Wong kalian juga dari background yang berbeda. Tapi ada 1 kesamaan di antara lain.

Apa itu mbak? *ngebet banget kami*

Kalian itu fleksibel. Itu kesamaan kalian.

Seeee? Flexbility my man. Jelaslah saya fleksibel. Dari Bapepam lompat ke blue sweater, kurang fleksibel apa? Jelaslah fleksibilitas saya sekaliber pemain trapeze di sirkus-sirkus internasional. Huahahaha.

Lesson learnt. In any job you want, flexibility kills. Apalagi kalau mau jadi wirausahawan. Demikian kisah soal Bapepam ini saya tuliskan kembali setelah puluhan tahun. Mengingat banyak pemimpin yang tak terlatih otot fleksibilitasnya, sampai-sampai ga mau dikritik. Kritik? Somasi. Muji cepol? Omelin. Nanya sama suami saat waktu intim? Jedugin ke tempat tidur. #eh

Anyway, fleksibilitas itu seperti otot. Makin sering dilatih, makin kuat. Makin jarang dipakai, makan kenceng tu otot. Ingat fleksibilitas, ingat Bapepam. Ok?

*Ada yang masih penasaran, Bapepam itu singkatannya apa? Google ah. Malu.

Multiplied

Multiplicity by Anton B Priyantoro #Puti - Blog Fanny Herdina

Ini kreasi terbaru suami saya. Haa, yang jago fotografi pasti gak heran, saya sih heran. Hihihi.

Lokasi : Taman Kota Serpong

Wardrobe : Pribadi

Property : Pribadi. Hehehe. Itu Puti, anak kedua saya, bulan Februari ini dia 1 tahun umurnya.

Selamat menikmati.

Kata kunci kalau mau google teknik ini, MULTIPLICITY. Have fun.